Selamat Membaca
"Mamaaa ... Intan berangkat dulu ya." *Langkah* kakinya cepat menerobos ruang makan, bibir mungilnya mengecup kedua pipi mama, kemudian melesat ke luar.
Indah hanya menggeleng melihat kelakuan anak gadisnya. Eh, usia enam tahun sudah bisa dibilang gadis belum ya.
Intan Aurelia , satu-satunya anak perempuan ayah yang meninggalkannya tinggal di luar negeri dan mama yang selalu berusaha membuatnya bahagia.
Seperti biasa, setiap Sabtu dan Minggu pagi gadis berkulit putih itu akan belajar renang dengan Raya , kakak pelatih kesayangannya. Raya pelatih yang mengajarkan gadis kecil itu les berenang, sudah bisa mengajari beberapa gerakan renang.
"Kak Raya, tadi Indah hampir tenggelam, kok gak ditolongin sih," seru gadis manis itu sambil cemberut. Kedua kakinya dihentak kesal.
"Kapan? Kakak gak ngeh kamu hampir tenggelam," jawab Kak Raya dengan tampang tak berdosa. Jawaban kakaknya membuat bibir Intan semakin maju. Raya tergelak melihat wajah gadis kecil itu.
"Kakak jahat." Intan memukul-mukul lengan Raya. Hatinya sangat kesal melihat reaksi kakak pelatihnya.
"Iya deh, kakak minta maaf. Intan gak kenapa-kenapa 'kan?" ucap remaja delapan belas tahun itu lembut, berharap Intan tak lagi merajuk.
"Iya, untung tadi Intan bisa langsung pegangan sama tali di kolam." Gadis kecil itu duduk di samping kakaknya. Dia merapikan jilbab renangnya sambil beberapa kali memegang telinga.
"Awas, tuh rambut sama telinganya kelihatan." Raya mengingatkan.
"Telingaku sakit kak, kayaknya kemasukan air deh," serunya sambil memiringkan telinga kanannya dan mengetuk-ngetuk kepalanya.
Raya merasa bersalah dan khawatir. Dia segera menyuruh Intan membersihkan diri dan berganti pakaian. Remaja itu berpikir untuk bisa segera memeriksa telinga Intan nanti di rumah. Jika memeriksa di kolam renang, harus membuka jilbabnya, Intan itu pasti tidak mau.
Selesai berganti pakaian, keduanya jalan pulang. Sesuai kesepakatan dengan mamanya, setiap selesai berenang mereka akan pulang ke rumah nenek, yang hanya berjarak 500 meter dari kolam renang.
"Assalamualaikum ... Neneeek." Intan menerobos pintu dan mencari keberadaan nenek kesayangannya. Tak butuh waktu lama, gadis berjilbab itu menemukan nenek di dapur sedang memasak. Wangi ayam goreng menguar, membuat Intan dan Raya semakin lapar.
Selesai makan, Intan dan Raya itu asyik bermain gawai. Maklum saja, mama hanya mengijinkan mereka bermain gawai di hari Sabtu Minggu, itu pun hanya boleh dua jam di siang hari dan dua jam dimalam hari. Jika mereka berani melanggar peraturan, suara menggelegar mama bisa terdengar hingga membuat pusing kepala.
Asyik bermain membuat Raya lupa mengecek telinga Intan . Sedangkan Intan sendiri tampaknya lupa juga dengan keluhannya. Hanya sesekali dia memiringkan kepalanya ke arah kanan.
Sayangnya persangkaan Raya meleset. Kondisi Intan tidak sebaik yang terlihat. Malam itu gadis kecil itu tidur dengan tidak tenang. Beberapa kali terbangun karena telinga kanannya terasa berdengung. Ingin sekali memeluk mama, tetapi malam ini Intan menginap di rumah nenek. Sepanjang malam dia hanya bisa mengetuk-ngetuk dan memiringkan kepalanya agar suara berdengung itu hilang, hingga akhirnya tertidur karena lelah.
"Mama, telinga sebelah kananku sakit," ucap Intan saat esok harinya mama menjemput.
Dokter Indah memeriksa telinga Intan , tetapi tidak menemukan binatang atau kotoran. Indah meminta anak perempuannya itu menutup rapat telinga dengan telapak tangan selama beberapa menit dan saat dibuka, langsung memiringkan kepala. Intan mengikuti perintah Indah . Beberapa kali dia melakukan hal itu, bergantian telinga kanan dan kiri. Kata Indah , hal itu bisa menekan udara dalam telinga dan membuat telinga terasa lebih baik. Hal itu juga bisa mengeluarkan air yang masuk ke dalam telinga.
Mama juga segera membersihkan telinga gadis kecilnya dengan korek kuping. Mama berpikir, karena berenang kemarin mungkin ada air yang masuk ke telinga atau telinga anak perempuannya itu kotor. Setelah beberapa saat, dengung di telinga Intan hilang. Keduanya merasa lega.
Beberapa hari setelah itu, Intan merasakan dengung kembali di telinga kanan. Dengung ini lebih sering muncul daripada pasca renang bersama Kak Raya. Tak hanya itu, bersamaan dengan munculnya dengung, gadis kecil itu merasakan kepalanya sakit. Gadis itu mencari mamanya untuk memberitahu apa yang dirasakan.
"Mama ...." Kalimat Intan tertahan melihat wajah Intan yang pucat.
"Mbah masuk ICU." Suara Dokter Indah terdengar parau. Mata Indah juga berkaca-kaca. Intan melihat mamanya berpakaian rapi dan pergi, setelah pamit akan ke rumah sakit, melihat kondisi mbah. Mbah adalah bapaknya Dokter Indah. Menurut cerita bunda, mbah sakit diabetes. Penyakit diabetes katanya tak bisa disembuhkan dan bisa membuat sakit organ tubuh lain. Ih, serem banget penyakit itu, pikir gadis berwajah oval itu saat dijelaskan Indah.
Malam itu Indah dan Intan tidak bisa tidur. indah tak bisa tidur memikirkan kondisi mbah, sedangkan Intan tak bisa tidur karena terganggu dengan dengung yang hilang timbul di telinga kanannya. Beberapa kali gadis itu ingin memberi tahu mamanya, tetapi melihat kegelisahan Indah, dia urungkan niatnya. Indah yang sedang panik, tak menyadari di sampingnya, anak perempuan kesayangan beberapa kali meringis menahan sakit.
Hingga berminggu-minggu Indah disibukkan bolak balik rumah sakit untuk menengok sekaligus mengantarkan keperluan Mbah. Indah bercerita, Mbah harus rutin cuci darah seminggu dua kali karena ginjalnya sudah rusak. Intan baru tahu darah bisa dicuci. Kira-kira dicuci pakai mesin atau tangan ya. Sabun yang dipakai buat cuci darah seperti apa ya. Sayangnya bunda terlalu sibuk untuk menjelaskan lebih lanjut. Padahal gadis kecil itu penasaran.
Telinga Intan masih sesekali berdengung. Namun, gadis itu mulai membiasakan diri dengan dengung yang hilang timbul. Dia tak tega bercerita kepada bunda. Pikiran mamanya saat ini sudah terkuras untuk Mbah. Gadis kecil itu tak tega menambah beban pikiran ayah dan bunda. Lagipula dengung dan sakit kepala itu tak sering muncul, pikir Intan.
Siang itu Raya, mengajak bermain kuda bisik. Lima orang berbaris, bersiap menerima bisikan dari orang di depannya. Raya, Intah, Arin , Ara, Amita berbaris berurutan. Raya membisikkan pesan ke Ara, Ara melanjutkan ke Arin. Setelah mendengar pesan dari Ara, Arin membisikkan pesan ke telinga Intan.
"Udah sana, kasih tahu Intan." Tepukan Arin dibahu mengejutkan Intan . Gadis itu terpaku dengan wajah bingung, karena dia belum mendengar apapun. Dia memandang Arin, sepupunya dengan heran.
"Kamu belum bisikin pesannya," ujarnya kepada Arin.
"Ih, udah kok. Udah aku bisikin, jelas banget malah," seru Arin sambil melotot. Dia tak terima dituduh belum melaksanakan tugasnya.
"Tapi aku belum denger apa-apa," sahut Intan lagi, wajahnya terlihat bingung.
"Aduh terus gimana dong, Intan gak dibisikin dong." Ara, anak enam tahun itu mulai merengek.
"Udah, ulang lagi aja bisikin, cepet," usul Raya.
"Gak boleh, 'kan peraturannya yang gak bisa teruskan pesan dengan benar berarti kalah dan dihukum," sahut Arin tidak terima.
"Tapi Indah belum denger apa-apa, gimana mau teruskan pesan." Kakak perempuan Arin itu menghentakkan kaki ke lantai dengan kesal
"Ih curang," ejek Arin. Intan semakin kesal dan marah. Dia berlari ke kamar dan membanting pintu.
Di dalam kamar, Intan berpikir, kenapa dia tak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Arin. Apakah Arin iseng mengerjainya atau telinga kanannya sudah tuli. Gadis kecil itu menggeleng, menepis rasa takut menjadi tuli.
'Selama ini aku bisa mendengar. Jika dipanggil mama atau siapapun aku mendengar. Hanya tadi saja aku tak dengar, saat Arin berbisik ke telinga kanan.' Kegelisahan memenuhi pikiran gadis itu.
"Mama, telinga kanan Intan tidak bisa mendengar." Sore hari saat bunda mengepang rambutnya, gadis manis itu menceritakan keluhannya.
"Masa sih?" tanya mama sambil terus mengepang rambut Intan.
Intan kemudian bercerita kejadian siang tadi saat bermain kuda bisik. Indah coba berbisik ke telinga kiri anak perempuan satu-satunya itu. Gadis itu bisa mendengar bunda berbisik 'i love you'. Setelah itu, bunda berbisik ke telinga kanan Intan. Namun, gadis tak mendengar apapun.
" intan dengar tidak?" tanya mama.
"Telinga kiri dengar, mama bilang i love you. Tapi telinga kanan Intan gak denger apa-apa," jawab gadis kecil tersebut.
Mama memandang anak perempuannya dengan heran.
"Sini, mama tiup telinga kanannya." Usai bicara begitu, bunda meniup lubang telinga kanan Intan. Intan memandang mamanya dengan bingung. Gadis itu tidak bisa merasakan tiupan di telinga kanannya.
Bersambung