Kesehatan Dokter Raja

1221 Kata
Selamat Membaca Setelah makan siang itu Daniel mengantarkan Intan ke apartemen Dokter Indah, meninggalkan gadis itu bersama dengan neneknya. Sebenarnya Daniel masih enggan namun telpon dari Yohanes membuatnya pergi meninggalkan Intan. *** Seperti kesepakatan tadi siang, Dokter Raja berangkat ke rumah Dokter Agnes untuk menjemputnya makan malam. Penampilannya biasa saja, Dokter Raja memang tidak pernah berdandan yang aneh-aneh, hanya memakai celana chinos coklat dan kemeja. Tapi percayalah, ketampanannya masih terpancar. Dokter Raja sedikit bosan, karena sudah satu jam lebih menunggu dokter Agnes berganti pakaian tapi belum juga ada tanda-tanda kehadirannya. “Kalau wanita sudah bilang sebentar, itu artinya para pria bisa menggunakan waktu untuk keliling lapangan bola tujuh kali, main poker dan menghabiskan tujuh ekor kambing guling,” gerutunya. Dokter Raja mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain game untuk menghilangkan rasa bosan. Tak lama kemudian Dokter Agnes sudah keluar. “Dokter, maaf. Lama, ya?” cicitnya sambil merapikan rambutnya. Dokter Raja hanya diam dan berjalan menuju mobil diikuti oleh Dokter Agnes . Lama Dokter Raja di dalam mobil, namun Dokter Agnes tak kunjung masuk ke dalam mobil, sehingga Dokter Raja turun kembali. “Kenapa gak masuk? Gak jadi? Syukurlah,” ucapnya sambil berdiri di dekat pintu mobil. “Ih, dokter! Gak peka banget, sih? Dibukakan, dong, pintunya biar sedikit romantis.” Dokter Raja berjalan mengitari depan mobil dan membukakan pintu untuk Dokter Agnes . ‘Kenapa aku merasa gak enak, ya? Setiap kali aku bersama Dokter Agnes pasti akan mengalami sial' pikirnya sambil kembali ke bangku kemudi. “Kita mau makan di mana? Tanya Dokter Raja . “Terserah,” jawab Dokter Agnes. Tiba-tiba saja Dokter Raja menghentikan mobilnya. “Bisa gak, sih, ngasih jawaban atau clue yang jelas? Oh, God! Kenapa makhluk Tuhan yang namanya wanita begitu merepotkan?” Gerutunya. “Dokter suka makan apa?” Tanya Dokter Agnes . “Darah,” “Hah, yang benar saja? Kita gak lagi syuting film drakula, Dok. Kita lagi berada di dunia tipu-tipu.” “Baiklah wahai makhluk Tuhan dengan segala kebenarannya, kita mau makan di mana malam ini?” “Aku lagi pengen makan bakso.” ‘Ingin ku berkata kasar' gerutunya dalam hati. Dokter Raja langsung memutar arah mobilnya tanpa banyak bertanya. ‘Bukannya dari tadi ngomong pengen makan bakso, udah keliling setengah kota baru bilang’ gerutu Dokter Raja dalam hati. Sepanjang perjalanan hanya hening, sesekali Dokter Agnes bertanya, namun Dokter Raja hanya diam dan menatap lurus. Tak berapa lama mobil dokter Raja sudah sampai di gerai bakso, gerai itu cukup ramai oleh pengunjung. “Wih, rame banget, ya, Dok?” “Tandanya bakso disini enak,” “Tahu dari mana?” “Dari banyaknya pengunjung.” Keduanya berjalan menuju kursi yang masih kosong dan memesan menu yang tersedia. Tak banyak obrolan antara Dokter Raja dan Dokter Agnes. “Udah, kan? Yuk pulang,” “Bentar, Dok. Ngobrol dulu deh. Atau pergi ke taman kota, ya?” “Udah malam, nanti kemalaman.” “Ya ampun, Dok. Ben**ng aja belum keluar. Masa kalah sama ben**ng,” oceh Dokter Agnes . “Yasudah ke taman kota, aja. Kasian pelanggan yang gak dapat kursi. Aku ke mobil dulu, kamu bayar baksonya.” Dokter Raja berjalan menuju tempat parkir, namun, Dokter Agnes segera menarik tangannya. “Sshh, dingin banget tangan dokter. Dokter sakit?” Dokter Raja hanya diam saja. “Eh, lupa. Kok jadi aku yang bayar baksonya? Bukannya Dokter Raja yang mau traktir?” Dokter Raja tak berkata-kata, hanya berjalan menuju kasir dan membayarnya. Sedangkan Dokter Agnes masih menunggu di depan mobil. “Sudah, ayo masuk.” “Kita jadi ke taman, kan?” tanya Dokter Agnes. “Hmmm.” Keduanya langsung menuju taman kota, tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di taman kota. Suasana sedikit sepi karena gerimis mulai turun. “Gerimis, pulang aja, yuk,” ajak Dokter Raja . Keduanya kembali berjalan menuju mobil yang letaknya tak jauh dari kursi taman yang akan dituju Dokter Raja dan Dokter Agnes . Tetapi, belum sampai keduanya ke mobil, sudah dihadang oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Deg! Dokter Raja merasakan sensasi aneh itu. ‘Kurang ajar! Mereka sudah sampai di sini' umpatnya dalam Hati. “Dokter Agnes , tunggulah di dalam mobil! Ini bahaya,” “Ta – tapi, Dok...” “Cepat!” bentak Dokter Raja. Dokter Raja melemparkan kunci mobil ke arah Dokter Agnes . Beberapa orang berbaju hitam itu sudah mulai mengepung Raja. Dokter Agnes segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. “Bagaimana ini? Dokter Raja melawan mereka sendirian,” isak Dokter Agnes dari dalam mobil. Beberapa saat kemudian Dokter Agnes terbelalak menyaksikan pertempuran antara Dokter Raja dan orang-orang berbaju hitam itu. Tubuhnya menggigil ketakutan. Dokter Agnes menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika orang-orang berbaju hitam itu melayang tak tentu arah karena pukulan dari Dokter Raja, yang tak kalah mengerikan, dia menyaksikan bagaimana perubahan wujud Dokter Raja, mulai dari matanya yang merah menyala, kuku dan taringnya yang memanjang, juga wajahnya yang memutih serta beberapa urat yang keluar dari wajahnya. Tok! Tok! Tok! Betapa terkejutnya Dokter Agnes ketika ada yang mengetuk kaca mobil. Dilihatnya Dokter Raja sudah berada di dekat mobil dan meminta untuk dibukakan pintu. “Do – dokter Ra—Raja?” Dokter Raja tak berbicara apapun, hanya masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, sedangkan Dokter Agnes langsung beringsut menjauh dari Dokter Raja dan mepet ke arah pintu mobil. “Apa kau takut?” tanya Dokter Raja Memecahkan keheningan. Dokter Agnes hanya diam dan gemetar. Air matanya kembali jatuh dan tangannya bergetar meremas seatbelt. “Maaf, sudah membuat Dokter Agnes takut.” Masih hening, tak ada jawaban apapun dari Dokter Agnes . Keduanya terdiam untuk beberapa saat. “K – kau itu makhluk, apa?” tanya Dokter Agnes memberanikan diri. “Siapa?” “Tentu saja kau, Dokter Raja. Kau membuatku sangat takut,” cicitnya. “Aku hanyalah manusia yang hidup berdampingan dengan virus yang ada di tubuhku.” “Virus? Virus apa? Apakah sejenis virus yang bisa merubah manusia menjadi Hulk atau sejenisnya?” “Dokter Agnes terlalu banyak menonton film. Aku bukan sejenis itu. Ada sebuah virus yang bersarang di tubuhku.” “Apakah berbahaya?” “Ya, bahkan orang-orang tadi mengincar ku.” “Kenapa?” Karena Dokter Agnes sudah mengetahui apa yang terjadi, Dokter Raja Memutuskan untuk menceritakan semuanya kepadanya. Dokter Agnes terangsang mendengar cerita dari Dokter Raja. “Apakah dokter juga menghisap darah manusia?” “Tidak,” jawabnya singkat. “Apakah..” “Aku tidak seperti yang kau tonton di dalam film, Dokter Agnes .” “Apakah Dokter Indah juga memiliki virus yang sama?” “Ya.” “Apa?” “Apanya yang apa?” “Maksudku, apakah kondisi Indah sama dengan kondisi Dokter Raja ?” “Tidak.” “Apakah dia menghisap darah? “Ya.” “Apa?” “Apanya yang apa? Kenapa kau itu tidak pernah berkata dengan jelas, Dokter Agnes?” “Maksudku bagaimana bisa Indah...” “Dia memiliki beberapa kerusakan pada sistem sarafnya, sehingga dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, karena itu, dia selalu mengonsumsi obat untuk menekan virusnya.” Malam itu, Dokter Raja dan Dokter Agnes bercerita panjang lebar hingga larut malam. Banyak sekali kisah yang menurutnya hanya ada di dunia perfilman namun ada di dunia nyata, bahkan di kehidupannya saat ini. Perlu waktu untuk mencerna semua cerita yang telah dapatnya malam ini. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN