Bab 11

1969 Kata
Waktu begitu cepat berlalu, membawa harapan baru dalam setiap hari yang silih berganti. Andin yakin, bahwa hidup tidak akan selamanya pelik. Seperti hari ini, di akhir weekday yang sangat sempurna. Hari Jumat di sore hari dan ia sedang bersiap untuk pulang ke apartment setelah menghabiskan waktunya untuk bekerja seharian. Jika boleh Andin bercerita, kebahagiaannya tidak hanya datang karena hari ini adalah hari Jumat, hari dewanya para pekerja kantoran seperti dirinya, tetapi karena malam ini Andin sedang ada janji berkencan bersama Reynand. Setelah kemarin sempat menunda karena jadwal Reynand yang sangat padat di warung makannya, hari ini Reynand menyempatkan waktu untuk pergi bersama dengan Andin. Rencananya mereka akan pergi nonton dan sekedar makan di mall. Itu saja, simple tetapi entah mengapa Andin sangat bahagia. Ia berharap hilal untuk jodohnya akan segera muncul bersamaan dengan kedekatannya dengan Reynand. Andin yang sedang membalas pesan Reynand menghentikan aktivitasnya ketika pintu di buka dari luar tanpa permisi. Sosok Dirga masuk dengan tatapan yang kurang menyenangkan, tak ada senyum dengan kedua alis yang menegang. Mata Andin melihat jam tangan yang ada di handphone miliknya, pukul setengah enam, dia sudah molor tiga puluh menit dari jam biasanya dan kedatangan Dirga akan semakin membuatnya lebih lama tertahan di kantor ini. “Kenapa? Ga ketuk pintu dulu” “Sudah selesai jam kerja, gw kesini sebagai temen” Andin memasukkan handphone miliknya ke dalam tas, kembali menarik kursinya untuk mendekat dan duduk di hadapan Dirga yang masih berdiri di depan mejanya. “Gw mau nanya tentang informasi Senin lalu yang belum sempat gw konfirmasi langsung ke lo” Tanya Dirga tak sabar, dia mengikuti Andin untuk duduk di kursi berhadapan dengan wanita itu, “Lo beneran mau nikah dan ga ngomong sama gw?” Andin menunjukkan wajah sinisnya, informasi itu sudah di dengarkan oleh Dirga hampir satu minggu yang lalu, sudah menjadi pembahasan yang tidak up to date lagi di kalangan teman-teman kantor, tetapi justru Dirga baru menanyakannya sekarang. Kemana saja sih doi? “Itu udah gosip basi, lo baru nanya” “Kalimat itu bukan jawaban Andin” “Lo bukan pacar gw yang lagi cemburu karena denger gw mau nikah, jadi ga usah menuntut gitu” “Kita temen kan?” Tanya Dirga memastikan. “Iya” “Sahabat?” Andin terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk. “Dan lo ga merasa penting gitu ngomong tentang pernikahan lo ke gw?” Andin berdiri, “Gw mau ngomong tiga hal ke lo” “Silahkan” “Pertama, informasi itu tidak benar! Gw memang mau di jodohin tetapi gw yakin seratus persen bahwa perjodohan itu akan gagal” Dirga masih mendengarkan Andin dengan seksama, layaknya wanita itu seperti sedang berpidato sedangkan Dirga hanyalah audience yang setia menunggu speakernya berbicara. “Kedua, ini sudah lebih di atas jam kerja, haram bagi gw pecinta waktu me time masih berada di tempat kerja! Dan ketiga, gw mau pulang karena nanti gw mau ada kencan, gw mau jemput jodoh dan lo...” Andin menunjukkan jari telunjuknya ke arah Dirga dengan congak, “Jangan ganggu gw malam ini, terlebih jika itu berurusan dengan pekerjaan, titik” Andin kemudian melenggang dengan santai, pergi keluar ruangannya dan berjalan tanpa melihat ke arah belakang. Setelah mencapai pintu Andin buru-buru berlari ke arah lift, bagaimanapun ini adalah moment yang sangat berarti dalam hidupnya. Kencan pertamanya semenjak terakhir dia pacaran, kalau tidak salah terarkhir Andin pacaran waktu awal perkuliahan. Setelah itu, Andin tidak pernah lagi dekat dengan laki-laki. Dia pernah merasakan cinta dengan seorang kakak tingkat, tetapi justru laki-laki itu mendekati sahabatnya dan gilanya mereka sering pacaran dihadapan Andin. Bisa di bayangkan bagaimana perasaan Andin? Hancur berkeping-keping. Mulai saat itu, Andin merasa takut untuk sekedar tertarik dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki! Dia ingin langsung menikah saja, tanpa ada drama. Tetapi sayangnya Andin lupa, dia tidak mungkin menemukan calon suami kalau tidak membuka hatinya dan mencoba untuk memiliki hubungan dengan laki-laki. Seperti di kejar hantu, Andin mempercepat langkahnya, berharap ia segera sampai di apartment dan rencananya mulus berjalan tanpa hambatan. Tetapi harapan itu semua sirna dengan tiba-tiba. Andin hampir saja terjatuh andai saja tangannya tidak segera mendapatkan pegangan, pasalnya dia melihat salah satu jenis makhluk berjenis kelamin laki-laki yang wajib dia hindari, berdiri dengan begitu sempurna di antara lalu lalang manusia. Laki-laki itu adalah Ghidan, mantan calon suaminya yang kandas. Merasa tidak memiliki janji dengan laki-laki itu, Andin tetap berjalan tanpa melihat ke arah Ghidan. Andin melangkah ke arah parkiran walaupun pikirannya tertinggal di sana, dia berhitung dalam hati menunggu hingga Ghidan menyusulnya. Jika dalam hitungan kesepuluh dia belum juga menahannya, Andin akan langsung melarikan diri secepat mungkin dari gedung ini. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Hap! Dalam hitungan kelima, Andin merasakan cekalan di tangannya. Membuatnya harus pura-pura terkejut. “Eh, Mas Ghidan, kok ada disini?” Ghidan memaksa Andin untuk memutar tubuhnya agar berhadapan dengan laki-laki itu, padahal demi Tuhan! Berhadapan dengan Ghidan adalah ujian terberat bagi Andin. Hey, hey, siapa wanita yang tidak terpikat pesona Ghidan? Tidak mungkin ada! “Ga usah pura-pura, aku tadi ngeliat kamu udah tau aku disini” Bahkan walaupun mulutnya jutek bin pedes kaya cobek, Ghidan tetap sempurna di mata Andin. Apalagi bibirnya yang merah dan hidungnya yang mancung, ingin sekali Andin mencubitnya dengan gemas kemudian menciumnya dengan puas. Andin terkejut ketika melihat tangan Ghidan yang melambai-lambai di kedua matanya. Dan menarik lamunannya yang sudah terbang ke awan. “Kita ga ada janji, aku pikir Mas Ghidan bukan mau ketemu aku” “Aku mau ketemu kamu” “Mau ngapain sih? Andin mau pulang” “Aku antar” “Andin bawa mobil” “Mobilku sudah di bawa sopir, jadi nanti kamu antar aku ke apartment setelah kita makan” Mati lo! “Makan?” “Iya, ma, kan, na, si” Ucap Ghidan dengan menekankan setiap penggalan kata dalam kalimatnya. Andin mulai gugup, dia membasahi tenggorokkannya yang mengering, “Ekheemm.. Gini Mas, kalau ini yang minta Mama, nanti Andin janji bilang sama Mama kalau Mas Ghi-“ “Bukan Mama yang minta, memang aku yang pengen jemput kamu” Oke, tamat riwayat lo sama Reynand Ndin! Andin menggeleng, “Tidak, tidak” Ghidan bukan jodoh Andin, jadi Andin tetap harus berjuang mempertahankan kesempatannya untuk mendapatkan jodoh aslinya walaupun hanya secuil. “Apa?” Tanya Ghidan bingung. “Andin tidak bisa Mas, Andin sudah ada janji” “Sama siapa?” “Sama... sama Putri” Ghidan tersenyum miring, meremehkan jawaban Andin, yang sialnya justru semakin membuat Ghidan bertambah tampan. “Eh, Andin, di jemput calon suami?” Tanya Tari dan beberapa temannya yang terlihat berjalan bersama. Dasar mulut comee!! Andin bisa melihat mata Tari yang memindai penampilan Ghidan dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu tersenyum sinis. “Bu.. bukan, ini, ini...” “Iniii?” Tanya Tari menelisik, sedangkan saat Andin melihat Ghidan, wajah laki-laki itu juga menyiratkan sedang menunggu jawaban Andin yang menggantung. “Ini.. mas-mas agent asuransi” Jawab Andin asal. Andin bisa melihat temannya yang hanya tersenyum meremehkan, bahkan dua laki-laki yang berada di belakang Tari terlihat tidak kuat menahan tawanya. Merasa menang, Tari kemudian dengan basa basi pamit, padahal ketika berada di dalam kantor Andin yakin mereka tidak sedekat itu untuk saling pamitan saat jam pulang. Andin kembali terkejut ketika kembali menghadap ke arah Ghidan. Wajah Ghidan sudah terlihat sangat tidak bersahabat hingga guratan tanda tanya besar tercetak jelas di wajahnya. “Mas-mas asuransi? Seriously, Andin?” Andin tersenyum, senyum seperti seseorang yang menahan berak, tertahan tak bisa lepas! Dia hanya menjawab dengan asal, tidak mungkin kan Andin bilang kalau laki-laki di sebelahnya adalah sales perumahan? Karena tentu dia tidak memiliki banyak uang untuk membeli rumah. Apalagi sales mobil? Jelas-jelas Andin sudah memiliki mobil, itupun dia beli second. “Mas-mas asuransi kan ganteng dan rapi-,, awww aww” Andin bisa merasakan cubitan pada pipinya. “Kamu itu kalau jawab sukanya asal! Sekarang tunjukan mana mobilmu, kita makan dulu terus pulang” Paksa Ghidan, mutlak! Andin menurut, enggan berdebat ketika wajah Ghidan terlihat sangat tidak bersahabat. Entah apa nanti alasan yang akan ia berikan kepada Reynand, yang jelas berbagai alasan sudah mulai ia rangkai di kepalanya. Alasan pertama, dia tiba-tiba sakit perut. Alasan kedua, tiba-tiba kedua orangtuanya datang ke Jakarta. Alasan ketiga, bosnya tiba-tiba memberikan tugas yang harus di selesaikannya malam ini. Dari ketiga alasan yang ada, mungkin Andin akan memilih poin ketiga. Lebih rasional dan terlihat natural. Andin menunjukan kepada Ghidan mobil berwarna putih miliknya yang terparkir cukup jauh dari gedung tempatnya bekerja. Ghidan menengadahkan tangannya di hadapan Andin, tanpa Andin paham dengan maksudnya. “Kunci” “Oh..” Andin mengambil kunci mobil dalam tasnya dan menyerahkannya ke Ghidan. Saat ini mereka sudah duduk berdua di dalam mobil, beberapa kali Ghidan mencoba menghidupkan mesinnya tetapi susah. Hingga percobaan ketiga mobil baru bisa di nyalakan. “Mobilnya sepertinya butuh di service, Ndin” “Service mahal, Andin lagi nabung buat beli iphone 13” “Yaa tapi kan mobil tetap harus di rawat, kalau tiba-tiba macet di jalan gimana?” Andin masih sebal dengan segala paksaan Ghidan, tetapi sekarang ini justru laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja, malah membahas tentang mobil yang sama sekali Andin tidak berminat sedikitpun. “Bayangin tu yang indah-indah, bayangin kok mobil macet” “Kamu itu kenapa hobbynya ngeles?” “Mas Ghidan juga hobbynya maksa” Ghidan menggeleng dan memutuskan untuk menjalankan mobil Andin. Dalam perjalanan, tidak ada yang berminat membuka perbincangan. Andin sibuk dengan pikirannya yang sedang merangkai alasan, Ghidan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. “Mau makan apa?” “Makan ati!” “Mau pecel lele lagi? Di pecel lele kemarin ada ati ayam? Atau mau di lesehan mana?” Andin menatap Ghidan dengan sebal, kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan ketika Ghidan justru menunjukkan wajah tanpa bersalah. Laki-laki serius memang kurang peka dengan sindiran! “Terserah” Jawab Andin, kali ini nadanya tak lagi di tutup-tutupi. Andin menjawab dengan nada jutek bahkan wajahnya ia tekut dan sama sekali tidak terlihat manis. Yaa, walaupun memang wajahnya ga ada manis-manisnya sama sekali juga sih. “Dimana lesehan ‘terserah’ Ndin? Emang ada?” Ghidaaaaaaaaannnnnnnnnn.....!! Ingin sekali Andin pulang dan menangis menghadapi Ghidan yang seperti ini. Sumpah, walaupun Ghidan tampan, Andin ingin sekali menjitak kepalanya, atau sekedar menarik rambutnya karena kesal. Tetapi Andin tidak mungkin melakukannya, dia sangat menghormati Ghidan. Walaupun ngeselin, Ghidan tetaplah laki-laki terhormat. Akhirnya, dengan berbagai perdebatan tidak penting dari Ghidan dan Andin, mereka memantapkan hatinya untuk makan di salah satu pecel lele dekat apartment Ghidan. Mereka memilih dengan asal, karena Ghidan tidak memiliki tempat makan favorit di dekat tempat tinggalnya. “Mas Ghidan tinggal di apartment?” “Iya” “Ga sama Mama?” “Enggak” “Tapi kok kemarin ada di rumah Mama?” “Sesekali saja pulang ke rumah, selebihnya banyak di apartment” “Setiap hari apa pulang ke rumah Mama?” “Sabtu” “Sehari?” “Iya” Ah sudahlah, Ghidan memang tipikal seperti itu Andin! Tipikal pertanyaan wawancara. Andin mengambil hanphone miliknya, melihat jawaban Reynand yang tadi sempat ia kirimi pesan karena menggagalkan rencana kencan mereka. Laki-laki itu hanya membalas dengan emoticon sedih, membuat rasa bersalah memenuhi pikiran Andin. Me: Lain waktu aku ajakin pergi, kita makan aku yang traktir. Maaf yaa, Rey Andin mengirimkan pesan, hingga beberapa menit setelahnya tidak ada balasan yang ia terima. Mungkin Reynand kecewa, atau pasti kecewa? Hilang sudah harapannya untuk mendapatkan jodoh. “Kenapa tiba-tiba Mas Ghidan mau jemput Andin? Ngajakin makan pula” Tanya Andin ingin tahu. “Gapapa kan jemput calon istri sekalian ngajakin makan malam?” Tanyanya ringan, seringan kapas tanpa memperdulikan efek kalimat itu kepada Andin. “Ga lucu!” “Aku memang ga lagi ngelawak” Oke, mungkin Ghidan baru saja menyelesaikan hari terberatnya jadi ada yang sedikit geseh di otaknya. Andin enggan bertanya lagi, memilih bungkam seperti seorang limbad. Hingga akhirnya makanan mereka datang dan mereka memilih menghabiskan makan malamnya dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN