“Mau kau apakan anjing ini, Zurra?” Garrel bertanya. Pria itu berjalan beriringan dengan Azzura yang akan melewati jalanan siang hari.
“Aku akan mengurusnya terlebih dahulu, setelah sembuh mungkin kita bisa membawanya ke kantor polisi untuk menghubungi sang pemilik.” Tangan Azzura tak henti-hentinya memberikan kenyamanan pada Lucy. Lucy pun demikian, ia seolah merasa sangat dengan sentuhan hangat Azzura. Seperti sentuhan seorang induknya. Luka Lucy sudah diobati oleh dokter klinik tadi.
“Lalu bagaimana tentang pencarian pekerjaanmu?” tanya Garrel.
“Aku bisa mencarinya besok lagi. Tak mungkin ‘kan aku membiarkan Lucy tergeletak di jalanan seperti tadi. Kau bisa lihat sendiri bagaimana mobil-mobil itu tak mau berhenti hanya untuk sekadar menjauhkannya. Aku takut anjing lucu ini tertabrak.” Ya dia bisa memastikan bahwa sudah lama Lucy terkapar di sana.
“Tapi besok aku tidak bisa menemanimu. Besok aku ada jadwal untuk berjaga.” Nada merasa bersalah Garrel membuat Azzura tersenyum tipis.
“Tidak apa, Garrel. Aku akan mencarinya sendiri. Kau bisa melakukan jadwalmu dengan santai tanpa memikirkan aku. Cukup doakan aku semoga besok adalah hari yang terbaik.”
Dimulai hari ini, Azzura berniat mencari pekerjaan yang bisa membuat ia membantu keuangan keluarganya. Ia mencoba untuk tidak menjadi beban orang tuanya. Entah apapun pekerjaannya akan ia lakoni. Ia bertekad, sebelum ia diusir secara paksa oleh mereka—si orang-orang yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan— ia harus cepat mendapatkan pekerjaan. Dan itu tersisa dua hari lagi. Apakah bisa?
Ada rasa tak yakin dalam dirinya dalam hal itu, apalagi sekarang ayahnya belum juga menemukan tempat tinggal yang cocok untuk mereka bertiga. Uang yang diberikan perusahaan itu benar-benar tidak membantu. Siapa yang akan menjual rumah dengan harga jauh dibawah seratus ribu dolar? Jika ia menyewa apartemen kecil pun hanya cukup untuk beberapa bulan karena ditambah uang tabungan. Entah ‘lah ayah dan ibunya sedang memutar otak di saat pailit seperti ini.
“Jika bersedia kalian bisa tinggal di rumahku sementara sampai kalian menemukan rumah yang cocok.” Garrel menghentikan langkahnya dan berteduh di bawah pohon besar begitu juga dengan Azzura. “Aku akan meminta izin pada ayah dan ibuku tentang hal ini.” Terik matahari menyoroti kedua insan yang sesekali mengelap peluh.
Azzura menggeleng. “Kau tidak perlu melakukan hal-hal yang merepotkan. Kau sudah cukup membantu, Garrel. Jangan membuat aku semakin berhutang budi terhadapmu.” Bibir Azzura merengut. Garrel adalah teman baiknya, bahkan kedua orang tuanya pun sama.
“Apa kau berpikiran seperti itu, Zurra? Aku bahkan tak keberatan untuk membantumu. Aku bukan orang asing bagimu, ‘kan?” Ada nada sedih yang diberikan pada pria berotot itu.
“Bukan seperti itu, aku hanya tak ingin merepotkan kedua orang tuamu terlebih kau, kalian sudah banyak turut membantu.” Azzura meninggalkan Garrel dan tak lupa memberikan Lucy padanya.
Garrel memerhatikan perempuan itu yang menjauh, menemui penjual yang memakai gerobak berwarna-warni seolah mengundang siapa saja yang melihat. Es krim dan minuman dingin lainnya.
Azzura Jorell, perempuan yang menurutnya sangat cantik apalagi kepiawaiannya dalam mengolah segala sesuatu dengan sangat sempurna. Perempuan yang ulet untuk mencari uang dan bersikap mandiri. Toko selancar dan pernak-pernik keluarga perempuan itu sedikit berkembang karena Azzura pandai mencari pelanggann. Perkataan manis yang Azzura tampilkan di hadapan pengunjung membuat para wisatawan semakin tertarik pada kedai kecil itu.
Azzura yang memiliki umur dua tahun di bawahnya. Ia berumur 25 dan Azzura 23, walaupun ia juga bernotabene sebagai kakak tingkatnya membuat ia menjadikan perempuan itu sebagai teman dekat. Tak ada rasa canggung apalagi tak enak di antara kedua belah pihak.
Matanya masih melalang, melihat rambut cokelat perempuan itu yang berkibar terkena tiupan angin yang kencang. Perempuan yang mempunyai senyum manis yang ditujukan oleh semua orang, penularan aura positif yang tak disadari oleh Azzura sendiri.
Bibirnya berhenti tersenyum saat ada jemari lentik yang menghalangi pandangannya. Tak lama wajah perempuan berambut pendek tepat di hadapan muka Garrel.
“Hai, sedang apa kau di sini?” tanya perempuan itu, pada Garrel. Garrel yang sedang terduduk di kursi taman langsung tersentak.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau di sini?” Garrel kembali menatap Azzura yang belum juga selesai dengan kegiatannya.
Perempuan muda itu mengikuti arah pandang Garrel dan mengangguk paham. “Oh, kau bersama Azzura. Hal yang seharusnya kutahu sejak awal.”
Ia ikut terduduk di samping Garrel dan memerhatikan Lucy yang berada di dekapan laki-laki itu. Sebelum ia menyentuh bulu halus Lucy, Garrel terlebih dulu menyentaknya.
“Jika kau tak ada kepentingan lebih baik menjauh, Miranda.” Garrel mengusir perempuan yang bernama Miranda itu secara terang-terangan. Tak ada basa-basi antara keduanya karena itu memang tak diperlukan.
“Aku hanya lewat dan kebetulan aku melihatmu.” Miranda menumpukkan tas kecilnya di paha. Gaun berwarna merah itu sedikit tersingkap, menampilkan paha putihnya yang terlihat mulus.
Garrel mendengus dan berkata, “Lebih baik kau kembali ke mobilmu yang sejuk itu daripada kulitmu terbakar sinar matahari.”
“Tenang saja aku sudah memakai sunscreen dengan jumlah yang lumayan banyak. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku seperti itu.” Miranda menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, kemudian membuka kacamata hitam.
“Pulanglah. Aku bukan mengkhawatirkanmu. Hanya saja aku malas berbagi oksigen yang sama di wilayah ini.” Garrel menggeser tubuhnya, sampai tangannya ia letakkan di pinggiran besi kursi.
“Teganya kau berbicara seperti itu.” Bukan malah sedih, Miranda tertawa terbahak hingga mengeluarkan air mata di sudut mata.
“Kau tak ingin kehilangan pekerjaan kan? Atau didepak dari agensimu itu?” Garrel memberikan ultimatum pada Miranda. Membuat perempuan itu menghentikan tawanya.
“Kau masih saja bersikap terang-terangan ketika berbicara, ya Garrel.” Miranda menumpukan tangannya ke tangan yang lain dan mengikuti arah pandang pria itu. “Tapi kenapa kau tak berani berbicara terang-terangan perasaanmu terhadapnya?”
Miranda belum mengetahui bila ia sedang memantikkan api ke dalam sebuah sesuatu yang gampang terbakar. Garrel memiliki sikap seperti bom waktu, ia juga mampu meluluhlantakkan semua yang berada di dekatnya.
“Apa pentingnya bagimu untuk mengetahui hal itu, Manda?” tanya Garrel.
“Apa kau tak lelah menjadi seorang bayangan, hm?” Miranda memakai kembali kacamata hitamnya saat melihat Azzura yang sudah berjalan menuju kemari. “Aku cukup terkejut kau bisa bertahan dengan semua ini. Kukira Garrel yang dulunya seorang yang paling dicari oleh semua wanita masih bertahan, namun aku salah kau berubah menjadi pria suruhan bagi seorang Azzura.”
“Tutup mulutmu, Miranda! Aku tak segan-segan untuk berbuat sesuatu padamu, karena aku tak akan pernah memandang kau perempuan sekalipun.” Garrel menunjuk wajah Miranda dengan muka dipenuhi Amarah.
Hal tersebut memang mengundang perhatian sekitar, banyak yang terang-erangan menghentikan jalannya untuk sekadar ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ada pula yang hanya menatap sekilas lalu pergi. Cuaca panas menjadi lebih panas di taman kecil ini, bukan persaingan para penjual yang ada, melainkan antara perempuan dan laki-laki yang belum diketahui problematik secara keseluruhan.
“Astaga Garrel!” Azzura berlari menghampiri kedua orang yang menjadi tontonan di khalayak ramai.
Ia meringis memerhatikan orang-orang yang menonton dan memberikan isyarat kepada mereka untuk segera pergi dan melanjutkan masing-masing aktivitas.
“Miranda,” kata Azzura melihat tampilan perempuan itu yang sangat modis. Bahkan matanya beberapa kali melihat dari atas dan bawah. Profesi Miranda yang menjadikan dirinya sebagai artis membuat perempuan itu mempunyai tubuh yang profesional, apalagi wajah halus yang membuat binatang yang hinggap pasti akan langsung terpeleset.
“Oh, hai. Apa kabar Azzura?” Perkataannya ramah namun tidak dengan bibir perempuan itu.
“Aku tidak menyangka kalian masih berhubungan. Ternyata benar, kedua pengkhianat masih bisa tertawa dengan bebas,” kata Miranda.
Hal itu membuat Azzura tercenung.
“Tarik kembali ucapanmu, Mira!” Sekali lagi Garrel menunjuk wajah Miranda yang berniat menghampirinya namun ditahan langsung oleh Azzura.
“Sudah, Garrel. Kau sedang berada di tempat umum.” Azzura berusaha menenangkan.
“Apa maumu, Miranda?” tanya Azzura pada akhirnya.
“Tidak ada, aku hanya lewat dan kebetulan ternyata mantan pacarku sedang berada di sini bersama dengan selingkuhannya.”
Sebutan itu, ternyata masih melekat di diri Azzura. Tentu saja ia bukan wanita jahanamm yang Miranda tadi sebutkan. Semua terjadi kesalahpahaman tapi perempuan itu tak mau mendengar dan lebih percaya dengan dirinya sendiri. Azzura sudah berulang kali menjelaskan tapi Miranda tetap saja tak mengindahkan.
“Sudah kukatakan berkali-kali padamu. Aku tidak berselingkuh pada Garrel.” Ia sudah lelah berbicara seperti ini, dan itu tak akan pernah membuahkan hasil.
“Tak ada pengkhianat yang berkata jujur, Azzura.”
Benar ‘kan!
“Berhenti menyebutnya seperti itu, Sialan!” Garrel semakin berang, Azzura bahkan sampai terseret untuk bisa mendekap pria bertubuh besar itu dengan sangat kuat.
“Lebih baik kau pergi dari sini, jika tidak kau bisa membuatnya lebih meledak lagi. Kumohon.” Azzura tak ingin membuat suasana semakin bertambah kacau. Menenangkan kedua belah pihak menjadi tujuannya saat ini.
Miranda memberikan senyum merendahkan pada mereka berdua, tak lama seorang pria berkacamata dan jas hitam p]menghampiri Miranda. Raut wajah kakunya diberikan kepada Azzura dan Garrel.
“Tidak apa, Vero. Kami hanya salah paham.”
Pria bernama Vero itu menunduk dan segera mengikuti Miranda yang berjalan menuju mobil mahalnya.
“Kau tak apa-apa?” tanya Azzura mendudukkan kembali Garrel. Ia bahkan melihat Lucy—duduk di kursi— yang sedang memerhatikan mereka berdua.
“Aku tak apa.” Meskipun berbicara seperti itu, Garrel masih melihat kendaraan Miranda hingga ditelan jarak.
“Apakah sudah dari tadi Miranda bersamamu, Garrel?” tanya Azzura memastikan.
“Sejak kau membeli es krim itu,” jawabnya cepat. Ia mengambil bungkusan yang dibawa Azzura dan membuka menusukkan pipet di gelas plastik.
Azzura benar-benar mengerti dirinya, di saat perempuan itu lebih memilih es krim besar namun ia dibelikan es kopi segar yang mampu menumpaskan dahaga.
“Seharusnya kau makan es krim, ini bisa membuat moodmu kembali lagi.” Azzura menyodorkan es krim miliknya pada Garrel.
“Aku tahu kau hanya berbasa-basi untuk menawarkan keinginanmu itu.” Garrel tertawa.
“Wah, ternyata kau sangat mengerti aku, ya.” Azzura menepuk pundak Garrel.
Ada keheningan sejenak antara ketiganya, begitu juga dengan Lucy. Ia lebih baik meringkuk di paha Azzura.
“Garrel,” panggil Azzura.
“Hm?”
“Apakah kita sebaiknya menjauh antara satu sama lain seperti kata Miranda. Kau tahu, dibenci oleh satu orang yang dulunya menjadi sahabatmu adalah hal paling menyakitkan. Aku tak ingin Miranda membenciku selama bertahun-tahun seperti sekarang.” Tangannya kembali mengelus kepala Lucy. Ia tak berniat kembali makan es krimnya, lebih baik menutup wadah itu dan membiarkan menjadi cair karena perubahan suhu yang sangat drastis.
Garrel demikian. Ia memandang Azzura dengan sangat terkejut. “Apa aku tidak salah mendengar, Zurra? Kau bahkan jauh lebih mengenalku daripada Miranda. Apa karena itu kau ingin menjauh dariku, iya?”
“Bukan seperti itu—“
“Lalu apa?” tanya Garrel menggebu. Ia berdiri dan bertolak pinggang serta menghindari pandangan mata perempuan itu.
“Miranda masih menaruh harap padamu, dan ia tak akan membiarkanmu untuk dekat dengan perempuan lain termasuk diriku, Garrel. Cobalah untuk mengerti.” Azzura meletakkan Lucy dan ikut berdiri. Ia juga menarik lengan Garrel untuk kembali berhadapannya.
“Dengarkan aku, Miranda tak seperti pikiranmu. Ia perempuan yang sangat licik, Zurra.” Mencoba memberi tahu kebenaran yang ada, kedua tangan Garrel memegang bahu Azzura.
Mata mereka berdua beradu, tak hanya kalimat yang meyakinkan tapi juga tatapan teduh mata Garrel mencoba berusaha sebisa mungkin untuk tak mengusik kembali kenangan yang dulu terjalin.