“Apa yang kau lakukan disini, Azzura?” tanya Garrel, teman Azzura yang sedang memerhatikan perempuan itu sedang menggali sebuah tanah di pot yang lumayan agak besar.
“Aku sedang memberikan makan pada kucingku,” jawab Azzura seadanya.
Garrel hanya mengernyit dan ikut berjongkok. “Aku tidak melihat kau sedang melakukan itu.”
“Jika kau tahu kenapa masih bertanya? Aku sedang menanam bunga. Jika kau tak mempunyai pekerjaan, kau bisa membantuku untuk membawakan pupuk itu kemari,” tunjuk Azzura pada karung cokelat yang tak jauh dari dirinya.
“Ah, iya.” Garrel menyeret karung itu dan membuka ikatannya. “Bukankah ini bunga sakura yang terdapat di Jepang?” tanya Garrel, tangannya memegang bunga berwarna merah muda itu.
Azzura berdecap. “Aku saksi bahwa kau asli orang Amerika jika kau saja tak bisa membedakan bunga sakura dan bunga asli khas Amerika.” Ia mengambil pupuk itu dan mencampurkannya pada tanah yang sudah berada di pot besar.
Pria berkulit cokelat itu mengerucutkan bibirnya. Garrel memang penduduk asli Amerika yaitu suku Indian. Suku pertama yang bermukim di Amerika Utara yang datang dari Asia sekitar 20.000 tahun lalu. Namun karena kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-16 yang menginginkan tanah mereka, otomatis suku Indian merasa terancam dan melawan pemerintah yang berusaha menggusur mereka. Alhasil mereka masih mendapat diskriminasi terhadap warna kulit dan sebagainya hingga sekarang.
“Wajar jika aku tak mengetahui berbagai macam tentang tanaman apalagi bunga, tapi jika kau bertanya tentang berbagai peralatan mesin atau suku cadang aku baru bisa menjawabnya.” Alasan yang diberikan Garrel membuat Azzura tertawa.
“Ini adalah bunga magnolia, bunga khas musim semi asal Amerika Utara.” Azzura mulai menanam bunga cantik itu. “Menurutku, ini adalah waktu yang terbaik untuk menanamnya. Apalagi aku ingin sekali melihat saat bunga itu bermekaran dan tumbuh dengan sangat indahnya.”
Garrel juga menyetujui hal itu. “Kuharap bunga itu akan tumbuh dengan baik, ya.”
“Zurra,” panggil Garrel.
Azzura yang sudah selesai dengan kegiatannya langsung melepas sarung tangan kuning dan menatap Garrel. “Ada apa?”
Garrel sebenarnya tak ingin membahas ini, tapi sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya membuat ia tak bisa tertidur dengan nyenyak semenjak beberapa hari yang lalu. “Kudengar pemilik resort baru itu mendatangi kediaman kalian?” tanya tanyanya dengan pelan.
Azzura menghela napas. “Bukan pemilik resort yang mendatangi kami melainkan anak buahnya yang sangat menyebalkan itu.”
“Apa kalian sedang berada dalam masalah?” Pertanyaan khawatir Garrel membuat perempuan yang memiliki kulit eksotis itu terdiam.
“ ....”
“Coba kau cek lagi dengan teliti Paman, tak mungkin berkas ini palsu.” Azzura berdiri dari kuterdudukkannya, ia menunjuk kertas yang sudah berwarna kekuningan di hadapan pria berkacamata.
“Iya, aku mohon coba kau lihat lagi dengan teliti. Tidak mungkin kami mempunyai sertifikat palsu selama ini.” Harap cemas yang Amallia perlihatkan.
“Mohon maaf Nyonya dan Nona. Tapi nomor registrasi yang terdapat dalam dokumen ini tidak terdaftar dalam pemerintahan. Aku bisa memastikan seratus persen jika dokumen ini ilegal. Jika kalian tidak percaya kalian bisa membuktikannya langsung ke pemerintah yang menangani penataan negara dan pertanahan,” kata pria yang berstatus sebagai notaris.
Azzura terjatuh lemas begitu juga dengan ibunya.
“Jika aku boleh tahu, bagaimana kalian mendapat dokumen ilegal ini?” tanya sang notaris.
“Kami membeli rumah beserta tanah kepada teman suamiku. Kau bisa melihat sendiri, itu sudah sejak dua puluh tahun yang lalu,” jawab Amallia.
“Kalian bisa meminta pertanggung jawaban pada teman suami Anda, Nyonya. Kalian sudah ditipu secara habis-habisan oleh orang ini.”
Bagaimana meminta pertanggungjawaban, secara ... mereka saja tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi hingga detik ini.
“Orang itu bisa saja dikenai pidana karena sudah mengeluarkan sertifikat palsu. Jika kalian melaporkan kepada pihak berwajib ia bisa dikenai kurungan kurang lebih sepuluh tahun karena kejahatan berlapis kepada keluarga kalian,” lanjut notaris itu.
Hal yang menggiurkan memang, tapi mengingat semua aduan kepada pemerintah pasti memerlukan uang yang lebih dan mereka tak mungkin melakukan itu.
“Tapi mengapa baru sekarang kalian mengecek keabsahan surat ini?” Notaris itu membolak-balikan lagi kertas dan membaca ulang isinya. “Namun memang beberapa tahun terakhir pemerintah meninjau ulang tanah yang tak berpenghuni menjadi milik negara. Mungkin kalian diberikan kesempatan bagi pemerintah untuk menepati tempat tersebut sambil menunggu orang yang akan membeli tanah itu.” Pria itu menutup dokumen dan memberikannya pada Azzura.
Azzura terdiam, ia melihat dokumen itu dengan tatapan kosong. Jika benar seperti itu, bisa besar kemungkinan bahwa ia akan terusir paksa dari sana. Meninggalkan segala kenangan yang sudah melekat padanya.
“Kami tak pernah dalam masalah apapun, Garrel,” tukas Azzura memenangkan teman pria yang sudah menemaninya sejak kecil.
“Jika ada masalah aku mohon beritahukan kepadaku, ya?” mohon pria itu. “Oh iya, kau kemarin berkata padaku untuk mengantarkan ke tempat paman Greg. Jika kau ingin pergi hari ini, aku akan mengantarmu.”
Perempuan itu tersentak, ia bahkan melupakan tentang ingin memesan papan selancar baru untuk tokonya. “Ah ... aku sampai lupa akan hal itu. Aku akan bertanya pada ayah terlebih dulu. Jika ayahku sudah memberikan perintah aku akan menghubungi kau kembali.”
Garrel mengangguk. “Wah, hari ini sepertinya tokomu akan sangat sibuk,” Mata Garrel menyipit saat melihat gerombolan turis yang mendekati bibir pantai.
Azzura pun sama, ia terkejut karena banyaknya pariwisata yang datang padahal ini masih terlalu pagi untuk turis itu melakukan surfing. “Kau bisa membantuku melayani mereka jika aku terlalu kewalahan.”
Azzura dan Garrel merapikan kembali bekas pot dan pupuk, mereka bahkan menaruh pot yang berisikan bunga magnolia di depan toko guna menyejukkan suasana dari teriknya matahari.
Saat ini matahari masih sangat condong dari langit timur, memberikan rasa hangat bagi siapa saja yang merasakan. Ombak-ombak laut yang menderu dan sangat tinggi menjadikan pantai ini salah satu destinasi yang paling diagungkan di bagian sisi negara Amerika. Jika para turis melakukan surfing maka mereka akan berpulang dengan kulit eksotis kecokelatan karena bermandikan sinar matahari yang terik . Kulit yang disukai sebagian penduduk lokal dan juga luar.
“Kau lihat pria yang ingin ke ruang ganti itu?” tanya Azzura sambil menunjuk pria yang memakai jaket kulit dengan bibirnya.
“Ada apa dengannya?” tanya Garrel penasaran.
“Ingin bertaruh denganku? Dia memiliki isi dompet yang tebal.” Azzura mengambil topi pantai yang tergantung di samping etalase.
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Dia memiliki jaket kulit dan gaya yang berkelas. Kau lihat itu, jaket kulit yang mungkin seharga ratusan ribu dolar setiap helainya.” Azzura meneliti pria yang berkacamata yang sudah hilang ditelan dinding pembatas dinding kamar ganti.
“Kau baru saja melihat seseorang dari penampilannya, Azzura? Dan apakah aku tidak salah dengar?” Garrel mengusap telinga, mencoba menelaah lebih jelas perkataan teman perempuannya.
Sontak itu membuat Azzura terbahak-bahak dan berkata, “Aku hanya ingin menyampaikan pendapatku saja. Apa itu salah?”
“Tidak … tidak ada yang salah dengan pemikiranmu. Hanya saja kau seperti bukan dirimu.” Garrel mengambil kacamata hitam di saku celana pendeknya. “Atau jangan-jangan bukan dompet tebal yang kau lihat dari pria itu, tapi sisi yang lain.” Sambil memakai kacamata dan melihat ke arah pantai yang sudah banyak penghuninya.
Mendengar hal itu Azzura memukul lengan berotot Garrel keras membuat pria itu sedikit terhubung ke depan. “Kau sangat mengerti aku. Aku jadi tidak sabar melihat tubuh berototnya yang mengilat karena terkena air laut itu. Bukankah itu pemandangan yang paling para wanita tunggu?”
Salah satu tujuan para turis wanita ke pantai ini selain berenang dan berjemur adalah melihat kehebatan para pria di atas papan selancar dan bertarung dengan ombak besar yang mungkin saja bisa menenggelamkan mereka semua.
“Apakah hari ini tugasmu untuk berjaga, Garrel?” tanya Azzura melihat pakaian Garrel.
Garrel hanya mengangguk, “Iya aku yang berjaga hari ini.”
Garrel Covs adalah anak dari pengusaha bengkel di perempatan jalan yang tak jauh dari pintu masuk pantai memiliki pekerjaan ekstrim yaitu menjadi penjaga pantai. Ia sangat mencintai tugasnya, yang di mana ia bisa menjadi penyelamat bagi orang-orang yang mengalami kejadian tidak memungkinkan.
Selain menjadi penjaga pantai, ia juga kadang mengajari turis bagaimana caranya berenang dan memakai papan selancar dengan benar. Sangat menyenangkan. Garrel adalah salah satu aset yang pantai Miami punya, pembawaan tenang juga ramah terhadap turis membuat siapa saja senang berhadapan dengannya. Ia juga memberikan pelayanan yang baik bagi siapa saja yang bertanya.
“Kadang aku masih menuntut pembelajaran terhadapmu, Garrel. Kau berjanji padaku untuk mengajariku berenang.” Azzura mengikat rambutnya asal, angin kencang sudah membuat mahkotanya berkibar.
“Apa kau tak aneh, bila ada yang bertanya padaku jika aku tak bisa berenang padahal aku setiap hari dihadapkan oleh lautan yang luas,” lanjutnya.
Garrel tersenyum. “Tak ada yang aneh akan hal itu. Kau tidak bisa berenang dan itu sudah menjadi takdirmu,” ejeknya. “Lagi pula aku sudah sering mengajarimu dan hasilnya kau pun tahu sendiri … tidak ada. Jadi percuma saja aku menghabiskan waktu untuk mengajari kau yang mempunyai otak bebal.”
Hinaan itu bukan membuat Azzura marah melainkan kesal yang semakin menjadi pada pria yang mempunyai rambut berwarna hitam legam itu. Garrel memang cukup sering mengajarkannya tapi entah Azzura yang terlalu lemah untuk menopang tubuhnya sendiri dan berakhir ia selalu terseret ombak besar.
Percuma. Itu kata yang selalu Garrel keluarkan untuk Azzura.
Mata Azzura tak berkedip saat tiba-tiba ada pria yang bertelanjang dadaa menghampiri dirinya dan Garrel. Pria tadi yang sempat menjadi bahan gurauan mereka berdua. Pria berdompet tebal.
“Aku ingin menyewa surfboard. Kau bisa memilihkannya untukku, Nona?” Suara bariton itu membuat Azzura lunglai seketika. Benar adanya, jika suara rendah pria bisa membuat hati para wanita berdegup kencang.
“A—ah iya, aku akan memilihkannya untukmu.” Azzura mendekati banyaknya papan selancar yang berjejer di depan sana. Berbagai macam tinggi dan juga motifnya.
Azzura kembali memerhatikan tubuh wisatawan itu dari bawah ke atas dan kembali memilih papan selancar. “Aku rasa ini cocok untukmu, Tuan.” Ia mencoba mengambil papan namun dihentikan oleh turis itu.
“Biar aku saja, Nona.” Melihat dengan detail apa yang sudah dipilihkan oleh si penyewa. Pria berbadan kekar itu tersenyum manis. “Kau pintar memilihkannya barang untuk pariwisata ternyata,” pujinya.
Pipi Azzura merona, ia memainkan pasir putih di kakinya membuat setengah kakinya tenggelam di bawah pasir. “Aku terlalu sering memilih karena ada beberapa wisatawan yang terlalu bingung untuk mendapatkannya.”
Pria itu mengulurkan tangannya. “Aku Daniel, dari Arkansas.”
Azzura menyentuh tangan itu , ia melihat bagaimana tangannya tenggelam di tangan besar milik Daniel. “Azzura Jorell, kau bisa memanggil dengan sebutan Azzura.”
“Kau tadi berkata bahwa banyak wisatawan yang bingung memilihkannya surfboard?” tanya Daniel.
Dan Azzura mengangguk.
“Kau tahu mengapa? Banyak dari mereka yang sebenarnya ingin berkenalan dengan wanita cantik sepertimu namun tak berani. Jadi jalan satu-satunya adalah menanyakan hal yang sebenarnya mereka sudah tahu dari awal.” Daniel berbicara dengan sangat yakin.
Azzura berkata, “Begitu juga dengan dirimu, Daniel?”
Pembicaraan keduanya tak luput dari perhatian Garrel yang tiba-tiba menjadi orang tak terlihat.