Selamat Membaca
Setelah kesembuhan di telinga Intan, memang tidak mengkhawatirkan. Daniel yang tahu hal itu ketika Intan bicarakan padanya menjadi sangat over protective seperti melindungi putrinya sendiri.
Tembok bercat putih menghiasi dinding ruangan. Aroma khas obat-obatan memenuhi seluruh tempat itu. Terlihat seorang gadis berwajah oriental tertidur pulas dengan selang infus yang membalut tangan kanannya. Secara tiba-tiba tubuhnya jatuh saat bekerja hingga tidak sadarkan diri. Itulah yang menyebabkan dia sekarang berada di ruangan ini.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Daniel dengan suara parau pada Dokter Agnes yang mengernyitkan alisnya.
"Saat ini, saya masih mencari tahu penyebab kenapa putri Ibu bisa pingsan. Saya akan menindaklanjuti proses pengecekan seluruh tubuh agar bisa memastikan penyakit yang diderita putri tuan." Sentuhan lembut Daniel di saat dokter itu menjelaskan kondisi putrinya.
Intan yang kini terbaring lemah di ruang IGD. Gadis yang akrab disapa Intan itu baru berusia 6 tahun. Saat ini, dia masih belum sadar. Bukan kali pertama Intan masuk rumah sakit. Pasalnya selama ini hidupnya tidak pernah terlepas dari hal-hal yang berhubungan dengan rumah sakit.
Daniel dengan sabar menemani putri semata wayangnya Dokter Indah. Dia segera ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Dokter Indah dan menjelaskan kalau putrinya mendadak pingsan dan memintanya menemani Intan. Rasa cemas terus menggerogoti hatinya. Dia khawatir akan kondisi sang putri. Bahkan sampai saat ini belum tahu kenapa Intan tidak sadarkan diri.
"Ada apa lagi, Sayang? Apa yang kamu rasakan sekarang? OM mohon cepatlah sadar." Daniel mengajak putrinya berbicara sambil mengusap lembut tangannya.
Perlahan jemari tangan Intan bergerak. Daniel merasakan gerakan tangan Intan. Pandangan wanita itu tertuju pada wajah Intan. Terlihat sedikit demi sedikit, Intan membuka kelopak mata. Menyadari hal itu, Daniel segera memanggil dokter untuk memeriksa kembali kondisi Intan.
Hawa dingin menelusup ke celah pori-pori tubuh wanita yang masih tetap cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda. Walaupun begitu, keringat dingin mengucur perlahan di dahi dan leher. Intan khawatir terus saja menyiksa batin wanita paruh baya itu. Rona pucat dengan bibir yang terus merapalkan asma Allah jelas nampak menghiasi wajah sang ibunda dan Daniel.
Dengan teliti dokter memeriksa tubuh Intan sambil sesekali bertanya kepada gadis itu. Daniel hanya menyaksikan apa yang dokter indah lakukan kepada Intan. Kedua tangan meremas baju yang dikenakannya, jelas sekali bahwa dirinya gelisah.
"Daniel , silakan ikut ke ruangan saya sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan." Dokter Indah mempersilakan Daniel untuk mengikutinya dari belakang.
"Baik, Dok," jawab Daniel singkat sambil melangkah keluar.
Sebelum meninggalkan ruangan IGD, Daniel meminta suster untuk menemani Intan . Tidak lama kemudian, dia sudah berada di ruang dokter Indah yang menangani Intan.
"Begini,Daniel ...." Helaaan deru napas berat terdengar. Dokter Indah menjeda perkataannya semakin membuat Daniel penasaran sekaligus cemas.
"Cepat katakan ada apa, Dok? Bagaimana kondisi putrimu ?" Daniel memandangi wajah sang dokter dengan sorot mata tajam, gelagatnya terlihat panik dan cemas.
"Baik, akan saya jelaskan, tapi Ibu jangan kaget ya," pinta dokter Indah dengan sorot mata teduh menatap wajah Daniel , tetapi terlihat serius. Melihat ekspresi sang dokter membuat wanita itu yakin bahwa ada sesuatu yang menimpa putrinya.
"Ya, Dok, insyaAllah saya siap mendengarkan semua penjelasan bu Dokter." Daniel menutupi rasa gugupnya dengan terus merapalkan doa dalam hati, berharap kabar yang didengarnya tidak seburuk apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Jadi begini, Bu. Setelah saya melakukan pemeriksaan dan mendengar jawaban putriku. Ada beberapa tanda-tanda penyakit yang selama ini dirasakan putriku, seperti cepat merasa lelah, kram otot, mata dan kaki bengkak, sesak napas hingga menyebabkan sulit tidur, dan juga nafsu makan berkurang. Gejala-gejala tersebut mengarah kepada penyakit yang sangat mengkhawatirkan. Apa akhir-akhir ini Ibu melihat ada yang aneh dengan putriku?" Penjelasan panjang lebar dari dokter Indah yang sedikit menarik nafas.
"Ehmm ... ada Dok, saya baru ingat kalau sudah hampir seminggu ini Intan makan lebih sedikit dari biasanya dan juga lebih sering buang air kecil. Padahal Intan suka makan banyak bahkan sampai nambah." Daniel mencoba mengingat kejadian seminggu yang lalu.
"Oh, begitu. Selama ini anakku pernah cerita nggak, kalau sesekali ketika buang air kecil suka mengeluarkan darah?" Dokter Indah bertanya kembali menatap Daniel.
"Tidak, Dok, Intan tidak bilang apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Intan , Dok? Kenapa tiba-tiba dia pingsan?" Sederet pertanyaan diucapkan Daniel.
Lagi-lagi sorot mata dokter Indah menyiratkan ada sesuatu yang salah dengan putri semata wayangnya. Terdengar deru napas berat di telinga. Dokter itu kembali menghela napas.
Ya Allah apalagi ujian yang menimpa putrimu bu Dokter ? Daniel tidak sanggup jika melihatnya menderita untuk kesekian kalinya. Jeritan suara batin Daniel menahan beban dan ujian yang harus dipikulnya.
“APA! Mana mungkin, Dok? Saya tidak percaya Intan bisa kena penyakit ini!" Daniel setengah berteriak karena terkejut dengan kabar yang baru didengarnya.
"Benar, Daniel , putriku saat ini mengidap penyakit gagal ginjal stadium empat." Dokter Indah berusaha menjelaskan dengan suara pelan.
"Ya Allah, apa yang harus saya lakukan, Dok? Tolong sembuhkan dia, Dok, saya mohon," kata Daniel dengan suara pelan karena menahan tangisan.
Dokter memvonis penyakit gagal ginjal stadium empat. Penyakit yang sungguh tidak dibayangkan Daniel bisa terjangkit oleh putri Dokter Indah satu-satunya. Perasaan kalut dan sedih menghinggapi hati dan pikiran. Bingung, bagaimana nasib Intan nanti.
"Jadi, sekarang yang harus segera dilakukan ialah cuci darah. Lalu untuk menyembuhkan anakku, satu-satunya cara dengan operasi transplantasi ginjal. Saya harus menemukan ginjal yang cocok untuk dicangkok kepada putriku" Dengan berat hati dokter itu menjelaskan solusi agar Intan bisa sembuh.
Dunia seakan runtuh, awan gelap seolah-olah menyelimuti seluruh langit. Bagi Daniel kabar menyedihkan ini membuat dirinya terguncang. Kaki terasa sudah tidak mampu menapak ke bumi, bagaikan melayang sudah tubuhnya.
Daniel keluar dari ruang dokter Indah dengan langkah gontai. Hatinya di penuhi oleh perasaan bersalah sekaligus cemas. Dia merasa tidak mampu menjadi ayah atau paman yang baik, tidak mampu menjaga gadis malang itu. Saat ini dalam benaknya, dia harus kuat dan tegar agar Intan tidak merasa takut. Namun, bagaimana dia bisa menjelaskan penyakit itu kepada putrinya dokter Indah. Sungguh dilema.
Daniel ingin menceritakan masalah ini dengan kepada sahabatnya Yohanes, tetapi dirinya tidak mempunyai keberanian. Dalam suasana hati yang sedang kacau, pria tampan itu terduduk lemas di depan ruang resepsionis. Pikirannya saat ini ingin menghubungi sahabatnya, dikeluarkanlah ponsel dari saku celana yang dikenakannya, menekan tombol hijau di benda pipih itu.
Dia pun menghubungi sahabatnya. Suara isakan tangis terdengar ketika Daniel menyampaikan kondisi Intan. Setelah selesai pembicaraan dari sambungan telepon itu, Daniel menghapus jejak air mata yang menetes di pipi. Sambil menunggu sahabatnya datang ke rumah sakit, dia pun berlalu menuju tempat yang bisa membuatnya tenang.
Sebelum masuk ke ruang IGD, tempat Intan dirawat. Daniel berjalan menuju musala rumah sakit. Dia ingin mengeluhkan segala gundah hatinya kepada Sang Pencipta. Pria tampan ingin bersimpuh dan berdoa agar Allah memberinya ketenangan hati, agar dia mampu menjalani ujian ini, juga berdoa agar diberikan jalan keluar dan kesembuhan atas penyakit yang diderita Intan.
Setelah merasa tenang, Daniel segera menghampiri Intan. Dia tidak bisa menutupi penyakit itu, Intan harus tahu. Sesampainya di ruang IGD, terlihat gadis itu tertidur pulas, wajahnya pucat. Suster pun pamit karena harus memberitahu kondisi Intan kepada Dokter Indah atasan tempat mereka bekerja.
Daniel memegang tangan dan mengusap lembut pipi calon putrinya. Tak terasa, buliran bening jatuh dari kedua mata. Tangisan pilu tidak mampu dibendung lagi, luruh sudah ketahanan hati Daniel. Daniel kembali berurai air mata.
Bersambung