BAB 13

1348 Kata
“Apa Anda kenal dengan wanita bernama Julie Collen?”  Pertanyaan itu membuat Mr. Lodan mengerutkan keningnya seolah mengingat sesuatu. “Apakah yang Anda maksud adalah si cantik Julie yang merupakan model terkenal itu?” tanyanya meyakinkan. Alli mengangguk. “Ya, dia.” “Oh, bagaimana Anda mengetahui tentang Julie Collen?” tanya Mr. Lodan heran dan seketika menjentikkan jarinya. “Ah. I see. Apakah seorang Mr. Gastovo sedang berkencan dengan wanita cantik itu?” Alli hanya tersenyum misterius dan mengancingkan salah satu kancing jas bawahnya. “Itu tak seperti yang Anda bayangkan, Mr. Lodan. Saya hanya beberapa kali bertemu dengannya dan melihatnya di acara fashion show juga acara televisi yang sedang booming,” sanggah Alli. Padahal semua lebih dari itu.  “Berbicara tentang nona Julie, saya baru saja dikirimkan surat undangan acara beliau. Pasti Anda juga mendapatkannya, ‘kan?” kata pria berambut hitam itu seolah yakin apa yang dikatakannya.  “Ya, saya mendapatkannya,” jawab Alli. “Apakah Anda akan hadir?” tanya Mr. Lodan lagi.  Alli mengangkat bahunya, seolah berita itu adalah berita yang tidak ada pentingnya sama sekali. “Saya memiliki schedule pada malam itu.” “Oh ayolah Mr. Gastovo, jangan terlalu kaku untuk permasalahan seperti ini. Apakah Anda tak ingin bersenang-senang di sana?” Mr. Logan menyemirikkan senyumnya membuat Alli berdecap. Akhirnya ia memberikan tangannya untuk segera menyalami pria Tiongkok itu, guna tak ingin berbicara dengan sangat jauh. “Senang bertemu dengan Anda.”  “Begitu juga dengan Anda, Mr. Gastovo. Sekali lagi, semoga Anda mempertimbangkan kerja sama ini,” harap Mr. Lodan.  Lodan Fei pria yang menjadi calon partnernya dan memiliki sisi yang sama seperti dirinya, ambisius. Terlihat dari cara pria itu menjabat tangannya dengan sangat kuat dan penuh gairah akan kemenangan dan juga kekayaan. Pria yang dikelilingi banyak wanita muda karena mulut manisnya. Tapi ada satu yang tidak ia sukai dari Logan Fei, yaitu licik dan manipulatif. Pria seperti ular yang akan memakan siapa pun hidup-hidup.  Tapi juga yang harus diingat, dalam dunia bisnis ia pun dijuluki sebagai ‘si Aligator’. Pemangsa yang diam-diam akan mengintai lawannya dan berakhir menenggelamkan hingga ke ujung tanduk. Dan kita akan pastikan siapa yang akan menang? “Jadi bagaimana menurut Anda, Tuan?” tanya Carlos menyentak lamunan Alli.  “Menurutmu bagaimana?” Bukannya menjawab, Alli malah balik bertanya.  “Apakah Anda menginginkan saya untuk selalu mengawasi?”  Alli mengangguk. “Dari awal aku tak berminat untuk bekerja sama dengan pria itu. Tapi karena ada satu hal yang menggelitik darinya dan aku menjadi penasaran.” “Apakah yang Anda maksud adalah tentang Ms. Julie?” Carlos memerhatikan atasannya yang tampak berpikir.  “Ya,” jawab Alli seadanya. Jika bersama Carlos ia akan langsung terang-terangan tanpa harus ada yang ditutupi. “Apa kau tak penasaran bagaimana mereka bisa bertemu?”  “Saya tak akan pernah heran, Tuan. Karena Ms. Julie terlihat sering menghadiri acara amal juga acara lelang di berbagai negara belahan.”  “Ya, kau benar.” Tapi jika memang seperti itu, apakah memang terlalu mudah bagi Julie untuk memiliki teman siapa saja hingga sedekat itu.  “Apakah Anda ingin saya bertindak sesuatu lebih jauh dari biasanya, Tuan?” tawar Carlos seakan mengerti perasaan pimpinannya.  “Tidak. Untuk sekarang jangan persulit dirimu untuk melakukan hal yang tidak penting. Fokuslah pada pembangunan dan apa saja hal yang janggal menurutmu di sana!” perintah Alli. “Oh iya, bagaimana dengan keluarga Jorell?”  Astaga, pria ini selalu ingat keluarga itu padahal kemarin Carlos sudah diperintahkan untuk mengeksekusinya. Apakah Carlos sudah tak terlalu dipercaya lagi, makanya Tuan Alli bertanya terus-menerus? Carlos kesal, tapi ia tetap saja memasang wajah seperti biasa. “Seperti yang Anda perintahkan. Mereka sudah pergi saat itu juga.”  “Oh, baguslah jika seperti itu. By the way, kemana mereka akan pindah?”  Benar bukan, pimpinannya ini pasti akan selalu bertanya hingga orang itu tak terlihat lagi di hadapannya.  Carlos mengambil napas dalam. “Miami Shores, tempat yang agak sedikit jauh dari pandangan Anda, Tuan.” Ya, setidaknya tempat itu berjarak lebih dari 10 mil dari pantai Miami.  ** Untuk membuat acara besar-besaran yang membutuhkan biaya banyak dan waktu yang cukup lama untuk mempersiapkannya. Apalagi bukan hanya itu, tapi ada satu hal yang membuatnya cemas tak tertahan. Anjing lucu kesayangannya hilang sudah hampir seminggu ini. Entah bagaimana orang rumahnya bisa dengan ceroboh membiarkan hewan kesayangannya lari tanpa arah.  “Aku tidak mau tahu dan tak mau dengar tentang alasan yang kalian berikan padaku. Aku menginginkan Lucy sekarang juga!” teriak Julie berang. Kamarnya yang bernuansa kuning emas sudah berantakan karena amarah. Ia memang sudah seminggu tak pulang ke rumahnya dan hanya menginap di apartemen guna memudahkan untuk syuting acara. Tapi setelah sampai rumah, bukan untuk merilekskan tubuhnya melainkan kabar buruk yang diterima.   “Bagaimana bisa kalian tidak menghubungi saat Lucy sudah tidak ada? Atau jangan-jangan kalian memang sengaja membuangnya saat aku pergi, iya?!” Julie meremas kerah pelayan tua itu membuat pelayan lain hanya diam menunduk.  “Ma—af, Madam,” ucap pelayan tua itu dengan sesal. Mereka bukan bermaksud untuk mengabaikan Julie, hanya saja mereka terlalu takut dan memang sudah berusaha mencari anjing itu sebelum Julie pulang. Tapi rencana memang hanya sebuah rencana, Lucy belum ditemukan namun Julie sudah ada di rumah. “Kami sudah berusaha mencari Lucy dan melaporkannya pada polisi, namun sampai sekarang belum ditemukan.”  Kata pelayan lainnya membuat Julie semakin geram. “Kalian semua memang bodoh! Bodoh! Mengapa tidak memberitahu saat Lucy menghilang, ha?” Plak! Tamparan yang diberikan Julie membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut. Pelayan yang tadi berkata itu otomatis langsung terjerembab di lantai dan memegang pipinya yang terasa kebas dan memerah. “Jangan pernah menampakkan wajah kalian di hadapanku sebelum menemukan Lucy. PERGI!” usir Julie. Membuat semua orang yang di sana berlari meninggalkan ruangan itu dan hanya menyisakan satu orang.  Hening, membuat Julie mengibaskan rambut blonde yang sudah menutupi muka. Ia mengambil remote AC dan menurunkan suhunya ke angka yang paling rendah. Peluhnya mendominasi wajah.  Tepukan tangan yang tiba-tiba membuat Julie menatap seseorang yang sedari tadi berada di sampingnya. Ia bahkan lupa jika orang itu sudah menonton pertunjukan tadi.  “Kau sangat hebat untuk mendalami peran itu, Sister!” kata orang itu. Julie mengibaskan rambutnya dan menggulungnya menggunakan jemari telunjuk. “Jangan panggil aku Julie Collen jika tidak bisa mendalami sebuah peran, Miranda.”  Perempuan yang bernama Miranda langsung ikut terduduk di atas ranjang milik Julie dan menaruh tas jinjingnya di meja nakas yang sudah tersedia. “Aku yakin kau akan memenangkan penghargaan untuk tahun ini.”  “Jangan juga bertindak bodoh, Mira. Kau juga masuk dalam nominasi itu, otomatis kau yang akan menjadi lawanku, ‘kan?” Julie mencemooh.  “Aku tidak berminat untuk memenangkan award apalagi mengalahkan senior seperti kau.” Miranda membuka ponselnya dan melihat kembali agenda miliknya.  “Bagus jika kau sadar.” Julie beranjak dan mendekati mini refrigerator yang berada di sudut kamarnya. “Aku tidak mempunyai alkohol, tapi aku mempunyai soda.” Ia memberikannya pada Miranda.  “Thanks!” Miranda membuka kaleng soda, memang benar-benar nikmat dan perpaduan yang pas antara teriknya matahari dan soda dingin. “Apakah anjing itu sangat berarti untukmu?”  Julie menatap Miranda. “Ya,” ucapnya setelah meneguk soda di tangan. “Anjing itu mempunyai kenangan sendiri untukku. Tapi tak apa, mungkin Lucy memang sudah sepantasnya untuk pergi.”  Miranda takjub, bukan hanya sifat Antagonis yang sedang Julie mainkan, tapi sifat dalam hidup kenyataan wanita itu sepertinya sama saja.  “Bagaimana dengan persiapan acaramu?” tanya Miranda mengubah topik.  Julie yang sedang memoles kembali bibirnya langsung menatap Miranda. “Baru kali ini aku menyelenggarakan acara amal besar-besaran dan itu sangat menguras tenagaku,” keluh Julie sambil menatap Miranda sedih.  “Oh apakah yang lainnya tidak mau membantu?”  “Jelas mereka sangat membantu, tapi sepertinya aku membutuhkan orang lagi untuk menjadi asisten cadangan untuk sementara waktu hingga acara usai,” kata Julie. Miranda tersenyum mendengar ide Julie. “Apa kriteriamu?”  “Apa saja, yang penting tidak lebih cantik dari aku,” jawab Julie sambil kembali memoles bibir tebalnya.  Bibir Miranda semakin tersenyum lebar. “Aku akan menemukannya untukmu.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN