Tanpa Rasa

2159 Kata
Mentari dan langit sedang akur untuk membuat bumi terlihat lebih indah dan cerah. Entah karena alasan apa, mereka seperti mendukung sekali kebahagiaan pasangan pengantin baru kita. Warna biru dan sinar cerah adalah kombinasi yang pas untuk menikmati hari. Jevano baru saja selesai mandi setelah membereskan semua barangnya yang ada di kontrakan. Dia berniat untuk menjemur handuknya. Matanya tidak sengaja melihat sang ayah sedang memasukkan beberapa barang yang tadi belum sempat dia kemas di ruang tengah. Dia mendesah. Hari ini adalah sehari setelah pernikahan ayahnya. Dia kira, dia dan ayahnya akan tidur di kamar hotel bintang lima, mengingat acara pernikahan kemarin digelar di sana. Pun, dari yang dia dengar, hotel itu milik keluarga ibu tirinya. Bukan, bukan maksud Jevano mau memanfaatkan fasilitas bagus yang tak pernah dia rasakan selama hidupnya. Namun, kenapa tidak sekalian saja istirahat di sana, sih, padahal badannya sudah capek sekali tadi malam. Rasanya nanggung aja. Pun ayahnya itu aneh sekali. Bukannya biasanya pengantin baru selalu satu tempat setelah menikah? Ini, kenapa mereka malah kembali ke kontrakan? "Jevano! Ayo cepat! Nanti kita terlambat!" Teriakan itu membuat pemuda lima belas tahun kita yang manis ini tersadar dari lamunannya. Buru-buru dia merapikan handuknya di kawat jemuran. "Aku sudah di sini, Ayah. Memang kita mau ke mana sepagi ini?" tanya Jevano sopan sambil mendekati ayahnya yang masih sibuk. Jamal mengangkat pandangannya sejenak, mengecek keberadaan anaknya. Lalu, dia menunduk lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Ke rumah Kakek dan Nenek. Kita sarapan di sana." Jevano hanya mengangguk. Entah karena dia paham atau maklum akan sesuatu. "Kenapa enggak dari kemarin saja kita di sana? Kan, enggak perlu repot-repot pagi begini, Yah." Jamal selesai menyegel kardus yang ada di depannya dengan solasi. Dia menegakkan badan dan memandang anaknya lekat. "Ayah, kan, kemarin sudah bilang. Kita perlu siap-siap untuk pindah ke rumah baru, Jevano. Kamu lupa?" Jevano terdiam. Dia mencoba mengingat perkataan ayahnya yang itu. Matanya pun melebar, begitu juga dengan mulutnya. "Ah, percakapan pas siang kemarin? Di rumah Kakek Nenek?" Jamal mengangguk sambil mengangkat satu suduh bibirnya, menampakkan lesung pipi yang tampan di sana. "Oh, mekanya." "Mekanya apa?" Jamal mengerutkan keningnya. "Mekanya Ayah ngajak aku pulang ke sini. Aku kira Ayah enggak tinggal di hotel tadi malam karena Ayah grogi." Jevano menjeda kata-katanya. Jamal yang disebut mulai menaruh tatapan curiga. "Eh, tapi. Ayah grogi enggak, sih? Aku enggak salah, 'kan? Ah, mekanya Ayah enggak mau bermalam sama—" "Jevano!" "Eh, iya, Ayah. Ampun. Jevano ambil tas di kamar dulu." Lelaki itu pun langsung berlari ke kamarnya, menyelamatkan diri sebelum diterkam oleh sang ayah. Lagian, Jev, kenapa malah goda pengantin baru gitu, loh. Jamal menggeleng, menatap punggung Jevano dan lari anaknya yang sangat gesit itu. Dia menghela napas. Tidak terasa anaknya sudah sebesar itu. Tatapannya meneduh. Senyumannya mengembang. "Akhirnya kamu punya ibu, Nak." *** Di kediaman utama keluarga Anggari, Juwita sedang menata hidangan bersama dua asisten rumah tangga. Dia bolak-balik ke dari dapur ke meja makan. Berkali-kali asistennya itu menyuruhnya berdiam dan memantau saja, namun dia tetap bersikeras ingin membantu. "Mana itu suami sama anak kamu? Udah jam berapa ini, kok, malah belum pada datang?" Itu adalah suara Nyonya Anggari yang sudah dari lima belas menit yang lalu menunggu kedatangan menantu dan cucu barunya. Awalnya, dia sudah siap akan duduk di ruang makan. Namun, karena ternyata terlalu awal bersiap-siap, jadinya dia harus menunggu terlebih dahulu di ruang tengah sambil menonton berita pagi. Tuan Anggari yang duduk di sebelah istrinya mengusap dengan lembut lengan wanita itu. Dia masih memusatkan perhatiannya kepada koran yang tadi diberikan oleh Pak Samin, sekuriti rumah, kepadanya. "Sabar, Ma. Mereka, kan, juga perlu waktu buat kemas-kemas. Mama sini aja, deh, sama Papa." Nyonya Anggari cemberut. Dia menoleh ke belakang. Hatinya jengkel apalagi saat melihat anak perempuannya yang sedang sibuk menata hidangan di meja makan ikutan tersenyum saat suaminya berkata barusan. Seperti mengejeknya. "Puas kamu dibelain Papa?" Juwita mengangkat kedua alisnya dan memasang wajah tak tahu menahu. "Papa bela aku apa? Dari tadi aku cuma diem doang, loh." Dia tertawa tanpa suara saat mamanya itu berbalik dan menghadap ke televisi. "Lagian yang melarang aku buat ke rumahnya Mas Jamal siapa, sih, kemarin? Aku niat bantu biar bisa cepet malah dihalangin." "Nah, itu dia." Gumaman Tuan Anggari dihadiahi cubitan di pinggang oleh istrinya. Wanita itu semula bersandar di pundaknya. Namun langsung menarik kembali posisinya. "Sayang, sakit ini pinggang aku." "Biarin. Kamu sama anakmu sama aja." Tuan Anggari tertawa lalu memeluk istrinya. Dia mengecup kening wanita yang telah menemani hidupnya lebih dari seperempat abad itu. "Sayangnya Abdillah, jangan marah. Kamu tenang, ya, Sayang. Aku enggak bakalan melepaskan anak kita satu-satunya ke tangan yang salah. Kamu tahu itu." Dia membelai istrinya sambil berbisik. "Tapi, aku masih kesel sama kamu. Kenapa kamu malah mau Juwita nikah sama orang yang enggak jelas asal usulnya, Pa. Aku takut nanti Juwita kenapa-napa." "Ssttt, enggak, Sayang. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Pun kalau ada apa-apa, Juwita itu anak kita yang tangguh. Kamu enggak inget apa yang dulu berani ngelaporin perampokan di rumah ke kantor polisi itu siapa?" Tuan Anggari masih terus berusaha memberikan pengertian kepada istrinya. Dia tahu istrinya ini hanya sedang khawatir. Bukan sedang, masih bahkan. "Ini masalah hati, Pa. Kamu tahu Juwita juga enggak pernah ngerasain yang namanya pacaran. Aku takut kalau dia—" "Sstt." Tuan Anggari mengecup pipi istrinya. "Jangan gitu, dong, Sayang. Nanti jatuhnya kamu malah enggak menghargai pilihan anak kamu. Kamu tahu sendiri Juwita anaknya kayak gimana. Kalau Papa, sih, yakin banget dia enggak sembarang pilih orang juga." Nyonya Anggari diam. Hatinya masih gundah. Ibu mana, sih, yang tidak galau akan masa depan anaknya? Apalagi Juwita adalah anak semata wayang Keluarga Anggari. Suara mobil berhenti di depan pintu utama membuat Juwita mengangkat kepalanya. "Itu kayaknya mereka!" Dia sangat riang. Dengan segera, dia berpamit kepada kedua asistennya dan segera menuju pintu utama. Tidak lupa, dia menoleh sejenak ke papa dan mamanya. Dia terbalaskan. "Mekanya yang sabar, Mama." Tuan Anggari hanya bisa tertawa saat putrinya bilang begitu. Apalagi istrinya malah melotot dan memberikan tatapan tajam. Lucu sekali dua wanita yang dia cintai ini. Sedangkan Juwita, dia melangkah dengan penuh semangat. Dia membuka pintu utama dan menyambut suami serta anaknya. "Selamat datang!" ucapnya penuh dengan senyum kebahagiaan. Jamal membalas dengan senyuman lebar dan menampakkan kedua lesung pipi tampannya. Sedangkan Jevano, dia hanya diam, mengangguk, dan memasang wajah datar, seperti biasanya. Juwita menjabat dan mencium tangan suaminya saat pria itu sudah ada di depannya. Bergantian Jevano yang menjabat tangannya. "Kalian tidur nyenyak?" Jamal mengangguk. "Syukurlah." Perkataan Juwita sangat manis. "Jevano?" Dia mencoba mengambil atensi anak tirinya yang hanya diam dan membuang pandang ke arah lain. "Hmm?" Pemuda itu hanya melirik sebentar, masih dengan wajah datarnya. "Kamu tidur nyenyak?" tanya Juwita sabar. "Hmm." Hanya gumaman dan anggukan kecil dari Jevano sebagai jawaban. Mimik wajah Juwita sedikit berubah memandang Jevano. Dia merasa tidak dianggap. Dia pun menoleh dan langsung mengubah air mukanya saat sang suami mengelus lengan atasnya. "Papa sama Mama?" tanya Jamal. "Di dalam. Ayo masuk. Aku udah siapin makanan buat kita semua." Juwita kembali riang. Mereka memasuki rumah. "Kamu yang masak?" Jamal berjalan di sebelah Juwita. Jevano membuntut di belakang. "Hehehe. Enggak. Cuma bantu dikit-dikit doang, sih. Bibi yang masak." Juwita memperlihatkan deretan giginya. "Gitu bilangnya nyiapin," gerutu Jevano dari belakang. "Kamu bilang apa, Jevano?" tanya Juwita yang mendengar anaknya bergumam. Dia sedikit menoleh. "Enggak papa. Aku enggak ngomong apa-apa," jawab Jevano datar. Padahal tadi jelas Juwita mendengar anaknya tadi berbicara. Namun, dia tidak ambil pusing dan terus membawa suami dan anaknya menuju ruang tengah untuk bertemu orang tuanya. Jamal dan Jevano bersalaman dengan Tuan dan Nyonya Anggari. Mereka berdua dipeluk erat dan ditepuk-tepuk pundaknya oleh Tuan Anggari. "Papa mau bicara sama kamu nanti," bisik Tuan Anggari kepada sang menantu saat berpelukan. Jamal mengangguk. "Iya, Pa." Giliran Jevano, pemuda itu juga didekap sang kakek. "Kakek udah enggak sabar ngajakin kamu sama Nenek sepedaan." Jevano hanya bisa menanggapi dengan senyuman manis di bibir dan matanya. Bahkan Nyonya Anggari yang sedari tadi masam selalu bisa tersihir dengan senyuman mata pemuda itu. "Cucu Nenek kenapa manis banget, sih?" Nyonya Anggari meraih Jevano dan memeluknya. Dia menepuk-nepuk bahu cucunya. "Makasih, Nek." Ah, senyuman Jevano memang sangat tampan. "Ayo kita sarapan dulu." Tuan Anggari membentangkan tangannya ke arah ruang makan. Keluarga itu pun menyarap bersama diselingi dengan beberapa percakapan ringan di antara mereka. Di tengah suasana harmonis seperti itu, Juwita terharu bisa merasakan momen seperti ini dengan keluarganya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, senyuman dan antusias kedua orang tuanya dalam menyambut keluarga barunya membuat hatinya lega. Senyuman di wajah bahagia orang tuanya sangat berharga baginya. Juwita menoleh saat merasakan ada sentuhan di tangannya. Diam-diam, Jamal menggenggam tangannya di bawah meja. "Terima kasih, Mas," ucapnya dengan isyarat bibir tanpa mengeluarkan suara. Jamal mengangguk. Dia tersenyum hangat kepada sang istri. Lesung pipinya tampak sangat jelas. "Sama-sama." Tatapan itu lagi. Sebuah tatapan mata yang hanya Juwita dan Jamal yang tahu. Ya, karena sejatinya, hanya mereka juga yang tahu tentang bagaimana pernikahan kemarin berlangsung. Semua berlandaskan asas 'kesepakatan' antara keduanya. Bukan kesepakatan yang aneh. Bukan kesepakatan yang ekstrim seperti yang disajikan di film, sinetron, atau drama. Mereka juga tidak menjalani 'nikah kontrak' yang sekarang marak di kalangan masyarakat, apalagi dunia maya. Tidak. Mereka tidak seperti itu. Kesepakatan mereka atas dasar kesadaran masing-masing dan memang tujuannya untuk kepentingan kedua belah pihak. Juwita juga menyampaikan dengan sangat lugas keinginannya untuk menikah dengan Jamal saat itu. Ya, saat itu. Saat dia memberanikan diri untuk maju dan memberikan tawaran kepada pria yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. *** "Sejujurnya, saya juga malu mengatakan ini. Akan tetapi, saya tidak mempunyai pilihan lain. Saya rasa Anda adalah pria yang pas untuk saya nikahi," ucap Juwita di ruang rawat Jamal ketika itu. "Atas alasan apa?" tanya Jamal yang masih membuat benteng ego karena perkataan Juwita yang mengungkit tentang sekolah Jevano. "Sa-saya, saya harus menikah untuk menghindari kencan buta yang direncanakan mama saya. Maaf, ini mungkin terdengar egois. Namun, saya pikir, kita bisa saling memberikan keuntungan satu sama lain. Saya menikah dengan Anda untuk memenuhi keinginan orang tua saya. Anda menikah dengan saya untuk masa depan Jevano." Tatapan mata Jamal menjadi nyalang. Masalah ini lagi yang diungkit. Memang kenapa dengan masa depan Jevano? Dia juga masih mampu bekerja untuk menghidupi anaknya. "Anda, selain sombong, cukup egois juga." Juwita segera melambaikan kedua telapak tangannya sembari menggeleng. "Ini bukan seperti yang Anda pikirkan. Saya bukan hanya serta merta ingin memberikan bantuan kepada Anda. Akan tetapi, juga masih untuk rasa terima kasih saya, jika Anda menikah dengan saya, papa saya pasti memberikan Anda jabatan yang layak di perusahaan kami." Lalu setelahnya, Juwita menunduk. Dia menggigit bibir bawahnya dan menautkan antara jemarinya dengan erat. Dia tampak berpikir dan ragu. "Saya yakin, Anda adalah orang yang bisa dipercaya. Terlihat dari sikap dan perilaku Anda. Orang seperti itulah yang saya butuhkan untuk menjadi pendamping saya. Karena, perusahaan yang sekarang dipegang oleh papa saya harus dikelola oleh orang yang seperti Anda ini." Jamal terkesiap. Dia bisa melihat ada tetesan air mata yang baru saja meluncur dari wajah wanita itu. "Sejarah perusahaan kami tidak mudah. Banyak tangan-tangan kotor yang berusaha merebutnya dari papa saya. Pun dulu, saya hampir kehilangan Papa. Itu karena ada orang yang culas dan tak bisa dipercaya. Namun, Anda, saya yakin Anda bukanlah orang yang seperti itu. Saya harap Anda mengerti maksud saya." Juwita menyeka air matanya. Dia seperti sudah tidak mempunyai muka di depan Jamal. "Anda tahu kalau kita baru saja kenal. Bahkan Anda juga tahu bahwa saya adalah duda dengan anak satu. Kita juga tidak mempunyai rasa satu sama lain." Jamal perlu meyakinkan wanita di depannya. Terkadang wanita yang tidak berpikir jauh dan luas. Dia hanya tidak mau saja jika langkah berikutnya malah berujung penyesalan. "Tidak apa-apa. Kita bisa jalani semua ini tanpa perasaan, Pak Jamal. Kita hanya perlu profesional." Jamal manggut-manggut. "Lalu, Jevano? Saya tidak bisa memberikan hal yang semu untuk anak saya." Juwita menegakkan duduknya. "Sejujurnya, dari awal bertemu dengan Jevano, entah mengapa saya merasa sayang dengan dia. Maaf, jika ini terdengar aneh. Tapi, saya benar-benar ingin memberikan yang terbaik kepada Jevano. Saya juga ingin merawatnya." "Apa tidak apa-apa dengan status sosial Anda?" Juwita menggeleng. "Selama itu akan memberikan kebahagiaan untuk sekitar saya, saya tidak peduli." Atas jawaban itulah Jamal meluluh. Wanita di depannya ini tidak main-main. Dia teringat dengan bagaimana Jevano selalu dibawakan berbagai oleh-oleh saat Juwita berkunjung. Cara wanita itu mengajak bicara anaknya, menatap anaknya, hingga cara merawat dirinya. Semua itu sudah cukup menjadi bukti untuk kesiapan wanita di depannya. "Baiklah jika itu keinginan Anda. Saya akan terima. Saya juga berutang banyak kepada Anda yang telah memberikan segala fasilitas dan pengobatan yang saya butuhkan. Saya berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk semuanya, termasuk mengelola perusahaan orang tua Anda." Juwita membulatkan matanya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. "Baiklah." Dia tersenyum lebar dan menyodorkan telapak tangannya. Jamal menyambut tangan Juwita dan menjabatnya. "Saya hanya perlu profesional." Juwita mengangguk. "Iya. Pernikahan kita tanpa perasaan pun tidak apa-apa." "Untuk Jevano—" "Saya akan memperlakukannya dengan baik sebagai seorang ibu." Kesepakatan mereka memang terucap dengan mulus dan tuntas. Akan tetapi, inilah masalahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN