Jamal melipat bibirnya dan berdehem ringan. Berusaha biasa saja. Dia tidak memedulikan tatapan curiga dari Arjuna. Bahkan pria itu mulai mengajak bicara asistennya tentang pekerjaan lagi. Arjuna tidak mau kalah. Dia tetap berdiri tegak dan malah bersendekap. "Pak Jamal ini beneran sayang sama Mbak Juwita enggak, sih?" Jamal menoleh. "Ngapain Anda panggil mbak? Anda saja lebih berumur daripada istri saya." Arjuna melengkungkan garis bibirnya. "Memangnya kenapa? Saya sudah terbiasa memanggil anak Tuan Anggari dengan sebutan seperti itu. Anda tidak suka?" Jamal menatap pria yang berdiri di sampingnya itu dengan datar. "Maksud Anda?" Arjuna malah mengedikkan bahu dan membungkuk lagi. Dia mulai mengecek pekerjaan Jamal. "Anda terlihat belum mengenal Mbak Juwita, Boss. Saya jadi curiga ken

