“Kenapa kau masih saja tak mendengarku, Carlos?!” Alli benar-benar menggiring asisten pribadinya ke resort baru.
“Saya sudah mengerjakan apa yang Tuan Alli perintahkan, “ jawab Carlos merasa benar.
“Kau mulai bodoh, ya? Aku menyuruhmu untuk segera mengosongkan tempat itu. Ya memang mereka sudah banyak yang pergi tapi kenapa keluarga Jorell belum juga meninggalkan tanah itu, hm?” Alli bersandar pada meja besarnya, melihat Carlos yang menundukkan kepala.
“Aku memberikan lagi waktu selama tiga hari agar mereka lebih bersiap-siap dan segera mendapat hunian yang baru, Tuan.” Sudah kepalang tangguh, basah sekalian. Lagi pula Carlos juga tak menyangka bahwa Tuanya ternyata malah bertemu dengan keluarga Jorell. Ia kira hanya melakukan peninjauan resort saja. Atau memang keluarga kecil itu yang tak mempunyai nasib baik karena berurusan dengan seorang Alliadrew yang dikenalnya dengan pembawaan super rumit.
“Dan juga untuk wilayah itu bukankah masih ada waktu beberapa minggu lagi pada hari pembongkaran.” Carlos mengingatkan. Bukankah tidak apa-apa memberikan penambahan waktu pada rakyat kecil.
“Jika kau selalu berbicara kasihan, kasihan dan kasihan maka saat kau sebagai pengusaha tak akan pernah tahu mana lawan terburukmu, Carlos! Kau harus bisa meminimalisir segala sesuatu hal buruk terjadi, itu yang aku terapkan berulang kali padamu. Mengerti?!” Alli menggebrak meja. “Biarkan orang miskin itu ingin tinggal di mana, itu bukan urusanmu apalagi perusahaan. Aku ingatkan sekali lagi, setelah mereka mendapatkan kompensasi maka detik itu juga mereka harus menginjakkan kaki!”
Carlos menatap sepatu mengkilapnya dengan datar. Ya, itu memang benar. Semenjak ia berkontribusi langsung kepada para penghuni pantai hatinya sedikit melunak, bukan seperti Carlos yang biasanya.
“Baik, Tuan. Saya akan mengingat kata-katamu.”
“Jangan buat aku mulai meragukan kredibilitasmu, Carlos.” Alli mendekati tangan kanannya dan menepuk bahunya dua kali. “Aku memilihmu menjadi tangan kananku karena kau sangat bisa diandalkan. Lagi pula cerminanku ada padamu, jika itu yang kau lupakan.” Alli memundurkan tubuhnya, ia harus berulang kali mengingatkan pada Carlos siapa mereka dan di mana berada. Bukan memanjakan masyarakat yang selalu merongrong pada pengusaha.
“Saya selalu mengingatnya, Tuan.” Biar ‘lah ia kena amukan oleh sang pimpinan, tapi setidaknya ganjalan dalam hati membuatnya ia yakin jika sudah bertindak benar dan tepat.
“Aku akan lebih senang jika keluarga itu pergi secepatnya tanpa menunggu beberapa hari lagi, Carlos. Setidaknya, Daniel akan lebih cepat bisa merancang apa yang akan ia lakukan disana.” Mata Alli menatap dingin pada hamparan luas berwarna biru itu. Deburan ombak dari atas sini bisa ia lihat dengan leluasa.
Berbicara mengenai Daniel ia bahkan sampai lupa jika membuat janji untuk melakukan surfing, tapi sekarang memang moodnya berubah menjadi buruk. Mungkin ada olahraga yang lebih menguntungkan untuknya daripada mengadu nasib bersama ombak.
“Katakan pada Daniel aku akan pergi ke Dome. Aku akan menunggunya di sana!” titah Alli.
“Saya akan mengantarmu lebih dulu, Tuan.”
Alli mengangkat tangannya diudara, membuat Carlos berhenti bertindak. “Kau renungi kesalahanmu! Temui aku jika masalah yang kau buat sudah selesai!”
Carlos terdiam, matanya melihat Tuannya yang hilang ditelan tikungan pintu. Ya, seperti itu. Jika Alli sedang marah besar padanya, maka Carlos tidak akan pernah bisa menemui Tuannya sampai masalah yang ia ciptakan seratus persen tuntas tanpa ada hambatan apa pun.
Hukuman yang menurut Carlos bisa membuat dirinya menjadi tak berguna, ia yang seharusnya bisa mengamati bahkan selalu di samping Tuannya tapi sekarang tidak.
Carlos menghela napas panjang, ia menekan ponselnya dan menghubungi seseorang. “Kau bisa melakukannya sekarang.”
**
“Jangan pernah menyentuhku, Sialan!” teriak Azzura saat tangannya sudah dipegang paksa oleh pria yang memakai baju berwarna hitam lengkap.
“Aku akan membuat perhitungan pada kalian semua!” Azzura berang, semua yang ada di dalam rumahnya sudah dikeluarkan paksa oleh orang-orang yang tidak mempunyai etika.
Begitu juga dengan Ayah dan Ibunya, Azzura langsung menghampiri kedua orang tuanya dan meneliti tubuh. “Ayah dan Ibu tidak apa-apa?” Melihat perlakuan kasar yang mereka berikan pada orang tuanya membuat Azzura hampir menangis.
“Bisa-bisanya kau melakukan itu pada orang tuaku!” Azzura memukul-mukul tubuh si pria besar, membuat pria itu terhuyung dengan aksi brutal Azzura.
Tak biasanya pantai yang ramai oleh para pengunjung namun sekarang hanya sebagian yang terlihat. Mungkin ‘kah para pengusaha itu sudah mulai menutup akses pantai guna memulai pembangunan secara besar-besaran? Atau hanya untuk saat ini saja? Entah ‘lah Azzura tak paham.
Tapi yang ia tahu, ia sudah malu habis-habisan di sini, diusir secara terang-terangan di depan umum apalagi oleh pria yang terlihat seperti debt collector. Pria besar berjumlah lima orang dengan pakaian dan eksen yang sama. Dominan hitam dan menggunakan kacamata yang sama hitamnya.
Pria yang sejak tadi menjadi pelampiasan amukan Azzura tiba-tiba mendorong perempuan itu hingga terjengkang ke belakang. Amallia melotot begitu juga dengan Ayahnya. Tak terima apa yang sudah dilakukan oleh pria itu, Javas dengan cepat menerjang pria itu dan terjadilah baku hantam.
Naas, Javas yang memang tak sebanding dengan mereka malah diberikan pukulan yang membuat bibirnya robek. Tubuh besar Javas jatuh di samping Azzura.
“Jangan bertindak seenaknya, Tuan. Dari awal saya sudah tegaskan, bahwa mulai hari ini Anda angkat kaki dari sini,” ucap pria itu sambil membersihkan debu di jas hitamnya.
Javas terbatuk dan mengelap sudut bibirnya. “Pimpinanmu yang mengatakan jika beliau memberikan kami waktu tiga hari lagi, dan kau tak tuli soal itu!” teriak Javas.
Segelintir orang yang melihat dari kejauhan merasa iba, apalagi matahari yang sudah mau tenggelam dan bersembunyi dari peredaran.
“Pimpinan kami mencabut kata-katanya dan beliau menginginkan detik ini juga kalian angkat kaki dari sini!” titah pria itu. Sedangkan pria yang lainnya, membuang barang-barang milik keluarga Jorell di dekat mereka.
“Kalian tak bisa melakukan itu, tepati janjinya. Berikan kami waktu sampai besok siang. Kami akan meninggalkan tempat sialan ini!” teriak Javas. Ia kesal, sudah dipermainkan seperti ini. Meskipun ia sudah menemukan hunian baru di sudut kota, tapi tetap saja, hunian itu belum siap untuk ditepati. Apalagi masih banyak barang-barangnya yang tersisa.
“Tidak ada toleransi lagi, Tuan Jorell! Kami hanya melaksanakan perintah, mohon bekerja samalah!” Pria itu memberikan titah pada temannya. Dan terjadilah, gembok besar sudah melekat di pintu rumah mereka.
“Untuk barang-barang yang tersisa, kami akan kirimkan jasa kurir ke alamat lengkapmu.” Pria itu memberikan kartu tanda pengenal. “Anda bisa menghubungi kami melalui kartu itu tanpa harus repot-repot lagi kemari.”
Inilah waktunya, mereka sudah diusir dari rumah yang mereka yakini milik pribadi. Rumah dengan segala macam kenangan yang ada, dari Azzura balita hingga beranjak dewasa seperti saat ini. Rumah kayu dengan nuansa bohemian yang Azzura design ulang karena ia menyukai motif itu.
Matanya mengerjap saat melupakan sesuatu, ia berdiri dan berteriak, “Biarkan aku masuk, Lucy masih ada di dalam!”
Pria plontos itu mengernyitkan dahinya dan menatap temannya.
“Apakah anak anjing ini yang kau maksud?” Pria lain dengan membawa keranjang di tangannya.
Azzura mengambil paksa Lucy dari pegangan pria seram itu. “Kau tak apa?” Mencoba berbicara, ia ingin sekali mendengar suara lucu yang anjing itu keluarkan. Namun hanya erangan pelan.
Para pria besar itu meninggalkan keluarga Jorell, membiarkan mereka bernostalgia. Setidaknya urusan mereka sudah selesai, tak membiarkan keluarga itu menempati tanah milik Tuan Gastovo.
**
Melenyapkan segala kekesalan bukan hanya melampiaskan dengan minuman alkohol atau perbuatan buruk lainnya. Alli tahu, ia bukan laki-laki munafik apalagi suci, minuman alkohol, dunia malam, apalagi para wanita yang memiliki tubuh bak gitar Spanyol sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Tapi sekarang ia lebih memilih melampiaskan ke benda keras yang menggantung di sebuah ruangan.
Dengan keras ia memukul benda itu, tak lupa juga menendang menggunakan punggung kakinya. Benda mati berwarna merah yang sedari tadi terdiam tanpa mau membalas semakin membuat Alli emosi. Pukulan demi pukulan yang ia berikan seolah menyalurkan emosi pada samsak merah itu. Juga tak terhitung, sudah berapa lama ia berada di sini.
“Andai saja samsak itu memiliki perasaan, aku yakin ia sudah memohon ampun padamu untuk melepaskannya,” ucap seseorang sambil memakai sarung tinju berwarna biru tua.
Alli berhenti dan memeluk samsak, guna menghentikan benda itu agar tak goyang. Mengelap peluhnya di dahi yang sudah membasahi rambut hampir seluruhnya.
“Apakah dari pantai hingga Dome membutuhkan jarak hingga hampir dua jam?” sarkasme Alli, sambil mengontrol napasnya yang sudah terengah-engah.
Daniel melemparkan air mineral pada temannya. “Pekerjaanku bertambah banyak karena keinginan sialanmu itu. Suruh siapa meminta design ulang saat pekerjaan sudah hampir selesai?!” Daniel mendengus sebal.
Tadi sebelum ke pantai dan berniat surfing, Daniel diminta oleh Alli untuk memperbaiki sedikit ruang kerja di resortnya. Ada sedikit bangunan yang tak ia sukai, dan itu membuat Daniel harus mencoret kembali sketsa awal.
“Aku tak memintamu untuk melakukannya hari ini, Niel,” sanggah Alli.
Sedangkan Daniel hanya mendengus. “Kau bisa berbicara seperti itu detik ini, tapi tadi kau seolah menyuruhku untuk menuntaskannya segera mungkin.” Daniel membenturkan kedua tangannya satu sama lain. “Kenapa aku menjadi semakin yakin kau memiliki kepribadian ganda, Alli.”
Alli membuang botol minumnya dan memukul bahu Daniel dengan sedikit agak keras. “Kau sangat tahu aku, Niel. Dan itu tidaklah mungkin.”
Tanpa aba-aba Alli memukul wajah Daniel dan untungnya pria itu dengan sigap mempertahankan wajah tampannya. “s**t! Kau melakukan pelanggaran!”
Alli tertawa terbahak. “Selalu siap dengan posisimu tanpa harus tahu kapan lawan akan menyerang. Itu salah satu cara kerja boxing, Dude!”
“Jika kau ingin bertanding , kenapa kita tidak lanjutkan saja di ring?” tantang Daniel.
“Kau harus ingat siapa yang kau tantang, Niel.” Peringatan yang membuat Daniel menendang b****g Alli.
Keduanya memasuki ring, tak memedulikan segelintir orang lain yang ikut juga menonton. Dome ini menjadi arena latihan olahraga bagi siapa saja yang berkantong tebal. Tak tanggung-tanggung biaya penyewaan selama sebulan saja bisa menggaji beberapa karyawan kantoran. Karena fasilitas yang benar-benar lengkap juga canggih.
“Apa taruhan kita masih berlaku di sini?” tanya Daniel. Norton Dominator menjadi incaran wahid bagi Daniel, ia bisa membayangkan bagaimana jika membawa kendaraan itu berkeliling kota dan menikmati indahnya gemerlap lampu. Bukan karena ia tak mampu untuk membeli, tapi menang atas Alli adalah menjadi kebanggaan tersendiri untuknya.
“Kau akan mempertaruhkan apa untukku?” seru Alli sambil memakai pelindung gigi yang terbuat dari plastik.
“Apa yang kau inginkan dariku?” Senyum mengembang Daniel ikut membuat Alli tersenyum kaku.
“Buatkan aku design interior untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana?”
Daniel menggeleng-geleng tak percaya, penghasilannya karena ia menjadi arsitek selama tiga tahun bahkan lebih besar daripada motor yang dipertaruhkan oleh temannya itu.
“Deal?” tanya Alli lagi memastikan, kedua genggaman tangannya sudah diarahkan oleh Daniel.
Mau tak mau Daniel mengikutinya, pantang untuknya jika mundur dari permainan. “Deal!” Daniel memukul kedua tangan Alli tertanda setuju.
Pelatih di Dome dengan sigap menghampiri mereka berdua yang memang sudah berniat untuk bertanding. “Bermain dengan sportif, hindari bagian kepala, selangkangann dan alat vital lainnya. Paham?”
Alli dan Daniel hanya mengangguk, setelah pelatih berteriak mereka yang memang sudah mulai kuda-kuda dan mencari strategi untuk menjatuhkan lawannya.
Tanpa menunggu lama, Daniel menendang tulang kering Alli dan membuat kuda-kuda Alli sedikit goyah. Namun, itu tak membuat Alli diam saja. Dengan gerakan memutar kakinya bisa mendarat ke pipi Daniel hingga membuat muka Daniel menengok ke samping dengan keras.
***
Alli dan Daniel melepas kembali sarung tangannya. Mengelap seluruh peluh yang sudah membasahi badan dengan handuk kecil, bahkan kaus mereka saja bisa diperas dan menyisakan keringat-keringat berjatuhan.
Tadi, memang Daniel hampir kalah atas temannya. Tapi karena ia bertahan dan mengandalkan jurus yang diajarkan pelatihnya dulu maka ia menjadi pemimpin skor. Dengan mengunci kaki Alli, ia langsung menjatuhkan tubuh besar itu hingga membuatnya tak berdaya.
“Kukira kau tak akan pernah menyerah,” ejek Daniel melihat temannya yang sudah merenggangkan otot.
“Aku hanya memberikan satu kali kesempatan untukmu menang, Daniel. Dan seterusnya kau tak akan pernah bisa menang dariku.” Alli berkata mengejek, walaupun ada nada sungguh-sungguh di dalamnya.
Tawa Daniel memenuhi ruang latihan, untung saja hanya tinggal ia dan Alli seorang. Teman yang lain bahkan sudah pergi meninggalkan setelah mereka sudah menyelesaikan pertandingan.
“Apakah kalah dariku adalah hal yang memalukan untukmu, Tuan Alli?” sindir Daniel lagi. Ia benar-benar senang atas kekalahan Alli. Melihat muka datar Alli tapi uratnya yang tegang adalah kebanggaan tersendiri untuknya.
“Sudah aku bilang, aku hanya memberimu sekali kesempatan untuk menang. Untuk hal yang lainnya mungkin kau harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk menang.” Mencoba berkilah. Itu menurut Daniel.
“Terserah kau saja.” Daniel menutup kembali loker. “Oh iya, Alli. Mengapa kau tiba-tiba membatalkan acara surfing kita?” Ia masih terheran, Carlos tadi memberitahukannya untuk menemui di Dome bukan di pantai.
Alli terdiam sejenak, matanya menatap lemari abu-abu yang terbuat dari metal dan besi. “Ada sesuatu yang sangat mengacaukan hariku.” Teringat bayangan saat perempuan itu yang hendak melayani dirinya untuk memilah papan selancar. Tapi seketika kemudian, ia mendapat serangan mendadak, ternyata gadis itu adalah keluarga Jorell.
“Oh, siapakah orangnya?” tanya Daniel tersentak.
“Sebuah keluarga yang mempunyai masalah dengan perusahaanku dan berusaha untuk tidak mau mengikuti aturan yang ada,” geramnya.
“Apakah kau sebegitu kesalnya?” tanya Daniel.
“Ya, mereka bisa saja memperlambat proyekku, Niel.”
Oh semua karena proyek milyaran ini, pembangunan di bibir pantai yang membuat siapa saja merasa tersingkir. Itu yang Daniel dengar dari bisik-bisik penjual di sana. “Mereka melampaui batas?”
Alli mengangguk, “sepertinya aku tak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di sana kecuali keluarga itu sudah pergi dari wilayahku!”
Daniel mendesah, sebegitu kesalnya pria itu terhadap sesuatu pasti tak akan pernah mau melihat kembali orang-orang yang sudah mengacaukannya. “Padahal aku ingin sekali mengajakmu surfing dan mengenalkan perempuan cantik di sana. Aku mempunyai kenalan gadis cantik yang terlihat polos juga lucu. Namanya Azzura.”
Daniel menyeringai, membuat Alli menatap dalam sahabat karibnya itu.