Ajakan Daniel

1233 Kata
Selamat Membaca Setelah kejadian malam itu, Dokter Raja dan Dokter Agnes saling menghindar. Tak jarang dokter Agnes memilih jalan lain ketika berpapasan dengan Dokter Raja. “Indah!” Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata Dokter Raja sedang berjalan ke arahku. “Dokter ? Ada apa?” “Ngobrol di ruanganmu, yuk. Sekalian ngadem.” Aku berjalan beriringan dengannya, sampai di depan UGD aku melihat Dokter Agnes sedang berjalan sambil membaca laporan pasien, terlihat dari map yang dipegangnya. “Dokter Agnes !” Teriakku. Aneh, Dokter Agnes hanya tersenyum dan berbalik arah menghindari kami, biasanya dia akan mendekat dan langsung nempel Dokter Raja tanpa dipanggil sekalipun. “Dia kenapa?” Dokter Raja hanya menaikkan kedua bahunya. “Duduk, Dokter ” perintahku sesampainya di dalam ruangan. “Ah! Segarnya,” “Ada apa, Dokter ? Tumben ngajak ngobrol di jam kerja.” “Pengen, aja. Sudah lama kita gak ngobrol.” “Iya, nih. Aku sibuk banget. Kadang sehari ada beberapa pasien yang harus kubedah.” “Iya, deh.” “hmm... Dokter . Dokter Agnes kenapa, ya? Tumben menghindari kita.” Dokter Raja langsung menegakkan tubuhnya yang tengah bersandar sambil menikmati sejuknya embusan pendingin ruangan. “Dia sudah tahu,” kata Dokter Raja sambil menatapku. “Maksudnya? Tahu apa?” “Tahu tentang kita dan kehidupan kita.” “Ya ampun, Dokter . Bagaimana mungkin?” "Malam itu aku pergi makan malam dengannya, di tengah perjalanan pulang kami dihadang oleh pasukan berbaju hitam, mereka kelompok yang sama dengan yang menyerangmu di rumah tempo hari. Dia melihat semuanya, melihatku berubah." Dokter Raja menceritakan semua kejadian malam itu. Aku menutup mulutku, rasanya tidak percaya bahwa sejauh ini ada orang yang tahu tentang kehidupanku. “Lalu bagaimana, Dokter ?” “Kamu tidak usah khawatir, Ndak. Dia bisa dipercaya.” “Dokter Raja yakin?” Dokter Raja hanya mengangguk dan kembali ke posisi semula, bersandar dan menikmati hawa dingin. “Dokter -- ” “Ibu bagaimana?” lanjutku. “Ibu baik-baik saja.” “Kapan aku bisa bertemu dengan Ibu?” “Untuk saat ini hindari dulu, mereka sedang mengincar keberadaanmu dan Ibu.” Lama kami berdua hanya diam, kulihat Dokter Raja mulai terpejam. Aku meninggalkannya di dalam ruanganku untuk kunjungan bangsal, tidak banyak, hanya beberapa, mungkin jam makan siang kunjungan sudah selesai. Satu persatu pasien sudah di periksa, senang sekali ketika melihat kondisi pasien yang membaik. Senyum mereka merekah, bahkan terkadang keluarga mereka mengucapkan Terima kasih dengan tulus. “Eh,kak Daniel Ada apa?” “Makan Siang, yuk.” “Boleh.” Aku dan kak Daniel berjalan ke arah kafetaria. Karena bersamaan dengan jam makan siang, kafetaria terlihat ramai. Tak hanya dokter dan perawat, tapi juga ada beberapa kerabat pasien yang melakukan rawat inap di rumah sakit ini. “Kenapa? Kok liatinnya kayak gitu?” tanyaku. “Kamu gak suruh aku bayar roti lagi, kan?” “Apa?” “Roti, yang waktu itu --” “Oh, yang itu?” “Iya,” jawab kak Daniel sambil menatapku. “Tenang aja, kak.” “Ok, kalo gitu kamu mau pesan apa?” “Hmm, aku mau soto aja. Minumnya air mineral dingin, ya, Kakak ” Kak Daniel tersenyum sambil mengatupkan jari telunjuk dan jempol mengisyaratkan kata ‘ok'. Aku mencari kursi yang masih kosong, sedangkan kak Daniel memesan makanan. Tak berapa lama pesanan sudah sampai. Aku segera menikmati makananku, sedangkan kak Daniel masih sibuk mengambil tisu dan beberapa cemilan yang ada di rak makanan ringan. “Indah, nanti malam kamu ada acara?” “Hmm, kenapa?” “Aku pengen ngajakin kamu dinner.” Seketika aku teringat kisah Dokter Raja dan Dokter Agnes , lagi pula aku tidak bisa keluar bebas dari rumah sakit ini. Bahaya masih mengintaiku, aku harus waspada. “Maaf, aku gak bisa, Kak .” “Kenapa gak bisa?” “Karena dia harus bersembunyi dan harus menyembunyikan diri,” jawab Dokter Agnes yang tiba-tiba saja sudah ada diantara kami. “Apa maksudnya?” tanya Kak Daniel dengan heran. “Maksudnya, ya, kamu ditolak, hahaha” kelakar Dokter Agnes . “Iya, kan, Dokter Indah ?” tanya Dokter Agnes kepadaku sambil menyikut lenganku. “Hah? Apanya?” tanyaku gugup. “Lupakan, susah, ya, ngomong sama makhluk dingin seperti kalian,” cicit Dokter Agnes . “Apa maksudnya makhluk dingin? Kalian itu maksudnya , siapa?” tanya kak Daniel . Dokter Agnes mengambil botol air mineralku dan menenggaknya hingga tersisa setengah. “Dokter Daniel , dengar. Jika kau menyukai Dokter Indah, kau harus berusaha lebih keras lagi.” “Aku tahu,” jawab kak Daniel . “Apa yang kau tahu? Apa kau yakin dia tidak akan menghisap darahmu setelah kalian bersama?" Aku hanya menatap tajam ke arah Dokter Agnes , namun dia tidak menoleh kepadaku sedikit pun. Entah mengapa hari ini mulutnya terasa sangat pedas. Melebihi pedasnya mulut para netizen yang komentar berdasarkan katanya, bukan faktanya. “Aduh, Dokter Agnes pikir ini zaman apa? Kita hidup di zaman modernisasi, era globalisasi. Semua akses sudah menggunakan internet.” Dokter Agnes hanya mengangkat kedua bahunya. “Berarti benar, kan? Dokter Daniel menyukai Kayra” ”Dokter Agnes , apakah selain berprofesi sebagai dokter, kau juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai dukun?” Dokter Agnes tersedak ketika tengah menenggak air mineral mendengarkan kata-kata Dokter Daniel. “Heh! Apa maksudmu aku ini dukun? Dukun sunat, mau? Biar kuhabisi sekalian ketimunmu itu!” Wajah kak Daniel seketika memerah, dengan cepat ia menjejalkan potongan roti abon ke dalam mulut Dokter Agnes. “Kalo ngomong pakai filter, dong. Jangan cuman kamera aja yang pakai filter.” Dokter Agnes semakin tertawa terbahak-bahak, membuat beberapa orang memperhatikannya. “Dok,” ucapku lirih pada Dokter Agnes , namun ia tak bergeming sedikitpun. “Aku hanya memberikan saran, jika kau menyukainya, kau harus bekerja lebih keras lagi.” Dokter Agnes pergi meninggalkan kami, kak Daniel terlihat menghembuskan nafas lega. “kak Daniel ,” desisku. “Aku gak apa-apa, apakah dia memang begitu? Maksudku kalau ngomong memang seperti iklan paralon, mengalir sampai jauh.” Aku hanya tertawa mendengar ucapan kak Daniel . “Tapi aslinya dia baik, kok. Hanya saja cintanya bertepuk sebelah tangan.” “Emang dia suka sama siapa?” “Dokter Raja,” jawabku singkat. Aku kembali menyantap makan siangku, sedangkan kak Daniel kembali mengambilkan air mineral untukku, karena air mineralku telah tandas di tenggak oleh Dokter Agnes . “Haus apa doyan tu orang?” gerutu kak Daniel sambil menyingkirkan botol air mineral yang telah kosong itu. “Sudah, kak Daniel buruan makannya, keburu jam makan siang habis. Kak Daniel gak ada jadwal kunjungan?” “Hmm, betul. Hari ini ada janji sama pasien. Yuk buruan makannya.” Terlihat kakak Daniel tergesa-gesa memasukkan makanan ke mulutnya. “Pelan-pelan, kak. Nanti tersedak.” Tak butuh waktu lama, makanan yang ada di piring telah berpindah ke dalam perut kak Daniel . “Indah , kapan kita bisa dinner? Besok? Lusa?” “Aku cari waktu yang pas dulu ya, kak.” “Yasudah, cepetan.” Aku segera meminum air mineralku, lalu kami berdua pergi meninggalkan kafetaria. “Terima kasih makan siangnya, aku ke atas dulu kak.” Kak Daniel hanya mengangguk sambil memakai jasnya kembali. “Indah!” teriak kak Daniel sebelum pintu lift di depanku terbuka. Aku menoleh ke arah kak Daniel yang masih berdiri di dekat meja perawat. Terlihat kak Daniel tersenyum sambil menautkan jari telunjuk dan jempolnya ke tangan satunya lagi hingga membentuk bentuk hati. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN