BAB 12

2313 Kata
Di sinilah mereka sekarang, rumah kayu kecil berwarna putih yang entah bisa disebut sebagai hunian atau bukan. Luas rumah yang memiliki ukuran sekitar 35m2 persegi dengan segala kerapuhan kayu di sudut ruangan. Atap yang hanya terlihat sebentar lagi akan roboh dan menyisakan puing-puing dinding.  “Apakah Ayah yakin kita akan tinggal di sini?” tanya Azzura sekali lagi. Ini sudah kesekian kalinya perempuan itu bertanya dan meminta keyakinan. Tapi ayahnya selalu menjawab hal yang sama.  “Ya, kita akan tinggal di sini mulai sekarang, Nak.”  Bak mimpi buruk yang  menjadi kenyataan, Azzura mendesah dan memasuki lebih dalam laman rumah, mencari spot terbaik yang mungkin saja tidak ia temukan di sini.  Miami Shores menjadi tempat singgah mereka kini. Sebuah desa di Miami-Dade County  yang memiliki arti dalam bahasa Spanyol yang berarti adalah gerbang. Apakah ini memang gerbang untuk Azzura dan keluarganya menuju sesuatu yang lain dan keluar dari zona nyaman atau gerbang untuk menjadikan mereka hancur secara perlahan dan tersisih di dunia yang makin menggila.  Tangannya menutup hidung saat banyaknya debu yang masuk dan beterbangan di udara. Benar-benar tidak sehat.  “Untungnya rumah ni memiliki dua kamar dan cukup untuk kita,” kata Javas memberikan ketenangan.  Azzura memasuki salah satu ruangan yang ia yakini sebagai kamar miliknya dan membuka jendela. Bunyi gesekan kayu yang mungkin tak pernah di buka membuat Azzura mengernyit. H, setidaknya sekarang ruangan yang pengap menjadi lebih sejuk karena pertukaran udara.  “Ayah!” panggil Azzura. “Bukankah aku tak salah lihat? Entah kenapa dilihat dari sini Collins Avenue terlihat lebih menawan dari biasanya.”  Azzura takjub dengan banyaknya gedung pencakar langit. Gedung yang ia tidak bisa hitung berapa meter tingginya terlihat sangat indah di malam hari, warna-warni lampu yang dihasilkan oleh gedung itu terlihat memang ingin memanjakan mata siapa saja yang melihat.  Amallia mendekati Azzura dan memeluknya dari belakang. “Bukankah indah jika kita bisa melihat warna-warna lampu itu, Azzura?”  “Bu, apakah Ibu pernah bermimpi untuk sekadar menginjakkan kaki di sana atau malah bermimpi mempunyai unit pribadi?” Khayalan Azzura tak tanggung-tangguh. Ia ingin memiliki satu saja unit apartemen di sana, apalagi di lantai paling tinggi agar ia bisa melihat keseluruhan jantung ibukota Miami beserta laut lepasnya.  “Jika hanya bermimpi, ya Ibu memiliki mimpi semacam itu.”  Azzura menggenggam tangan Ibunya dan berkata, “Aku berjanji akan membawa Ayah dan Ibu menginjakkan kaki di sana dan kita memiliki hunian baru yang jauh lebih nyaman dibandingkan rumah ini.” Tekad Azzura tak main-main.  ** Pagi pertama di rumah baru. Azzura yang membantu ibunya untuk bersih-bersih rumah pasca pindah. Ada yang menggelitik hatinya memang, biasanya di pagi hari ia sedang menyusun segala pernak-pernik di etalase atau menyiapkan papan surfing namun sekarang tidak lagi. Pernak-pernik digantikan oleh piring dan gelas dan papan selancar digantikan oleh sapu dan kain pel. Belum ada genap 24 jam, Azzura merasa hidupnya sudah mulai monoton. Tak mungkin ‘kan dia akan selamanya seperti ini terus, berkutat dengan dapur atau perabotan yang lain.  Azzura menghentikan tugasnya dan memikirkan sesuatu membuat Amallia yang sedang menyusun piring langsung melihat anaknya. “Ada apa?”  Azzura menopang tangannya di pinggang. “Aku tidak ingin seperti ini terus, Bu. Mulai besok aku akan mencari pekerjaan lagi. Mungkin teman-temanku yang lain bisa membantuku untuk menjaga toko mereka yang tak jauh dari pantai.” Idenya entah kenapa di saat mendesak seperti ini selalu cemerlang, kemarin saat ia bersama Garrel ia tak berpikiran untuk meminta bantuan temannya soal pekerjaan.  “Apa kau yakin ingin bekerja?” Ada rasa was-was yang terlihat di mata Amallia. Kemarin saja saat pamit bersama Garrel untuk mencari pekerjaan ia sudah memikirkan hal yang macam-macam.  “Iya aku bertekad untuk bekerja saja.”  “Apa tidak sebaiknya kita membuka toko pernak-pernik lagi?” kata Amallia.  “Lagi pula siapa yang akan membeli pernak-pernik di daerah terpencil seperti ini, Bu? Jika Ibu memiliki niat menjadi pemasok untuk para pedagang di pantai aku akan mendukung, tapi apakah modal yang Ibu inginkan sudah ada?” Azzura berkata dengan sangat tegas tanpa mengurangi rasa hormat tentunya.  “Bukan seperti itu maksud Ibu, kita bisa membuka toko tapi bukan menjual pernak-pernik melainkan makanan. Bagaimana?” tanya Ibunya bernegosiasi.  “Apakah menjual makanan akan mampu membuat kita hidup lebih dari ini, Bu? Bagaimana jika tak ada yang membeli dan kita akan merugi setelahnya?” Azzura bersikap realistis, bukan perasaan apalagi hati. Pelajaran terbaik dalam hidup adalah pengalaman. Dan ia sudah pernah diusir oleh pebisnis tersohor yang mengandalkan uang. Jadi siapa yang berkuasa di sini kalau bukan uang dan takhta? “Jika kau berniat untuk bekerja, Ibu akan merekomendasikan ke salah satu teman Ibu yang kebetulan ia bekerja menjadi konsultan keuangan. Dan semoga kau cocok.” Amallia mencoba berharap.  “Tidak perlu, Bu. Aku akan melakukannya sendiri.”  ** Matahari terlalu terik untuk hari ini, padahal jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Air Cooler yang berada di ruangan Alli pun sudah diturunkan sedemikian rupa, sehingga membuat siapapun agar tidak merasa gerah.  Alli kembali memeriksa proposal yang sudah menumpuk  di meja kerjanya. Kerja sama dengan berbagai perusahaan lokal maupun asing sudah mengantre untuk segera dihubungi olehnya. Bagaimana tidak, perusahaan itu mencari peluang bisnis yang menggiurkan dan itu berada di pantai Miami. Mereka bisa membuat banyak bangunan dengan berbagai macam seperti; wisata rekreasi, taman pantai, tempat perbelanjaan, hunian apartemen dan masih banyak lagi. Bisa dibilang ini adalah proyek terbesar dalam sejarah ia menjadi seorang CEO di Alli-giant Tower Estate.  “Anda memiliki jadwal rapat dengan perusahaan asal Tiongkok sekitar jam 10, Sir.” Medina mencoba memberitahukan kembali jadwal atasannya. Dan itu berarti sekitar satu jam lagi.  Dengan gayanya yang angkuh, ia tak menatap sekretarisnya dan hanya mencoret-coret kembali proposal yang dibuat wanita itu.  “Apakah mereka sudah menunggu?” tanya Alli membenarkan  letak kacamatanya.  “Belum. Saya sudah menghubungi sekretaris mereka dan saat ini mereka sudah berada di jalan.” Mata Medina melirik coretan tangan Alli, jika saja ia sedang berada di luar ruangan sudah dipastikan ia akan berteriak dan berjingkat jengkel. Lembur hingga larut malam sudah menunggunya walaupun tanpa perintah.  Alli menyerahkan dokumen tadi dan menyerahkannya kepada Medina. “Sudah kau siapkan bahan apa saja yang akan dirapatkan nanti?”  Medina gugup bukan main, bukan karena tugas yang diberikan pimpinannya, melainkan mata biru itu menatap Medina dengan sangat dalam. Hormon testosteronnya seketika meningkat saat melihat pergerakan kecil yang dilakukan pria itu terlihat sangat sempurna. Menumpukan tangan di meja, melihatnya dengan cara yang berbeda, apalagi rambut hitam klimis yang andai saja  ia bisa menyelipkan jemarinya di sana dan merasakan aroma maskulin.  Andai saja ia menjadi pasangan dari seorang Alliadrew Gastovo bisa dipastikan pria itu tak akan pernah bisa melirik lagi wanita lain dan hanya terpaku kepadanya.  Ah, Sial! Kenapa Nona Julie melepaskan pria yang menjadi incaran wanita. Lamunannya tersentak saat Alli mengentakkan pena emasnya kemeja guna menyadarkan dirinya. “Jika kau sudah mulai tak bisa fokus, mungkin kau sangat membutuhkan istirahat.”  Oh, tidak! Yang di maksud Alli di sini bukan istirahat sesungguhnya melainkan istirahat dalam makna ganda yang berarti tak bisa menginjakkan kaki di lantai marmer ini lagi.  “Maafkan saya, Sir. Bukan maksud saya mengabaikan Anda, hanya saja ada sesuatu yang saya pikirkan.” Daripada ia disudutkan dengan kalimat tajam lainnya lebih baik ia pasrah dan mengatakan sejujurnya.  Kedua alis Alli naik, melihat bagaimana gugup sekretarisnya.  “Mata Anda terlihat lebih biru dan indah hari ini.”  Alli hanya menyunggingkan sedikit bibirnya. “Apa kau baru saja menggodaku, Nona? Dan berharap di perusahaan ini akan terjadi skandal seperti film yang kau tonton setiap tengah malam?”  Muka Medina memerah, luar biasa memang pria ini. Bukan hanya tepat dalam berurusan soal bisnis, tapi juga tepat dalam menebak pikiran orang lain. Tak ada salahnya bukan menginginkan hal seperti itu.  “Saya tidak mencoba merayu Anda, Sir.” Ia mencoba berilah dan mempertahankan harga dirinya.  “Tapi itu terbaca dari wajahmu yang terlihat sedikit....” Alli menggerakkan tangannya di wajah. “Bergairah.”  Hancur sudah pertahanan Medina, ia ingin mengubur tubuhnya hidup-hidup karena malu. Medina menundukkan wajahnya dan meremas kertas proposal itu yang terlihat semakin lecek. “Sir—“  “Ah sudahlah,” usir Alli dengan mengibaskan tangan kanannya. “Kembali ke mejamu, dan kau tak perlu ikut rapat, biarkan Carlos saja yang mendampingiku.”  Alli melihat punggung ramping yang tertutup blazer hitam itu tertelan oleh pintu keluar. Medina, tidak setahun dua tahun bekerja untuknya dan menempati posisi kepala sekretaris di perusahaan miliknya. Wanita single yang suka memakai riasan  berlebihan membuat Alli geli sendiri ketika melihatnya. Jika saja Medina tidak kompeten dalam bekerja ia akan segera mendepaknya keluar. Tapi, untuk saat ini wanita berkulit putih itu masih menunjukkan sikap normal dan tak melampaui batas. Keuntungannya, Medina bisa dijadikan alat pancing olehnya untuk mengelabuhi kliennya yang memiliki mata lapar pada wanita.  * “Nice to meet you, Mr. Lodan,” sapa Alli saat melihat dua pria dan satu wanita cantik yang sedang duduk di ruang rapat kantornya. Alli menyalami satu per satu tamunya, begitu juga dengan Carlos.  Ketiga orang itu langsung berdiri menyambut Alli dan Carlos. “Mr. Gastovo,” sambut pria yang memiliki mata sipit.  Saat Alli menyalami wanita cantik itu, ada yang berbeda di sana. Wanita itu menggelitik telapak tangannya menggunakan salah satu jemari lentik. Alli tersenyum manis pada sang wanita.   “LeeAnn,” kata wanita itu memperkenalkan dengan sangat percaya diri.  Alli langsung melepas pegangannya dan duduk di kursi miliknya. “Langsung saja, tanpa membuang waktu cukup lama. Jika Anda ikut menginvestasikan untuk proyek ini apa keuntungan yang akan saya dapatkan?”  Mr. Lodan memberikan dokumen pada Alli dan juga Carlos. “Saya berani menginvestasikan  sekitar dua puluh persen daripada pemegang saham lainnya. Jika melihat dari statistik yang ada, perusahaan lain yang paling tinggi hanya lima belas persen saja.”  Semringahnya.  Alli tersenyum kaku. “Ya karena saya hanya membuka peluang sekitar kurang dari lima puluh persen saja. Sebenarnya proyek ini ingin saya dirikan sendiri tanpa campur tangan orang lain, tapi karena banyak perusahaan yang mengajak kerja sama, maka apa boleh buat.”  Mr. Lodan terkejut bukan main, ada berapa banyak harta yang dimiliki pria ini hingga mampu mendirikan sebuah rancangan yang sangat megah. Ia tak boleh kehilangan momen ini, sudah lama ia menunggu bahkan sudah jauh-jauh ia terbang ke Florida hanya untuk bertemu dengan Alliadrew Gastovo. Jika proyek ini gol maka perusahaannya semakin lama menjadi naik daun juga dan memiliki harga saham yang melonjak. Mimpinya adalah mengibarkan nama perusahaan ke seluruh belahan dunia.  “Bagaimana kalau kerja sama dengan proyek yang lain saja?” tawar Alli. “Kebetulan kami akan melakukan pembangunan pusat pemasaran terbesar di jantung kota Florida, tepatnya di Tallahassee.” Mr. Lodan menggeleng, ia tak mau. Ia hanya mengincar proyek pembangunan pantai Miami. Jika Alli menawarkan kerja sama proyek lain itu bisa dilakukan setelah kesepakatan ini tercapai. “Aku kesini hanya untuk proyek pembangunan Miami Beach, Mr. Gastovo.” Ia mengisyaratkan pada wanita yang bernama LeeAnn itu untuk melaksanakan tugasnya,  LeeAnn mengangguk.  “Coba Anda pikiran baik-baik, Tuan. Jika Mr. Lodan bisa memberikanmu keuntungan berlipat ganda kenapa Anda malah mau mencari pengusaha yang hanya memberikan keuntungan kecil untukmu?” Suara wanita itu dibuat seseksi mungkin. Di bawah meja, kakinya sudah mengelus betis milik Alli, tak lupa tangan wanita itu yang mulai menggerilya bahu Alli dengan e****s.  Carlos mengulum senyumnya, ia tak tahan ingin tertawa saat melihat wajah dingin yang dikeluarkan Alli untuk kliennya. ‘Itu tak akan pernah berhasil.’ Batin Carlos.  “Aku bisa memastikan bahwa Anda dan perusahaan bisa mendapatkan ‘service’ terbaik jika kalian menerimanya.” LeeAnn memandang Carlos juga, wanita itu menggigit bibirnya dengan sensuall dan membuat Carlos semakin mengulum senyumnya.  Alli diam saja, wajahnya yang memang dingin menjadi lebih kaku saat tangan itu mencoba meraba dadaa bidangnya. “Jangan menyentuh!”  LeeAnn tersenyum, bahkan sedari tadi ia sudah menyentuhnya lama, mengapa baru sekarang menolak? Cih, munafik.  “Saya akan memikirkan ulang!” tegas Alli langsung berdiri dari duduknya. Dalam dunia bisnis jika seseorang tidak berbuat licik maka akan kalah saing dengan yang lainnya. Dan ia tak akan pernah mau ada di posisi itu sebagai pecundang.  Dunia bisnis kejam? Memang. Seperti hukum rimba, jika bukan kau yang memakan maka kau yang akan di makan.  Semua yang ada di sana pun sontak berdiri dari duduknya.  Mr. Lodan mengembangkan senyumnya, setidaknya jika Alli berpikir ulang bisa dipastikan bahwa kerja sama ini akan membuahkan hasil. “Senang berbisnis dengan Ada, Mr. Gastovo. Semoga Anda bisa langsung memberikan keputusan terbaiknya.” Ia menyalami Alli dengan sangat percaya diri.  Alli hanya mengangguk. Akhirnya tanpa harus pergi ke pesta Julie, ia bisa melihat watak calon partnernya secara langsung. ‘Kau tak perlu repot-repot mengumpankan Mr. Lodan, Julie. Karena dia sudah masuk dalam wilayahku. Apa kau tak pernah belajar bahwa kau memang masih jauh di belakangku. Tak perlu melangkah apalagi mengejar, karena aku tak akan pernah mau berhenti untukmu!’ Alli mencoba menghentikan tamunya. “Oh iya, Mr. Lodan.”  Kalimat itu membuat Mr. Lodan berhenti begitu juga yang lain. Tapi tatapan Alli mengisyaratkan bahwa mereka hanya ingin berbicara berdua. “Kalian bisa menunggu di luar,” perintah Mr. Lodan kepada para bawahannya begitu juga Carlos yang mengikuti arahan Alli.  “Jika Anda ada waktu kita bisa menikmati pantai di musim panas ini selagi saya menutupnya untuk umum dalam sementara waktu,” kata Alli.  Itu adalah kabar baik bagi Mr. Lodan, ia seperti mendapat durian runtuh saat diajak menikmati wilayah dari sang pemilik.  “Kau menutupnya?”  Alli mengangguk, “Ya, untuk sementara waktu. Jika liburan musim panas dimulai maka pantai itu akan dibuka kembali.”  “Maaf Mr. Gastovo, tapi untuk beberapa minggu ini sepertinya saya tidak bisa menerima ajakanmu. Sore nanti saya akan kembali ke Tiongkok,” sesal Mr. Lodan.  Alli mengangguk dan berkata, “Apakah Anda sudah sering pergi-pulang Amerika – Tiongkok, Mr?” Mr. Lodan menggeleng, “Hanya beberapa kali saya datang untuk mengurus bisnis dan  selebihnya saya menghandlenya dari kantorku.”  Alli tersenyum, ia sudah mengerti titik poinnya. “Apa Anda kenal dengan wanita bernama Julie Collen?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN