Makan Siang Bersama Intan

1239 Kata
Selamat Membaca Setelah beberapa menit berurusan dengan wanita gila. Akhirnya, mereka bisa memasuki cafe dengan tenang setelah Daniel berhasil menghindar. Intan mengajak Daniel untuk duduk di kursi sebelah jendela, agar bisa melihat pemandangan luar. "Suka ya duduk di dekat jendela?" Intan gadis kecil itu mengangguk pelan, tangannya menyelipkan beberapa helai rambut yang sudah mulai menutupi matanya ke belakang telinga. Rambut yang indah dan berkilau membuatnya seperti bintang iklan shampoo. Daniel begitu terpana ketika matanya mengarah kepada sang anak dari wanita yang disukai kini berada di depannya. "Kenapa makhluk secantik ini bisa jadi calon anak gue?" batin Daniel . Matanya menyusuri sekujur badan yang hanya bermodalkan tinggi miliknya. Dia masih tidak menyangka kalau saat ini bisa mendapatkan anak gadis cantik seperti Intan. "Kenapa liatin badan sendiri seperti itu?" tanya Intan . Cewek itu heran melihat Daniel yang tiba-tiba saja bersikap aneh. "Oh nggak. Ini cuma lagi liatin baju, kotor apa enggak. Onyet, kan tahu sendiri, tadi Utung habis dipeluk siapa," jawab Daniel . Masih dengan menepuk-nepuk baju yang kini menempel di tubuhnya. Daniel yang mengenakan kaos putih dan jaket hitam bergaris putih terlihat seperti biasa, tampan. Intan baru menyadari ketika Daniel mulai membahas tentang pakaiannya. Intan yang melihat Daniel sedang membersihkan pakaian, entah mengapa tersipu malu. Mungkin efek ketampanan dari seorang Utung memang seperti itu, selalu membuat setiap cewek yang melihatnya merasa terpana,gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. "Iya, hahaha. Tadi itu beneran istri Utung ya?" Baru kali ini Intan tersenyum lepas. Mengingat paman nya itu anggapan Intan tentang sosok Daniel tadi yang dipeluk orang gila, tentu siapapun akan tertawa jika melihatnya. "Intan, ini bukan bercandaan. Kasihan lo dia jadi gila seperti itu karena ditinggal suaminya. Coba bayangin, kalau Intan gila karena ditinggal Utung. Intan mau?" "Emang Utung nantinya mau ninggalin Intan?" Seketika ekspresi Intan berubah. Bibirnya cemberut dan sorot matanya terlihat sedih. "Ya nggak lah, jangan cemberut gitu dong. Tadi cuma bercanda," ucap Daniel . Tangannya meraih kepala Bella dan mengelusnya dengan lembut. Dibalik kepintaran dan kekonyolan, Intan memang seperti anak kecil. Dia akan mudah takluk hanya dengan dielus kepalanya oleh Daniel . "Ini bukan bercandaan, lain kali jangan bilang gitu lagi ya?" Daniel mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Intan. Setelah beberapa menit bersenda gurau, mereka sampai lupa untuk memesan makanan. Berhubung tempat itu adalah cafe sekaligus resto yang biasa mereka kunjungi. Intan tak perlu lagi untuk melihat menu, dia sudah terlalu hafal dengan isinya. "Mau pesen apa?" tanya Daniel . "Apa ya? Lagi pengen Ayam Goreng aja, sama minumnya lagi pengen es cream strawberry ." Selera Intan memang tidak bisa ditebak. Dia tidak suka mengecap satu makanan atau minuman sebagai favoritnya. Bahkan dalam seminggu gadis kecil itu bisa memesan menu yang berbeda setiap kali datang. Intan selalu mencoba menu lain, tetapi tentunya asalkan harga bersahabat dengan dompet. "Oke , paman pengen Nasi Goreng Spesial sama Americano. Udah fiks ya mau itu." Daniel selalu memastikan kepada Intan setiap kali memesan. Dia masih terlalu plin-plan dan kadang bisa mendadak pengen ubah menu ketika makanan udah hampir siap, ujung-ujungnya Daniel yang harus menghabiskan karena Intan merajuk dan tidak mau makan. Labil, itu mungkin sedikit ungkapan Daniel , tetapi dia tidak begitu berani mengatakan itu di depan Intan. "Iya, nggak akan berubah." "Mbak!" panggil Daniel kepada salah satu pelayan. Dia mengangkat tangan agar pelayan itu segera menuju ke arah mereka berdua. "Ini pesanannya, secepetnya ya, Mbak. Udah laper ini. Terus minumannya dibuat akhir aja setelah selesai makan, biar nanti masih panas," Daniel menyerahkan buku pesanannya yang langsung diterima oleh si pelayan. "Iya, ditunggu ya, Mas," kata pelayan itu. "Ngapain pergi ke resto kalau cuma makan Nasi Goreng? Buat sendiri juga bisa," tanya gadis kecil itu. "Lah, Onyet juga ngapain ke sini kalau cuma pengen makan Ayam Goreng, di pinggir jalan juga banyak." Mereka berdua tertawa kecil, baru menyadari kalau yang mereka pesan itu sangat mudah didapat dan mungkin bisa lebih murah jika beli di pinggir jalan. "Di pinggir jalan nggak ada es cream strawberry -nya." "Ini makanannya, Mbak." Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan pesanan mereka datang juga. Tempat itu memang tidak pernah mengecewakan, pelayanannya selalu cepat padahal selalu ramai. "Iya makasih banyak, Mbak." "Kayaknya enak, nih," ucap Intan lalu dilanjutkan berdoa ketika makanannya sudah tersaji di depan mata. "Nggak nungguin Utung, Nyet?" tanya Daniel memelas. "Ngapain nunggu, itu udah dateng." Dagu Intan menunjukkan arah pelayan yang kini sedang berjalan ke arah mereka. Setelah pesanan mereka datang, dengan lahap mereka makan. Meski hanya menu biasa, tetapi masalah rasa, tempat itu adalah juaranya. Daniel dan Intan sangat menikmati makanan masing-masing. Hanya dalam waktu beberapa menit, Daniel sudah menandas habis Nasi Goreng di piringnya. "Utung ambilin kopinya dulu ya, Nyet," kata Daniel kemudian beranjak dari tempat duduk akan menuju tempat pelayanan. "Loh udah habis makanannya?" tanya Intan. Namun, dia sudah terlambat, Daniel sudah berjalan pergi. Intan hanya menggelengkan kepala ketika melihat piring Daniel yang sudah bersih berkilau seperti dibersihkan oleh Master Clean. "Bentar, lagi dibuatin kopinya." Daniel kembali duduk di kursi depan Intan. Melihat Intan yang sedang sibuk memisahkan daging-daging ayam yang melekat di tulangnya. Makan saja, dia terlihat begitu cantik. Bagi seorang pemuja good looking, pasti akan betah menatap Intan walau dalam waktu yang lama. Wajah Intan adalah salah satu faktor mengapa Daniel begitu mencintai mamanya. Meskipun itu bukanlah faktor utama, faktor utamanya karena dia melihat Intan sebagai gadis yang polos. Daniel yakin, dia tidak akan berbuat macam-macam dengan cowok lain dibelakangnya seperi wanitanya dulu. Seperti menyia-nyiakan kecantikan wajahnya. Intan sama sekali jauh dari kata anggun, buktinya saat ini dia makan dengan mulut yang sudah belepotan oleh nasi dan sambal. Bahkan, nasinya ada yang tersesat hingga ke pipi Intan . Namun, terus terang saja, cewek yang anggun pun, Daniel tidak akan pernah mencintainya jika tidak setia mama Intan. "Kenapa liatin Onyet seperti itu?" Intan mengusap mulut dengan lengannya. Semakin membuat Daniel ternganga akan sikap Intan yang semakin lama semakin ketara. "Nggak ada apa-apa." Tidak berhenti sampai disitu, Intan lalu menepuk-nepukkan tangan kotornya ke pipi. Dilanjutkan makan lagi, kali ini sambalnya yang terlihat belepotan di luar bibir. Hari itu bisa dibilang sebagai culture shock bagi Daniel . Intan tidak pernah terlihat seperti itu sebelumnya. "Onyet nggak apa-apa? Nggak kesurupan, kan?" tanya Daniel memastikan Intan, dia khawatir dengan kesehatan mental Intan yang terlihat terganggu saat itu. "Huwaaa, Utung nggak peka!" Cewek yang memiliki panggilan Onyet itu berteriak kencang. Dengan wajah yang terlihat sangat cemong oleh makanan, cewek itu merengek di depan Daniel . "Seharusnya tadi mulut Onyet dilap, biar romantis kaya di film-film. Tapi, kenapa Utung berbeda, Utung benar-benar nggak peka! Kapan Utung mau berubah jadi cowok romantis? Huwaa." Suara Intan yang begitu keras lantas menjadi pusat perhatian penghuni cafe saat itu. Oka pun merasa tertekan di sana. Di samping rasa malu, dia juga merasa kesal dengan diri sendiri, sudah jelas sekali kalau Intan tadi memberikan kode untuk dilap mulutnya, agar terlihat seperti adegan film romantis seperti yang Intan inginkan. Tetapi, Daniel merasa dirinya begitu payah dalam hal memahami calon anaknya Intan. Daniel mengelap mulut Intan dengan tisu, berharap kalau Intan akan berhenti merengek seperi anak kecil lainnya . "Giliran udah kotor begini aja baru dilap. Terus di film itu ngelapnya pakai tangan, bukan pakai tisu. "Iya, maafin paman, Intan. Paman emang payah, nggak pernah ngerti sama apa yang lo inginkan. Udah ya jangan merengek kaya gitu." Setiap perkataan Intan benar-benar seperti tamparan bagi Daniel . Menyesal pun tak berguna, hal itu sudah terjadi. Dia memang sudah ditakdirkan menjadi cowok klise, membosankan dan tidak peka. Hari itu, Daniel merasa kalau dirinya merasa sangat buruk. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN