Entah memang takdir Tuhan atau kebetulan saja. Semenjak tempo hari Azzura bertemu dengan seseorang pasti setelah itu ia akan lebih sering bertemu dengan orang tersebut, secara tak sengaja atau juga secara tak langsung. Seperti ini contohnya. Perempuan yang memakai pakaian mewah dengan aksesori yang dinilai pasti sangat mahal tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa undangan atau semacamnya. Perempuan dengan gaya angkuhnya yang memamerkan gaya sosialita dan kelas atas membuat Azzura melihatnya dari atas hingga ke bawah. Apakah ia benar-benar melihat perempuan itu datang ke rumah kumuh miliknya?
Miranda, sobat karibnya dulu yang memilih haluan ke dunia modeling dan Entertainment. Mengangkat derajat keluarganya dan menjadikannya salah satu model yang memiliki bayaran cukup menggiurkan.
“Ada angin apa kau datang kemari?” Tanpa embel-embel Azzura langsung berkata ke poin utamanya.
Ia juga melihat bodyguard yang selalu berada di samping Miranda. Oh jangan lupakan juga mobil mewah keluaran terbaru yang membuat orang-orang di sekelilingnya berhenti mendadak dan lebih memilih mengintip sebentar siapa yang datang.
“Apa kau tak membiarkan untuk masuk, Azzura?” kata Miranda sambil menyampirkan semua rambutnya ke bahu kanan.
Azzura kembali melihat ke belakang Miranda, pria berjas yang berdiri tegak dan memerhatikan mereka lewat kacamata hitamnya. Pria patung yang memang diatur sedemikian rupa oleh pimpinannya. Lamunannya terhenti saat Miranda mengibas-kibas leher putihnya.
“Apa kau masih ingin terus di sini hingga matahari membakar kulit, hm?” sindir Miranda.
“Aku tak akan pernah membiarkanmu masuk sebelum kau memberitahukan padaku apa tujuan kau dan pria patung itu kemari!” Oh tentu saja, ia tak akan pernah mau memasukkan orang ke dalam rumahnya secara sembarangan apalagi orang yang menganggap dirinya musuh bebuyutan.
“Come on, Azzura! Aku membawa berita baik untukmu, asal kau tahu.” Miranda mengentak high-heels tingginya yang menandakan ia kesal dengan sikap Azzura yang tidak menghormati dirinya sebagai tamu.
“Dan kau tahu Miranda, aku tak pernah mempercayai lagi.” Semirik yang Azzura keluarkan membuat Miranda memutar bola matanya kesal.
“Aku berjanji akan membawa berita baik untukmu, kau bisa merusak mobil kesayangan jika aku berbohong.” Miranda mencoba bernegosiasi. Ia tak percaya Azzura yang sekarang sama congkaknya seperti dirinya.
Mendengar perkataan perempuan tinggi itu, membuat Azzura melihat lagi sang bodyguard yang ternyata menganggukkan kepala. Dan itu membuktikan bahwa perkataan Miranda benar adanya.
Ya, mau tidak mau ia akhirnya memperbolehkan Miranda masuk walaupun sebenarnya ia juga penasaran setengah mati, topik apa yang ingin disampaikan ke dirinya. “Lalu apa yang ingin kau sampaikan, Mira?”
“Bisakah kau mengambilkan aku minum terlebih dahulu, Azzura?” mohon perempuan itu dengan wajah memelas.
Azzura menggeram dan menghentikan kakinya menuju dapur. ‘Dasar perempuan yang menyebalkan. Baru pertama kau menginjakkan kaki ke rumahku tapi dia sudah berlagak seenaknya.’
Miranda yang sudah terduduk di sofa memerhatikan ruangan sekitar, ruangan yang masih berantakan dan banyak barang yang belum tersimpan pada tempatnya. Apakah ia baru saja mengganggu orang yang baru saja pindah rumah? Bibirnya mengulum geli. Tapi sebenarnya ia sedikit agak miris dengan keadaan Azzura yang sekarang. Yang seharusnya perempuan sebayanya menikmati hidup dengan sangat baik dan Azzura malah kebalikannya.
“Apa yang salah dengan rumahku hingga matamu terlihat ingin keluar seperti itu?” Sosok itu sudah datang dari arah dapur dengan membawa dua gelas yang berisi es batu dan juga sebotol air.
“Ah, tidak apa. Apa kau tidak ada cocktail atau soda?” tanya Miranda tak sadar diri.
“Jangan bercanda! Apa yang kau harapkan dari keluarga yang baru saja pindah? Cocktail, soda, wine, atau minuman anggur paling mahal yang ada di benua ini?” Azzura menuangkan segelas minum dan memberikannya terlebih dahulu pada bodyguard yang berdiri di samping pintu. “Jika minuman itu ada pun aku tak akan pernah mau menyajikannya padamu.”
Miranda memerhatikan gerak-gerik perempuan di hadapannya dan berharap ia diperlakukan hal yang sama oleh Azzura. Namun sayang, Azzura malah meletakkan botol itu di hadapannya. Apakah Azzura tak melihat bagaimana ia sudah merasa kepanasan karena cuaca dan juga ruangan pengap ini?
“Mengapa denganmu?” tanya Azzura saat melihat Miranda masih mengibas-kibas kan lehernya.
“Kau tahu kan bagaimana caranya melayani tamu?” sindir Miranda lagi.
Azzura mendengus, “Kau bisa menuangkan minumnya sendiri, dan jangan bertindak sok Tuan putri di hadapanku.”
Miranda kesal? Tentu saja. Tapi ia tidak bisa menahan saat melihat buliran uap yang hingga di gelasnya seolah meminta untuk segera dirasakan.
“Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?” tuntun Azzura tak mau berlama-lama.
Sekarang kembali ke mode awal, Miranda menatap kembali Azzura dengan gayanya yang angkuh. Ia menaikkan salah satu kakinya ke kaki yang lain.
“Apa kau tak bosan dengan hidupmu yang seperti ini, Zurra?” tanyanya mengintimidasi, ia bahkan menunjuk setiap ruangan dengan telunjuknya.
Merasa tak terima, Azzura sempat naik pitam. “Apa maksudmu?!”
Melihat Azzura yang setiap harinya memakai kaus dan rok berkibar di bawah lutut membuat Miranda menggeleng-geleng. Apalagi rambut yang Azzura yang hanya diikat asal dan seperti tidak terawat. Bagaimana bisa seorang gadis berpenampilan cupu seperti itu.
“Gayamu. Apakah kau tak bosan dengan gayamu yang seperti gadis desa? Kau tak ingin tampil cantik atau modis untuk memancing para pria di luaran sana?” Miranda menatap dalam.
“….”
“Apa kau tak ingin hidup secara mandiri dan meninggalkan kedua orang tua untuk memulai karier yang lebih cemerlang? Ayolah, Azzura. Berpikirlah modern dan jangan bertindak kolot apalagi ketinggalan jaman. Kau semasa sekolah memang cantik bahkan menjadi primadona, tapi apakah kau akan terus berada di titik ini saja? Menikah dengan seorang pelayan dan mempunyai anak setelahnya?”
Sial. Azzura termakan omongan seorang Miranda. Hal yang sangat menyentil harga diri seorang perempuan, yaitu dibandingkan. Ia memang tak terlalu modis seperti Miranda, tapi cara berpakaian ia juga tak terlalu norak apalagi ketinggalan jaman seperti apa yang dikatakan Miranda. Jika kalian bertanya apakah Azzura memakai riasan, tentu saja memakai. Dan sekali lagi tapi tidak seheboh Miranda.
“Sial! Kau kesini hanya untuk mengejekku?” seru Azzura tak terima.
Bukannya meminta maaf tapi Miranda malah tertawa kencang. “Nah itu lah kau, Gadis Kolot. Jika ada yang mengkritik bahkan menghinamu jangan pernah marah apalagi berbuat kekerasan. Kau bisa membalas omongan mereka dengan tindakanmu sendiri. Kau tahu dengan cara yang bagaimana? Be … ru … bah!” Miranda menekankan kalimatnya. “Kau harus bisa mengalahkan mereka dan meresapi kritikan yang mereka lontarkan.”
Azzura terdiam. Sekali lagi perkataan Miranda menyentil harga dirinya. Apakah selama ini ia terlalu bar-bar dalam bersikap pada seseorang?
“Dan kau baru saja menceramahiku?” kata Azzura pelan.
“Nope! Aku hanya memberitahu soal itu saja, tidak lebih.”
“Selain menjadi model kau juga berbakat menjadi penasihat, Mira.” Azzura menyandarkan tubuhnya dan memainkan kakinya. Entah kenapa pikirannya langsung dipenuhi perkataan perempuan di hadapannya.
“Apakah kau akan tetap seperti ini? Masih tinggal bersama orang tua tanpa pekerjaan yang tetap?” Miranda kembali lagi meneguk airnya. “Apa kau tak ingin keluar dari zona nyamanmu dan menikmati kehidupan yang kau inginkan. Kau mempunyai mimpi ‘kan?”
Jika iblis masuk ke dalam golongan yang menyesatkan manusia, berbeda halnya dengan Miranda yang masuk ke dalam golongan untuk membuka pikiran Azzura yang baru.
Mimpi? Tak munafik, ia juga memiliki mimpi sederhana yaitu mempunyai keluarga yang selalu bahagia tanpa ada drama di dalamnya. Tak perlu pria kaya, yang penting mampu membuat Azzura tertawa setiap harinya seperti cerita-cerita di negeri dongeng.
“Apa kau ingin aku untuk mempertaruhkan mimpiku dari pada keluar dari zona nyamanku, Mira?” tanya Azzura sarkasme.
Tapi itu malah membuat Miranda mengangguk. “Kau mempunyai mimpi indah. Tapi kau tak berani bangun dalam kehidupan nyata dan mencoba mewujudkannya. Kau akan terus berada di titik ini, Azzura!” Entah kenapa, momen ini adalah saat yang paling dirindukan keduanya. Bukan hanya mulut yang berkata melainkan perasaan yang menggebu. Melankolis menjadi euforia yang dirasakan dan paling mendominasi.
“Mira,” panggil Azzura lembut.
Miranda langsung tersentak dan memandang ke arah lain. Jika dilihat dengan benar, air mata keduanya sudah berada di pelupuk mata. Tapi mereka berdua terlalu gengsi untuk mengungkapkan.
“Bukan aku sok baik atau apa pun padamu, aku hanya ingin menyerahkan ini saja.” Miranda menyodorkan kartu nama kepada Azzura. “Apa kau mengenal Julie Collen?” tanyanya.
Azzura mengambil kartu nama yang terlihat sangat elegan. Dan membacanya dengan saksama. Keningnya berkerut, ia seperti tak asing dengan nama itu. “Entahlah, tapi sepertinya aku tak asing dengan nama itu.”
Jawaban yang membuat Miranda tercengang. “Kau tak mengetahui Julie Collen?” tanyanya tak percaya. Hampir seantero belahan sangat mengenal model cantik itu.
“Apa yang kau lakukan selama ini, Zurra? Apa kau selalu melihat tayangan ‘National Geographic’?”
“Hei, jaga mulutmu! Tapi kau benar, aku lebih senang memandangi saluran televisi itu.” Perkataan Azzura membuat sang bodyguard yang sedari tadi berdiri menahan tawanya, pria itu bahkan menggenggam tangannya untuk menahan tawa.
Gadis macam apa yang ditemui Miranda hari ini, Azzura bukan hanya gadis kolot melainkan gadis ajaib yang membuat siapa saja menggeleng-geleng kepalanya. Ia mencoba menerapkan napasnya. “Julie Collen adalah seorang model yang sedang naik daun beberapa tahun belakangan ini. Ia juga sudah memenangkan berbagai macam penghargaan.”
Azzura mengembalikan lagi kartu itu pada Miranda. “Lalu apa hubungannya denganku?”
Ingatkan Miranda untuk melakukan terapi setelah ini, kepalanya saja sudah terasa sakit. Ia menatap Azzura seolah lelah untuk menjelaskan. “Ia membutuhkan asisten untuk sementara waktu selama pelaksanaan acara amal usai.”
“Tapi aku tidak percaya denganmu, Mira.” Kembali sengit ia menatap Miranda menyipit.
“Aku memberitahu tentang pekerjaan fantastis ini. Kau bisa mengambilnya dan memulai kehidupan yang baru. Asal kau tahu, jika seseorang yang pernah bekerja sama dengan Julie Collen akan dengan sangat mudah untuk mendapat pekerjaan baru karena dinilai kredibilitasnya yang mumpuni. Dan kau akan sangat rugi jika membuang-buang kesempatan.” Miranda mengambil tas jinjingnya dan hendak beranjak dari sini. Tujuannya sudah selesai.
“Jika melewatkan kesempatan, itu sama saja kau memberikan orang lain posisi yang seharusnya kau tempati,” ujar Miranda lagi. Ia menggamit tangan Vero dan berusaha untuk keluar dari ruangan yang pengap ini. Membiarkan Azzura berkelahi dengan pikirannya sendiri,
Seharusnya Azzura berterima kasih dengan sangat banyak karena ia sudah bersusah payah memberitahukan sebuah pekerjaan, bahkan dengan rela mengatakannya sendiri. Meskipun sikap acuh yang Azzura berikan tapi itu malah membuat Miranda menyeringai. Setidaknya ia sudah berbicara blak-blakan apa yang sudah dirasakan selama ini.
Vero sang asisten membukakan pintu belakang mobil, namun dicegah oleh Miranda. “Biarkan aku duduk disampingmu, Vero.”
Pria itu menuruti dan membukakan kursi penumpang untuk sang majikan.
Miranda senang dengan perlakuan Vero, ia memerhatikan gerakan luwes yang pria itu kerjakan dan berakhir di belakang kemudi. Tak lupa juga pria itu memakaikan sabuk pengaman untuknya.
Setelah sang asisten sudah menginjakkan gasnya, Miranda mengambil ponsel yang berada di tas jinjing guna menelepon seseorang.
Tak lama seseorang itu mengangkatnya membuat Miranda tersenyum dan berkata, “Jika ada gadis yang bernama Azzura Jorell yang datang padamu maka dia adalah rekomendasiku. Kau bisa mempekerjakannya.”
Kemudian Miranda mematikan ponselnya dan menatap tajam jalanan. Kau masuk dalam rencanaku, Azzura. Miranda menyeringai.