Tuan Anggari menghela napas panjang. Dia melihat kejadian di bawah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu urus mereka, Jamal. Berbuat bijaklah dan jangan sampai membuat salah satu dari mereka merasa terabaikan atau tersisihkan. Sejujurnya, berat menjadi seorang kepala keluarga karena kita tidak bisa langsung memihak salah satu antara anak atau istri."
Tuan Anggari menepuk bahu menantunya. "Selamat menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilmu. Papa percayakan kepada kamu, Jamal." Lalu dia meninggalkan Jamal di ruang kerjanya dan menuju kamar. Dia teringat bahwa istrinya akan pergi karena ada telepon dari seorang klien tadi dan sekarang sedang bersiap di kamar. Dia akan ikut pergi juga saja dan membiarkan keluarga baru itu memiliki momen mereka di rumahnya ini. Bersyukur juga istrinya tidak melihat kejadian ini tadi. Bisa panjang nanti urusannya.
Di kolam renang,
Kini Jamal menghadap Jevano yang menunduk dalam keadaan basah kuyup di depannya. "Bagaimana bisa kamu membiarkan Bunda kecebur kolam kayak gitu, Jevano?" Pria itu berkata tegas. Dia tidak habis pikir. Dia jelas melihat anaknya mematung sejenak dan memandang ke arah kolam.
"Seharusnya kamu tanggap dengan situasi sekitar. Bagaimana bisa kamu tumbuh jadi laki-laki yang baik kalau sama sekelilingmu saja enggak peduli? Enggak cuma untuk hal ini. Semuanya juga, kamu harus tanggap. Bahkan kalau bisa, kamu malah tidak boleh membiarkan sesuatu buruk terjadi." Jamal mengusap wajahnya yang kebas. Dia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada anaknya bagaimana harus bertindak dalam segala situasi, di saat dirinya sedang kesal seperti ini.
"Sudah, Mas. Ini tadi juga enggak sengaja, kok. Jevano juga yang nolongin aku. Dia sampai basah kuyup." Juwita memegang tangan suaminya untuk meredakan amarah.
Juwita dan Jevano dibalut dengan handuk untuk membantu mengeringkan badan mereka.
"Jevano, duduk sini, Nak. Biar Bunda keringkan rambut kamu." Juwita melambai lalu menepuk tempat duduk kosong di sebelahnya, di pinggir kolam. Ada beberapa kursi pantai yang ditaruh di pinggir kolam untuk bersantai. Dia duduk di salah satunya.
Jevano menurut dan tetap menunduk. "Iya, Tante." Lalu, dia duduk di sebelah sang bunda. "Maaf," bisiknya saat tangan wanita itu mulai mengusak rambut kepalanya dengan handuk.
Juwita tersenyum. Dia sedikit mengubah duduknya agar lebih leluasa untuk mengeringkan rambut anaknya. Namun, kakinya yang terkilir malah terasa sangat sakit. Dia merintih.
"Kamu enggak papa?" tanya Jamal khawatir. Dia melihat ke kaki istrinya. Ada luka di bagian pergelangan kaki. Dia berjongkok di depan sang istri dan memeriksa kaki wanita itu. Terkilirnya lumayan.
Tubuh Jevano menegang. Bundanya tidak baik-baik saja. Dia tetap diam dan menunduk penuh dengan penyesalan.
Juwita melihat Jevano dan mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Enggak papa. Bunda juga tadi enggak bisa jaga keseimbangan. Makasih, ya, udah nolongin Bunda." Dia meneruskan untuk mengeringkan rambut anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia melihat wajah Jevano, penuh penyesalan itu. Gemas sekali.
"Ke rumah sakit, ya?" tawar Jamal sambil mendongak, menatap mata istrinya.
Juwita mengangguk. "Iya. Aku juga harus cepet sembuh soalnya dalam waktu dekat, ada klien dari Singapura yang datang."
"Baiklah, kita siap-siap, ya. Kamu bisa jalan?"
Juwita mengedikkan bahunya. Dia menggeser kaki saja sakit, apalagi kalau dipakai untuk berjalan. "Aku coba." Namun percuma. Rasanya sakit sekali.
Tanpa kata lagi, Jamal langsung berinisiatif untuk menggendong istrinya. Tangan Juwita menahan bahu Jamal sejenak untuk menghentikan gerakan pria itu. Dia berisyarat ke Jevano yang mematung.
Jamal menoleh. Dia menghela napas dalam dan mengeluarkannya pelan. Dia sedang mengatur emosinya. "Kamu mau ikut, Jev? Ganti baju dulu. Ayah akan meminta tolong ke salah satu pelayan untuk mengambilkan baju kamu. Kamu bawa tas ransel isi baju, kan, tadi?"
Jevano mengangguk tanpa kata. Kepalanya dielus lembut oleh Jamal dan bahunya ditepuk pelan.
"Lain kali lebih tanggap, ya, Jevano. Kita enggak tahu keadaan buruk apa yang akan terjadi. Maka dari itu kita perlu antisipasi dan mengasah insting. Paham, Nak?" Suara Jamal terdengar lembut, membuat Jevano berani menatap mata ayahnya sekarang. Tidak ada amarah dan emosi lagi.
"Iya, Ayah. Terima kasih."
"Ayah antar Bunda dulu ke kamar. Kamu bisa sendiri, kan?" Jamal memastikan.
Jevano mengangguk.
Jamal pun membawa istrinya dalam gendongan. Mereka memasuki rumah besar itu dan segera menuju kamar Juwita.
Tersisa Jevano yang masih terduduk di tempatnya sambil menatap air kolam yang bergelombang. Sinar matahari yang mengenainya membuat pantulan indah nan cerah berkilauan. Seharusnya pemandangan seperti ini tidak boleh disia-siakan. Apalagi tanah lapang hijau dan pepohonan di sana sangat mendukung untuk bersantai. Kalau saja dia tadi langsung menahan tangan bundanya, dia pasti masih akan berada di sini.
"Den Bagus Jevano, ini tasnya." Bi Tika datang dengan membawakan tas Jevano.
Pemuda itu mengangguk dan mengambil tasnya dari tangan Bi Tika. "Terima kasih banyak."
"Panggil saya Bi Tika, Den Bagus. Saya ini sudah kerja di sini sejak bundanya Den Bagus kecil. Saya yang biasanya merawat Non Juwita."
Jevano mengangguk paham. "Panggil saya Jevano saja, Bi Tika."
"Loh, ya, ndak bisa. Lah, wong Mas Jevano ini anaknya Nona Juwita, kok. Saya harus panggil Den Bagus."
Pemuda itu tersenyum simpul. Bi Tika adalah orang yang ramah. Dia suka. Sama seperti bundanya. Mungkin karena asuhan itu bundanya juga sangat ramah.
"Jevano ganti baju dulu, ya, Bi. Mau ikut mengantarkan Bunda ke rumah sakit."
Bi Tika mengangguk. "Nona Juwita itu orangnya baik, Den Bagus. Dia enggak akan benci Den Bagus cuma masalah gini, kok. Den Bagus senyum, dong. Non Juwita itu pemaaf."
Jevano hanya mengangguk. Dia juga membenarkan perkataan itu. Bahkan saat mengenal untuk pertama kali, dia bisa tahu kalau bundanya adalah orang yang sangat baik. Karena itulah dia tidak ragu jika ayahnya memutuskan untuk menikah.
Jevano berpamit kepada Bi Tika dan segera melangkah menuju rumah. Akan tetapi, baru beberapa hitungan dia berhenti. Dia berbalik badan. "Bi, kamar mandi di bawah ada, kan? Di sebelah mana, ya?"
Bi Tika mengangguk dan menunjukkan arah kamar mandi yang biasa digunakan untuk berganti baju setelah renang.
Jevano berterima kasih dan terseyum, menghilangkan matanya untuk ikut tersenyum. "Terima kasih banyak."
Ingatkan Bi Tika bahwa umurnya hampir mencapai empat puluh lima tahun. Ingatkan dia pula untuk menahan dirinya agar tidak meleyot, apalagi menguap. Senyuman pemuda bernama Jevano yang jadi tuan muda barunya itu tidak main-main. Bisa-bisa Bi Tika khilaf dan melupakan statusnya yang ingin menjada seumur hidup sepeninggal suaminya. Kuatkan hatimu, Bi Tika.
***
Juwita sudah diperiksa dan dokter mengatakan bahwa kakinya tidak mengalami patah atau retak. Hanya terkilir biasa dan pasti akan sembuh dalam waktu dekat. Hal itu membuatnya lega. Setidaknya dia tidak perlu repot-repot untuk diberi gip atau apalah itu untuk tulang retak dan patah. Pasti pemulihannya akan lama juga.
"Cie yang abis berbuat malam pertama sampai enggak bisa jalan. Dibawa ke rumah sakit loh sampaian." Suara jahil nan familiar itu langsung masuk ke telinga Juwita.
Dia menoleh ke sumber suara dan benar saja wanita dua tahun lebih muda darinya yang mengenakan seragam dokternya sedang berdiri di sana. Hellen bersendekap sambil memandangnya dengan tatapan menggoda.
Juwita membelalakkan matanya sambil memeriksa sekitar, sekiranya ada orang yang mendengarkan ucapan wanita itu. Akan sangat memalukan jika ada yang mendengarkan selain mereka. Untungnya tidak ada yang peduli, semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Yang lebih melegakan adalah Jevano ikut ayahnya untuk mengurus administrasi.
"Dih, suara lo. Pelan dikit ngapa. Gimana kalau ada yang denger?" kesal Juwita. Akan tetapi tak halang juga dia menepuk tempat duduk di sebelahnya agar ditempati oleh Hellen. Dia sekarang sedang berada di salah satu bangku taman rumah sakit.
"Ey, yang seneng abis MP. Gimana? Berapa ronde?" Hellen ini mulutnya harus dikucir. Kalau ngomong tidak diproses dulu di kepala.
"MP apaan, sih? Gue terkilir tahu!"
Hellen memajukan bibir bawahnya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Juwita. "Enggak usah malu gitu, Kak. Gue juga udah dewasa kok. Lo enggak usah sungkan."
Juwita mencubit kecil lengan bawah Hellen dan membuat dokter cantik itu meringis. "Gue enggak bohong, anjir. Gue habis kepeleset, kecebur kolam renang. Kaki gue jadi kayak gini."
Hellen mendengakus dan mengelus bekas cubitan Juwita. "Tapi, hahaha. Lo beneran kecebur?" Dia tidak habis pikir.
Juwita memutar bola matanya.
"Gimana ceritanya coba?"
Mau tidak mau, Juwita menceritakan kejadian yang dia alami dengan Jevano tadi. Hellen malah tertawa terbahak. Ada-ada saja kelakuan sahabat yang dia anggap sebagai kakaknya itu.
"Kak ... Kak .... Lo, sih, juga aneh-aneh aja."
Juwita cemberut. "Gue cuma mau jadi ibu yang baik buat Jevano. Gue juga harus mendekatkan diri ke dia. Ngajak dia bicara, ngenalin dia sama kehidupan gue selama ini. Gue enggak mau dia terus-terusan merasa asing. Kalau bisa, gue akan buat dia cepet nyaman sama gaya hidup yang sekarang."
Hellen langsung menghentikan tawanya saat Juwita mulai bercerita. Dia mendengarkan dengan seksama.
Juwita menunduk. Dia menghela napas berat. "Tapi kayaknya dia belum bisa panggil gue Bunda, deh. Pasti sulit, kan, ya, buat anak muda kayak dia untuk beradaptasi dengan lingkungan baru? Apalagi gue cuma ibu sambungnya dia."
Hellen mengelus lengan Juwita. "Ey, jangan gitu, Kak. Cuma masalah waktu doang. Coba deketi dia terus aja. Siapa tahu lama-lama hatinya luluh. Biasanya cowok itu juga ada gengsinya."
Juwita terdiam sejenak. Lalu dia mengangguk. "Iya, juga." Dia pun mengangguk dengan penuh tekad. "Gue harus berusaha lebih keras lagi biar dia terbiasa."
"Nah, gitu, dong." Hellen mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi, gue bersyukur banget, sih, punya anak kayak Jevano. Dia kayaknya bukan anak yang macem-macem."
"Hmm?"
Juwita menoleh dan menatap mata Hellen dengan penuh keyakinan. "Mas Jamal didikannya tegas banget. Tapi, enggak sampai yang kasar gitu. Waktu dia negur Jevano karena kejadian ini, dia enggak langsung menghakimi. Kayak ... apa, ya, Len? Yang dikritik sama Mas Jamal tuh bukan cuma kesalahan Jevano aja. Tapi, dia kasih saran dan pelajaran kalau harus gini dan gitu dalam bertindak. Ah, gitulah. Gue jadi keingetan sama Papa. Cara didiknya sama."
Hellen mengangguk paham. "Jadi, lo nyaman juga sama cara dia didik Jevano? Hmm, oke, sih. Kurang lebih dia bakalan memperlakukan anak kalian kayak gitu juga."
Juwita mengedipkan mata berkali-kali. Ada satu kata yang membuatnya tertegun. "Anak, ya?" Dia menggigit bibir bawahnya.
Mata yang lebih muda agak terbelalak. "Astaga, Kak. Jangan bilang lo enggak mikir ke sana?" Hellen memegang kepalanya dengan dua tangan. "Yang nikah lo tapi kenapa gue yang udah mikir jauh ke depan, Ya Tuhan." Dia sendiri juga tidak tahu kenapa isi otaknya langsung bisa menyambung ke sesuatu yang sangat jauh dari kehidupannya. Padahal dia sendiri saja masih jomlo.
Hellen menepuk pundak Juwita. "Udah, deh. Jangan terlalu dipikirin kalau belum siap. Maafin gue, malah tambah pikiran lo."
Juwita hanya bisa tersenyum kecut.
"Oke. Jadi, sekarang apa yang bakalan lo lakuin biar Jevano bisa nyaman?" Hellen langsung sedikit meninggikan nada suaranya, mengubah pembahasan dan membuat suasana lebih cerah.
Helaan napas yang dilepaskan Juwita mengakhiri pikiran berat itu. Dia pun mengubah rasa senyumannya, lebih manis. Dia mengedikkan kedua bahunya. "Entahlah, yang penting gue harus sembuhin dulu, nih, kaki biar bisa ajak dia jalan-jalan dan beli kebutuhan dia buat sekolah nanti. Sekalian gue mau buatin dia seragam sekolah pakai tangan gue sendiri."
Dari tatapan mata Juwita, Hellen bisa tahu sebesar dan seikhlas apa rasa kasih sayang yang Juwita berikan kepada keluarganya. Meskipun dulu Juwita bercerita kepadanya bahwa pernikahan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masing-masing, akan tetapi yang dia lihat malah ketulusan wanita itu, bukan hanya profesionalitas belaka. Hati Juwita terlalu bening hanya untuk itu. Berkedok profesionalitas namun sebenarnya ikhlas. Astaga, entah akan seperti apa berat yang akan ditanggung oleh kakak kesayangannya ini.
"Pokoknya gue akan terus berdoa buat kebahagian lo, Kak. Apa pun yang bakalan terjadi ke lo," bisik Hellen sambil meletakkan dagunya di bahu Juwita.
Juwita yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun sedikit kaget. Namun, tak urung juga dia memeluk Hellen balik. "Lo kenapa, dah? Jangan buat gue terharu kayak gini. Gue bisa nangis kalau kayak gini."
Lihat, kan? Hati Juwita itu bening.
Hellen terkekeh. Dia melepaskan pelukannya. "Maksud gue, meskipun lo nanti bisa aja ditolak sama Jevano, tapi paling enggak lo udah ngeluarin duit lo buat orang lain sekarang. Enggak buat lo doang."
Mata Juwita melebar. "Heh, lo pikir selama ini gue pelit?" Dia hendak memukul Hellen namun wanita itu menghindar dengan sangat gesit. Juwita dengan keadaan kakinya yang seperti itu pun tidak mungkin mengejar wanita berkelakuan bocah tengil itu.
"Hellen! Sini enggak lo?!" Kesal sekali, astaga.
"Eh, Jevano dan Pak Jamal." Hellen menghadap ke arah belakang punggung Juwita. Dia tidak sedang berbohong. Memang ada dua orang yang dia sebut di belakang Juwita sekarang.
"Kalian ketemu ternyata." Jamal memulai percakapan, menyelip di antara dua wanita itu.
Hellen tersenyum ramah. "Karena dua pawangnya Kak Ju udah datang, jadi aku pamit dulu, ya. Dadah Jevano manis."
Juwita melirik si tengil itu dengan tajam. "Sono kerja yang bener."
"Siap, Kakak sayang."
Hah, rasanya Juwita ingin cubiti pipi berisi wanita itu. Namun percuma, Hellen sudah berlalu dari mereka. Jamal pun mengajak keluarganya pulang dan memapah istrinya dengan telaten, dibantu dengan anaknya.
Hellen melihat momen itu dan tersenyum. "Semoga lo bener-bener bahagia, Kak, dengan keluarga kecil lo. Semoga lo enggak kecewa dengan keputusan lo ini." Hellen berucap dalam hati.
Tapi, siapa yang tahu tentang takdir manusia?