Gemerlap lampu yang dihias sedemikian rupa menerangi aula salah satu hotel bintang lima milik keluarga Anggari. Dekorasinya sangat mewah. Meja-meja panjang penuh dengan hidangan dengan tatanan boga yang menyegarkan mata. Makanan dan minumannya pun tidak bisa dibilang sederhana namun dihidangkan secara cuma-cuma. Semuanya telah dipersiapkan dengan sempurna meskipun hanya dalam waktu satu minggu.
"Jevano, sini. Ayo kita foto bareng." Juwita melambaikan tangannya kepada pemuda lima belas tahun yang sedang berdiri menyendiri di tengah keramaian para tamu undangan.
Jevano mendekat, menuruti pinta Juwita. Dengan canggung dia berdiri di sebelah wanita yang sekarang sudah menyandang status sebagai ibu sambungnya, sambil menampakkan senyum tipis. Sungguh dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam acara besar dan formal seperti ini. Lebih lagi dia adalah tipe orang yang cukup tertutup. Seketika dia merasakan masuk ke dunia baru yang sangat asing.
"Ini yang namanya Jevano?" tanya seorang tamu wanita sambil mengelus lembut pundak pemuda itu. "Ganteng banget, loh."
Jevano menggerakkan pundaknya, tak mau disentuh lebih lama. Wajahnya tetap saja sangat datar, seperti biasanya. Jengah juga mendapatkan pujian itu berkali-kali dari para wanita paruh baya di pesta pernikahan yang besar ini.
"Cakep kayak ayahnya," komentar wanita itu lagi.
"Iya. Jevano ini udah kayak versi kecilnya Mas Jamal." Juwita melingkarkan tangannya di pundak Jevano. Untungnya, pemuda itu tidak menolak dan menyingkirkan tangan ibu tirinya itu.
Ibu tiri? Ya, kalau dipikir lagi Jevano bisa saja menyebut Juwita demikian. Juwita akhirnya melepaskan masa lajangnya dan sekarang sedang berada di pelaminan dengan gaun mewah dan dekorasi panggung yang 'wah' bersama dengan duda umur tiga puluh lima tahun yang sudah beranak satu, Jamal. Ya, pada akhirnya pria itu setuju untuk menikah dengan Juwita.
Hal itu pula yang membuat Nyonya Anggari terus menatap putri semata wayangnya dengan tatapan iba, bukan bahagia seperti semestinya. Berkali-kali dia harus menghela napas, mendesah, meringankan dadanya yang terasa sesak setiap melihat anaknya yang berfoto dengan para tamu. Juwita memang terlihat sangat bahagia dengan senyuman yang terus mengembang indah di wajah ayunya. Tangannya juga terus menggandeng duda yang baru dia kenal seminggu yang lalu. Entah kenapa hatinya resah. Padahal dia juga yang sangat menginginkan putrinya segera menikah.
"Aku gak tahu anak kita bakalan bahagia sama dia apa enggak," celetuk Nyonya Anggari yang duduk di samping suaminya.
Tuan Anggari tersenyum menanggapi curahan hati Nyonya Anggari. Dia mengulurkan tangan untuk memijit pundak istrinya. "Yang penting dia udah mau nikah, Sayang. Itu yang kamu mau, kan?"
"Ya, tapi enggak sama duda juga, Pa. Anak satu, udah gede lagi." Nyonya Anggari menoleh ke suaminya. Alisnya menukik, tidak setuju dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Ssttt, ada Jevano. Jangan bicara yang aneh-aneh sama cucu kita." Tuan Anggari melepaskan pijitannya. Dia memasang wajah cerah menyambut sang cucu. "Sini, Jevano. Duduk sebelah Kakek." Beliau melambaikan tangan lalu menepuk kursi sebelahnya yang kosong.
Dengan sopan, Jevano sedikit membungkuk, menyapa neneknya terlebih dahulu sebelum melangkahkan kaki untuk duduk di sebelah sang kakek. Dia memberikan senyuman lebar nan manis untuk kedua orang tua ibu tirinya itu. Tak lupa dengan matanya yang selalu ikut tersenyum.
"Ya, ampun. Kakek dapet mantu plus cucu ganteng kayak gini. Mimpi apa Kakek semalem. Mana gagah banget. Kamu suka olah raga, Nak?" Tuan Anggari memecah keheningan sesaat yang menyelimuti meja keluarganya. Dia menepuk-nepuk pundak cucu barunya yang berisi tersebut.
"Iya, Kek." Sopan. Tentu saja Jevano masih mempunyai sopan santun kepada keluarga barunya meskipun rasanya sangat asing dan canggung. Dia hanyalah anak remaja yang memasuki masa pubertas. Akan tetapi, dia juga tidak akan melupakan ajaran ayahnya untuk tetap menjaga sikap dengan baik.
"Kamu suka olah raga apa? Biasanya kalau anak muda kayak kamu ini sukanya basket kalau enggak, ya, sepak bola?" Tuan Anggari sangat ramah. Beliau bisa dan biasa membangun percakapan dan suasana.
Jevano tersenyum. Kedua matanya hampir hilang. "Jevano lebih suka lari sama naik sepeda, Kek. Kadang main bulu tangkis, sih. Kalau yang pinter basket itu Ayah."
"Oh, ya? Wah, bener-bener rejeki ini, mah. Nenek kamu suka sepedaan dan jogging. Kapan-kapan bisalah kamu nemenin Nenek olah raga."
"Hehehe. Iya, Kek." Jevano malu-malu kaku. Apa, sih, yang bisa dilakukan seorang remaja tanggung saat menghadapi pria berumur lima puluh tujuh tahun? Lebih lagi menghadapi 'keluarga baru'-nya.
Nyonya Anggari menatap wajah tampan cucunya. Dia akui cucunya ini memang rupawan, sama seperti menantunya. Mereka juga mempunyai daya tarik tersendiri di wajah mereka. Kalau cucunya memiliki senyuman mata yang manis, menantunya mempunyai lesung pipi yang menambah ketampanan mereka. Setidaknya, itu masih bagus. Mereka masih mempunyai tampang yang tidak malu-maluin untuk menghadiri acara besar dan penting yang dihadiri banyak kolega bisnis serta orang-orang papan atas seperti ini.
Akan tetapi, sampai sekarang dia masih meragukan pasangan anak dan bapak itu. Ada banyak hal yang membuatnya masih menyimpan pertanyaan terhadap status sosial mereka. Kemauan Juwita yang tiba-tiba dan persetujuan suaminya yang gampang begitu saja, membuat penasarannya terhadap anggota keluarga barunya itu terpaksa harus dipendam. Jujur itu membuatnya sedikit kebingunan dan kesulitan. Apa yang harus dia katakan kalau ditanya orang tentang asal-usul mereka berdua?
Ah, belum lagi nanti dia harus menghadapi tatapan sinis sok peduli dan sindiran dari beberapa kenalan bisnis keluarganya. Ditambah lagi dari para kerabatnya. Sudahlah, pusing kepalanya kalau memikirkan hal tersebut.
Helaan napas panjang mengakhiri tatapan datarnya kepada sang cucu. "Kamu kalau sepedaan sama Nenek jangan ngebut." Dia berusaha untuk membaur dengan suami dan cucunya. "Nanti Nenek ketinggalan jauh."
"Iya, Nek."
Senyuman cucunya yang sangat manis itu meluluhkan hatinya. Dari auranya, Nyonya Anggari bisa tahu bahwa Jevano ini bukan anak yang neko-neko meskipun mereka baru bertemu tiga kali ini. Hal itu yang membuat dirinya sedikit tenang. Paling tidak dia tidak akan terlalu kepikiran tentang bagaimana kehidupan Juwita ke depannya.
"Ya ampun anak Papa yang cantik." Tuan Anggari berdiri dan melebarkan kedua tangannya untuk menyambut Juwita yang turun dari panggung bersama menantunya.
Dengan wajah yang sangat berseri, Juwita berlarian kecil ke papanya dan menerima pelukan itu. Dia melambai ke mama dan anak tirinya. Yang disapa pun berdiri, ikut menyambut kedatangannya.
"Anak Papa akhirnya mau nikah," goda Tuan Anggari.
"Papa apaan, sih." Juwita memukul pelan pundak papanya sambil tersenyum malu.
"Menantunya Papa." Tuan Anggari beralih ke menantunya, Jamal. Dia memeluk dan menepuk punggung menantunya dengan bangga. "Jaga anak saya, ya. Saya percaya sama kamu," bisiknya sebelum melepas pelukan itu.
Juwita memeluk mamanya. "Aku udah tepati janji aku, ya, Ma. Aku udah nikah."
Mau tak mau Nyonya Anggari hanya bisa tertawa dan menyembunyikan kekesalannya. Rasanya seperti kalah taruhan. Seperti yang kalian tahu, dari awal dia tidak setuju anak gadisnya menikah dengan seorang duda. Tapi, bagaimana lagi. Anaknya yang memilih sendiri untuk menikah dengan pria tersebut dan menepati janjinya. Dia pun terpaksa harus menepati janji juga dan menghentikan kencan buta serta tak lagi menjodohkan Juwita jika putrinya itu mempunyai pilihan sendiri.
Dengan gerakan canggung, Nyonya Anggari memeluk menantunya. Dia tahu bahwa banyak mata yang sedang melihat. Tentu saja, ini acara besar dan penting bagi keluarganya. Tidak ada kata khusus yang diucapkan. Dia hanya menepuk-nepuk bahu Jamal dan mengucapkan kata selamat. Dia masih tidak percaya, masa iya anaknya mau menikah dengan duda hanya karena tampilannya yang tampan dan gagah seperti ini. Seperti bukan Juwita yang biasanya, mengingat anaknya itu sangat pemilih. Ya ampun, kenapa dia harus banyak pikiran di saat seperti ini, sih.
Juwita beralih ke anaknya, Jevano. Dia memeluk pemuda itu. Tidak ada balasan dari anaknya. Bahkan kata, "Selamat, Tante," menjadi salah satu yang menusuk hatinya malam ini. "Makasih, ya, Sayang." Juwita melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi anaknya. Dia mengelus pipi itu dengan ibu jari.
Kini giliran Jamal yang memeluk anaknya. Bahkan, Jevano duluan yang melangkah maju untuk pelukan hangat ayah anak itu. "Selamat, ya, Ayah. Ayah enggak bakalan kesepian lagi." Jamal hanya tertawa ringan mendengar ucapan anaknya yang dibisikkan di telinganya sedemikian lirih.
"Ya Tuhan. Sejak kapan anak Ayah sebesar ini."
Juwita hanya bisa tersenyum melihat suami dan anaknya berpelukan erat. Ya, meskipun dia tidak mendapatkan perlakuan yang sama dari anaknya, tapi masih mending dia tidak ditolak di tengah acara seperti ini.
Momen keluarga itu pun tidak luput dari sorot kamera dokumentasi. Sebelum duduk, mereka mengambil foto keluarga terlebih dahulu. Acara pun dilanjutkan dengan beberapa persembahan lagu dari para tamu undangan. Namun, Tuan Anggari dan Nyonya Anggari harus merelakan waktu mereka duduk bersama keluarga untuk berbincang dengan para rekan kerja perusahaan. Tinggal Juwita, Jamal, dan Jevano yang ada di meja keluarga. Mereka menikmati tampilan di panggung.
"Kak Ju, ampun cantik banget sumpah." Siapa lagi tukang heboh yang berani mendekat ke keluarga Anggari kalau bukan junior sekaligus sahabat Juwita, Hellen.
Juwita menoleh. Dia terkejut tapi wajahnya tambah bersinar. "Astaga, gue kira lo enggak dateng." Dia langsung bangkit dan memeluk gadis yang lebih muda darinya dua tahun itu.
"Enggak mungkin. Gue udah sempet-sempetin nyampe tepat waktu khusus buat lo." Hellen menguyel-uyel seniornya itu. "Kak. Selamat, Kak. Sumpah gue ikut seneng lo akhirnya mau nikah."
Juwita tertawa. Dia melepaskan pelukannya pada Hellen. "Kamu juga cepetan nyusul, ya."
"Dih, mentang-mentang udah nikah. Sekarang nodong aku. But, btw ini baju yang Kakak rancang sendiri itu?" Hellen melihat penampilan Juwita dari atas sampai bawah.
Juwita mengangguk sambil tersenyum. "Baju Mama, Papa, Mas Jamal sama Jevano juga tim aku yang bikin."
Hellen menggeleng takjub. "Apa yang enggak gue banggain dari lo, sih, Kak?"
"Eh, omong-omong lo ke sini sama siapa?" tanyanya Juwita.
"Sama kakak gue. Emang siapa lagi yang bisa diajakin?"
"Oh, kirain." Juwita menggoda. Alisnya naik turun.
"Gak usah yang aneh-aneh, ya, Kak. Ini masih di nikahan, loh."
Juwita mengelus lengan Hellen sambil menahan tawanya. Hanya mereka yang tahu maksud tersebut. Mungkin lain kali kita akan membahas 'maksud' Juwita itu. "Gih, sana ke hidangan. Gue udah pesen makanan kesukaan lo. Cepetan sebelum habis."
Hellen mengedipkan sebelah matanya. "Oke." Dia pun tertawa. Menertawai dirinya sendiri yang tak sungkan membahas hidangan bersama mempelai wanita.
"Hellen gemes banget. Tahu, kan, dia yang biasa aku ajak buat jenguk Mas itu pas di rumah sakit." Juwita masih memaku pandangannya kepada Hellen yang sudah berjalan anggun ke meja hidangan. Senyumannya berkembang lebar. Sahabat kecilnya itu masih saja sama. Anggun, sih, iya. Tapi, agak celelekan.
"Kamu deket banget sama dia, ya?" Jamal memandang wanita yang telah sah menjadi istrinya dengan pandangan teduh. Mungkin jarak umur mereka yang terpaut jauh membuatnya memperlakukan Juwita seperti adik kecilnya.
Juwita mengangguk. "Iya. Udah lama banget. Sejak kuliah dulu. Aku udah anggep dia kayak adik aku sendiri." Dia melihat bagaimana Hellen menikmati hidangan yang memang dia pesan khusus untuk juniornya itu.
"Tante itu dokter yang dulu sering nemenin Tante buat jenguk Ayah, 'kan, Tante?" Jevano bertanya untuk memastikan, mengundang heran sekaligus antusias Juwita.
"Kamu inget?" Wanita itu tersenyum cerah. Sejak bertemu, dia hanya bisa mendengar anak ini berbicara sangat sedikit sekali. Semoga ini adalag awal dari keajaiban.
Jevano berdehem ringan, seringan anggukannya. "Banyak tingkah juga."
Mendengar anaknya berkata seperti itu membuat alis Juwita terangkat.
"Jevano." Jamal heran dengan anaknya ini. Tidak biasanya dia ceplas-ceplos di tempat yang asing seperti ini. "Maafin Jevano, ya."
Juwita kembali tersenyum. "Iya." Dia mengelus lengan bawah suaminya. Menatap lelaki itu dengan penuh arti. Dia pun terbalaskan.
***
Acara malam itu berjalan sangat lancar dan berakhir tanpa kendala pula. Rasa syukur di hati Juwita tidak habis sedari tadi. Kini dia menatap dirinya di depan kaca rias kamarnya, hendak membersihkan make up yang menghias wajahnya.
Dia menatap refleksi dirinya di cermin besar itu. Dia sendiri juga tidak percaya bahwa dia baru saja menyelesaikan presepsi pernikahannya. Ini terasa seperti mimpi di siang bolong. Namun, dia sangat tahu langit sekarang sudah sangat pekat menggelap. Malam sudah sangat larut.
Pikirannya melayang ke asal mula semua ini terjadi. Ke satu memori di mana dia dan Jamal bertemu pertama kalinya. Sejak saat itu pula dia terus merasa bersyukur. Mungkin ini memang jawaban dari Tuhan saat dia sudah lelah untuk menentang perjodohan dan jadwal kencan buta dari ibunya.
"Mau langsung istirahat?" tanya Jamal saat memasuki ruangan pengantin itu.
Juwita dapat melihat suaminya dari cermin. Dia mengangguk seraya tersenyum indah. Jamal mendekat dan berdiri di belakang wanita itu.
"Makasih, ya, Mas."
Hanya anggukan yang menjadi jawaban pria tersebut. Mereka saling menatap lewat cermin. Terlihat sangat manis, tapi siapa yang tahu dengan makna di baliknya?