Waktu Dokter Indah Magang

1228 Kata
Selamat Membaca Langkah kakiku terayun gontai, memasuki ruang gerbang Instalasi Gawat Darurat. Dinas pagi ini terasa sepuluh kali lipat lebih melelahkan dari biasanya. Pasien datang susul-menyusul sejak aplusan dengan dinas malam, sampai jam makan siang barusan. Aku cuma rehat waktu disidang Dokter Raja dan dua sobatnya. Selebihnya, bersama Agnes yang berakhir dengan segambreng saran absurd. Aku sampai lupa makan siang. Minum pun hanya segelas aqua gratis yang disediakan di kulkas ruangan.Wajarlah jika jiwa raga ini terasa letih. Kulirik jam dinding yang menempel tepat pada dinding belakang nurse station. Pukul 13.00 WIB. Aplusan dinas masih satu setengah jam lagi. Alangkah menjemukan. Kalaulah bukan karena membuntuti Agnes , hari-hariku mungkin bakal kuhabiskan dengan ongkang-ongkang kaki di rumah, menikmati masa pengangguran. Agnes yang selalu memanas-manasiku kuliah lagi. Padahal, aku tak suka kuliah kedokteran . Dasar diriku mirip bebek, yang bisanya cuma mengekor Agnes sejak SMA sampai sekarang. Mau gimana lagi? Hanya dia sahabat terdekatku, yang sudah kuanggap seperti saudari kandung sendiri. "Indah !" Suara Kak Rania , menghancurkan lamunanku. "Iya, Kak. Ada apa?" Kudekati kakak senior tingkat dua di FDok itu. "Kamu udah bisa hecting (menjahit luka), kan?" "Bi-bisa, bisa," sahutku, agak terbata-bata. Bisa sedikit, Kak. Lanjutku dalam d**a. Diam-diam kusesali keenggananku belajar praktik dulu. Sebab aku tak tahan melihat darah. Jadi jika ada kasus perdarahan, aku pura-pura ke belakang lalu menghilang. Tapi, bagi dokter magang yang melanjutkan kuliah profesional macam diriku, akan sangat memalukan jika mengaku fobia darah. Kelulusanku bakal diragukan. "Ke ruang tindakan, gih." Kak Hana menunjuk ke salah satu bilik IGD. "Ada pasien tumor jinak di telapak tangan. Perlu operasi bedah minor untuk mengangkat tumornya. Gaya irisan praktis aja, belah tengah. Nanti kamu, ya, asisten dokter. Bersihkan dan jahit luka paska pengangkatan tumor." titah Dokter Rania . "Da-darahnya banyak, ya, Kak?" Telapak tanganku mendadak berkeringat dingin. Ya Tuhan, tunjukkan caraku menghindar dari tugas ini! batinku. "Nggak sebanyak pasien luka tusuk, sih." tutur Dokter Rania. "Kok, nggak langsung ditangani dokter bedah, Kak?" tanyaku, mengulur waktu. Aku kudu kerja keras memeras otak mencari alasan untuk menghindari tugas yang bakal bersentuhan dengan darah. Andai bisa menggunakan jurus Kagebunsin ala Naruto. Hup, aku pasti bisa segera menghilang dari hadapan Kak Rania. "Cuma operasi kecil. Nggak perlulah ngerepotin dokter bedah. Dokter jaga IGD juga bisa, didampingi dokter magang." tutur Dokter Rania. "Kak Rania sendiri mau kemana?" tanyaku kepo. "Tadi kepala ruangan IGD dapat telpon dari petugas medis kepolisian, ada beberapa korban kecelakaan mobil di jalan utama. Lima menit lagi tiba di sini. Aku mau standby menyambut pasien bersama kakak-kakak senior lain. Apa kamu mau menggantikanku?"tanya Dokter Rania. "Eeh, nggak, nggak, Kak. Hehe, aku bantu dokter operasi kecil aja ...." "Astaghfirullah, Indah, kamu pucat? Masih takut darah, ya?" Kak Rania tertawa meledek. "Nggak takut kalo darahnya cuma dikit." Aku mengembuskan napas lega. Tidak malu-malu mengakui. Daripada aku pingsan di tempat, mending bilang duluan, kan? "Belajar berani, Dah. Mau sampai kapan kamu menghindari tugas hanya karena takut darah? Ya udah. Semangat, ya!" Dokter Rania menyemangatiku. Kak Hana berlalu, meninggalkan diriku terpaku dengan sejuta waswas macam capung beterbangan di kepala. Darahnya cuma sedikit, Indah! Ayo, kamu pasti bisa!ucapku dalam hati. Kusemangati diri sendiri sambil menarik napas dalam sampai dadaku mengembang sempurna. Napas pun terembus pelan. Ketenangan kurangkum sempurna. d**a ini terasa lebih lega. Malangnya diriku, kelegaan ini berubah sempit lagi, manakala memasuki bilik tindakan dan melihat sosok Dokter Raja. Lelaki bersnelli itu sedang berdiri di sisi pasien, sedang memeriksa kondisi tumor di telapak tangan. Aku meratap dalam hati. Kenapa aku sesial ini, ya, sampe dua kali ketemu orang yang sama. "Eh, kamu lagi? Ngapain di sini?" tegurnya jutek. "Saya, kan, magang di sini, Dok." Kupasang tampang sedatar mungkin. Seolah-olah sebelumnya tak pernah ada kegemparan di antara aku dan makhluk kepo ini. Ini yang namanya jeruk makan jeruk. Sesama makhluk kepo, mengejek makhluk kepo lainnya. "Ooh, kena rotasi dinas di sini, ya. Bagus." Ia menggut-manggut macam perkutut sakit gigi. Lalu, tersenyum. Bulu kudukku merinding curiga. Senyum yang menempel di wajah babby face-nya, sama sekali tak terlihat menawan di mataku. Ada hawa ancaman menguar. Aku mengendus bahaya. Di luar sadar, langkahku mundur setapak. "Eh, mau kemana?" tegur dokter spesialis anestesi itu, sambil tetap memajang seringai jahilnya. "Ke luar, Dok," sahutku spontan. "Emangnya boleh?" "Ya, bolehlah," sahutku dengan wajah tanpa dosa. "Kok bikin aturan sendiri? Emangnya kamu siapa?" "Indah ." "Iya, aku bisa baca name-tag kamu, nggak perlu disebutin! Maksudku, kamu ini siapa jadi berani-beraninya mau ke luar ruangan tanpa izin? Masih dokter magang, kan?" titah Dokter Raja. "Hee, iya, Dok." Aku tersenyum kecut, menutupi rasa segan membantu dokter menyebalkan ini. "Sini, sini! Aku ajarin menginsisi tumor." tunjuk Dokter Raja. "Wah, saya tersanjung diajarin, Dok. Tapi apa nggak melanggar etika profesi?" tanyaku. "Lho, melanggar sisi mananya? Kan, aku mau ngajarin?" tutur Dokter Raja. "Tindakan medikal bedah, bukan wewenang perawat, Dok," sahutku selancar jalan tol bebas hambatan. "Dalam Undang-Undang Keperawatan ...." Kujelaskan beberapa pasal dan ayat kode etik kedokteran , mengenai batasan tugas dokter dan wewenangnya. Kening Dokter Raja kulihat berkerut-kerut menyimak. Aku tertawa dalam hati. "Enough!" pangkasnya, sok English. "Kamu itu mau diajarin, tapi malah sok ngajarin. Tutup buku undang-undang. Di lapangan, ikuti instruksi dokter. Ayo cuci tangan. Pake handschoen. Trus ambil scalpel!" titah nya padaku. Lunturlah kesenanganku. Dokter Raja ini mengingatkanku pada provos galak di film-film berlatar narapidana dan penjara. Aslinya, sih, dia kocak, supel, dan ramah ke siapa saja. Akan tetapi, sejak hoaks yang kubikin untuk mengkarantina dokter cintaku, ia kelihatan menyeramkan. Aku yakin dia belum puas mengomeliku siang tadi. Heran juga. Kok, malah dia yang dendam? Beda dengan Dokter lainnya yang justru menjadi obyek penderita sesungguhnya. Dokterku itu tak banyak bunyi. Dia diam saja saat aku pasrah diberi petuah oleh Dokter Raja. Bikin adem. Aku jadi makin cinta dan memperbesar niat baik untuk memgejarnya. Dengan wajah masam, kuturuti perintahnya. Huh, gayanya bossy sekali. Kayaknya belum pernah ngerasain dikitik-kitik pake jarum transfusi yang berukuran sebesar jarum untuk menjahit sepatu. "Insisi di tengah aja, ya. Tumornya kecil itu. Hanya berdiameter 25 milimeter. Iris pake perasaan. Jangan terlalu dalam. Kulitnya iris selapis demi selapis." Dokter Raja memberi instruksi. Aku hanya mengangguk. Jariku telah menjepit scalpel, tapi tak kunjung turun melakukan insisi. Pasien menunggu dengan wajah tegang. Aku juga tegang. Yuk, tegang sama-sama, Bu! "Ayo! Kalo kamu udah insisi, tarik dua sisi luka yang berseberangan. Keluarkan tumornya dengan pinset. Lalu, jahit pake jarum bedah dan benang silk. Aku nggak ngawasin lagi lho, karena mau bantu menangani pasien kecelakaan!" ucapnya padaku. Ngomong, sih, gampang, Dok. Praktiknya ini yang amburadul! Keringat dingin mulai membulir sebiji jagung di dahiku. Gemetar, aku gemetar. Namun, kupaksakan. Dadaku berdentam. Tepat pada saat aku berhasil memaksa diri melakukan sayatan pertama, terdengar suara familiar yang selalu sukses mengalirkan kesejukan di hati ini. "Raja, masih ada pasien, ya?" tanya seseorang diluar ruangan. Suara itu terdengar dari arah pintu masuk ruang tindakan medis. Oh, jelas, itu suara dokterku. Benar sekali, dia ada di sana. Tegak di ambang pintu. Penampilannya masih seperti tadi, saat Dokter Raja menginterogasiku di ruang dokter. Hampir diriku terlonjak saking gembiranya. Semangat ini mengalir sampai ke ujung-ujung jari. Aku kembali fokus pada sayatan yang kubuat, tepat pada permukaan tumor yang terletak di tengah telapak tangan. Akan tetapi, begitu melihat darah yang mengalir dari luka sayatan, sontak tubuhku mundur teratur bak prajurit kalah perang. "Da-da-daraah ...," gumamku dengan pandangan berkunang-kunang. Dadaku sesak oleh kepanikan tiada tara. Sekujur tubuh membeku seperti habis terjun ke air es. Di lain saat, penglihatanku mengabur, lalu gelap bersamaan dengan olengnya tubuh ini. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN