Azzura tahu, kesedihan yang dialami ibunya bukan serta merta karena uang kompensasi melainkan karena kenangan indah bersamaan dengan berita buruk yang menghampiri layaknya bom atom. Ia juga tahu jika semua ini benar, maka keluarga mereka sudah ditipu habis-habiskan sejak dulu oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan sekarang tak pernah terlihat batang hidungnya.
Matanya menatap deburan ombak yang kencang di hadapannya. Ombak yang menghantam batuan karang dan mengikisnya secara perlahan. Ia paham apabila cobaan dalam hidupnya baru dimulai tapi apakah ia bisa seperti batu itu? Bertahan walaupun terjangan ombak setiap detik selalu menghampiri. Jika ia bertemu dengan pemilik resort baru itu bisa terjadi kemungkinan ia akan menyumpahinya secara terang-terangan.
Azzura mengambil batuan kecil dan melemparnya ke lautan dan berakhir tenggelam. Ia senang saat melihat beberapa kali pantulan batu itu pada deru air yang kencang. Tapi udara sekarang memang tidak mendukung untuknya berlama-lama di tepi pantai namun saat melihat sosok yang berada di kejauhan itu sedang berjongkok membuat Azzura menarik napas panjang. Ia menggelengkan kepalanya dan segera bergegas menghampiri ibunya.
“Ibu!” panggil Azzura sambil berlari kecil mendekati Amallia.
Sontak yang dipanggil langsung berdiri dan memberikan Azzura cangkang kerang yang lumayan agak besar. “Ibu mendapatkannya di sini. Bagaimana? Cantik, bukan?”
Mata Azzura terbelalak sambil menutupi mulutnya karena tak percaya apa yang sudah dilihatnya. “Bagaimana bisa Ibu mendapatkannya di sini?” Ia mengambil kerang itu dan melihatnya agar lebih dekat.
“Ibu rasa petani kerang sempat menjatuhkannya di sini,” jawab Amallia.
Azzura terdiam tapi matanya tak lepas dari cangkang kerang yang sudah tidak berpenghuni. Cangkang berwarna cokelat tua namun didalamnya terdapat motif warna-warni cenderung kehijauan apalagi jika tersorot cahaya yang begitu terang.
“Benarkah aku tidak salah lihat, Ibu?” Tangannya membolak-balikkan cangkang itu di berbagai sisi. “Ini kerang abalone yang sering aku lihat di internet itu?” tanya Azzura tak percaya. Namun saat ibunya menganggukkan kepala, ia berjingkrak-jingkrak seolah mendapatkan jackpot.
“Akhirnya aku mempunyai kerang ini, Ibu!” teriak Azzura sambil memeluk Ibunya sangat erat. “Aku akan meminta ayah untuk membuatkan pernak-pernik yang cantik untukku.” Semringah yang dikeluarkan Azzura perlahan-lahan membuat Amallia menghilangkan rasa sedihnya.
Abalone adalah salah satu spesies kerang-kerangan atau moluska yang memiliki ciri-ciri kulit berwarna-warni yang terbuat dari nakre. Nakre disebut lapisan induk mutiara yang tersusun dari lapisan-lapisan tipis paralel dan kalsit (karbonat) yang tampak mengkilap. Banyak yang percaya bahwa kerang abalone adalah kerang yang memiliki keistimewaan sendiri yaitu pembawa sumber keberuntungan. Nilai jual yang tinggi membuat pembudidaya menjadikan abalone sebagian investasi jangka panjang.
“Kau bisa membuat beberapa pernak-pernik dari cangkang itu, Zurra.” Amallia mengelus pundak Azzura. Sejak dulu ia belum pernah memberikan anaknya barang yang terlampau mewah karena ekonomi yang berkecukupan untuk menghidupi keluarga. Azzura pun tak menuntut banyak, jika biasanya anak semata wayang memiliki ego yang sangat tinggi tapi itu tidak berlaku bagi anaknya.
“Mengapa ibu terdiam?” Pertanyaan Azzura membuat ibunya mengerjap.
“Ah, tidak. Ibu hanya bersyukur karena memiliki anak sepertimu.” Amallia memeluk anaknya erat meluapkan perasaan bahagia. Sedangkan Azzura, ia tersenyum sambil mengelus punggung ibunya dengan amat lembut. Seolah memberikan ketenangan dan isyarat bahwa semua cobaan akan dilewati bersama.
***
“Carlos, apa hari ini tuan Lodan menghubungimu?” Pria berkemeja putih itu menggoyang-goyangkan kursi kerjanya sambil menatap sang asisten yang membuka tablet di sudut sofa. Masing-masing bajunya bahkan sudah digulung hingga mencapai siku.
“Anda benar, Tuan. Beberapa menit yang lalu tuan Lodan mengirimkan surel yang berisikan penawaran kerjasama.” Carlos memberikan tablet hitam itu pada Alli.
“Sudah aku duga.” Alli membaca surel yang diperlihatkan dari Carlos.
Alli melihat bagaimana investor asing berkebangsaan Tiongkok itu dengan gigih menghubunginya lewat asistennya—Carlos—. Sudah hampir empat kali tuan Lodan memberikan surel atau menghubungi Carlos secara langsung untuk membahas bersama dengannya, tapi Alli menolak. Ia tahu siapa yang dihadapinya saat ini, seseorang yang akan menjadi calon partner dalam dunia bisnis besar-besaran.
“Apakah untuk kali ini kita tetap tidak membalas surel yang mereka kirimkan, Tuan?” Carlos mengamati atasannya yang tiba-tiba berdiri.
Alli terdiam sejenak, tangannya memencet remote guna membuka tirai besar yang sedari tadi menutupi keindahan gemerlap kota di malam hari. Tak bosan-bosannya ia memandangi kota dari atas gedung ini. Kota yang terlihat kecil dan dihiasi titik-titik kecil lampu kuning sebagai penerangan.
“Tunggu hingga minggu depan, jangan kau balas apalagi hubungi mereka. Aku ingin mengetahui dengan detail jenis keuntungan apa yang berikan jika kita bekerja sama dengan mereka.” Alli memerhatikan suatu titik di depan sana. Cahaya bulan yang menggantikan matahari terlihat cantik apalagi bulan itu sudah terlihat penuh.
“Baik, Tuan. Saya juga akan mempelajari keuntungan apa yang bisa mereka berikan jika Anda menjadi partnernya.” Carlos mematikan tabletnya dan menatap Alli dengan saksama.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Alli. Ia tahu ada sesuatu hal yang ingin disampaikan pada Carlos.
“ ....” Carlos meletakkan tabletnya di meja kerja milik Alli. “Ms. Julie tadi sempat datang untuk menemuimu, Tuan,” kata Carlos akhirnya.
Alli yang mendengar langsung menegaskan tubuhnya. “Untuk apa dia menemuiku?” Tangannya mengepal. “Ini sudah hampir tiga tahun sejak kejadian terakhir!”
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Ms. Julie juga sempat ditanya oleh penjaga tapi hanya diam saja dan menginginkan bertemu dengan Anda.” Carlos berbicara dengan tegas sambil melihat bagaimana perubahan ekspresi yang diberikan oleh Tuannya.
Tangan Alli bertumpu pada dinding pembatas kaca dan matanya memerhatikan ke bawah, melihat banyaknya mobil yang berlalu lalang di malam hari. Amerika Serikat salah satu negara yang tidak pernah ‘tidur’ bahkan sekejap saja.
“Kau bisa menyuruh anak buahmu untuk lebih mengamankan penjagaan di sini, Carlos? Aku tak ingin melihat wanita itu bahkan jarak puluhan meter!” perintah Alli pada Carlos.
“Saya akan berbicara pada pihak keamanan dan yang lainnya bahwa Ms. Julie tidak akan pernah bisa bertemu dengan Tuan.” Carlos pamit dan tak lupa membawa tabletnya. “Saya permisi Tuan jika tak ada yang perlu Anda perintahkan lagi.”
Mendengar pintu ruangan sudah tertutup dari luar, Alli menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia benar-benar tak habis pikir, mengapa wanita sialan itu datang lagi dan mencarinya. Sudah hampir tiga tahun ia dan wanita yang bernama asli Julie Collen itu tak bertegur sapa. Wanita yang ia yakini sebagai pembohong ulung dan wanita yang selalu mencari kemenangan dalam hidupnya walaupun wanita itu terbukti bersalah.
Julie, wanita yang berumur 35 tahun sama seperti dirinya. Wanita berambut pirang yang mempunyai aura dengan penuh sejuta pesona. Dengan berprofesi sebagai artis dan model menjadikan Julie sebagai wanita modis apalagi didukung oleh agensi kelas dunia yang menaungi artis-artis berkelas lainnya. Julie bukan wanita sembarangan, kehidupan glamor yang ia jalankan semenjak dulu menjadikan wanita itu gila akan martabat yang sudah bersanding di belakang namanya.
Jika ada yang Alliadrew Gastovo hindari di dunia ini, maka jawaban paling teratas adalah wanita yang bernama Julie Collen. Dengan sangat tak sudinya ia menghirup oksigen yang sama dengan wanita itu. Wanita perusak.
***
Empat tahun lalu.
Dering telepon yang pria itu layangkan ternyata tak mengubah apa pun. Di seberang sana wanita yang dihubunginya tak kunjung mengangkat. Sudah lebih dari sepuluh kali pria itu menelepon dengan maksud mencari kabar yang kekasihnya yang tak kunjung ada.
Ini hari libur, yang seharusnya mereka berdua gunakan bersama untuk melepas penat karena rutinitas hari-hari sebelumnya yang sudah membuat tubuhnya lelah. Tapi semua hanya khayalan, hari-hari yang seharusnya ia habiskan bersama sang tercinta namun tak bisa. Padahal ia sudah mempersiapkan makan malam terbaik dari restoran terkenal di kota ini. Semua sudah diatur sedemikian rupa dan berusaha tidak ada yang tertinggal.
‘Untuk apa adanya makan malam jika objeknya pun tidak lengkap.’
Pria itu menuang wine di gelas kosongnya, biarkan ia meminum minumannya terlebih dulu guna meredakan rasa kesal di dadaa. Tapi matanya menyipit saat melihat mobil mewah di bawah sana menampilkan seorang pria baya dan wanita.
Pria baya yang sedang membukakan pintu wanita dengan sangat mesra tak lupa pemandangan menjijikkan lainnya, sang pria itu mencium pipi kepada sang wanita.
Alli kembali menyesap minumannya, tapi bibirnya menyunggingkan seolah pemandangan itu adalah pemandangan yang biasa. Tak lama mobil yang ditumpangi keduanya pergi dan menyisakan wanita yang sedang merapikan gaunnya. Mungkin terlihat sedikit kusut.
Tak sampai satu menit telinga tajamnya mendengar entakkan high-heels yang memenuhi ruangan sepi ini.
“Sayang!” panggil wanita itu di daun pintu dan mencoba memasuki ruangan. “Maafkan aku karena tidak mengangkat teleponmu, aku ada jadwal pemotretan secara mendadak tadi. Aku pun kesal karena hal itu.” Wanita yang diduga Julie mengecup pipi Alli dan mengelus bakal rambut yang ada dagu.
“Kau ada pemotretan di weekend?” Alli mengangkat sebelah alisnya, heran.
Julie mengangguk. “Ya, Ian menghubungi secara mendadak tadi siang.”
“Sejak kapan kau memanggil bosmu dengan sebutan Ian? Lagi pula mengapa Ian langsung yang meneleponmu? Apakah kau sudah memecat manajermu?” tanya Alli.
Mendengar pernyataan yang seperti itu, Julie tersenyum kaku dan menjauh dari Alli. Ia ikut menuangkan wine ke gelasnya. “Aku meliburkan Elijah hari ini, ia berkata orang tuanya sedang sakit.”
“Orang tua Elijah sakit?” tanya Alli lagi.
“Ya, maka dari itu aku mengurus pekerjaan sendiri untuk beberapa hari. Lagi pula Elijah sudah mempersiapkan semuanya. Jadi aku tidak terlalu repot untuk melakukannya.” Julie memandang ruangan ini dengan takjub. Bagaimana tidak, Alli mempersiapkan dengan baik. Ruangan temaram yang terlihat romantis juga makanan-makanan mahal yang bisa menguras kantong. “Kau mempersiapkan ini semua, Sayang?”
“Seperti yang kau lihat. Tapi semua terasa percuma, objek dalam acara ini tidak ada,” kata Alli sambil membalikkan tubuhnya dan kembali melihat ke luar jendela.
Julie menggelengkan kepalanya. “Oh maafkan aku, aku tidak bermaksud mengabaikanmu selama berjam-jam. Jika saja aku tidak ada pemotretan, aku bisa menikmati acara ini bersamamu sejak beberapa jam yang lalu.” Ia memeluk tubuh kekar itu dari belakang, tangannya mengusap pinggang kekasihnya yang tertutup kemeja dan jas mahal.
“Bagaimana caraku agar kau bisa memaafkanku, hm?” lanjut Julie. Tangannya menggerilya, memberikan sentuhan halus pada Alli.
Hal yang membuat Alli memutarkan tubuhnya, berhadapan dengan wanita berambut pirang dengan bibir merah menggoda. Menatap manik itu, menyelam dengan sangat dalam seolah ia terbawa ke dalamnya lautan. “Kau tak perlu melakukan apa-apa. Hapus segala sentuhan yang diberikan pria tua itu dari tubuhmu.”