Jamal menutup pintu kamar Juwita di lantai dua rumah utama Keluarga Anggari itu dengan pelan. Kamar itu otomatis menjadi kamarnya juga. Keadaan rumah juga hening. Dia tidak mau membuat kegaduhan meskipun hanya suara pintu. Saat mengangkat pandangannya, keningnya berkerut karena mendapati anak laki-lakinya berdiri tak jauh dari sana. Kini, di rumah besar itu hanya tinggal keluarga kecilnya dan para pelayan. Kedua mertuanya sudah pergi sedari tadi. Bahkan Tuan Anggari sengaja mempercepat kepergiannya dengan sang istri dan tidak membiarkan wanita itu untuk mengetahui tentang kejadian yang anaknya alami. Bisa gawat nanti. Mungkin Jamal harus berterima kasih kepada mertuanya untuk itu. Jevano mendekat dengan langkah bimbang. Dia sedikit menggigit bibir bawahnya. Beberapa jemarinya tertaut se

