BAB 8

2197 Kata
Malam minggu yang biasanya kelabu sangat berbeda dengan malam minggu kali ini. Bukan, ini bukan tentang malam minggu yang penuh keromantisan dari dua insan yang di mabuk asmara, tetapi justru malam minggu yang penuh dengan kerumitan. Biasanya malam minggu Andin begitu indah karena ia bisa menghabiskan waktunya hanya di kamarnya bersama tumpukan novel yang bisa membuat imajinasinya merajalela, tetapi hari ini angan-angan Andin hancur tak bersisa. Pasalnya, nanti di jam tujuh malam Andin dipaksa Mamanya untuk datang kerumah Mama Anggun. “Ga sopan Ndin nolak undangan orang” Kata Mama Suci. Memang Mama Anggun mengundangnya tetapi justru Mamanya sendiri yang seperti cacing kepanasan, mengingatkan Andin untuk datang setiap tiga kali sehari seperti minum obat. Katanya akan ada acara makan malam satu keluarga. Lucu memang, bagaimana Mamanya bisa dengan begitu mudah memaksa Andin yang sama sekali tidak masuk ke dalam deretan nama di kartu keluarga Mama Anggun, hal itu tentu akan menjadi sesuatu yang ‘aneh’ menurut Andin. Dia tidak mau! “Ma, Andin itu bukan siapa-siapa disana, masa iya Andin diminta dateng di acara makan malam keluarga, ayam saja bisa menertawakan Andin kalau kaya gitu” Ucap Andin sebal melalui sambungan telefon dengan Mamanya, tangannya yang bebas ia gunakan untuk memukul boneka spongebob kesayangannya. “Kata siapa kamu bukan siapa-siapa? Kamu calon istri Ghidan, Ndin!” Jawab Mama Suci tidak mau kalah dan sama sekali tidak merasa menyesal mengucapkan kalimat terkutuk itu. Calon istri? Jika tidak ada kata durhaka di dunia ini, pasti Andin lebih memilih untuk mematikan sambungan telefon dan menon-aktifkan handphonenya. Dunia itu kejam bossque, tidak akan ada ceritanya seseorang sempurna seperti Ghidan memilih Andin menjadi istri yang akan menemani hidupnya sehidup semati. Andin tidak hidup di dunia novel, ya khan? Andin menggaruk rambutnya yang terasa gatal padahal dia baru saja keramas, mungkin ada salah satu hormon di dalam tubuhnya yang memuncak ketika ia menghadapi Mamanya yang berpengaruh ke tingkat asam basa di rambutnya, ah ngaco lu Ndin! “Ma,, (Andin menghela), Mama jangan bermimpi deh, gini aja, Andin janji satu bulan kedepan akan bawa calon suami pilihan Andin ke hadapan Mama, tapi yakin deh Ma, jangan Ghidan” Andin mendengar Mamanya tertawa terbahak-bahak, padahal Andin yakin dia sedang tidak melucu. Andin menunggu jawaban Mamanya dengan tidak yakin, pasti Mamanya selalu punya seribu alasan untuk memaksa Andin. “Waktu Mama nanya kamu sabtu ini ada acara apa enggak, dan kamu menjawab ‘tidak ada acara’ dengan cepat, Mama yakin kalau kamu itu tidak punya pacar Ndin” Mamanya masih tertawa. Sial. “Jadi jangan coba-coba bohongin Mama, apalagi ditambah berjanji ke Mama untuk bawa calon suami sebulan lagi, mimpi kamu Ndin, mimpi” Mamanya masih tertawa yang membuat Andin semakin mencengkeram ujung hidung boneka spongebob miliknya yang panjang. Keep calm Ndin, inget dia orangtua yang wajib lo hormati. “Ya sudah nanti Andin datang ke rumah Mama Anggun” Jawab Andin putus asa, namun jutaan rencana sudah ia siapkan untuk menghadapi tuntutan Mamanya dan Mama Anggun. Dia bukan wanita tidak tahu diri, mana yang memang benar-benar suka sama dia dan mana yang benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan dirinya, dan Ghidan termasuk ke dalam option kedua. Laki-laki itu sama sekali tidak tertarik dengan Andin, jadi kenapa harus Andin datang ke rumah Mama Anggun. Kan? Walaupun Andin tidak secantik Amanda Manopo, tetapi Andin masih memiliki harga diri yang pantas ia jaga baik-baik. “Nah gitu kan seneng Mama dengernya, selamat berjuang ya Andin ku sayang, I love you” I Hate you. Tentu kalimat itu hanya Andin simpan di dalam hatinya, ia masih menginginkan namanya tidak dicoret dari kartu keluarga dan melengserkan kesempatannya untuk mendapatkan salah satu warisan kebun dibelakang rumah. Rencana nantinya kebun yang tidak cukup luas itu akan ia bagi dengan Arjun. Andin memijat dahinya berharap agar bisa merilekskan urat-urat tubuhnya yang menegang. Ia harus memikirkan cara untuk lepas dari jeratan perjodohan ini, dan salah satu caranya adalah dengan Reynand. Ya hanya Reynand lah harapannya satu-satunya. Andin mengambil handphone miliknya kemudian mengirimkan pesan kepada laki-laki itu. To Reynand: Rey, besuk hari minggu, lo gamau gitu ngajakin gw jalan? Ketik Andin secepat kilat dan langsung mengirimkan pesan itu ke Reynand tanpa berfikir dua kali. Secepat itu ia mengirim, secepat itu balasan ia terima. Membuat Andin sedikit berbangga karena ternyata Reynand membalas pesannya dengan cepat, mungkin karena Reynand memang benar-benar menyukai Andin. Rey: Sorry, Ndin, besuk gw lagi ada promo di warung makan, gw harus bantu-bantu disana. Seketika itu Andin langsung merasa bahwa ia tidak berarti sama sekali bagi siapapun didunia ini. Andin memarkirkan mobil jazz miliknya di salah satu parkiran rumah Mama Anggun yang ramai. Mama Anggun bilang kalau hari ini adalah acara makan malam keluarga, tetapi kenapa justru yang hadir deretan mobil-mobil mewah yang cukup banyak di parkiran rumahnya. Apa mungkin mobil-mobil ini adalah mobil milik Mama Anggun yang sengaja ia pamerkan kepada Andin? tetapi sepertinya tidak mungkin. Tanpa perlu pamer, Andin tahu bahwa Mama Anggun dan keluarga Ghidan adalah orang kaya. Andin keluar dari dalam mobilnya dengan malas, matanya tetap waspada dengan beberapa kemungkinan yang ada didalam rumah Mama Anggun. Setelah merasa tidak ada gerak-gerik yang perlu ia takutkan, Andin memantapkan dirinya untuk melangkah, namun masih dengan langkah yang pelan, dia tidak seyakin itu. “Neng Andin bukan ya?” Eh copot! Andin dengan sigap langsung membalikkan tubuhnya ke arah belakang, dilihatnya seorang laki-laki yang mengenakan seragam serba hitam seperti seorang satpam. Laki-laki itu mendekat, dan entah kenapa membuat Andin semakin waspada. “Neng Andin kan?” Tanyanya sekali lagi untuk memastikan. “I..Iya” Jawab Andin singkat. “Tadi ibu sudah nitip pesan kalau Neng Andin datang langsung diminta di antarkan ke taman belakang, acaranya di taman belakang, yuk Neng saya antar” Andin berjalan mengikuti pak satpam, melewati sisi kanan rumah yang sepertinya mengarah langsung ke taman belakang yang cukup luas. Perjalanan ke belakang rumah cukup panjang, Andin harus melalui taman di sisi samping rumah, kemudian melewati bagian dalam rumah dan kembali melalui tanah setapak. Rumah Mama Anggun memang benar-benar luas. Beruntungnya Andin kalau memang berjodoh dengan Ghidan, ucap Andin dalam hati, lalu kemudian ia mengibas-ngibaskan kepalanya untuk mengusir kehaluannya secepat mungkin. Sadar Ndin! Sepertinya Andin memang harus menangisi takdirnya malam ini, ketika matanya menangkap puluhan manusia yang sedang bercengkerama di sebuah meja makan memanjang yang diisi dengan berbagai macam hidangan yang terlihat enak. Lampu remang-remang dengan beberapa kembang api yang sedang dimainkan anak-anak kecil menampilkan romantisme keluarga, yang sayangnya dengan embel-embel dibelakang, keluarga besar. Andin hendak memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk berlari pulang sebelum ada mata yang menangkap kedatangannya. Namun tiba-tiba suara Mama Anggun langsung menghentikan tubuhnya yang hendak berubah haluan. “Eh itu Andin, sini nak” Andin sempat terdiam, menutup matanya berharap ini semua hanya mimpi, ia yakin sekarang ini adalah acara makan malam keluarga besar milik keluarga Ghidan. Kenapa jadi serunyam ini? “Nak, sini” Teriak Mama Anggun sekali lagi. Andin memutar tubuhnya kemudian menampilkan senyum terbaiknya kepada semua orang. Ia memusatkan perhatiannya hanya ke arah Mama Anggun walaupun ia tahu ada beberapa mata yang mencuri pandang ke arahnya. Dengan keterpaksaan Andin melangkah mendekat ke tempat dimana Mama Anggun duduk. “Siapa Tan?” Tanya seorang wanita cantik yang terlihat masih muda dengan umur jauh di bawah Andin, wanita yang terlihat cantik mengenakan dress berwarna hitam yang melekat ditubuhnya yang ramping. “Namanya Andin, calon istri Ghidan” Ingin sekali Andin membenamkan wajahnya di dalam kedua tangannya, atau melarikan diri secepat mungkin dari tempat ini. Andin yakin kini ia sudah mendapatkan perhatian semua orang yang berada disini. “Oh, calon istri Ghidan, kok Ghidan ga pernah cerita ya?” “Me..memang bukan tante, saya bu-“ “Ghidan memang orangnya tertutup, ini sengaja saya minta kesini biar keluarga mengenal Andin dengan dekat” Sanggah Mama Anggun, “Sini Ndin, duduk sini sambil nunggu Ghidan datang, katanya udah di jalan” Andin hanya menurut, berharap bahwa malam ini akan cepat berlalu dan ia bisa kembali lagi ke apartementnya yang penuh kedamaian. Dia bisa merasakan seluruh perhatian keluarga Ghidan ada pada dirinya. Ada yang benar-benar memindai Andin dari ujung rambut sampai ujung kaki, ada yang beramah tamah ke Andin tetapi Andin yakin ada nada tidak percaya di sela-sela kalimatnya. “Kerja dimana, dek?” Tanya salah satu ibu-ibu yang dikenalkan Mama Anggun bernama Budhe Yuni, kakak dari Almarhum Papa Ghidan. “Di Pena-ku bu” “Dimana itu, kok saya ga tau, Nggun?” Tanyanya pada Mama Anggun. “Di penerbit, Andin sebagai editor, ga penting juga sih Andin kerja dimana, toh nanti kalau udah nikah pasti diminta berhenti sama Ghidan, Ghidan kan sukanya istrinya menjadi ibu rumah tangga utuh” Perbincangan berlanjut, tetapi demi Tuhan Andin sama sekali tidak mengikuti perbincangan ini. Ia hanya ingin segera menyelesaikan undangan Mama Ghidan kemudian kembali pulang. Itu saja, bahkan Andin ingin menangis karena tidak nyaman berada disini. Ini bukan lingkungannya, ini bukan rumahnya, ini bukan tempatnya! “Eh itu Ghidan, salim dulu sama budhe Ghi” Andin melihat sosok Ghidan yang sedikit terkejut mendapati dirinya berada disini, tentu saja, pasti Mama Anggun juga tidak menceritakan perihal undangan untuk dirinya malam ini. Andin mengabaikan tatapan Ghidan yang terlihat tidak suka dengan kedatangannya, biarkan saja, toh ia kesini karena diundang. Walaupun ada terselip rasa malu lamat-lamat yang Andin rasakan, ia seperti wanita tidak tahu diri yang tetap saja berjuang untuk mendapatkan Ghidan melalui Mamanya. “Ghidan kok ga cerita sudah punya calon istri?” Tanya budhe Yuni yang hanya di tanggapi Ghidan dengan tersenyum simpul. Sedangkan Andin hanya bisa menutup matanya untuk menghilangkan rasa malu di dalam hatinya. “Saya kekamar dulu mau mandi dan ganti baju, habis olahraga bau keringat budhe” Jawab Ghidan sambil undur diri. Tiba-tiba otak Andin yang tidak terlalu bodoh-bodoh banget, menemukan kesempatan dalam kesempitan di sela-sela malamnya yang berantakan. Ia berdiri dan merencanakan sesuatu hal yang briliant, menurutnya! “Ma, Andin boleh permisi dulu mau ketemu sama Mas Ghidan sebentar” Kata Andin, Semua yang sedang berbicara terdiam mendengar kalimat Andin, mereka masih belum bisa menghapus guratan-guratan ketidakpercayaan bahwa Andin memang memiliki hubungan sedekat itu dengan Ghidan. “Boleh, tentu saja, sana susul calon suamimu” Ucap Mama Anggun. Andin tersenyum kemudian permisi kepada semua keluarga yang datang. Ia berjalan mengikuti arah dimana Ghidan menghilang. Dan ketika ia sudah memastikan bahwa ia benar-benar menghilang dari pandangan orang-orang di taman, Andin langsung berlarian mencari jalan keluar. Ia melewati arah yang menurutnya mengarah keluar rumah, namun sialnya ia justru berjalan ke arah pintu belakang. Andin kembali lagi kemudian berbelok arah ke sisi kiri namun justru menemukan dapur. Dan lebih sialnya lagi, ada Ghidan sedang duduk di meja pantry sambil minum jusnya. Ketika tatapan mereka bertemu, tidak ada yang memulai pembicaraan. Andin yakin Ghidan tidak menyukai kehadirannya, dan Andin pun bingung mau membicarakan apa. Dia hanya ingin pergi dari tempat ini, itu saja. “Boleh kamu tunjukkan jalan keluar? Aku mau keluar tapi malah nyasar kemana-mana” Andin menghilangkan rasa malunya sejenak, ia harus bertanya untuk keluar dari rumah seluas ini. “Lewat pintu yang berbentuk kubah, itu mengarah ke ruang depan” Jawab Ghidan singkat. “Terima kasih” Andin sepertinya mengingat pintu yang dimaksud Ghidan, setelah mengucapkan terima kasih Andin berlalu pergi. “Kamu mau melarikan diri?” Tanya Ghidan. Andin tidak menjawab, ia justru tetap melangkahkan kakinya mengikuti instingnya sambil mengingat-ngingat pintu kubah yang sepertinya tadi sempat ia lewati. Setelah meraba-raba mengandalkan ilmu arah seadanya, akhirnya Andin menemukan pintu berbentuk kubah itu dan berjalan melewatinya. Tetapi bukannya menemukan jalan keluar, Andin justru mendapati sebuah tangga yang mengarah ke lantai dua. Mungkin ia harus melewati tangga dulu baru keluar rumah, namanya juga orang kaya sah sah saja mau membuat design rumahnya seperti apa. Batin Andin. Andin memberanikan diri melewati tangga dan ia semakin bingung ketika mendapati ruangan luas dengan beberapa pintu seperti kamar. Apa ia salah pilih jalan sih? Apa pintu kubah tidak hanya ada satu disini. “Bingung?” Tiba-tiba Ghidan datang dari belakang tubuhnya, berdiri di ujung tangga yang tadi dilewati Andin. Laki-laki itu terlihat santai menyandarkan tubuhnya di ujung tangga. “Kayanya tadi udah bener sih, lewat pintu kubah kan ya?” “Sorry saya berbohong, pintu kubah itu mengarah kesini, ke kamarku” Jawab Ghidan dengan santai sambil menunjuk salah satu pintu yang berada di sebelah kanan Andin. Ghidan berjalan mendekati Andin yang masih berdiri dengan kaku karena tidak paham dengan arah pembicaraan Ghidan. “Nanti Mama nyariin kalau kamu tiba-tiba menghilang, kalau misal ga nyaman disana kamu bisa menunggu di kamarku sampai aku selesai mandi” “Tidak, tidak, aku rasa itu bukan ide yang bagus, aku hanya ingin pergi dari rumah ini, bisa kamu tunjukan jalannya?” “Kenapa pergi? Nanti kuantarkan kamu pulang” “Aku bawa mobil sendiri” “Mobil bisa ditinggal” “AKU MAU PULANG” Teriak Andin di hadapan Ghidan, persetan dengan bagaimana tanggapan Ghidan, Ia hanya ingin segera menghilang dari sini. Ghidan tiba-tiba mendekat dengan cepat kemudian menarik tangan Andin berjalan memasuki pintu kamarnya yang tadi ia tunjuk. Ia mengunci pintu kamar dari dalam dan menyimpan kunci itu di saku celananya. “Kamu tunggu saya, nanti saya antar pulang, jangan ngelawan!” Ucap Ghidan tegas lalu menghilang di dalam kamar mandi. Andin mendudukan tubuhnya di kasur yang kemungkinan besar adalah milik Ghidan. Tiba-tiba ia merasa sedih, entah karena apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN