Paket Lengkap

1957 Kata
Acara sarapan di rumah utama keluarga Anggari selesai. Jamal langsung dilambai oleh mertuanya untuk mengikuti ke lantai dua. Tuan Anggari membawanya ke ruang kerja yang ada di rumah tersebut. Sepanjang langkahnya menuju ruangan itu, Jamal menerka-nerka apa yang akan dibicarakan oleh Tuan Anggari dengan dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak boleh salah atau paling tidak, dia tidak boleh terlihat kikuk di depan papa istrinya. Dia harus terlihat mempunyai wibawa meskipun tidak sempurna dan masih menjaga kerendahan hati. Tuan Anggari mempersilakannya masuk. Lalu, dia yang menutup pintu ruang kerja itu. "Santai saja. Saya tidak akan menginterogasi kamu, Jamal." Tuan Anggari menepuk pundak Jamal dan tersenyum. Dia melangkah ke dekat jendela. Jamal mengikuti langkah mertuanya dan tetap menjaga jaraknya, sekitar tiga langkah di belakang. "Ada keperluan apa, sekiranya saya dipanggil ke sini ... Pak?" Tuan Anggari terkekeh sambil berbalik badan ke belakang. "Panggil saya Papa, Jamal. Ingat, kamu sudah menjadi menantu saya." "Baik, Pa," ucapnya patuh. Tuan Anggari menatap Jamal dengan posisi lurus berhadapan. Membuat sang menantu tertegun di tempat. Lalu, dia mengulaskan senyuman teduh, tahu jika menantunya sedang tegang. "Rileks, Jamal. Saya tidak akan mempermasalahkan pernikahan kalian berdua. Well, itu adalah masalah kalian dan kalian sendiri yang menyetujuinya. Saya mengajak kamu kemari untuk menawarkan pekerjaan sekaligus melatih kami untuk menduduki tempat yang telah saya siapkan di perusahaan keluarga kami." Tuan Anggari kembali terkekeh melihat menantunya yang tetap membisu. "Ya, mungkin sekarang kamu berpikir bahwa saya memeriksa latar belakang kamu, bagaimana kehidupan kamu, bagaimana kinerja kamu, di mana kamu tinggal, dari mana kamu berasal dan lain sebagainya. Kalau kamu memang berpikir begitu, berarti kamu benar." Senyumannya tetap terpatri di bibirnya. Jamal menelan ludah. Ternyata dia sedang menghadapi orang sekaligus pemimpin dari keluarga yang tidak main-main. "Jangan terkejut, Jamal. Saya tidak akan mungkin merelakan anak gadis saya satu-satunya kepada sembarang orang. Paling tidak saya harus mengecek bagaimana kamu hidup selama ini. Dan ternyata ...," ucapan Tuan Anggari menggantung saat dia membuat gestur mengangkat pundak beserta tangannya setara siku. "Kamu bersih dan kinerjamu baik. Saya yakin juga Juwita tidak akan memilih pria yang tidak bertanggung jawab." "Yah, awalnya sulit percaya bahwa anak saya bisa memilih kamu sebagai suami, mengingat Juwita itu anaknya sangat suka memilih dan malah hampir perfeksionis. Bahkan, dia sebelum ini bilang bahwa dia tidak ingin menikah. Mamanya sampai pusing." Mengingatnya, Tuan Anggari menggelengkan kepala. "Tapi, apa yang sekarang terjadi? Seorang Jamal bisa membuat Juwita membuka hati. Bahkan tanpa memandang status sosial atau statusmu sebagai Duda." Jamal menunduk. Dia merasa tidak enak. Dia juga sadar diri bahwa dia bukan dari kalangan menengah ke atas. Ah, tidak. Keluarga Anggari malah sudah di atas. "Maafkan saya, Pa." "Oh, tidak. Tidak, Jamal. Jangan berkecil hati dan jangan pernah merasa rendah. Aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali." Tuan Anggari mendekati menantunya dan menepuk pundak pria itu. "Saya yakin kamu pasti mempunyai banyak cerita yang kamu simpan. Saat saya tahu bahwa kamu adalah seorang duda dan telah memiliki anak satu sebesar Jevano sekarang, kamu pasti telah melewati banyak hal dalam hidupmu. Saya menghargai itu." Kedua telapak tangan Tuan Anggari bertumpu di bahu Jamal. "Jamal, lihat saya." Jamal menurut. Dia mengangkat wajahnya dan mendapati kedua sorot mata mertuanya sangat tegas dan sungguh-sungguh, namun teduh. "Saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Itu adalah privasi kamu. Begitu pula dengan persetujuan kamu dan Juwita untuk ke pelaminan. Akan tetapi, Jamal, apa pun perjanjian yang kamu buat dengan anak saya, saya harap kamu bisa untuk tidak membuat Juwita kecewa." Tuan Anggari menepuk pundak Jamal lagi sebelum akhirnya menyingkirkan tangannya dari sana. "Jadi, apakah kamu siap untuk terjun lagi ke dunia perusahaan?" Jamal terdiam. Pikirannya langsung melayanh ke istrinya. "Oh, ayolah, Jamal. Saya sudah menyebutkannya tadi. Kamu akan bekerja dan mempunyai kedudukan di perusahaan saya. Pun sebelum ini, kamu juga bekerja di perusahaan. Saya yakin kamu mampu. Juwita juga sudah merekomendasikannya ke saya." "Ju-Juwita, Pa?" Astaga, apa yang ada di benaknya bisa terbaca? Tuan Anggari mengangguk. "Iya. Dia bilang kamu bercerita tentang kehilangan pekerjaan dan akan menyekolahkan Jevano di sekolah favorit." "Juwita bercerita seperti itu?" "Iya. Kenapa? Bahkan dia juga bilang kalau dia percaya denganmu seratus persen bahwa kamu bisa membawa perusahaan kami dengan baik. Dia bilang kamu sangat bertanggung jawab." Jamal menelan ludah lagi. Apa yang ada di pikiran Juwita saat itu hingga bisa mengatakan hal berlebihan seperti ini? "Memangnya, Papa mau saya menjadi apa di perusahaan?" tanyanya dengan sedikit ragu. Tentu saja dia sangat merasa segan untuk menanyakan perihal jabatan, mengingat dia hanyalah orang baru di perusahaan dan keluarga ini. Apalagi dia hanyalah orang biasa yang sangat beruntung bisa menikah dengan Juwita meskipun sedikit 'gimmick'. "Jabatan apa lagi yang pantas untuk menantuku selain Direktur," jawab Tuan Anggari enteng. Mata Jamal membulat. Sekali lagi dia menelan ludah. "Ta-tapi Pa—" Belum saja dia menyelesaikan ucapannya, perhatiannya dan mertuanya tersita saat mendengar suara jeburan yang cukup keras serta teriakan dari luar ruangan di lantai bawah, di halaman belakang. Cepat-cepat dia mengikuti langkah mertuanya untuk keluar ke balkon. Jamal tidak percaya saat melihat Jevano yang sedang berdiri di pinggir hanya melihat ke arah kolam. *** Saat Jamal diajak ke ruang kerja Tuan Anggari tadi, Jevano kebingungan akan melakukan apa. Dia harus menghadapi nenek dan bundanya tanpa sang ayah. Berkat inisiatif yang dikombinasikan dengan kebiasaannya di rumah, dia pun mendekati Juwita. "Ada yang perlu dibantu, Tante?" tanyanya datar. Juwita yang sedang sibuk dengan semangka utuh pun menoleh. Dia tersenyum. "Enggak, sayang. Kamu duduk aja di situ sambil nunggu ini selesai. Kamu suka semangka?" tanya Juwita dengan penuh kehangatan. Jevano diam dan menoleh ke sana kemari. Para pelayan memberesi piring dan makanan sisa. Dia melihat ke arah dapur, melihat pelayan menyisihkan makanan sisa ke tempat yang lain. Entah mengapa hatinya agak sakit melihat itu. Apakah ini yang biasa dilakukan para pelayan itu, menyisihkan makanan untuk mereka makan? Pun kenapa mereka tidak makan bersama tadi? Rasanya hatinya tercabik. Orang kaya memang berbeda, ya? Juwita yang merasakan tidak ada pergerakan dari Jevano pun menoleh ke arah anaknya. Lalu dia melihat ke arah yang sama. Dia tersenyum. "Makanan itu buat makan siang kita nanti. Kalau kamu mau ganti menu, bisa. Tinggal minta aja ke bagian masak, ya." Jevano tertegun. Ternyata dia sedang diperhatikan. "Lalu, mereka?" Dia bertanya lirih. Juwita semakin melebarkan senyumannya sambil memotong semangka menjadi empat bagian. "Mereka nanti masak sendiri pakai bahan makanan yang ada di kulkas. Kalau mereka mau menu yang sama dengan apa yang mereka masakkan dengan kita, mereka akan mengambil terlebih dahulu di wadah secukupnya dan menghidangkannya kemudian. Kenapa?" "Enggak. Cuma ingin tahu," jawab Jevano singkat. Juwita hanya bisa tersenyum melihat anaknya itu. Meskipun dingin, anaknya ternyata mempunyai hati yang lembut. Kemudian, dia mendekatkan kepalanya ke Jevano, hendak berbisik sesuatu. Jevano yang tidak siap dengan gerakan Juwita yang terlalu tiba-tiba itu pun langsung menarik dirinya ke belakang. Juwita terkekeh. Anak tirinya ini lucu. "Apa yang ada di televisi dan novel, terkadang tidak sesuai dengan realita, Sayang. Tidak semua orang yang berada tidak mempunyai hati." Lalu, dia menepuk d**a anaknya dengan punggung pergelangan tangannya. Tentu saja karena tangannya masih penuh dengan air semangka, lengket. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa anaknya kaget hingga mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Dia terkekeh. Ah, gemas sekali Jevano. "Kalau Bunda tidak punya hati, Bunda sudah tidak akan peduli dengan buah semangka ini." Jevano hanya diam dan memandang Juwita serta semangka yang sudah menjadi empat bagian itu dengan tatapan dingin. Hening sejenak. "Kalau kamu bingung mau ngapain, kamu bisa ke halaman belakang buat lihat-lihat. Ada kolam renang juga kalau kamu mau renang." "Aku enggak papa enggak bantu?" tanya Jevano. Sebenarnya dia tidak benae-benar ingin untuk membantu. Akan tetapi, paling tidak dengan pertanyaan tersebut dia masih mempunyai niat baik dan masih tahu diri. Juwita menggeleng tetap dengan senyuman manisnya. "Enggak. Gak papa kamu keliling aja lihat-lihat sana. Nanti Bunda nyusul." Jevano hanya mengangguk lalu melangkah menjauh. Dia masih diawasi oleh Juwita sampai di pintu menuju halaman belakang. "Non, beruntung banget dapet anak ganteng kayak gitu." Itu adalah ucapan salah satu pelayannya, Bi Tika. Juwita ini suka tersenyum. Sangat ramah pula. "Alhamdulillah." "Manis banget itu Den Jevano. Mana Pak Jamal juga ganteng. Nemu di mana, Non, duda sama anak hot kayak gitu?" Bi Tika ini suka sekali blak-blakan. Mata Juwita terbelalak. "Bibi kenapa tanya gitu, dah? Kalau mereka denger gimana?" "Cieee, Non Juwita malu-malu mau. Wajahnya sampai merah gitu, ih." Bi Tika masih saja menggoda anak dari tuannya itu. Juwita hanya menunduk sambil tersenyum malu. Dia merasakan panas di pipinya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Jamal dan Jevano adalah paket lengkap. Jamal tampan dan bertubuh tegap. Begitu pula dengan Jevano. Dia yakin bahwa mereka sangat menyukai olah raga. Terlihat dari bentuk tubuh mereka. Bahkan Jevano yang baru lima belas tahun saja sudah terlihat memiliki otot yang bagus. Astaga, dia memikirkan apa, sih? "Emang kenapa? Aku beruntung banget, kan?" Juwita malah menantang. "Iya, sih. Apalagi Nona juga cantik kayak gini. Keluarga idaman banget. Bahagia selalu, ya, Non. Bi Tika selalu berdoa biar Non Juwita bisa bahagia pas punya pasangan." Juwita hanya menanggapinya dengan senyuman. Akan tetapi rasanya berbeda dengan tadi. Senyumannya tidak seikhlas tadi. Ada sesuatu yang dia sadari dan itu membuat ganjalan yang sangat nyata di dalam dadanya. Perjanjiannya dengan Jamal. Ya, pernikahan ini. Mereka memang nyata menikah dan semua orang juga tahu kalau mereka adalah suami istri yang sah. Namun, di balik semua itu, kata-kata 'pernikahan tanpa rasa' yang terucap darinya dan Jamal sedikit banyak membuat dirinya selalu diliputi perasaan aneh. Juwita menggeleng kecil, berusaha menghilangkan pikirannya. Dia mencoba untuk tidak peduli dengan itu. Yang terpeting sekarang adalah bagaimana dia berbuat sebaik mungkin untuk keluarganya. Tidak, dia tidak akan mengatakan itu adalah sebuah akting karena nyatanya dia sangat menyayangi Jevano sebagai anaknya dan dia juga masih mempunyai kesadaran penuh untuk memperlakukan Jamal sebagaimana istri memperlakukan suami. Masalah rasa, dia akan memikirkannya belakangan. Toh, Jamal adalah orang yang baik. "Bi, tolong ini dipotong lebih kecil, ya. Aku mau nemenin Jevano dulu buat lihat-lihat belakang." Juwita meminta dengan baik lalu menuju washtafel dapur. Dia mencuci tangannya di sana dan segera menyusul anaknya. Senyumannya terulas lebar saat melihat Jevano sedang memperhatikan air dalam kolam. Dia mendekati anaknya. "Perlu baju ganti untuk renang?" tanya Juwita yang langsung menyita atensi Jevano. Lelaki lima belas tahun itu hanya menoleh sejenak dan tak menjawab apa-apa. Dia melihat ke arah kolam renang lagi. "Atau kamu mau jalan-jalan ke sana?" tawar Juwita menunjuk ke bagian halaman rumahnya lebib belakang. Jevano melihat ke arah tunjuk Juwita. Ada tanah yang cukup lapang yang tertutup dengan rumput hijau yang sangat menyegarkan. Ada pepohonan dan terlihat ada padepokan di sana. Rumah ini sangat lengkap dan luas sekali. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini seperti apa yang ada di televisi atau di novel yang tentang para orang kaya yang biasa dia tahu. Dan sekarang, dia sedang berada di salah satu rumah orang kaya itu. Rasanya seperti mimpi. Ya, bahkan pernikahan ayahnya dengan bundanya itu terasa seperti mimpi juga baginya. Dia baru tahu bahwa sang ayah sudah lama mempunyai hubungan dengan bundanya itu. Tapi, tak apa. Yang penting ayahnya bahagia. Ya, setidaknya itu yang diketahui oleh Jevano tentang hubungan Jamal dan Juwita sehingga mereka memutuskan untuk menikah. Tentu saja itu hanya akalan mereka saja agar Jevano tidak begitu curiga. Untung saja anak itu memperbolehkan mereka untuk menikah, sangat gampang berbicara dengan pemuda itu. "Jev," tegur Juwita agak sedikit mencondongkan tubunnya ke samping untuk melihat anaknya yang sedari tadi hanya diam. "Jevano!" tegurnya lagi, sekarang dia menggunakan tangannya untuk menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Jevano yang sibuk dengan pikirannya pun kaget dan langsung menghindar. Tanpa sengaja gerakannya terlalu kuat hingga membuat tangan hingga bahu Juwita tersenggol. Juwita yang tidak sengaja tersenggol pun kehilangan keseimbangan. Kakinya tidak siap untuk menahan tubuhnya dan dia tidak sempat meraih pundak Jevano untuk pegangan. Persetan dengan lantai licin yang semakin membuatnya kehilangan keseimbangan. Kakinya pun jadi terkilir dan dia benar-benar kehilangan kendali. "AAAA!" BYUR!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN