Pertemuan Pertama

1301 Kata
Sebuah mobil melaju dengan kencang menabrak sebuah mobil dan satu mobil terperosok ke dalam bangunan yang belum selesai. "Tolong!!" Jerit suara wanita Suara itu terdengar ada 3 kali hingga ada seorang bapak tua yang bingung akan membantunya bagaimana. "Tunggu nak, bapak akan telpon bantuan untukmu, tahan sebentar ya!" pesannya dan wanita itu mengangguk. Bapak tua itu menelpon regu penyelamat, tak lama 10 menit kemudian datanglah regu penyelamat. Satu laki-laki turun ke bawah dengan memakai tali di badannya dan membawa tali di tangannya. Lelaki itu melihat ada wanita di dalam nya. "Bisakah kau membuka pintunya?" tanya Daniel, wanita itu menatapnya lalu menggelengkan kepalanya. Daniel mencoba membuka pintu mobil yang akan terjatuh itu, namun ia mendengar bunyi suara mobil bergerak seperti akan terjun ke bawah. Tak lama kemudian, akhirnya Daniel pun berhasil membuka pintu mobil yang terkunci dan mencoba menenangkan wanita yang bernama Indah agar tidak lagi merasa ketakutan. 'Gila, dia sangat cantik' batin Daniel. Lalu Daniel mendekati wanita itu. "Tatap mataku, kamu tidak usah takut!" ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya. Wanita itu mengangguk dan berkata. "Aww!! Rokku tersangkut," teriak wanita itu. Breeek (suara rok yang menyangkut ke kursi mobil). "Tatap mataku! Tenanglah aku akan menolongmu!" Daniel mengulurkan tangannya. Wanita itu gelisah dengan roknya yang robek, lalu Daniel malah menatap ke arah rok yang sudah dalam keadaan robek tersebut penuh decak kagum di kedalaman hati. "Kau melihatnya, dasar pria menyebalkan!!" maki wanita itu. "Cih, kau kira aku suka. Nih pake jaketku!!" elak Daniel seraya melepaskan jaket yang dikenakannya, melemparkannya ke arah Indah. Wanita itu langsung memakai jaket yang diberikan oleh Daniel tanpa mengucapkan terima kasih. Lalu Daniel memakaikan tali penyelamat ke pinggang wanita yang sempat mengatainya. Lagi, terdengar suara mobil yang perlahan-lahan bergeser. "Cepatlah, pegang tanganku dengan erat!" perintah Daniel, wanita itu memeluk erat Daniel dan mobilnya jatuh terhempas ke bawah. "Yohanes, tarik ke atas aku siap!" teriak Daniel pada temannya yang berada di atas. Tali pun segera ditarik ke atas dan mereka pun berhasil menyelamatkan wanita itu. Wanita tadi dimasukkan kedalam mobil ambulans, dan didata sama petugas ambulans. Daniel mendekati wanita itu untuk memberikan segelas kopi agar dapat menenangkan pikiran Indah yang sempat panik karena takut jatuh bersama mobilnya ke dalam jurang. "Minumlah!" Wanita itu mengambil tanpa berterima kasih, membuat Daniel merasa kesal dan mereka malah berselisih paham. Tak lama kemudian, mobil ambulans itu pun mulai melaju meninggalkan pelataran tempat tersebut. *** "Menyingkirlah, jangan kau ganggu nyonya kim!" Teriak petugas ambulans. Sementara itu Daniel sedang merapikan mobil dan peralatan di dalamnya. Setelah selesai, ia pun meneguk kopi yang telah ia buat, lalu mendekati sahabatnya. "Aku akan mendekatinya!" celetuk Daniel penuh percaya diri hingga membuat Yohanes kaget sampai terbatuk. "Uhuk... Uhuk." "Apa kau yakin?" tanya Yohanes sembari mengerlingkan sebelah alisnya. "Ya, aku yakin!" jawabannya dengan tenang dan tersenyum miring. "Ok, good luck, friend!" POV DANIEL Aku harus mendapatkan wanita itu, senyumannya, matanya sangat indah. Ah, sial kenapa aku memikirkannya. Aku harus mendapatkannya, dia sangat cantik, dia pasti kembali mencariku. "Hahahaha, kau memikirkan wanita itu teman!" ejek sahabatku, Yohanes. Aku tersenyum kecut begitu ketahuan sedang memikirkan wanita itu. Setelah ambulans itu pergi, mobil regu penyelamat pun pergi, dan aku berada di dalamnya. Saat aku berada di kantor regu penyelamat, lagi-lagi aku teringat tentangnya. "Haha, wanita itu tidak tahu terima kasih, dia tidak mengucapkan terima kasih sama sekali sobat!" ejek temanku yang mendapati aku sangat terkesan dengan pertemuan pertama kita. "Tunggu saja, dia pasti kembali. Dia 'kan memakai jaketku dan tasnya masih ada padaku," ucapku tersenyum santai. "Jangan mimpi kau teman!! Hahaha…" jawab Yohanes yang menertawakan aku. "Kau tahu 'kan kalau wanita itu sangat cantik, ketika dia menatap mataku, aku melihat matanya sangat indah." "Ya, wanita itu sangat cantik." puji Yohanes. "Sayang, dia tidak tahu terima kasih" lanjutnya yang mengeluh. Aku tersenyum "Hahahaha aku rasa, aku sudah jatuh hati padanya," ucapku dengan lirih. "Aku mengetahuinya, jangan terlalu berharap, teman!!" saran temanku. "Hai, Sobat, ini telpon untukmu!" Teriak temanku yang lain dari jauh, yang menunjuk pada Yohanes yang bawel itu. "Kau lihat dan contohlah aku sobat, wanitaku menelepon terus!" bangga Yohanes sembari menepuk pundakku dan berlalu pergi menerima telepon dari kekasihnya. "Haha, Hyung kau kapan diresmikannya, berpacaran terus kau!" ejekku sambil berdecih kesal. "Kejarlah wanita itu, jika kau laki-laki!" Teriak temanku yang lain dari jauh. Aku tertunduk, dan terus meyakinkan hati bahwa aku harus membuktikan pada mereka, aku pasti akan mendapatkannya. "Aku pulang!" pamitku yang sudah sangat merasa lelah. "Kenalkan wanitamu padaku, oke!" ucap Yohanes sebelum aku berlalu pergi. Aku hanya tersenyum miring mendengar perkataannya yang seolah meremehkanku. *** Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan tubuhku di atas permukaan kasur. Begitu matahari telah naik ke permukaan dan menyinari bumi, tak lama kemudian teriakan ibu memanggilku. "Daniel waktunya bangun karena kamu harus pergi bekerja!" "Daniel Wijaya, kapan kamu akan menikah?" tanya Ibu membuatku frustasi. Setiap hari menanyakan kapan nikah dan kapan nikah. Aku hanya memilih diam tidak menanggapi pertanyaan ibu. Karena sudah sering berujung pertengkaran. Perlahan kutelan roti sandwich yang tersangkut di tenggorokan. Ku sesap air putih perlahan hingga tandas. Kutinggalkan makanan buatan ibu yang kini sisa separuh piring. Rasanya aku sudah sangat kenyang. Kenyang ditanya kapan nikah maksudnya. "Daniel Wijaya! Kamu makin lama makin tidak sopan sama orangtua!" teriak ibu lagi membuatku menghentikan langkah. "Ibu, aku akan nikah bila bertemu wanita yang tepat!" tegasku. Singkat padat dan jelas. Aku berlalu mengambil kunci mobil di atas rak sepatu dan pergi ke kantor. Aku belum menikah bukan karena tidak laku. Perawakan sedang. Mata tidak terlalu bulat, namun tidak juga sipit. Manik coklat di dalamnya membuat mata ini indah sempurna. Hidung bangir meski tidak sebangir orang arab, rambut lurus di cukur cepak, membuatku banyak digandrungi wanita-wanita cantik di luaran sana. Dulu posisiku sebagai General Manager di sebuah perusahaan properti swasta membuatku jarang bisa bergaul dan mencari pendamping hidup yang sesuai dengan kriteria wanita idamanku. Aku lebih menyukai pekerjaanku sekarang ini menjadi regu penyelamat, walaupun penghasilan tidak seberapa aku menyukainya. Meski sesungguhnya banyak wanita yang mengincar, tidak hanya gadis remaja, gadis dewasa yang seumuran bahkan janda kembang pun banyak yang mendekatiku. Meski penampilan mereka modis, bersih dan hampir mendekati sempurna, tapi tidak ada yang bertahan lama denganku. Ada yang hanya mengincar harta, ada yang tidak sanggup dengan semua aturan dan kedisiplinanku. Hidup yang aku jalani itu harus semua tertata rapi. Segala sesuatunya harus sempurna. Tidak hanya rumah yang harus selalu bersih higienis. Tapi setrikaan baju juga harus rapi dan tidak ada lipatan. Pokoknya tidak boleh kusut sedikit pun. Buku di rak harus tertata rapi. Semua benda yang sudah kusimpan tidak boleh dipindahkan. Aku akan marah besar. Berhenti di lampu merah pandanganku tertuju kepada salah seorang anak perempuan di seberang jalan yang sedang memulung kardus bekas. Tidak terlihat letih di wajahnya. Meski baju yang ia kenakan sudah tidak terlihat rupa, tapi ada kecantikan dalam putri kecil itu. Kulitnya bersih. Hanya kotor karena debu dan kotoran yang menempel dari kardus yang dibawanya. Matanya bulat kecil. Hidungnya pesek. Bulu matanya panjang dan lentik. Alisnya tebal. Lengannya yang kurus bersusah payah membawa kardus yang berat. Entah kenapa dia begitu menarik perhatianku. Setelah lampu jalan berubah hijau kulajukan mobil perlahan menuju kantor. Perlahan bayangan perempuan kecil itu hilang dari balik spion mobil. Aktivitas di kantor seperti biasa. Kadang bosan juga dengan rutinitas yang biasa saja. Aku duduk termenung. Mengingat kembali ocehan ibu tadi di rumah. Aku teringat kembali putri kecil di lampu merah tadi. Kulirik jam dinding. Sudah menunjukkan pukul 20.55. Bisa saja aku pulang sekarang. Toh semua karyawan sudah pulang dari tadi. Tapi, malas kalau harus bertemu ibu lagi. Diceramahi lagi. Kuraih kunci mobil di atas meja. Gegas aku menuju parkiran. Berharap gadis kecil itu masih di sana. Sampai di lampu merah, aku celingak-celinguk mencari putri kecil itu. Tapi tidak terlihat. Ku parkirkan mobil di sebuah parkiran toko tidak jauh dari lampu merah. Dan gadis kecil itu tidak ada, aku kembali ke rumah langsung naik ke kamarku tanpa peduli teriakan ibuku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN