Selamat Membaca
Setelah mengantarkan Intan ke sekolahnya, Dokter Indah langsung meluncur ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, memarkirkan mobilnya, dan berjalan menuju ruangannya. Dokter Indah dengan ramah selalu tersenyum setiap suster atau Dokter lain yang menyukainya. Saat itu di IGD datang korban luka tusuk dari ambulans yang datang, dengan sigap Dokter Indah menanganinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Indah untuk meminta persetujuan tindakan medis kepada bapak dari pasien luka tusuk. Bapak itu langsung menyetujui secara lisan. Formalitas selanjutnya ditangani bagian administrasi IGD.
Ketika masuk kembali, Indah melihat konsulennya sudah berdiri mengamati layar monitor. Sementara Raja menoleh ke arahnya, meminta kabar.
"Bapaknya setuju, Kak," lapor Indah .
Raja segera menyuntikkan obat anestesi lokal, ke bagian d**a kiri pasien, setelah sebelumnya menjelaskan prosedur secara singkat kepada pasien tersebut.
Suara Indah membuat konsulennya, Dokter Angga, Sp.An menoleh. "Dokter Indah , ya? Bimbingan saya ini, Doktor Raja , serahkan tindakan ke dokter Indah ."
Raja tertegun, sedangkan Indah langsung sumringah. Senyum gadis itu melebar di balik masker. Mau tak mau, Raja manut pada perintah dokter seniornya. Ia terpaksa mundur, membiarkan saudara tirinya menggantikan posisi.
"Tolong ajari Indah , ya,Raja. Abis itu, langsung antar pasien ke Oka. Cito op! Saya tunggu segera!" Usai berkata demikian, Dokter Angga menepuk bahu Raja.
Spesialis anestesi seganteng idol Cha itu pergi setelah memberikan instruksi kepada perawat untuk memberi terapi cairan infus pro transfusi serta pengambilan sampel darah agar bisa dicek di laboratorium.
Raja tidak banyak bicara. Ia memberi isyarat agar indah segera beraksi.
Sambil berdoa dalam hati, Herlin mulai melakukan prosedur needle thoracentesis. Raja hanya diam mengamati. Indah menusukkan jarum tanpa ragu ke bagian d**a, tepatnya pada tulang rusuk kedua, lurus dari pertengahan tulang selangka. Mengalirlah sedikit darah, disusul suara desahan halus udara keluar dari lubang jarum IV Cath.
Perlahan, sesak napas pasien berkurang dan ekspresinya terlihat tak begitu tersiksa lagi. Oksimeter berangsur menunjukkan perubahan saturasi oksigen hingga mencapai stabil di angka 99%.
Perawat menekan tombol pemeriksaan tekanan darah pada monitor. Terbaca angka 90/60 mmHg. Mata Indah berbinar-binar haru. Lantas, dirabanya nadi pasien.
"Sudah terasa denyut nadinya, Kak."
"Em." Raja mengangguk, lalu memanggil pasien. "Mat, gimana rasanya? Udah enakan bernapas?"
Pasien bernama Amat itu mengangguk pelan. "Sekarang lebih nyaman, Dok. Makasih."
"Dok, hasil cek lab HB pasien 6, drop banget," lapor perawat. "Denyut jantung takikardia. Masih cepat."
Raja mengamati wajah pucat Amat, serta bibirnya yang mulai sianosis, meski nafasnya stabil. "Kondisi kritisnya belum lewat. Sebentar, saya konsul ke dokter bedah dulu," ucap Raja, formil. Gegas ia menelepon spesialis bedah dan menerima beberapa instruksi.
"Siapkan chest tube!" serunya setelah menutup telepon.
Perawat cepat tanggap menyiapkan alat yang diperlukan untuk pemasangan chest tube. Indah pernah membaca, menonton video tutorial, dan mempraktikkan teknik itu di lab, tapi baru kali ini ia menyaksikan secara live.
Ia melihat Raja menjelaskan secara lembut, perlahan, dan dengan kalimat sederhana, kepada pasien terkait prosedur yang mesti dilaksanakan untuk mengeluarkan cairan di selaput paru. Jika cairan tersebut tidak dikeluarkan, paru-paru akan kembali sulit kembang-kempis dan nafas tambah sesak. Prosedur tersebut bukannya tanpa resiko. Namun, Raja berjanji akan berhati-hati. Pasien mengizinkan tindakan lewat anggukan pasrah.
Indah tidak bisa tidak mengagumi gaya bicara mantannya itu Raja betul-betul jauh berubah. Dulu, gaya cuek dan agak dingin pemuda itu, sudah bikin Indah bucin setengah mati. Apalagi sekarang ....
Wanita itu ingin sekali lari atau minimal memejamkan mata. Sayang sekali, itu tidak mungkin. Bodoh jika ia menyia-nyiakan ilmu hanya karena baper. Uh, tapi susah sekali tidak baper dalam kondisi begini. Batinnya berkeras meneriakkan nama dr Daniel sambil menampar kepala sendiri secara imajiner.
Istighfar, Indah ! Kamu calon istri kak Daniel ! Berhentilah mengagumi dokter Raja!
Beberapa perawat magang dan koas yang sudah free, datang berdesakan menonton prosedur pemasangan chest tube. Indah melirik sebal ke arah Agnes dan Rania yang tahu-tahu sudah nyempil di antara penonton.
Sorot mata dua gadis gokil itu ke arah Raja sudah cukup meyakinkan Indah , bahwa yang terpukau di sini bukan hanya dirinya. Pandangannya menyapu ke arah perawat magang yang menemaninya dan seorang internship wanita berparas oriental. Mereka sebelas dua belas dengan Agnes dan Rania . Bukannya memperhatikan tindakan, mereka malah mengunci pandangan ke arah wajah dan postur atletis Raja yang tercetak sempurna.
Indah jadi frustasi dan ingin membanting kursi.
"Indah !"
"I-iya, Kak?"
"Ayo maju. Kamu asisten saya. Jelaskan prosedur chest tube. Saya harus ngapain ini?" Raja berbicara sambil mengoleskan betadin untuk mendesinfeksi area kulit di d**a kiri pasien. Lantas, ia menyayat daerah tersebut dengan bisturi, setelah memberikan tambahan anestesi lokal ke area tersebut.
Wanita itu melangkah mendekat, penuh semangat. "Buat sayatan di kulit, sekitar 2-3 cm, perlebar dengan klem kelly, untuk mengakses rongga selaput paru," jawab Indah antusias, selancar jalan tol.
"Trus?" Sayatan di kulit pasien terbentuk. Darah mengucur. Sebelum membasahi duk steril yang melingkupi area tersebut, Indah berinisiatif mengeringkannya dengan kasa. Tubuhnya sedikit membungkuk hingga hampir menyentuh hidung Raja.
Raja menahan napas sampai gadis itu menjauh. Astaghfirullah ....
"Cek dengan jari, perlahan dan smooth, apakah sudah bertemu ruang pleura? Adakah massa atau jaringan parut?"
"Oke, I've got it."
"Bisa dimasukin selangnya, Dok."
"Good," gumam Raja. Begitu selang terpasang, darah mengalir cepat melewati selang, meluncur ke tabung yang telah disiapkan. Dalam hitungan menit, tabung berukuran dua liter telah terisi separuh.
"Selanjutnya?"
"Jahit daerah sekitar selang, yang dipastikan kedap udara, Kak."
"Nice."
"Uhuk!" Beberapa batuk kecil terdengar dari para penonton yang mendadak dengki menyaksikan dialog dan adegan dua dokter muda itu. Serasa dunia milik mereka berdua.
Rangkaian pemasangan chest tube diakhiri Raja dengan menutupi daerah penyisipan tabung atau selang, memakai bantalan kain kasa.
"Antar ke ruang operasi!" perintahnya sambil berdiri dan mundur dari pasien. Begitu berbalik, tatapan mata elangnya yang tajam menyapu para penonton. Mereka sontak bubar berdesakan meninggalkan bilik tersebut.
"Kamu ngapain disini, Nes?" tegur Raja pada Agnes , rekan sejawat dokter Indah.
"Cuma kepo." Agnes tertawa sambil mengedipkan mata kiri.
Raja mengernyit, lalu menggeleng tanda putus asa terhadap sikap Agnes yang terkadang absurd. Ia melepas handscoon dan masker, lalu membuangnya ke tong sampah. Tubuhnya mematung sejenak ketika mendengar Agnes menyapa Indah .
"Hai, kamu Indah , kan? Calonnya kak Daniel ? Dia kerabat aku, loh, dari jalur ibu. Nenek kami bersepupu. Ibuku orang Surabaya asli. Nggak nyangka kalo kamu sodaraan ama Raja. Jadi mudah, dong, aku pedekate ke Raja, hihi." dokter Agnes menyodorkan tangan, mengajak salaman.
"Aah, iya, Kak." Indah melepas masker dan sarung tangannya, sebelum menyambut tangan Agnes .
"Aku dan Raja sekelas di SMA, dan satu angkatan di FK. I know you ...." Agnes tersenyum misterius. Sinar matanya berkilat-kilat ganjil.
Terbesit rasa tak nyaman di d**a Indah .
"Kamu pacar Raja, bukan?" tembak Agnes .
Mendadak terdengar suara nyaring disusul denting logam beradu dengan lantai keramik. Dua gadis itu terkejut dan menoleh. Tampak oleh mereka, Raja memegang troli yang nyaris terbalik. Beberapa alat bedah berserakan di sekitar kakinya.
"Em, maaf, kesenggol, gak sengaja," ungkap dokter itu kepada dokter tampan yang keheranan sampai melongo. Paras elok Raja mengekspresikan kegugupan.
"Wah, ada yang bisa diperas ini!" Agnes menyeringai licik. "Kalo kak Daniel dan orang tua kalian tau, apa yang bakal terjadi, ya?"
"Agnes , kamu mau apa?" Tanpa sadar, Raja sedikit membentak.
"Kamu tau apa mau ku." Suara Agnes berubah dingin, mengandung jejak dendam. "Kalo mau rahasia masa lalu kalian terjaga, selamatkan diriku dari tekanan engkong!"
Raja terbelalak. "Nes, kamu tau aku nggak bisa ...."
"Aku bakal ngikutin jalan kamu, Raja kalo kamu mau nikahin aku. Dari dulu, kamu tau perasaanku, kan? Tapi kamu selalu gagal move on dari Indah!" Sepasang mata Agnes berkaca-kaca. Wajahnya menjadi sendu, menunjukkan beban rindu, yang dulu sering ditutupinya dengan sikap ceria.
Indah terkesima. Ada yang mendadak mekar berbunga dalam dadanya, berkeliaran dengan rasa kehilangan benda berharga.
Bersambung