Menikahlah dengan Saya

1803 Kata
Jamal termenung sambil menatap pemandangan malam kota Sidoarjo dari dinding kaca lebar ruang rawatnya. Kondisinya sudah membaik dan luka operasinya sudah pulih. Pun dia juga sudah merasakan badannya telah kembali sehat seperti semula. Bahkan lebih sehat dari pada yang sebelumnya. Helaan napasnya berembus dengan sangat berat. Seberat beban segan dan terima kasih yang harus dia tanggung sekarang. Pikiran Jamal melayang, menelusuri awal kejadian pada sekitar tiga minggu yang lalu. Awal mula dia pertemuannya dengan Juwita. Sejenak, dia merutuki dirinya. Kenapa juga waktu itu dia sok menjadi pahlawan dan membantu wanita tersebut dari para lelaki jalanan. Padahal dia sendiri juga tahu kondisinya saat itu sedang tidak terlalu sehat dan dalam keadaan kecapekan habis pulang kerja. Dia malah tanpa berpikir panjang melawan tiga orang tersebut dan berakhir seperti ini di rumah sakit. Ah, yang memalukan sekali adalah dia sempat ditemukan pingsan terlebih dahulu sebelum dibawa ke sini. Lalu, dia harus menerima semua perawatan mewah selama tiga minggu ini. Tak hanya dirinya, anaknya juga mendapatkan makanan enak setiap kali wanita itu menjenguknya. Dia tahu bahwa itu adalah bentuk balas budi Juwita kepadanya. Akan tetapi, ini semua berlebihan. Bahkan, dia saja hanya melawan para lelaki nakal itu dan menelepon polisi. Kehendak hatinya mengatakan bahwa dia harus membalas atau mengembalikan apa yang telah Juwita berikan kepadanya. Namun, melihat ekonomi dan keadaannya sekarang, dia rasa itu sangat berlebihan. Bahkan untuk membelikan Jevano makanan sehari-hari di rumah sakit saja dia harus berpikir panjang. Astaga, rumit sekali hidupnya. Kepalanya menunduk. Dia sangat sadar bahwa dia sendiri yang memilih untuk jalan hidupnya dan berakhir sedemikian rumit. Dia jadi teringat bahwa dia masih mempunyai tanggung jawab untuk membiayai Jevano setelah masuk SMA favorit pilihannya. Yang berarti dia sudah pasti harus lebih bekerja keras lagi. Ya, bekerja keras. Karena dia juga tidak mempunyai pekerjaan tetap sekarang. Masalah dia bilang ke anaknya tentang dirinya yang dipromosikan dan akan pindah di kantor yang lebih besar hanyalah akal-akalanya saja. Dia terpaksa berbohong kepada Jevano agar anaknya tidak memikirkan dirinya dan bisa belajar dengan tenang. Dia sangat ingat waktu itu. Di mana dia pulang lebih awal sambil membawa barang-barang pribadinya dari kantor ke kontrakan. Dia kaget saat melihat Jevano sudah ada di rumah padahal saat itu baru jam sepuluh pagi. "Kok, Ayah udah pulang?" tanya Jevano. "Kenapa bawa barang-barang juga?" Jamal tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Ayah harus beresin barang di kantor. Mau pindah soalnya." Mata Jevano melebar. "Kenapa?" Pria itu meletakkan barangnya di sebelah kursi dan duduk di sebelah anaknya yang sedang membaca buku. "Ayah dipromosikan. Jadi mau pindah kantor ke yang lebih besar." Jevano mengangguk, mengiyakan saja apa yang dikatakan ayahnya. "Kalau kamu? Kenapa udah pulang?" Dia membelai kepala anaknya. "Guru-guru rapat, Yah. 'Kan, habis ini aku mau ada ujian akhir. Ayah lupa?" Astaga, Jamal memang lupa. Pantas saja anaknya ini sudah di rumah. Jevano tampak memikirkan sesuatu. "Hmm, Yah. Kata Bu Intan kurang aku doang yang belum bayar uang untuk spp bulan depan sekalian ujiannya." Jamal mengangguk. Dia mengambil amplop yang ada di sakunya dan memberikannya kepada Jevano. "Bayar pakai ini, ya. Ayah juga lupa mau melunasinya kemarin." Jevano menerima uang itu dengan senang. Meskipun dia tidak tahu menahu bahwasanya itu adalah pesangon terakhir yang didapatkan oleh ayahnya sebelum dipecat karena perusahaannya bangkrut. Ya, Jamal telah berbohong. Dan seperti adat kebohongan dari jaman dahulu, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain. Setelah hari itu, Jamal tetap memakai baju kantornya dan menyiapkan koper setiap pagi. Berlagak bahwa dia akan pergi ke kantor untuk menutupi kebohongannya dari Jevano. Lalu, dia akan pergi ke mana pun untuk mendapatkan kerjaan. Berbagai kantor dan perusahaan telah dia datangi untuk melamar pekerjaan, namun hasilnya selalu nihil. Dia tentu saja kalah saing dengan para pemuda yang mempunyai energi yang segar dan potensi untuk ke depannya. Maslaah umur memang tidak ada yang bisa mencuri. Lalu, Jamal akhirnya memutuskan untuk bekerja serabutan demi mencukupi biaya makan sehari-hari. Dia tidak ingin tabungannya yang dia siapkan untuk membiayai Jevano masuk SMA favoritnya berkurang. Dia pun mulai menghemat pengeluarannya secara ketat hingga hanya makan sekali sehari, yaitu ketika sarapan dengan Jevano. Untuk minum pun dia sangat perhitungan. Tak halang tubuhnya menjadi kurus. Jevano yang sadar akan hal itu pernah bertanya kepadanya. Namun, sepertinya Jamal memang mahir dalam menutupi fakta. Dia hanya menjawab, "Pekerjaan baru Ayah lebih banyak dan berat. Mungkin ini juga efek mikir." Untuk yang satu ini dia memang tidak benar-benar berbohong. Dia hanya mengucapkan fakta yang dibungkus dengan baik. Lalu, hari itu tiba. Di mana saat dia memang benar-benar kehabisan tenaga karena bekerja sebagai tukang angkat barang di sebuah pergudangan. Tentu saja dia membawa pakaian ganti untuk kerja serabutannya. Pun saat itu badannya sedang tidak sehat. Dia pun mati-matian mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendapatkan bayaran dua ratus ribu sehari. Akibatnya, dia yang sudah tidak dalam keadaan baik semakin tidak baik. Dia berjalan sedikit sempoyongan dan tentu saja perutnya terasa sakit karena lapar. Namun, entah dia dapat kekuatan dari mana. Dia langsung sigap saat menolong wanita yang sedang digoda oleh para lelaki nakal saat berjalan di pertokoan sepi itu. Nalurinya sebagai pria yang baik mengatakan bahwa dia harus menolong wanita tersebut. Lalu ... di sinilah dia berakhir, dirawat secara intensif di rumah sakit dengan pelayanan yang serba baik. Hal yang tidak pernah terbayang di dalam benaknya bisa mendapatkan sesuatu yang istimewa seperti ini. Helaan napasnya terdengar berat lagi. Dia memang dirawat dengan baik, namun kenapa dia merasa ini semua menjadi beban. Bersamaan dengan itu, suara pintu yang diketuk membuat dirinya menoleh. Terlihat Juwita sedang memasuki ruangan dengan membawa tas kertas yang dia yakini adalah makanan untuk Jevano. Dia mulai hafal dengan kebiasaan wanita itu. "Maaf. Apakah saya mengganggu?" Juwita bertanya dengan sangat sopan. Dia tidak melangkah lebih masuk sebelum mendapatkan izin dari pria yang ada di depan dinding kaca itu. "Silakan. Silakan masuk." Jamal menyambut dengan baik. Tangannya terbentang untuk mempersilakan duduk wanita tersebut di sofa yang tersedia. Baru saja dia mengingat tentang wanita itu. Malah sekarang dia benar-benar melihatnya. "Anda tidak mengganggu sama sekali." Juwita tersenyum simpul dan melangkah ke sofa. "Jevano mana? Dari kemarin saya tidak lihat." Dia meletakkan bawaannya di atas meja. "Dia mengambil les dua hari sebelum ikut ujian masuk SMA. Jadi, dia menyuruhnya untuk di rumah saja." Jamal duduk berseberangan dengan Juwita. Wanita itu mengangguk. Ada sesuatu yang dia sengaja dia sembunyikan dari pria di depannya ini tentang Jevano. Entah, dia akan membahasnya atau tidak nanti. Pun jika membahasnya, dia yakin pria ini akan memarahi anaknya habis-habisan. Mungkin lebih baik jika dia menyimpannya saja. "Lagi pula, saya juga sudah pulih dan sehat kembali. Tidak perlu banyak dijaga. Pelayanan tim medis di sini juga sangat bagus. Terima kasih untuk Anda yang sudah repot-repot memberikan semua ini dan merawat saya di sini." Juwita mengangkat telapak tangannya yang ada di lututnya. Lalu dia melambai kecil. "Ah, tidak. Saya harap Anda jangan sungkan. Ini sudah sepantasnya. Saya tidak membayangkan bagaimana keadaan saya dan keluarga kalau Anda tidak membantu saya. Bahkan saya sama sekali tidak menceritakan mengenai apa yang menimpa saya kepada kedua orang tua saya. Saya takut kalau mereka syok dan menjadi over protektif lagi kepada saya." Jamal mengangguk dan menghela napas. Wanita di depannya ini terlalu baik dan tegar. Dia jadi segan untuk mengatakan apa-apa. Bahkan terima kasih saja tidak cukup. "Tidak. Sudah seharusnya saya membantu Anda saat kesulitan. Sudah jadi kewajiban sesama manusia untuk saling menolong bukan?" Jeda di antara mereka. Juwita memainkan jemarinya, ragu akan mengatakan sesuatu. Bahkan dia sudah tidak melihat ke arah Jamal lagi. Tiba-tiba saja nyalinya menciut. "Katakan saja. Anda sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepada saya. Apakah ada sesuatu yang akan Anda tanyakan? Atau sesuatu yang ingin Anda sampaikan?" Jamal membaca dengan baik gelagat Juwita. Pun dia juga sudah membuat perkiraan dalam pikirannya tentang pertanyaan-pertanyaan apa saja yang mungkin akan diajukan kepadanya. Tidak mungkin selama tiga minggu dia dirawat di sini Juwita tidak penasaran tentang dirinya. Bukan maksud dia besar rasa. Akan tetapi, mereka jarang sekali bertemu hanya berdua seperti ini. Biasanya, Juwita akan datang sebentar bersama teman dokternya dan mengurus hal-hal ringan yang berkenaan dengan dirinya saat tidak bisa banyak bergerak. Atau yang paling sering adalah wanita ini membawakan makanan dan cemilan untuk anaknya. Jadi, menemuinya sendiri seperti ini pasti sudah direncanakan di awal. "Maaf, jika menyinggung Anda. Apakah benar jika Jevano akan masuk SMA favorit yang ada di kota ini?" Ini di luar dugaan Jamal. Dari mana Juwita tahu? Perasaan dia tidak mengatakan hal itu tadi. "Saya mendengarnya saat akan berkunjung beberapa hari yang lalu. Maaf, saya tidak sengaja menguping percakapan Anda dengan Jevano. Apakah ada kesulitan yang bisa saya bantu? Saya bersedia untuk melakukannya. Apa pun dan kapan pun." Jamal mengepalkan tangannya. Egonya terasa sedang disentil. Ini sudah seperti bukan kepedulian kepada sesama. Melainkan ikut campur urusan orang. "Saya masih mempunyai harga diri untuk tidak membuat orang lain ikut mencampuri urusan sekolah anak saya. Lagi pula, apakah Anda sekarang sedang meremehkan saya?" Jamal berucap tegas. Juwita membeku di tempat duduknya. Dia memang tidak dibentak. Nada yang digunakan juga tidak tinggi. Tapi, kata-kata Jamal terlalu menusuknya. "Bukan maksud saya meremehkan Anda. Tapi, saya merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Anda setelah menolong saya. Saya hanya bermaksud untuk membantu." Juwita mencoba berbicara dengan lugas, menyampaikan kebaikannya. "Kalau saja Anda tidak dirawat di sini, mungkin Anda bisa memenuhi kebutuhan Jevano yang lain. Akan tetapi, saya membuat Anda berada di sini." "Anda mengasihani saya? Meragukan bahwa saya tidak bisa menutup kebutuhan harian anak saya? Apakah Anda juga sedang meragukan ketulusan saya untuk menolong Anda?" Tatapan Jamal lurus ke arah Juwita. Tatapan seorang pria yang terusik harga dirinya. Segera Juwita menggeleng. "Bukan seperti itu." "Lalu seperti apa? Apa yang Anda maksudkan dengan bantuan tersebut?" Juwita berdiam sebentar lalu menghela napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Dia mencoba menenangkan diri agar suasana di antara mereka tidak lebih tegang lagi. Pun dia harus meredakan dirinya yang penuh dengan emosi tekanan yang membuatnya agak berkaca-kaca. "Baiklah, saya akan bertanya tentang hal yang lain. Bolehkah?" Juwita memberanikan diri. Jamal mengangguk. "Silakan." "Kalau tidak menyinggung, tolong jawab pertanyaan saya. Selama di sini, saya tidak pernah sekali pun melihat istri Anda berkunjung. Apakah Anda ...." "Ibu Jevano sudah tiada. Maka dari itu setiap hari Jevano yang datang kemari." Jamal menjawabnya dengan sangat lugas. Tidak ada lagi nada intimidasi. Juwita mengangguk. Ternyata seperti itu. Pria di depannya ini tidak gengsi seperti tadi. "Kalau begitu, bolehkah saya yang meminta bantuan?" Jamal menaikkan kedua alisnya. "Apa maksud Anda berkata demikian?" "Saya ingin meminta bantuan Anda. Kalau tadi, Anda menolak untuk saya bantu, jadi bisakah Anda saja yang membantu saya?" Jamal berpikir sejenak. Memperkirakan apa yang akan ditawarkan wanita di depannya ini sebagai bentuk 'bantuan' darinya. Baiklah kalau wanita ini ingin imbalan balik darinya karena sudah membiyai perawatannya di rumah sakit ini. Dia akan memenuhinya. "Bantuan seperti apa?" Juwita menautkan antara jemarinya. Tatapan pria di depannya tidak main-main membuat jantungnya berdegup kencang, gugup. Mungkin wajah dan tatapan datar yang dimiliki Jevano diturunkan dari ayahnya. Wanita itu menghela napas. "Menikahlah dengan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN