Jevano langsung berbalik badan dan menggigit martabak yang ada di tangannya. Dia menggeleng-geleng tak karuan, berusaha menghapus pemandangan yang baru saja tertangkap oleh matanya. Namun sia-sia saja. Keburu masuk ke otak. Apa-apaan tadi ayahnya? Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Yakin setelah ini dia pasti akan jadi kacang. Mana sekarang dia sudah sendiri di ruang tengah. Menyedihkan sekali. Dia pun menatap martabak yang ada di pangkuannya. Apa dia jatuh cinta dengan makanan saja, ya? "Enggak. Enggak. Percuma gue berusaha bangun otot kalau gue gak kontrol makan." Dia perang batin sendiri. Ya, karena batin ayah dan bundanya pasti sedang berperang sendiri di dapur sana. Jamal segera menggeser tubuhnya saat tahu Jevano sudah memalingkan diri. "Maaf sekali lagi, Juwita." Dia berbisik

