Dia Ternyata Dokter

1556 Kata
Keesokan harinya aku pergi menemani mamaku ke rumah sakit. Untuk memeriksakan kesehatan mama dan menemui adikku Raja. Setelah mama masuk ke dalam ruang pemeriksaan, aku menunggu di luar karena saat mama masuk aku menerima telepon dari Yohanes sahabatku. Aku berjalan-jalan di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Bavaria, Swiss. Salah satu dari sekian cabang rumah sakit yang dimiliki keluargaku. Dulu Papalah yang membangun dan mengelola rumah sakit ini, mengingat profesi beliau yang merupakan seorang pengusaha. Tapi setelah memutuskan pensiun dari dunia bisnis, kini adikku lah yang mengelolanya. Sementara Papa fokus pada pekerjaan utamanya, yaitu menjadi dokter bedah syaraf. Setibanya di dalam, beberapa pasang mata langsung tertuju padaku, menatapku dengan tatapan memuja. Aku yakin, sebagian besar pemilik mata itu adalah kaum hawa. Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini, jadi aku tak mengacuhkan mereka dan terus melangkahkan kaki. Tapi baru beberapa saat berjalan, refleks aku berhenti begitu mendengar suara seseorang yang sedang menangis sambil berteriak. "Mbak, tolong operasi anak saya dulu! Saya janji, setelah ini saya akan langsung mengurus kartu kesehatan anak saya." "Maaf, Bu. Ini sudah menjadi prosedur dari rumah sakit," ucap seorang staf administrasi yang wajahnya tidak asing lagi bagiku. Aku baru saja akan menggerakkan kaki ke sana, berniat membantu perempuan paruh baya itu. Tapi ketika melihat seorang wanita berjas putih menghampiri mereka, aku pun membatalkan niat. Terpaku di tempat, aku menatap wanita itu dalam diam. Wanita yang kemarin aku tolong saat dia hampir jatuh terperosok bersama mobilnya ke dasar jurang. Namun, aku masih belum mengetahui siapa nama dokter cantik yang seharian kemarin membuatku terus digoda oleh Yohanes ketika di kantor. Sungguh, dia benar-benar sangat cantik. Kain yang membalut kepalanya sama sekali tidak menutupi aura kecantikannya. Kulitnya putih bersih. Matanya bulat, besar, dan jernih. Jujur, baru kali ini ada seorang wanita yang mampu membuatku sulit memalingkan pandangan. "Ada apa, Bu?" tanya wanita itu yang tak kuketahui namanya itu. Jas putih yang dikenakannya menunjukkan bahwa dia seorang dokter. "Dok, tolong saya! Kaki anak saya patah. Kata dokter yang memeriksanya tadi harus cepat-cepat dioperasi. Tapi saya nggak punya uang sebanyak itu buat mengurus administrasinya." "Apa Ibu punya kartu?" "Saya belum punya, tapi rencananya setelah ini saya mau bikin, Dok." Wanita itu tersenyum manis. Senyum yang membuatku terhipnotis. Senyum itu seolah seperti magnet, menarikku untuk ikut mengangkat kedua sudut bibir. "Ibu nggak usah khawatir. Biar saya yang mengurus masalah ini. Mendingan sekarang Ibu balik ke ruangan anak Ibu. Dia pasti butuh Ibu." "Tapi kaki anak saya bisa dioperasi kan, Dok?" Wanita itu tersenyum lagi, kemudian mengangguk meyakinkan. "InsyaAllah, bisa." Ibu itu menangis haru. "Makasih, Dok. Makasih banyak." "Sama-sama, Bu." Ibu si pasien balik badan, lalu berjalan masuk ke koridor yang menuju ke gedung barat. Sepeninggal beliau, wanita itu menoleh ke staf administrasi. "Mbak, biar saya yang menangani anak Ibu tadi. Tolong potong gaji saya bulan ini buat ganti biaya administrasinya!" "Tapi, Dok—" "Nggak pa-pa, Mbak. Saya ikhlas." "Baik, Dok," ucap staf itu, sedikit ragu. "Makasih ya, Mbak. Saya permisi dulu." "Silakan, Dok." Wanita cantik dengan tinggi badan sekitar seratus enam puluh lima senti itu kemudian melenggang pergi. Sedangkan aku masih berdiri diam dengan binar kagum dan takjub yang tak bisa kusembunyikan. Wanita itu begitu baik. Bahkan dia rela gajinya dipotong untuk menutup biaya operasi orang lain. Sungguh gadis yang sangat mulia. Mataku mengikuti ke mana arah gadis itu melangkah. Ketika dia menghilang di tikungan koridor, barulah kesadaranku kembali. Demi apa pun yang ada muka bumi ini, gadis itu benar-benar membuatku penasaran. Tanpa buang-buang waktu, aku berjalan menghampiri staf administrasi yang tadi berbicara dengannya. Dia mendongak kaget ketika melihatku berdiri di hadapannya. Bangkit dari posisi duduk, dia menyapaku seraya tersenyum penuh arti. "Selamat pagi, Pak Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan nada dan senyum menggoda. "Siapa nama dokter itu?" tanyaku, to the point. Aku tak ingin berbasa-basi karena aku sudah tidak berminat lagi dengannya. "Dokter perempuan yang barusan ada di sini?" "Ya." "Kenapa Bapak repot-repot tanya soal dokter yang sok jadi pahlawan kesiangan itu? Apa bagusnya dia dibanding saya? Bapak tau sendiri kan kalo saya jauh lebih bisa muasin Bapak? Perempuan sok suci kayak dia mana bisa sih muasin laki-laki," kata staf itu, menanggalkan bahasa formalnya padaku. "Jaga ucapan Anda, Nona!" gertakku, keras. Aku menatapnya tajam. Kata-katanya tadi benar-benar kurang ajar. Semua pasang mata tak ayal menoleh ke arah kami, tepatnya ke arahku. Tapi aku tak peduli. Aku tidak suka dia menghina wanita itu. "Apa Anda lupa jabatan saya sekarang? Saya bisa saja memecat Anda detik ini juga!" Aku mendengus sinis, lantas melenggang pergi. Sial! Aku bahkan belum bisa mendapatkan informasi apa pun tentang gadis itu. Ini semua gara-gara perempuan murahan tadi. Tiba-tiba satu ide muncul di kepala, membuat langkahku mendadak berhenti. "Bego! Kenapa gue nggak tanya sama adikku aja? Dia pasti tau." Aku tersenyum lebar, lalu melanjutkan langkah. Sekarang tujuan utamaku bukan ruangan Papa, tapi ruangan adikku . Sampai di sana, aku mengetuk pintu dan langsung membukanya. Raja menoleh saat mendengar pintu ruangannya terbuka. "Hey, yo. What's up, bro?" Lelaki itu menyapaku begitu aku ada di ambang pintu. Aku masuk dan kami bersalaman dan berpelukan ala lelaki dewasa. Dia lalu mempersilahkan aku duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Sementara dia melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena kedatanganku. Aku tak masalah dengan hal itu. Kami sudah sering mengobrol satu sama lain meskipun salah satu dari kami sedang berkutat dengan pekerjaan. "Tumben lo dateng. Biasanya lo paling males kalo gue minta ke sini," komentar adikku. "Emang. Gue nggak suka bau rumah sakit. Kelamaan di sini bikin gue mual," timpalku. Untunglah di sini cuma ada dia, jadi aku bisa leluasa bicara dengannya. "Mana mama ka? Lo tinggal ya?" tanya adikku. "Dia pasti kemari!" jawabku dengan nada kesal. "Alah, kayak lo nggak pernah nginep di rumah sakit aja, ka!" cibirnya. "Oh, kalo itu beda kasus. Gue sakit, jadi mau nggak mau gue terpaksa nginep," Aku membela diri. "Tapi kalo diitung-itung, lo lebih sering nginep di rumah sakit daripada gue. Moga-moga lo nggak mendadak pikun deh, ya." Aku berdecak malas. Tentu saja aku masih ingat. Semasa SMP dan SMA dulu, aku dan adikku merupakan dua kakak beradik yang sering membuat onar di sekolah. Katakanlah aku pentolan di sekolah dan dia partner in crime-ku. Sedangkan di luar, aku merupakan ketua geng motor yang menguasai seluruh jalanan ibukota. Segala jenis kenakalan remaja pernah aku lakukan. Mulai dari berkelahi, tawuran, balap liar, sampai trek-trekan. Makanya aku sering keluar masuk rumah sakit gara-gara babak belur akibat berkelahi atau jatuh dari motor. Sementara adikku jarang masuk rumah sakit karena walaupun dulu termasuk anak nakal, dia tidak seliar diriku. "Oya, Raja Mahendra Wijaya, lo tau nama dokter perempuan yang pake kerudung itu nggak?" tanyaku, kembali ke tujuan awalku datang ke ruangannya. Raja menoleh dan menatapku dengan kening berkerut. "Yang mana? Dokter perempuan di sini yang pake kerudung banyak." Iya juga, ya. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Aku pun berusaha mengingat-ingat wajahnya. "Dia cantik banget, kulitnya putih mulus, matanya besar dan bening, senyumnya manis. Pokoknya dia gadis paling sempurna yang pernah gue liat." Senyumku mengembang ketika bayangan wajahnya muncul di kepalaku. Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Hingga beberapa detik kemudian, aku merasakan sesuatu menyentuh keningku. "Lo sehat kan, ka? Kalo enggak, gue bisa panggilin temen gue yang jadi psikiater," celetuk adikku yang entah kapan sudah ada di depanku. Ternyata punggung tangannya menempel di dahi. "Sialan!" Aku menepis lengannya dengan kasar, lalu menatapnya kesal. "Lo pikir gue gila?" Adikku tertawa. "Ya mungkin aja, kan? Lagian mana ada player kelas kakap kayak lo tiba-tiba bisa tertarik sama perempuan berhijab, bahkan sampai senyam-senyum sendiri kayak orang gila?" "Gue nggak gila!" geramku, jengkel. "Gue masih waras, sehat, dan sentosa. Puas lo?!" "Terus gimana caranya lo bisa tertarik sama perempuan berhijab?" Aku menghela napas. "Gue sendiri juga nggak tau. Yang jelas, dia benar-benar bikin gue penasaran." Mataku menatap lurus ke depan, tapi fokus pandangan dan pikiranku tidak di sana. "Mau gue bantu cari tau soal dia?" tawar Kevin, tiba-tiba. Mataku memicing curiga. "Serius lo?" Dia mengangguk. "Ya, tapi ada syaratnya." "Apa?" tanyaku dengan semangat. "Lo nggak boleh mainin dia kayak lo mainin semua perempuan yang pernah dekat sama lo," jawabnya, tegas. "Deal?" Aku berpikir sejenak. Selama beberapa bulan terakhir ini, aku memang sengaja tidak mendekati perempuan mana pun untuk ku jadikan pacar atau hanya sekedar teman kencan. Bukan karena tidak mau. Tapi seperti yang aku bilang beberapa menit yang lalu, aku ingin keluar dari kehidupanku yang dulu. Dan salah satunya adalah dengan berhenti mendekati perempuan tidak jelas yang justru selama ini selalu kujadikan patokan sebagai pacar atau teman kencan. Aku ingin sekali menjalin hubungan yang serius, kalau bisa hingga ke jenjang pernikahan. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan orang yang tepat. Kriteria gadis idamanku sebenarnya tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin mendapatkan gadis yang tidak suka keluyuran malam-malam ke tempat-tempat tak jelas seperti pub, bar, diskotik, dan klub. Intinya, aku ingin mendapatkan gadis yang baik. Aku akui, aku memang bukan lelaki suci tanpa noda. Tapi bukankah sebrengsek-brengseknya seorang lelaki, dia tetap menginginkan gadis baik-baik untuk dijadikan istri dan ibu bagi anak-anaknya? Hal itu juga berlaku bagiku. Aku tersenyum miring dan menjawab, "Deal." "Ada apa ini?" tiba-tiba mama menyela pembicaraan kami berdua. "Itu mah... Mmm..." aku mengedipkan mata kasih tanda ke adikku. "It's ok. Mama paham." Mama langsung duduk di sofa. "Mah, aku pergi dulu, aku ada janji dengan Yohanes, mama pulang sama Raja ya!" titahku. Mama hanya mengangguk, dan adikku tersenyum kecut. "Jangan lama-lama ka, keburu diambil orang tuh!" ejeknya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN