“Put, kalau laki-laki tiba-tiba jemput terus ngajakin makan gitu, artinya apa?” Tanya Andin di sela-sela kegiatan mereka menonton drama korea terbaru, hari ini adalah hari Minggu, Andin dan Putri sedang menghabiskan waktu mereka bersama untuk menyelesaikan drama korea yang kemarin belum sempat mereka selesaikan.
“Siapa? Reynand?”
“Bukan, lo jawab pertanyaan gw aja deh”
“Yaa dia suka ama lo kali”
Andin manggut-manggut, ada sebagian kecil dari hatinya yang berbunga-bunga memikirkan kemungkinan itu, tetapi sebagian besar hatinya menolak, tidak mungkin seorang Ghidan menyukainya. Tetapi jika dilihat dari pertemuannya kemarin, Ghidan terlebih lebih jinak, bahkan dia memutuskan untuk mengantar Andin ke apartmentnya dan dia membawa mobil Andin untuk di service beserta membayar biayanya. Kurang baik apa coba?
“Siapa sih kok gw kepo?”
“Ga adaa..”
Putri terlihat memusatkan perhatiannya dari scene lee min ho yang sedang berciuman ke arah Andin yang tidak menatapnya, “Lo jangan coba-coba nutupin sesuatu dari gw ya Ndin, lo bilang kemarin gagal kencan sama Reynand, artinya laki-laki yang lo maksud barusan pasti bukan Reynand”
“Memang bukan”
“Terus siapa?”
“Ghidan”
“Hahahaa...” Putri tertawa, yang justru mendapat lirikan maut dari Andin yang bertambah kesal, “Lo lucu”
Nah, kan? Putri aja merasa terlalu tidak mungkin jika Ghidan menyukai Andin. Maka dari itu Andin pun merasakan hal yang sama, terlalu aneh jika Ghidan menyukainya. Lebih baik Andin mengabaikannya, dan fokus dengan babang lee min ho yang begitu mempesona.
Beep.. beep..
Pesan Masuk
Ghidan :
Mobilnya jadi dua hari, besuk senin aku antar ke kantor.
Me :
Terima kasih, besuk Andin berangkat naik ojek online aja.
Ghidan :
Jangan ngeyel!
Andin menatap horor pada pesan yang baru saja di kirimkan Ghidan. Andin merasa semakin aneh dengan sikap Ghidan, membuatnya berpikir keras untuk mendapatkan beberapa alasan yang menurutnya masuk akal.
“Dari siapa?” Tanya Putri sekali lagi, “Wajah lo kaya gitu banget”
“Dari Ghidan”
“Ngapain?”
“Mau antar besuk ke kantor”
“Ih, seriusan lo, Ndin? Kok serem?”
Andin mengedikan bahunya malas, dia juga merasa takut dengan perubahan Ghidan. Sebagai perempuan yang beresiko mengalami sakit hati dengan harapannya kepada Ghidan, Andin lebih memilih untuk menamengi hatinya untuk tidak jatuh kepada laki-laki yang jelas jauh dari jangkauannya.
“Yang tadi lo bilang juga bener? Kalau dia jemput lo ke kantor, ngajakin makan?”
Andin mengangguk, dia menggeser tubuhnya untuk sedikit terlentang, mencoba mencari posisi yang menurutnya membuatnya nyaman, “Bahkan doi bawa mobil gw buat di service dan nanggung biaya servicenya”
“Kenapa ga sekalian nanggung biaya hidup lo? Di nikahin gitu?” Ucap Putri dengan cengengesan.
“Dia bilang ke gw semalam, kalau gw adalah calon istrinya”
Uhuukk..
Putri yang sedang memakan buah naga tersedak hingga wajahnya memerah. Andin justru bingung, dan membantu Putri dengan memukul-mukul punggungnya.
“Uhuuukkk.. uhuuukk”
“Put.. sorry, duh”
Tangan Putri menahan tangan Andin yang hendak membantunya, “Udah, udah.... gw kheemm udah bisa nafas”
“Lo kenapa sih? Hati-hati kalau makan, bikin gw takut aja”
“Anjiir, gila lo ngomong kaya gitu waktu gw lagi makan, kaget laah gw setan”
Andin memukul mulut Putri pelan, “Awas mulut lo lagi hamil, neneek”
“Eh iya lupa” Ucap Putri merasa bersalah, “Tapi seriusan Ghidan bilang gitu?”
Andin mengangguk lemah, jika boleh jujur Andin tidak mau jika harus menikah dengan Ghidan. Yaa walaupun ada sebagian hatinya yang meloncat-loncat kegirangan jika itu terjadi, hanya saja, dia merasa takut untuk sakit hati.
“Ya sudah sih, kalau memang dia adalah jodoh lo, lo ga bisa mengelak kan? Siapa tahu dia beneran tertarik sama lo Ndin, lo harusnya sukuran ngasih santunan anak yatim, jual mobil gitu”
“Sialan lo”
Beep.. beepp..
Handphone Andin kembali berbunyi, menampilkan nama Ghidan yang sedang memanggil. Andin dan Putri hanya saling menatap, seperti sedang bertanya namun dengan menggunakan bahasa isyarat. Andin bimbang untuk menerima telfon dari Ghidan atau tidak.
“Angkat aja coba” Saran Putri.
Andin mengikuti saran sahabatnya, memaksa menghentikan sejenak acara korea drama yang sedang berlangsung padahal adegannya sedang panas-panasnya.
“Loudspeaker” Ucap Putri yang di jawab Andin dengan anggukan.
“Halo, gimana mas?”
“Mobil kamu kayanya harus banyak ganti sparepart deh, Ndin, kamu ga pernah rawat mobil ya?”
“Namanya juga cewe mas”
“Ngeles aja”
“Ya sudah sih, ga usah aja, service normal-normal aja”
“Ya ga gitu, aku gantiin semua aja ya? Aku mau izin sama kamu ini”
“Mahal nanti mas, Andin kan lagi nabung buat beli iphone 13”
“Ga papa, nanti biaya servicenya aku yang nanggung, kalau mau beli iphone 13 nanti juga aku beliin”
“Ga sekalian nanggung biaya hidup Andin, Mas?”
“Boleh, kalau mau”
Andin memegang dadanya, bersamaan dengan Putri yang melotot sempurna. Putri mengisyaratkan Andin untuk menarik nafas dan mengeluarkan pelan-pelan, seperti pelajaran selama ini yang sedang di ulang-ulangnya karena sebentar lagi dia akan menghadapi persalinan.
“Terserah deh” Jawab Andin asal.
“Yaudah, lagi ngapain kok kayanya males gitu?”
Pertanyaan Ghidan memaksa Andin untuk menatap Putri, seperti sedang bertanya, aneh kan Put?
“Lagi nonton korea”
“Sama siapa?”
“Putri”
Putri yang di hadapannya berucap tanpa suara, coba balik tanya, lagi apa?
“Mas Ghidan lagi apa?”
“Habis main golf”
“Oh, ya sudah Andin mau lanjutin nonton korea lagi”
“Yaa”
Beep..
Sambungan telefon segera di matikan Andin. Wanita itu membawa kedua tangannya bersedekap untuk menetralkan jantungnya yang berdetak semakin tidak karuan.
***
Ghidan menepati janjinya, pagi hari Andin sudah di ributkan dengan dering ponsel yang tidak berhenti. Memaksa mata Andin yang terpejam, harus dia buka dengan terpaksa. Melihat nama Ghidan di layar handphonenya, tanpa perlu di paksa, mata Andin sudah terbelalak dengan sempurna. Bantal yang terlihat menggoda tiba-tiba berubah menjadi barang tak berharga yang terabaikan. Fokus utama Andin langsung mengarah ke handphone yang kembali berdering.
“Ya mas”
“Jangan lupa hari ini aku antar ke kantor”Ucap Ghidan penuh penekanan.
Andin mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk, selimut tebal masih menyelimuti tubuhnya yang hanya mengenakan baju tidur yang tipis tanpe beha.
“Nanti Mas Ghidan muter, Andin naik ojek online aja, lebih cepat, lebih-“
“Aku anter Andin, bisa ga buat nurut?”
Menghela nafasnya berat Andin mencoba mencari cara agar ia bisa lepas dari jeratan Ghidan. Secara normalnya manusia, Andin memang sangat tertarik dengan Ghidan, hingga hatinya jumpalitan tidak karuan. Tetapi jujur saja, Andin hanyalah manusia biasa yang ingin hidup secara normal. Sedangkan jika berada di sisi Ghidan, hidupnya seperti bermain kembang api, jedag jedug menggetarkan hati.
Tetapi semakin berfikir, semakin jalan Andin buntu. Andin yakin bahwa Ghidan akan tetap memaksa hingga Andin mau.
“Ya sudah, nanti jemput Andin” Jawab Andin lemah, nanti di perjalanan pasti Andin memiliki kesempatan untuk mengungkapkan keanehan Ghidan.
“Nah, gitu, nanti saya jemput jam setengah 7”
Hah?
“Ap, apa mas? Jam berapa?”
“Setengah tujuh!”
“Itu pagi banget mas, ini aja udah jam enam, Andin masih belum mandi”
“Ya langsung mandi, ini aku sudah siap jalan” Balas Ghidan yang membuat pagi Andin semakin runyam, “Jalan kita memutar, jadi harus berangkat lebih pagi biar sama-sama ga telat ke kantornya”
Ingin sekali Andin berteriak, kan tadiii guweee udaaah bilaaang Bambaaaaang, jalan kita muter makanya ga usah di anterrrr! Ente aja yang ngeyeeel!!!
“Mandi Andin, ga usah ngomel dalam hati”
Andin takut, akan semakin runyam jika ternyata Ghidan memiliki indera ketujuh untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya. Andin memaksakan kakinya menjuntai ke lantai apartmentnya yang dingin, ini masih pagi hari, bisa di bayangkan bagaimana dinginnya lantai dan air nanti?
“Mas Ghidan ga berniat nutup telfon? Atau mau sekalian nemenin Andin mandi?”
Andin bisa mendengar Ghidan terkekeh, “Mandi sana, aku matikan telfonnya”
Beep.
Suara di seberang sudah menghilang, menyisakan Andin dengan perasaannya. Mungkin terlalu cepat bagi Andin untuk mengatakan cinta, tetapi jelas nama Ghidan menempati porsi terbesar di dalam hatinya untuk saat ini. Itulah mengapa ia menolak setiap pertemuan dengan Ghidan, karena baginya sebuah keharusan untuk melindungi hatinya.
Ghidan sudah sampai di apartmentnya setengah jam kemudian. Seperti biasa, laki-laki itu terlihat sempurna dalam balutan jas yang melekat di tubuhnya yang tegap. Ada kumis tipis yang tumbuh di antara bibir dan hidung, menambah kesan dewasa dalam diri Ghidan. Dan jangan lupakan bibir merah yang terlihat menggoda untuk di gigit. Ah, Andin memang sudah tidak waras!
Ghidan langsung menjalankan mobilnya, pagi ini dia mengemudikan mobil sendiri, tidak seperti biasa yang selalu membawa sopir kemana-mana. Tangan kirinya yang putih bersih dengan jam tangan yang terlihat mewah menggenggam kemudi, sedangkan tangan kanannya berada di wajah, sedang menopang kepala yang terlihat sedang berfikir keras.
“Jangan ngelamun kalau lagi nyetir”
“Hah?”
“Jangan ngelamun kalau lagi nyetir”
“Maaf, lagi banyak kerjaan nanti, kalau aku nanti pulang telat, kamu biar di jemput Pak Parjo”
“Andin pulang naik ojek online aja, atau kalau ga bisa nebeng Dirga”
“Siapa Dirga?”
“Temen Andin”
“Yang nganterin ke apartement waktu itu? Temen rasa bos, bos rasa temen?”
Jika didengar sekilas, seperti ada nada menyindir dari kalimat yang baru saja di ucapkan Ghidan. Terlebih jika dengan melihat raut wajahnya, dengan alis yang sedikit terangkat dan mata yang tipis. Membuat Andin bisa saja berprasangka yang lain.
“Iyaa, Dirga itu temen sekaligus atasan di tempat Andin bekerja”
Ghidan memfokuskan matanya ke arah jalan yang sudah mulai ramai, berkali-kali dia harus mengklakson pengendara motor yang terkadang mengambil jalurnya begitu saja, membuatnya tidak sabar. Inilah alasan kenapa Ghidan selalu membawa sopir kemana-mana, karena dia cenderung bukan orang yang sabar jika di berada di jalan.
“Nanti di jemput Pak Parjo” Ucap Ghidan final.
Oke, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk membahas keanehan Ghidan akhir-akhir ini.
“Mas..”
“Heem”
“Mas Ghidan aneh”
“Aneh kenapa?” Kali ini Ghidan menatap ke arah Andin sekilas, lalu kembali mengarahkan matanya ke jalan.
“Tentang perjodohan, jangan di jadikan beban, Andin yakin suatu saat nanti bisa membahas hal ini dengan kedua orangtua kita, kita bisa menolak dengan baik”
“Kamu mau menolak?” Tanya Ghidan.
Andin mengangguk dengan pelan, dia harus memantapkan pilihan.
“Padahal aku berniat menyutujui perjodohan kita”
Andin membuka telinganya lebar-lebar untuk memastikan tidak ada kata yang terlewat dari setiap kalimat Ghidan. Jantungnya sedang berdetak semakin tak menentu, membuat kemampuannya untuk berfikir semakin berkurang.
“Jangan aneh-aneh Mas, kita sama-sama tahu kalau perjodohan ini terlalu memaksa”
“Kamu terpaksa?”
“Iyaa” Jawab Andin mantap, padahal dia berbohong. Jika ditanya sebenarnya, Andin mau, mau banget.
“Kamu sudah punya calon?”
Andin menggeleng, “Bukan tentang sudah punya atau belum, hanya saja ini terlalu terpaksa, Andin tidak mau”
“Setidaknya kamu bisa memberikan kesempatan untuk kita”
“Aku ga bisa mas”
Ada guratan tidak suka pada wajah Ghidan, tetapi tidak serta merta Andin menyimpulkan karena Ghidan menyukainya. Jelas di awal laki-laki tu sama sekali tidak berniat menerima perjodohan ini, akan menjadi sesuatu hal yang aneh jika dia tiba-tiba menerimanya.
“Minggu depan aku datang untuk melamarmu secara resmi”
“Mas Ghidan! Ga usah aneh-aneh deh, dari awal Mas Ghidan ga setuju sama perjodohan ini, jangan terlalu di paksakan, menikah itu sekali seumur hidup”
Kalimat Andin tentu menyentil niat Ghidan menikahinya, tetapi sudah terlanjur basah, lebih baik mandi dan guyur sekalian. Apalagi dengan penolakan Andin yang begitu besar, Andin lupa bahwa laki-laki itu tidak suka dibuat penasaran. Semakin Andin menolak, keinginan Ghidan untuk menikah dengan Andin akan semakin kuat.
“Aku ga pernah bilang tidak setuju”
“Tapi aku bisa melihat dari raut wajah Mas Ghidan” Jawab Andin menggebu, pernikahannya dengan Ghidan begitu konyol jika terjadi, “Pokoknya intinya Andin ga mau”
“Kamu bukan cenayang yang bisa membaca isi hati orang lain, dan pastinya aku akan tetap datang melamarmu langsung minggu ini, terserah nanti kita tunggu jawabanmu besuk”
Andin menyerah, melepas pandangannya ke arah Ghidan dan memilih untuk menatap jalanan. Dia harus memulai memutar otaknya untuk menolak lamaran Ghidan tanpa harus menyakiti dan bertengkar dengan Mamanya. Andin yakin, Mamanya akan memaksa Andin untuk menerima lamaran Ghidan jika itu benar terjadi. Selama ini hanya itulah keinginan Mamanya, segera menikahkan Andin, terlebih jika calon mantunya adalah orang kaya, pasti Mama Andin tidak berfikir dua kali untuk menerima.