Single Mom

1002 Kata
Sebenarnya Dokter Indah seorang Single mom yang sangat mandiri, selalu dibantu oleh sang ibu dalam hal mengurus putrinya begitupun teman sesama dokter sangatlah menyukai intan yang lucu, energik dan mandiri. Dokter Indah menyebut alasan tersebut adalah "SELF LOVE" Mencintai diri sendiri, kalau sudah mencintai diri sendiri, mereka tidak akan mau bertahan dengan pasangan, hubungan bahkan pernikahan yang toxic. Karena berada dalam lingkaran toxic menguras tenaga, hati, jiwa dan pikiran. Yang membuat mereka lupa how much "Precious " diri mereka. Dan membuat sedikit kewarasan terganggu dan berujung tidak ada bahagia untuk diri sendiri. So beat it, biarkan orang-orang di luar sana berbicara apa pun. Jika kita tidak seperti yang mereka tudingkan, dibawa santai jangan menggubris. Seringkali sang ibu menyuruhnya untuk menikah lagi, namun kesibukan dan keengganan dalam diri Indah yang sudah merasa nyaman dengan keadaannya sekarang ini. Pagi ini Indah mencari flashdisk dan tasnya, semenjak kecelakaan mobilnya itu dia lupa akan tas nya. Dokter Indah terpaksa ke kantor regu penyelamat untuk meminta tolong mencari tasnya itu. Dokter Indah memakai Taksi karena dia belum mendapatkan mobil pengganti dari asuransinya dan pengajuan mobilnya belum sempat dia ke showroom mobil. Setelah sampai, Indah dipersilahkan duduk dan diberikan minuman oleh OB di kantor penyelamatan itu. Tak lama muncullah Daniel yang telah berganti pakaian, dan tersenyum ke arah Dokter Indah. "Pagi, nona" "Pagi, saya mohon bantuanmu lagi untuk mencari tas saya, saya memerlukan flashdisknya," lirih Dokter Indah menatap mata Daniel yang tengah menatapnya penuh cinta. "Oh y, ini sekalian saya mau mengembalikan jaket kamu!" Indah memberikan paperbag kepada Daniel, dan pria itu langsung menerimanya. "Apa kita pergi sekarang?" tanya Dokter Indah. "Ok, lets go!" Daniel berjalan duluan dan diikuti Dokter Indah di belakangnya. Di dalam mobil hanya ada kebisuan di dalamnya, suara nyanyian di radio yang saling bertautan. Sesampainya di lokasi kecelakaan kemarin, Dokter Indah sibuk mencari kesana kemari, sedangkan Daniel mewanti-wanti. "Jangan kesana itu ada police line, kau tak bisa kesana!" "Kalau kau tidak berniat membantuku pergilah!" maki Indah yang merasa kesal. "Ayo kita pulang, biar nanti aku cari sendiri!" rayu Daniel. Indah melotot sambil berkacak pinggang "kau pulanglah, kalau tidak ingin membantuku!" hardiknya. Saking marahnya keseimbangan tubuh Indah mulai goyah dan ia terjatuh ke permukaan tanah coklat, ia menahan rasa sakit di kakinya, Daniel yang melihatnya tidak tega, dan ia pun langsung membantu Indah berdiri dan berkata. "Ayo kita obati lukamu! Aku janji akan mencarinya untukmu!" jelasnya. Dokter Indah tidak bisa menjawab karena merasakan sakit di kakinya, lalu Daniel menggendongnya ala bridal style memasukan Dokter Indah ke dalam mobil. Dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit Internasional Bavaria. Sesampai di rumah sakit, Dokter Agnes langsung memeriksa keadaan kakinya yang memar. "Dokter Indah, kenapa kamu?" Tanya Dokter Agnes pada Indah yang hanya diam saja. "Sepertinya dia terkilir dok" jawab Daniel. "Ok, kita periksa dulu ya, Dokter Indah." Dokter Agnes berucap sambil tersenyum ramah. Setelah pemeriksaan itu, Dokter Agnes bertanya-tanya dalam hatinya 'Kenapa Dokter Indah bisa bersama pemilik rumah sakit ini, apa Dokter Indah tidak tahu?' batinnya seraya melihat ke arah Indah dan Daniel. Daniel yang melihat pergerakan Dokter Agnes cuma tersenyum saja. "Apa sudah selesai dokter?" tanya Daniel. "Sudah, Dokter Indah sudah bisa pulang dan obatnya diminum ya, dok!" goda Dokter Agnes. "Terima kasih Dokter Agnes," jawab Indah seraya tersenyum manis. "Ayo kita pulang!" ajak Daniel. "Tidak usah aku sudah pesan taksi online!" jawabnya, Daniel mengangguk dan berlalu keluar dari ruang pemeriksaan. Rintik-rintik hujan sisa semalam enggan usai walau mentari sudah melambung tinggi. Kendati demikian tak menghentikan alur kehidupan yang memadati kota. Tin … Tin … Tin … Tak terhitung berapa kali klakson kendaraan beroda dua dan kendaraan lain saling menyahut serta salip-menyalip. Kesibukan memaksa mereka melawan maut. Tak khawatir jika ban motor tergelincir akibat jalan licin atau abai kala beberapa supir berteriak penuh umpatan keji. Ya, semua orang punya masalah sendiri-sendiri. Sama halnya seperti gadis kecil di dalam mobil yang sudah bermenit-menit duduk rapi. Di antara semua kendaraan. Hanya mobilnya yang paling memukau. Menunjukkan jika penumpang di dalamnya bukan orang biasa. "Sebentar lagi sampai, sayangku," ucap sang mama bernada lembut pada putrinya. Gadis kecil itu hanya bergumam lirih. Jujur saja ia sudah malas masuk sekolah. Alasannya ia terlalu bosan mendapat ocehan keji mengenai dirinya. Kurang lebih 10 menit, mobil berhenti di depan gerbang gedung besar setinggi 5 lantai. Berdasarkan kemegahan sekolah tersebut. Siapapun akan bangga jika mereka bagian dari salah-satu murid di dalamnya. Namun, tidak dengan gadis kecil bernama Intan itu. Cara Intan menatap menunjukkan jika ia tak memiliki kebanggaan apapun. Malahan hanya rasa jengah dan penuh kebencian. Bagi Intan memasuki gedung tersebut sama halnya memasuki arena tarung. Di mana kekuatan fisik dan hatinya akan teruji di sana. Jika kuat akan bertahan dan jika tidak kuat maka akan hengkang. "Ayo sayang," ucap sang mama membukakan pintu mobil. Lantas Intan mendaratkan kaki kirinya. Sang mama paham betul karakter anak gadis kecilnya. Ia hanya menatap lekat, sambil memohon dalam hati agar Intan segera terlepas dari duka yang dipikul dan selalu merasa bahagia. Siang harinya Daniel menghubungi nomor telepon Dokter Indah, namun yang mengangkat malah Intan, anaknya yang berada di sekolahan. Tuuut… Tuuuut... Bunyi telepon masuk "Halo." "Halo ini siapa?" "Apa ini nomor Dokter Indah?" tanya Daniel. "Ya, ini aku anaknya," jawab Intan jujur. 'Hah, anaknya' batin Daniel. "Ini siapa?" tanya Intan. "Aku Daniel dari regu tim penyelamat kemarin, mau mengantar tas Dokter Indah yang sudah ketemu nih," jelas Daniel "Datang saja ke sekolah anak dekat balai kota!" jawab Intan. "Ok. Terima kasih." Intan pun langsung menutup telponnya. 15 menit kemudian Daniel sudah sampai di halaman sekolah yang disebutkan Intan tadi. "Mana tas mamaku, paman?" pinta Intan. "Apa kau benar anaknya?" tanya Daniel. "Cih, kau tidak percaya, lihatlah paman!" "Apa perlu aku telpon mamaku?" tanya Intan balik dengan mengerucut kesal. "Oh, tidak. Kau sangat mirip sekali dengan mamamu," jelas Daniel. "Jangan-jangan kau menyukai mamaku ya?" tanya Intan penuh selidik. "Mamamu sangat cantik, semua orang pasti menyukainya," jawab Daniel yang begitu jujur. "Iya, tapi mamaku lebih mencintai pekerjaannya!" Daniel terpaku mendengar penjelasan gadis kecil itu, "Ck, dia benar-benar anak wanita itu, sifatnya sama, aku harus mendapatkan hati anaknya" gumam Daniel. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN