BAB 10

2094 Kata
Seorang wanita menahan tangis saat membaca sebuah buku di tangannya. Ia harus tahu, di tempat yang sepi seperti ini dilarang berisik walau dalam keadaan bagaimanapun.  Tangannya membalik lembar demi lembar, sekaligus kadang-kadang mengusap sudut matanya yang terdapat titik cairan bening. ‘The Fault In Our Star’ menjadi buku pilihannya sekarang. Kisah romantis yang menceritakan pasangan remaja mengidap penyakit kanker tiroid dan mengharuskan gadis bernama Hazel membawa tabung oksigen saat ia pergi ke mana saja.  Saat sedang asyiknya berkelana di buku bacaan, ada seseorang yang berlari dan berteriak namun dengan cara berbisik. “Azzura!”  Azzura menengok, sahabatnya tergesa menghampiri dirinya yang sedang bersembunyi—di pojok ruangan—untuk menikmati spot terbaik di perpustakaan.  “Ada apa?” tanya Azzura pelan.  “Astaga ... astaga, kau tahu? Garrel mengajakku ke pesta dansa!” pekiknya tertahan. Jika saja ia sedang tidak ada di tempat ini, bisa dipastikan sahabatnya itu langsung berjingkat senang.  “Garrel Covs?” tanya Azzura memastikan.  “Ya, sahabatmu itu.” Senyum berbinar ditunjukkan oleh Azzura, ia turut senang karena Garrel—teman kecilnya sekaligus kakak tingkatnya— akhirnya berkencan juga.  “Aku turut senang mendengar itu, Mira!” Azzura menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. “Kau tahu, aku mengidamkan momen ini. Meskipun Garrel dicintai oleh semua gadis tapi pria itu tak pernah berani mengungkapkan perasaannya terhadap wanita yang disukai. Sampai saat ini semua orang tak pernah tahu siapa yang disukai oleh seorang Garrel. Bahkan ada rumor yang mengatakan Garrel adalah penyuka sesama jenis, tapi ditampik dengan keras oleh Azzura sendiri.”  Miranda ikut terduduk di depan Azzura, ia memegang erat tangan sahabatnya. Menyalurkan euforia bahagia yang ia dapatkan hari ini. Tunggu, ia harus mengingat bahkan bila perlu mencatat hari ini sebagai momen spesial.  Miranda meletakkan buku catatan kecil berwarna merah muda dan mengambil pena yang juga sama cantiknya. Tak perlu waktu lama, momentum ini sudah tercatat di buku diary pribadi miliknya.  “Aku harus mencatat ini, Garrel benar-benar pria yang spesial, Zurra.” Masih mencoret-coret kertas itu, berbagai macam gambar ia sisipkan di sana.  “Kau seperti anak remaja yang baru saja mengenal cinta.” Tangan kanannya menopang dagu, melihat bagaimana seseorang Miranda Austin menyukai seorang pria.  Miranda, gadis berperawakan jangkung dengan tinggi badannya yang mencapai 5’7 kaki. Perempuan yang memiliki cita-cita model dan mimpi bergaya depan kamera bersama Karlie Kloss—model yang saat ini sedang menduduki peringkat kedua model termahal setelah Kendal Jenner—.  “Apa kau akan ikut pesta dansa juga, Zurra?” tanya Miranda.  Mata Azzura berkedip. “Ha? Oh tidak.”  “Kenapa?” Sekarang Miranda yang menaruh penuh minat untuk jawaban Azzura selanjutnya.  “Aku tidak diundang.” Jawaban yang membuat Miranda menjatuhkan penanya.  “Ka—kau tak diundang? Bagaimana bisa!?” pekiknya kencang. Ia tak sadar bahwa pengawas perpustakaan sedang berkeliling.  “Bisakah kalian mengecilkan suara, Nona-nona?” Wanita yang memiliki rambut hitam dan digulung itu memerhatikan Azzura dan Miranda dengan tajam. “Ini perpustakaan, bukan arena bermain yang dengan bebasnya kalian menjerit!” “Maaf Ma’am kami tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Azzura, ia juga melihat sekitar dan terlihat banyak pasang mata yang menaruh minat pada masalah mereka berdua.  Miranda memamerkan gigi putihnya dan meringis. “Kami berjanji.” Sambil memberikan menunjukkan jari telunjuk dan tengah.  Beberapa detik kemudian, akhirnya mereka bisa bernapas lega, saat wanita itu sudah meninggalkan mereka dan mungkin saja sekarang sudah kembali ke tempat duduk asalnya.  “Bagaimana itu bisa terjadi? Kau tidak diundang ke pesta dansa?” pekik Miranda tertahan.  “Mungkin aku tidak diundang karena kami tidak terlalu dekat.” Jawaban mudah yang Azzura berikan.  Miranda menjentikkan jarinya di depan wajah sahabatnya. “Hai, buka matamu. Semua orang juga tahu kau dan Candice memiliki hubungan yang terlampau baik. Lagi pula semua angkatan kita diundang untuk ulang tahunnya, apa mungkin Candice melupakan dirimu, hm?” tanya Miranda sambil mengetuk-ketukkan dagunya.  “Mungkin itu menurutmu saja, Aku dan Candice tak pernah sedekat itu, Mira,” sanggah Azzura.  “Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan padaku tentang foto-foto kalian di sosial mediamu beberapa minggu yang lalu?” Ada rasa cemburu di sana.  “Kau cemburu pada Candice?” tanya Azzura mengejek.  “Untuk apa aku cemburu.” Miranda memutar bola matanya malas. “Aku hanya tidak menyangka, kau pergi berdua tanpa mengajakku.”  “Hei! Apa kau tak ingat, kau juga mempunyai rencana kencan bersama seorang laki-laki. Yang katamu dia sangat tampan dan bisa melelehkan semua tulang yang kau miliki.” Azzura mendengus.  “Apa aku pernah berbicara semenjijikkan seperti itu?” Miranda geli sendiri terhadap omongannya.  “Jika saja aku mempunyai perekam suara mungkin saja kau akan membenturkan kepalamu di dinding beton, Mira.”  ** Setelah diantarkan oleh Garrel seharian penuh dan sekarang ia merasa lelah juga lengket di seluruh tubuhnya, ia berinisiatif untuk mandi. Tak lupa juga, Lucy sudah ia berikan makanan dan tempat untuk anjing lucu itu beristirahat. Untuk kedepannya ia tak tahu, apakah akan benar-benar menyerahkannya pada polisi atau lebih baik mengadopsinya. Jujur, ia sangat suka dengan Lucy, anjing berjenis pomeranian.  “Ibu, apa yang sedang ibu lakukan?” tanya Azzura saat melihat Ibunya sedang membereskan baju dan memasukkan ke koper. Pintu kamar orang tuanya tak tertutup, hal itu membuat ia tahu apa aktivitas yang ibunya kerjakan.  “Apakah kau sudah mulai mengemas barang-barangmu, Sayang?” Bukannya menjawab pertanyaan sang anak Amallia justru balik bertanya.  “Apakah harus secepat ini? Masih ada dua hari lagi, Ibu. Atau kita juga bisa meminta mereka melonggarkan waktu lebih banyak lagi.” Azzura meringis.  “Jangan bersikap bodoh, Zurra! Mereka tidak akan pernah mau memberikan kita kelonggaran lagi, masih bersyukur kita tidak diseret keluar secara brutal. Lagi pula Ibu dan Ayah sudah mulai mencicil membawakan perabotan rumah.” Ia menutup kopernya dan menyisakan beberapa helai pakaian. “Tapi, Bu—“  “Tidak ada alasan, ayahmu sudah menemukan tempat tinggal yang cocok walaupun tak lebih besar dari rumah ini. Tugasmu sekarang adalah membereskan segala macam barang-barang milikmu!” perintah Ibunya.  Azzura tergelak, beberapa hari ini ibunya terlihat sedikit menaikkan suaranya dan memang faktor masalah ini yang mempengaruhinya. Azzura paham. Sangat paham. Tapi tak hanya Ibunya yang sedih, ia pun sama.  “Ibu, apakah tidak ada opsi lain selain pindah dari pantai ini?” tanya Azzura memelas  ia memeluk ibunya dari samping.  “Kita bisa membeli stan yang sudah dibangun ruko di sana. Atau paling tidak kita bisa menyicilnya.”  Amallia mengelus lengan anaknya. “Mereka pintar Azzura, setelah mengadakan pembangunan itu harga sewa per-unitnya bahkan bisa sepuluh kali lipat dari harga kompensasi yang mereka berikan.”  Azzura mengerutkan keningnya. “Apakah hanya kita yang diusir, padahal jika melihat dari gambar pembangunan itu sepanjang bibir pantai ini akan ada spot-spot mahal dan mereka memang harus benar-benar melakukan pembongkaran semua.”  “Kebanyakan mereka yang hanya menyewa rumah atau banyak juga yang menumpang pada tanah pemerintah. Jadi mereka tak terlalu memusingkan soal harga yang pantas mereka dapatkan, toh itu memang bukan hak mereka.” Amallia duduk di atas ranjang, sedangkan Azzura duduk di lantai. Tangannya dengan luwes membuka handuk yang melilit di kepala Azzura dan menyisirinya.  “Jadi kita sama seperti mereka?” tanya Azzura pelan. “Jika kau berpikir seperti itu ... ya, kita sama statusnya seperti mereka.” Amallia membuka botol kaca dan menuangkan cairan pada telapak tangan. “Tapi kau tenang saja, semua pasti ada balasannya.”  Azzura termenung sejenak. Jika karma benar-benar ada, ia ingin sekali melihatnya secara langsung hal buruk apa yang akan diterima orang bernama Louis tersebut.  “Bu, bagaimana dengan papan seluncur yang aku pesankan dari paman Greg?”tanya Azzura, sudah terlanjur ia memesan papan selancar pada pria itu.  “Ayahmu sudah membatalkannya,” jawab Amallia.  Ia hanya mengangguk tanda paham. “Lalu untuk semua papan selancar ini apa yang harus kita lakukan?” tanya Azzura lagi.  “Ada beberapa toko yang berminat membeli papan seluncur bekas itu dan juga pernak-perniknya. Ini adalah hari terakhir kita membuka penyewaan.”  Luar biasa, orang tuanya sudah lebih dulu jauh melangkah seolah semua ini tak menjadi malah bagi mereka.  “Oh iya, Bu. Aku tadi baru saja menemukan anak anjing sangat cantik. Dia juga mempunyai nama yaitu Lucy.”  Setelah selesai memberikan vitamin rambut pada Azzura, Amallia berdiri dan berkata, “Kau barus merawatnya dengan baik.”  ** Peninjauan kali ini membuat Alli harus benar-benar memadamkan rasa amarah yang menghinggap dalam d**a. Bagaimana tidak, pekerjaan bangunan yang seharusnya membutuhkan estimasi selama kurang lebih enam bulan malah jauh perkiraan. Para pekerja dan pengawas malah sibuk leha-leha dan mengipasi tubuhnya sambil bercengkerama. “Bisa kau jelaskan mengapa mereka berhenti bekerja?” tanya Alli menginterogasi si pengawas. Mereka yang tadi melihat bos besar datang langsung cepat-cepat melanjutkan pekerjaannya.  “Maaf Tuan Alli, kami tadi hanya beristirahat sejenak,” kata si ketua lapangan sambil menunduk.  “Apakah beristirahat yang kau maksud adalah duduk sambil ditemani domino card?” sindir Alli. Ia sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk proyek ini.  “Jika pekerjamu tidak bisa bekerja secara kompetitif, bisa dipastikan aku akan memikirkan ulang memakai jasamu lagi.” Alli memandang tajam sang pengawas lewat kacamata hitamnya.  “Tuan Alli,” panggil seseorang dari arah belakangnya.  “Sudah lama kau berada di sini?” ucap lelaki memakai kemeja abu. “Mari, aku akan menunjukkan padamu tempat yang kau inginkan kemarin.”  Mereka berdua menaiki lift, resort ini belum rampung sepenuhnya. Tapi sudah coba dipakai oleh beberapa orang termasuk partner kerja Alli.  Tepat lantai tiga. Lantai paling atas dan menjadi lantai yang paling diminati banyak pengunjung nantinya. Tidak lebih dari sepuluh kamar VIP dan memiliki jangkauan yang sangat luas untuk melihat sekitar apalagi hamparan laut biru. Tetap saja milik pemimpin adalah yang paling berbeda, ruangan Alli yang dimodifikasi seperti rumah hunian lengkap membuat siapa saja betah di sana apalagi terdapat kolam renang pribadi juga taman bunga yang mempercantik suasana.  “Kau membuat resort ini dengan perpaduan gaya tropis dan klasik, namun untuk ruanganmu kau lebih memilih gaya Spanyol. Wow, sebenarnya ini jauh dari ekspektasiku.”  Alli hanya tersenyum miring, tak ada salahnya ‘kan meminta sesuatu yang berbeda meskipun milik kita sendiri. “Apakah itu mengganggu pikiranmu?” Yang ditanya malah tertawa. “Tidak ... tidak ada. Hanya saja kukira kau memintaku untuk membuatkan gaya modern nan kaku seperti pembawaanmu.” “Daniel,” kata Alli sambil memerhatikan sekeliling. “Kau tak pernah berubah.”  Lelaki yang bernama Daniel itu tertawa. “Kau salah, Bung. Aku sudah banyak berubah.” Alli mengernyitkan alisnya. “Contohnya?”  “Sekarang aku menjadi bawahanmu,” ucapnya sedih.  Alli langsung memukul bahu Daniel keras. “Sialan! Bukankah itu maumu hingga kau memaksaku.”  “Kadang-kadang aku merasa miris, seorang Daniel si arsitek termahal di Eropa menjadi bawahan seorang Alliadrew Gastovo. Bukankah itu sama saja menginjak harga diriku?”  “Kau benar-benar penjilat ulung, Daniel.” Alli melemparkan bantal sofa dan langsung ditangkap oleh Daniel.  “Oh iya Alli, apakah kau berniat untuk surfing? Sudah lama kita tidak mengoyak ombak bersama.” Mata Daniel menggoda Alli.  “Seperti biasa, aku mempertaruhkan Norton Dominator milikku,” ucap Alli.  Wah, bagaimana tidak menyetujui. Alli mempertaruhkan motor yang harga lebih dari 91 ribu dolar.  * Kurang ajar memang, Daniel memerintahkannya untuk ke pantai terlebih dahulu dan merekomendasikan tempat penyewaan surfboard dengan harga mewah namun sangat apik. Pria tengik itu memberikan alasan untuk merampungkan dulu pekerjaannya dan baru setelah itu menyusulnya.  Alli berjalan menyusuri toko demi toko untuk sekalian melihat papan seluncur kualitas terbaik.  Dapat. Seperti rekomendasi Daniel, rumah minimalis yang sedikit ada sentuhan bohemian menjadi saya tarik Alli. Begitu juga surfboard yang tak jauh dari jarak.  Alli mengamati lembaran papan berwarna-warni itu dan berniat memilih yang terbaik untuknya. Namun, sebelum ia menyentuh ada panggilan yang tiba-tiba masuk ke dalam telinganya.  “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Alli menoleh dan dari kacamatanya ia sedikit terkejut dengan perempuan yang memakai topi pantai itu menghampirinya. “K—kau yang tadi siang itu, ‘kan?” tanya perempuan itu ragu.  Alli memutar bola matanya dan berniat pergi, ia tak ingin berhubungan lagi dengan perempuan ini. Baru beberapa langkah ia berhenti, telinganya dengan tajam mendengar percakapan seseorang yang baru saja mendatangi perempuan itu.  “Apakah tuan Jorell ada di dalam, Zurra?” Suara bariton itu memenuhi gendang telinga Alli.  “Oh, Ayah ada di dalam, Paman. Kau bisa langsung masuk untuk menemuinya.”  Alli mendengarkan interaksi kedua orang itu. Bukan karena mereka berdua, melainkan topik dari yang mereka bicarakan.  Jorell...  Jorell.. Jorell. Ia seperti pernah mendengar nama itu, namun di mana? Seketika mukanya pias, ia segera mengambil ponselnya di saku dan menelepon seseorang. “Kau bisa jelaskan padaku kenapa keluarga Jorell belum pindah juga, Carlos?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN