Tanpa menunggu waktu yang lama, Alli tak menyangka dalam waktu dua hari ia bertemu dengan orang yang paling ia hindari sepanjang hidup. Padahal kemarin ia sudah menyuruh semua penjaga untuk memperkuat semua akses yang berkaitan dengan dirinya. Tak ada celah yang seharusnya wanita ini gunakan untuk bertegur sapa dengan dirinya.
Tapi memang wanita ini adalah medusa yang bisa membuat semua orang bertekuk lutut dengannya walaupun dengan perkataan manis. Namun tetap saja sekali ular tetap ular, ia tak bisa bertransformasi menjadi panda yang menggemaskan sekalipun.
“Sebegitu hinanya ‘kah diriku hingga kau tak ingin melihat wajahku, Sayang?” tanya wanita sambil merayu. Pakaian glamor nan ketat membuat lekuk tubuh yang memang indah itu terlihat sempurna. Alli tak menampik hal itu. Sebagai seorang model, wanita ini harus menjaga tubuh dan wajahnya sebagai aset utama yang dimiliki.
Alli tak mendengar, ia tetap mencoret-coret berkas yang ada di depannya dan sesekali membenarkan letak kacamata.
“Sayang. Mau sampai kapan kau terus menghindariku?” Wanita itu merubah bentuk posisi duduknya di sofa, yang tadinya hanya menyandarkan punggung sekarang mengangkat sebelah kaki dan bertumpu di kaki yang lain. Dan apakah berkas yang harus kau tandatangani apakah lebih penting dari aku?”
Alli malah mengambil remote AC yang terletak di mejanya dan menurunkan suhu yang ada di ruangan. Ia merasa semakin gerah, bukan karena musim panas yang melanda melainkan wanita itu yang tidak henti-hentinya berbicara tentang hal yang sangat memuakkan. Ia juga membuka penuh tirai jendela, membuat ruangan yang sudah terang itu semakin tersorot sinar matahari.
Pekikan itu tak didengarkan Alli.
“Bisakah kau menutup tirai lapisan itu, sinar matahari seolah menusuk kulitku.” Wanita itu berpindah pada sofa yang lain. “Kumohon.”
Sekali lagi Alli tak mengindahkan. Ia kembali mencoret-coret berkas itu.
“Kau tahu kan jika aku terlalu sensitif terhadap matahari tapi mengapa kau malah membuka itu,” dengus si wanita berpakaian hitam.
“Julie!” teriak Alli pada akhirnya. Ia melempar pena emasnya dan menangkupkan tangan di meja. “Kau bisa keluar dari sini!”
Jika orang normal mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang Alliadrew Gastovo maka mereka lebih memilih menghindar sampai terbirit-b***t. Mereka tak ingin mencari masalah dengan pria angkuh ini, pria yang bisa melakukan apa saja dengan sekali jentikan jari. Tapi itu tidak bagi Julie Collen.
“Akhirnya kau berbicara juga, Sayang. Tapi aku mohon padamu untuk menutup terlebih dahulu tirai itu,” tunjuk Julie dengan jari lentiknya yang dipoles dengan cat kuku berwarna merah menyala. Dan itu sangat kontras dengan bibirnya.
Alli melihat Julie dengan saksama, ia masih tak percaya jika ada seorang wanita yang berani sekali untuk menyuruhnya. Ia mendesah napas panjang.
Bunyi gesekan tirai dan batang besi itu membuat Julie tersenyum, akhirnya Alli menuruti apa permintaannya. Walau hanya sekadar permintaan kecil tapi bisa membuat hati Julie menghangat.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Alli memfokuskan tatapannya ke arah Julie. Ia tahu, jika sekali saja ia salah berbicara maka ada kemungkinan Julie meminta hal-hal yang aneh-aneh kembali pada dirinya.
“Tidak ada, aku hanya ingin bertegur sapa denganmu. Apa itu tidak boleh?” Ia menyampirkan rambut blondenya di samping telinga, membuat telinga putih itu terpampang jelas di pandangan Alli.
Mendengar penuturan itu, Ali tertawa tanpa suara dan menghempaskan dengan keras punggungnya di kursi kerja. Ia memutar-mutar kursi itu seolah Julie baru saja mengeluarkan lelucon yang membuat isi perutnya sakit.
“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Alli meremehkan. “Apa? Kau hanya ingin bertemu denganku?”
Julie mengangguk dengan mantap, ia tak pernah menutup kemungkinan kenangan manis yang terjalin antara mereka berdua akan terulang kembali. Apalagi ia sangat tahu tabiat dari pemilik gedung ini. Tidak setahun dua tahun ia mengenal Alli. Jika ada yang bertanya siapa yang paling mengerti pria ini, maka Julie akan menunjuk tangan setinggi-tingginya.
“Apa kau tak merindukanku? Kita sudah lama tak bertemu. Bayangkan, tiga tahun kita tak melihat satu sama lain.”
Alli merinding mendengarnya apalagi melihat Julie yang sudah terbangun dari tempat duduk. Wanita itu juga sempat meletakkan tas cangking bermerek di atas meja sebelum berusaha mendekatinya.
“Berhenti!” gumam rendah yang Alli tunjukkan membuat Julie tak berani bergerak. Tanda-tanda ia tak suka dengan hal lancang yang wanita itu lakukan.
“Kau tetap di tempat atau aku tak segan-segan melemparmu keluar jendela!”
Julie meremas tangannya yang sudah mengeluarkan keringat. Matanya terbelalak jika kejadian itu terjadi karena bukan patah tulang yang ia dapatkan melainkan ke rumah baru yaitu alam baka. Gedung yang memiliki hampir enam puluh lantai dan mereka sekarang berada tepat di puncaknya.
“Kau tak mungkin melakukan itu ‘kan, Sayang?” iba Julie. Ia bahkan tak berani untuk duduk kembali.
“Kenapa kau masih berpikir seperti itu? Apa aku perlu mengingatkan sekali lagi untuk statusmu yang sekarang?” Ia mendengus.
Muka wanita itu pucat saat Alli sudah berbicara tentang masa lalu, ia sebenarnya tak mau mengingat sepenggal kisah masa lalu yang menyedihkan. Ia mencoba mengembalikan lagi air mukanya, ia mencoba berani—lagi—.
“Kau tak perlu mengingatkan kisah menyedihkan di hidupku, Alli. Sudah cukup derita yang selama ini kau berikan. Aku sudah menerima dan membayarnya. Apa kau tak pernah puas?” Air mata Julie menetes, tapi itu malah membuat Alli menatapnya dengan rendah.
“Kau tak perlu memamerkan air mata sialan itu di hadapanku. Tidak akan pernah cukup sebelum karma yang sangat menyakitkan datang di hidupmu!” Itu tak akan pernah mempan, Julie dengan air mata palsunya.
“Kenapa kau jahat padaku? Kau bahkan sudah membuat pekerjaanku hancur hingga berkeping-keping. Dan aku harus memulainya dari awal. Semua itu karena kau dan kekayaan yang kau miliki. Sebenarnya yang harus disalahkan adalah kau, Tuan Gastovo. Bukan aku! Kau yang menghancurkan, menghancurkan karierku hingga tidak ada agensi yang mau menerima lagi. Kau juga harus tahu Alli, karenamu aku hampir putus asa dan mencoba mengakhiri hidupku.” Julie mengatakannya dengan panjang lebar, ia merasa semua beban dalam hidupnya harus diberitahukan pada Alli. Karena ia tahu, bukan hanya dirinya yang bersalah di sini, melainkan pria itu juga.
“Lalu apa peduliku?” tanya Alli dengan sangat enteng.
“Brengsekk!” umpat Julie sambil membuka tas ungunya. Ia melemparkan kertas berwarna putih di atas meja.
“Tapi tetap aku masih mengharapkanmu.” Julie mengelap air matanya dengan tisu. “Aku kemari hanya ingin memberikanmu undangan. Aku harap kau datang karena aku juga mengundang pebisnis yang berasal dari Tiongkok. Kau pasti tahu siapa yang aku maksud.” Julie kembali memakai tas jinjingnya dan membenarkan gaunnya yang sedikit kusut karena gerakan ia yang sedikit frontal tadi.
“Di acara itu kau bisa menilai bagaimana kepribadian calon partnermu.” Julie menyunggingkan senyumnya dan berbalik arah ke pintu keluar. Ia tak mendengar lagi pembalasan yang dikeluarkan Alli.
Alli tercenung. Apakah tadi Julie baru saja berbicara tentang tuan Lodan?
Sial! Bagaimana perempuan itu tahu jika ia akan bekerja sama dengan orang itu. Padahal ini baru rancangan yang belum pasti. Tak terduga, Julie berada satu langkah di depannya. Sangat licik.
“Segera bersihkan ruanganku, dan berikan pengharum ruangan. Jangan sampai aroma wanita itu menusuk penciumanku sedikit saja.” Interkom terputus. Ia kembali menghempaskan tubuhnya di kursi sambil mengetuk-ketukkan jemarinya.
Tak sulit mencari mata-mata di sekitar dirinya, tapi yang paling penting ia harus mengetahui dulu apa motif dibalik semua ini. Hingga orang itu dengan berani membocorkan rahasianya pada Julie.
Alli berdiri saat melihat kertas undangan di atas meja. Entah apa yang wanita itu berikan padanya. Walaupun ia juga sebenarnya sedikit penasaran dengan persoalan undangan yang dikatakan wanita ular itu.
Oh, ternyata Birthday Card.
Tertulis di sana, Celebration Julie Collen July, 28th 2020.
Kartu undangan yang cukup elegan dengan siluet wanita itu yang menjadi gambarnya.
Alli mendengus, wanita itu menyiapkan pesta ulang tahun padahal umurnya sudah mencapai 35. Apakah tidak terlihat seperti anak-anak? Ia membalikkan kartu itu, namun ada hal yang membuatnya terkejut.
“Bersamaan dengan peresmian rumah panti.” Alli merasa kehilangan keseimbangan hingga membuat ia memundurkan langkahnya. Sejak kapan wanita itu mempunyai rumah sosial, apalagi acara itu disponsori oleh lembaga perlindungan anak Amerika Serikat. Jelas itu bukan acara main-main. Akan ada acara amal yang dihadiri oleh banyaknya miliarder terkemuka di sana.
Alli yakini, Julie mengadakan acara ini untuk mendongkrak kembali popularitas yang sempat redup beberapa tahun lalu. Ia akan semakin dikenal di masyarakat luas dan melupakan skandal yang Julie alami.
Ia meremas undangan itu dan melemparkannya ke tong sampah. “Jika aku benar-benar lepas tangan, aku bisa pastikan kau tidak akan pernah ada di titik ini, Julie.”
**
“Apa kau tak ingat kata-kataku, Tuan!” Azzura murka bukan tanpa sebab, tapi karena pria besar tinggi yang sudah memporak-porandakan perasaannya selama beberapa hari terakhir tiba-tiba datang ke tokonya. Siang terik, turis yang berdatangan tak menghilangkan momen saat adanya ‘pertarungan’ antara pria dan wanita.
“Tapi ini sudah tenggat waktu yang saya jelaskan kemarin.” Seolah tak terintimidasi oleh banyaknya pasang mata. Carlos yang sengaja memakai kacamata hitam terlihat santai berhadapan dengan Azzura, berbanding terbalik dengan perempuan itu.
“Aku tekankan sekali lagi, aku pemilik tanah ini dan tak akan pernah pindah ke mana pun. Kau juga tak perlu membawa banyaknya pria besar, kau tak ubahnya seperti debt collector. Cobalah bercermin!” Napas Azzura tersengal, sudah ratusan kali umpatann ia layangkan pada pria tambun itu tapi mereka semua yang berjumlah lima orang tak mau pergi juga dari sini.
Carlos melihat Tuan Jorrel yang mencoba menenangkan anaknya. “Kami mohon padamu, Tuan. Berikan kami waktu sedikit lagi. Aku sudah mencoba untuk mencari rumah yang sesuai tapi belum menemukan,” mohon ayah Azzura dan itu membuat Azzura terbelalak.
“Aku tidak mau pindah, Ayah! Ini tanah milik kita. Mereka dengan sengaja membodohi rakyat kecil seperti kita. Aku tak percaya kata-kata mereka!” Azzura meraung dan menjadi tontonan bagi para pengunjung.
Amallia mencoba membawa Azzura masuk kembali ke dalam rumah, tangisan histeris yang diperlihatkan membuat semua orang iba.
“Aku mohon berikan waktu sebentar saja. Jika perlu aku bisa berbicara dengan atasanmu untuk meminta waktu,” harap Javas. Selama empat hari terakhir setelah tahu bahwa sertifikat miliknya adalah ilegal ia langsung cepat-cepat mencoba mencari rumah yang sesuai dengan keadaan keuangannya. Namun, mencari rumah tak segampang mencari kerang di laut. Ada saja halangannya.
“Kami sudah mengirimkan kompensasi ke rekening Anda, Tuan Jorrel. Ingat ini bukan kesepakatan, tapi kami mengambil hak yang kami miliki.” Carlos memberikan berkas pada Javas. “Jika dalam tiga hari lagi kau belum mengosongkan rumah ini, maka kami akan menempuhnya ke jalur hukum.”
Carlos dan keempat asistennya pergi dan itu juga yang membuat orang-orang ikut bubar karena pertandingan keduanya sudah usai untuk hari ini.
“Tuan, apakah kau tidak terlalu bertindak gegabah?” tanya asistennya tepat di samping kanan Carlos.
“Maksudmu?”
“Aku tahu kau belum berbincang dengan tuan Alli mengenai penambahan waktu, kan?”
Mimik Carlos berubah datar dan diam sejenak. “Setidaknya aku yang akan mendapat pukulan dari tuan, bukan kalian.”