BAB 05

1751 Kata
Menjadi teman Daniel memang menyenangkan, bagaimana tidak baru beberapa jam mereka berdua berkenalan tapi Azzura merasa sudah mengenal pria bertubuh tinggi itu sejak lama. Dari gaya pembicaraan saja, Daniel orang yang asyik untuk diajak bercengkerama.  Terbukti sekarang, Azzura tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah konyol yang pria itu berikan. Daniel dengan lihainya menembus gulungan ombak dan berakhir basah kuyup karena kesengajaan menjatuhkan diri di laut. Tapi yang terakhir sangat menakjubkan bagi Azzura dan pengunjung pantai lainnya. Daniel berlagak seperti pelancar profesional, menari di atas air dan seolah itu adalah hal yang sangat mudah.  Semua wanita bahkan sempat terperanjat melihat Daniel yang kembali ke permukaan dan menemui Azzura beserta Garrel.  “Kau cukup keren untuk melakukan itu, Bung.” Garrel mendekapkan tangannya dan melirik Daniel. Azzura yang mendengar itu langsung mencubit pinggul Garrel.  “Jika kau ingin memuji seseorang jangan bertindak setengah-setengah!” peringat Azzura.  Daniel tertawa melihat wajah Garrel. Sebagai seorang lelaki ia mengetahui jenis mimik wajah apa yang Garrel tunjukkan padanya. “Sejak kecil aku memiliki tekad untuk bisa mengarungi samudera. Entah itu berada di dasar laut atau di permukaannya.”  Azzura mengangguk. “Maka itu kau bisa menari di atas air dengan begitu mudahnya?” tanyanya.  “Aku memiliki guru sekaligus teman, dan dia yang mengajarkanku untuk bertarung dengan ombak. Tanpa rasa takut.” Daniel memandang hamparan air sambil menyipitkan matanya. Sudah mulai terik, bahkan ia bisa merasakan matahari tepat di atas kepalanya.  “Jika tidak keberatan apakah kau mau menemaniku untuk meminum air kelapa di sana?” Daniel menunjuk stan kecil yang menjual berbagai minuman.  Ajakan itu membuat Azzura bersemu merah, ia menenggelamkan kakinya di pasir putih. “Tapi aku harus menjaga kedaiku.” Sambil menyelipkan anak rambut yang berkibar di balik telinga.  “Koreksi jika aku salah lihat, aku melihat wanita baya yang kuyakini ibumu melayani para wisatawan. Aku juga yakin bahwa ibumu tak akan menolak jika aku membawa putrinya hanya lima menit saja untuk sekadar menikmati air kelapa yang segar.”  Daniel pria pemaksa. Itu yang Azzura tangkap dari gaya bicaranya.  Ia melihat Garrel yang tiba-tiba menjadi pendiam saat Daniel datang. Pria berkulit eksotis itu memang berada di sampingnya namun jika berbicara hanya sedikit. Tidak seperti biasa. “Apa kau ingin ikut, Garrel?” Tak enak karena merasa mengabaikan sahabatnya, opsi yang Azzura berikan adalah menawarkan pada Garrel. Ia juga sebenarnya masih sangat canggung pada pria asing yang mencoba mengajaknya dekat.  Sebenarnya ini bukan sekali dua kali ia mendapat tawaran dari sang pelanggann, tapi entah kenapa Daniel adalah pria berbeda. Pria yang terlihat seperti memiliki aura penuh sejuta pesona namun ada sisi lain di baliknya. Biasanya, pria yang mengajaknya main-main hanyalah pria penggoda yang tidak mempunyai tujuan untuk hidup.  “Aku tidak bisa ikut, aku harus mengawasi mereka semua.” Tangan Garrel bertolak pinggang, memerhatikan sepanjang bibir pantai para turis yang asyik berjemur di bawah terik sang surya.  Azzura menggembungkan pipinya, benar sih Garrel sedang bertugas jadi ia tak mungkin memaksa pria itu sekarang.  “Ayo, Nona.” Daniel masih memegang papan selancar dan bergegas ke stan untuk segera menjamu dengan baik teman wanitanya.  Azzura mengikuti Daniel, ia melihat pemilik warung yaitu tetangganya sendiri sedang menatap ke arahnya dengan senyum menggoda. Pria tambun yang memakai kacamata itu bahkan mengerlingkan sebelah mata. “Kau ingin memesan apa, Azzura?” Pemilik kedai bertanya sambil memerhatikan Daniel dengan saksama.  “Berikan kami kelapa muda dan beberapa camilan yang kau punya, Tuan.” Bukan Azzura yang menjawab melainkan Daniel. Ia berbicara sambil berbuka tali yang terpasang di pergelangan kakinya. Tali yang terhubung dengan surfboard yang menemaninya sedari tadi.  “Kau bisa meletakkan papanmu di pasir atau sandarkan saja di batang pohon kelapa itu, Daniel.” Azzura mencoba membantu Daniel untuk mengangkat papan yang memiliki tinggi kurang lebih sembilan kaki. Ia memang sengaja memilihkannya papan yang lebih tinggi daripada yang lainnya, karena tubuh tinggi dan besar Daniel mendukung untuk semua itu. Apalagi surfboard yang terbuat dari bahan poliuretan, dilapisi dengan fiberglass dan disegel dengan resin epoksi. Bahan yang menjadi sangat ringan dan bisa memanuver tubuh jika mendapatkan terjangan ombak besar. “Biarkan aku saja.” Daniel meletakkan papannya di batang pohon yang tak jauh dari tempat ia duduk.  “Jika aku boleh tahu apa yang membawamu hingga kemari, Tuan Daniel?” tanya Azzura.  “Aku sedang ingin berselancar. Itu saja,” jawab Daniel. Kedua tangannya menyampaikan rambut yang basah ke arah belakang. Membuat tenggorokan Azzura sedikit kering karena melihatnya.  Ia berdeham dan memutuskan pandangan matanya dari manik biru itu.  Berteduh di bawah payung besar sambil menikmati panorama keindahan alam membuat siapa saja akan betah berlama-lama. Apalagi ditambah dengan segarnya kelapa muda.  Sebenarnya bukan air dari tumbuhan tunas itu yang menyegarkan, melainkan pria yang sekarang berada di hadapanmu. Azzura merutuki kebodohannya. Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala. Tak mungkin karena Daniel yang baru saja kau kenal. Dasar bodoh! “Kau merasa pusing?” tanya Daniel khawatir, pria itu bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah Azzura, membuat Azzura melihat tubuh yang bertelanjang dadaa itu lebih dekat.  “Ti—tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin karena cuaca yang sangat terik kepalaku agak sedikit sakit,” kilahnya.  “Ya, itu bisa menjadi salah satu penyebab kau bisa merasakan sakit.”  Fokus Azzura, ini bukan pertama kali kau melihat pria seksi yang bertelanjang dadaa dihadapanmu, rutuk Azzura pada dirinya sendiri.  “Ini pesananmu, Tuan.” Pelayan memberikan beberapa piring jenis makanan di meja mereka dan tak lupa buah besar berwarna hijau dengan berbagai hiasan di atasnya.  “Semoga lidahmu bisa menerima cita rasa masakan dari kafe ini, Daniel,” harap Azzura. Ia melihat Daniel yang mengerjapkan matanya di hidangan yang tersaji. Tak serta merta langsung di santap, pria itu malah memandang Azzura.  “Ini bukan camilan, melainkan makanan berat.”  “Kau salah. Ini makanan ringan yang kafe ini punya. Makanan khas Kuba yang mungkin belum pernah kau nikmati. Azzura memotong olahan daging yang berbentuk lonjong dan memberikannya pada Daniel. “Boliche, kau bisa menyebutnya itu.”  “Olahan daging sapi panggang dengan campuran ham dan minyak zaitun juga bawang bombay. Ini adalah satu makanan khas Kuba yang paling digemari di pantai ini dan para turis paling senang memesannya,” tutur Azzura. Ia mengambilkan kentang juga sayuran lain pada piring Daniel.  Pria itu memotong kecil-kecil makanan di piringnya, hal yang tak tertinggal dari pengamatan Azzura. “Bagaimana?”  “Not bad!” “Setidaknya lidahmu tidak menolak untuk memakannya.” Azzura menyedot air kelapa yang tersaji.  “Karena aku sebenarnya tidak menyukai bawang bombay. Dan daging ini terlalu kuat aromanya.”  “Oh maafkan aku. Aku tak tahu akan hal itu.” Azzura mengambil piring Daniel dan berniat menukar dengan piring miliknya yang masih bersih. Tapi tindakan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Daniel.  “Biarkan saja. Aku bisa memisahkan daging itu di pinggir piring.”  Perempuan itu membiarkan, dan beralih ke hidangan lainnya. “Mungkin ini bisa menjadi andalanmu. Sandwich ala Kuba. Berisikan ham, mustard kuning dan juga keju Swiss. Kau bisa melihat lelehan keju yang seakan menggoda untuk di santap. Cobalah.”  Mengikuti instruksi, ia mengambil sandwich itu dan memakannya. “Aku lebih memilih ini daripada daging olahan itu.”  Azzura tertawa, tak menyangka bahwa ia berusaha menjadi ahli kuliner di hadapan Daniel. Padahal bukan pengalaman apalagi pintar di bidangnya. Ia hanya terlalu sering membeli makanan di kafe sang tetangga.  “Aku yakin jika kau bekerja di bagian marketing, perusahaan yang menggajimu akan memiliki untung yang lumayan. Kau sangat pandai untuk menarik pelanggann, Nona,” puji Daniel.  “Apalagi cara kau meyakinkan hal itu.” “Untuk apa aku bekerja, toh aku sudah mempunyai toko yang bisa mencukupi kebutuhanku.”  Daniel menepuk dahinya. “Aku bahkan lupa kau adalah si pemilik surfboard yang sedang aku sewa.”  “Azzura ....”  “Hm?”  “Apakah kau mau menungguku selama beberapa menit untuk berganti baju?” tanya Daniel. Ia mengharapkan perempuan itu mau menerima tawarannya lagi.  “Tapi aku harus—“  “Sebentar saja,” potong Daniel yang langsung berdiri dan meninggalkan Azzura.  Ia hanya bisa melihat punggung itu yang semakin lama semakin hilang karena tertelan bangunan. Tapi mungkin ada baiknya, Daniel yang memakai pakaian lengkap dan tak membuat pipi Azzura yang semakin memerah. Buka karena terik matahari melainkan malu.  Daniel. Nama yang memiliki banyak makna, tapi ada satu yang cocok untuk pria itu. Sempurna.  Mata Azzura memandang bibir pantai yang sudah hampir dipenuhi oleh turis dari berbagai belahan dunia. Wanita yang asyik berjemur dan ada sebagian pria yang berselancar.  Tahun ini, menjadi keberkahan untuk dirinya dan keluarga, belum puncaknya musim panas tapi pantai Miami sudah dipenuhi pengunjung.  Ia tak bisa menghitung banyaknya pundi-pundi dolar yang masuk ke kantongnya jika saat liburan itu telah tiba.  Tapi mengingat hal itu membuat Azzura menggeram, tangannya mengepal dengan kuat bahkan matanya beralih ke bangunan yang hampir rampung di ujung pantai. Pembuatan hotel berbintang yang akan menjadi proyek terbesar. “Hai, kau melamun.” Yang tadi matanya memandang bangunan sekarang terhalang oleh senyum menawan yang membuat matanya mengerjap.  “Apa aku terlalu lama meninggalkanmu?” tanya Daniel.  “Ah, tidak. Aku hanya sedang melihat bangunan di sana,” tunjuk Azzura dengan dagunya.  Otomatis Daniel menengok ke belakang. “ Ada apa dengan itu?”  “Bukan masalah apa-apa.” Azzura tersenyum masam. “Kau sudah selesai?” Matanya melihat Daniel yang sudah rapi, tapi sekarang pria itu lebih memilih memakai kaos abu-abu dan jaketnya disampirkan ke lengan.  “Sudah.”  ** “Sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah mentraktir, aku akan memberikanmu sesuatu.” Azzura membuka etalase yang menampilkan segala pernak-pernik.  “Ini, walaupun tidak lebih mahal dari harga makanan tadi aku harap kau senang untuk menerimanya.” Azzura memberikan gelang berwarna hitam mengkilap. Gelang yang mempunyai tiga lilitan dengan ketebalan yang berbeda.  “Gelang ini terbuat dari akar laut. Salah satu hewan yang menyerupai seperti tumbuhan dan hidup di dasar. Banyak yang menyimbolkan akar laut sebagai kekuatan seseorang.”  Daniel menerima dan langsung memakai, tapi tak lama dering ponsel menghentikan interaksi keduanya. Ia menatap Azzura terlebih dahulu untuk meminta izin agar segera mengangkat telepon.  “Halo.”  “Ya, aku sudah sampai. Kau bisa menungguku sebentar lagi.”  “Oke.”  Azzura menipiskan bibirnya saat mendengar percakapan Daniel dengan seseorang lewat telepon.  “Maafkan aku, Aku harus kembali ke hotel. Aku berterima kasih karena kau sudah menemaniku seharian ini.” Perkataan Daniel memang terdengar lembut, tapi itu mendongkrak sisi terdalam Azzura.  “Ya kau bisa pergi.” Seakan tak rela. “Kau di sini bersama ‘teman’? tanya Azzura akhirnya. Entah, ‘teman’ yang dimaksud Azzura bersifat ganda atau bagaimana.  Daniel menghela napas. “Ya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN