Operasi

1265 Kata
Selamat Membaca Hari ini pertemuan di ruang dokter, semua dokter bedah sudah hadir. Mereka tengah berdiskusi operasi transplantasi hati pasien. “Baiklah, diskusi selesai. Operasi akan segera dilaksanakan dan akan dipimpin oleh tim dokter Indah .” Semua dokter yang hadir menatap ke arahku tak terkecuali dokter Raja. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan, tinggal aku dan dokter Raja yang masih ada di dalam ruangan. “Indah, kamu –“ “Iya, Mas. Aku bertugas di sini mulai hari ini.” Raja hanya mengangguk. “Indah, bukannya kamu tidak punya ijazah, ya?” sambungnya. “Mas, aku hanya punya ijazah formal. Tapi aku tidak punya ijazah non formal. “Oh...” Dokter Raja kembali mengangguk. “Ayo bersiap, Mas.” Aku segera meninggalkan ruangan dan diikuti oleh dokter Raja yang biasa ku panggil Mas . Aku segera menuju ruanganku untuk berganti pakaian dan tentunya memakan permenku, aku tahu operasi ini tidak sebentar, makanya aku menelan kembali permenku. Setelah semua siap, aku bergegas masuk ke ruang operasi, mencuci tangan dan segera memakai sarung tangan setelah tanganku kering. “Apa semua sudah siap?” tanyaku kepada semua tim. “Sudah,” jawab mereka. Setelah itu Mas Raja memimpin doa sebelum kami semua melakukan operasi. “Pisau,” pintaku sambil mengulurkan tanganku kepada perawat. “Penjepit.” “Suction pump” (alat untuk menyedot cairan cairan). Proses operasi tidak bisa dilakukan dengan cepat karena pasien memiliki komplikasi. “Tekanan darah menurun, Dok,” ucap salah satu perawat. “Tingkatkan lagi transfusi darahnya!” perintahku sambil melirik ke arah monitor. Perawat dan dokter anastesi masih berusaha memompa darah dengan memencet-mencet kantong kantong darah, sambil sesekali memeriksa denyut nadi dan tekanan darah. “Tekanan darah pasien mulai normal 115/65 mmHg,” ucap dokter anestesi. Sulitnya mengangkat hati pasien karena kondisinya sudah sangat rusak membuat waktu yang diperlukan semakin panjang. Setelah melalui proses panjang, akhirnya operasi transplantasi hati selesai, tinggal proses penutupan dan menjahit luka. “Selesaikan,” perintahku pada dokter pendamping agar membersihkan dan menutup luka pasien, aku segera mengganti bajuku dan membersihkan diri, lalu menuju kafetaria rumah sakit. “Berapa lama kamu belajar bedah?” tanya seseorang dari belakang. “Uh, dokter Raja? bikin kaget, saja.” “Lima tahun,” sambungku. Dokter Raja mengangguk. “Pasti pengalamanmu sudah banyak, kan? Aku kagum melihatnya. Aku saja belum berani mengerjakan transplantasi hati.” Aku hanya tersenyum sambil meneguk secangkir teh hangat. “Dokter Raja yang mana ruangannya?” tanyaku untuk mengalihkan topik. “Tepat di depan ruangan Dokter Daniel .” “Ooh.” “Dengar-dengar Dokter Daniel itu, abangmu?” Dokter Raja mengangguk sambil berdiri dan berjalan menuju ke rak roti, dokter Raja masih setia mengikutiku di belakang. “Dokter Raja suka coklat?” Tanyaku sambil menyodorkan roti coklat. “Aku tidak suka manis, jika makan roti aku lebih suka roti tawar dengan mentega atau sandwich.” Aku masih berjalan menyusuri rak roti. “Menurut dokter Raja enak rasa vanila atau keju? Apa alasannya?” “Vanila, karena rasanya manis dan ada sensasi gurihnya. Sedangkan keju hanya sensasi gurih saja,” ucapnya. “Good, nih, ambil dan bayarlah,” ucapku sambil menyerahkan sebungkus roti isi vanila dan meninggalkan kafetaria rumah sakit. “Apa-apaan gadis itu? Aku kan sudah bilang gak suka manis. Lagi pula kenapa harus aku yang membayarnya?” umpat dokter Raja yang masih bisa kudengar. “Aku mendengarnya, Mas.” Sahutku sambil tetap berlalu. “Cih!” umpatnya lagi. Aku berjalan menuju bangsal dan akan melakukan kunjungan. Deg! Sensasi itu kembali muncul, beberapa hari sebelum terjadi kekacauan di rumah, sensasi ini selalu muncul, aku menoleh ke kiri dan kanan, biasanya jika ada sensasi seperti ini pasti diikuti oleh kelebatan bayangan. Aku berusaha untuk normal, namun sensasi itu semakin besar dan membuat degup jantungku tak karuan. Deg! Sekali lagi sensasi itu mendera, dan seseorang menepuk pundakku. “Kamu,” “Ayo ke ruangan itu.” menarik tanganku. “kak Daniel bawa apa, itu?” Aku melihat kak Daniel membawa sebuah kotak dan sebuah termos es kecil. “Duduklah dulu,” perintahnya setelah menutup dan mengunci pintu. “Wah! Fasilitas sempurna, ruanganku saja tidak ada tambahan pendingin selain AC,” tuturnya. Aku hanya tertawa kecil. “Kalo tubuhmu sudah mulai kering, datanglah ke ruanganku, Kak,” godaku. “Mana tanganmu, aku akan mengambil darahmu.” Aku segera mengulurkan tanganku dan melipat lengan bajuku, seperti biasanya darahku akan diperiksa. “Dan yang ini obatmu, untuk persediaan. Kamu pasti butuh banyak karena kamu bekerja di bagian bedah,” ucapnya sambil menyodorkan kotak berwarna oranye. “Oh iya, Ibu bertanya, apa kamu ada keluhan?” “Tidak ada. Ibu sudah pulang? Kenapa tidak masuk?” “Sudah, setelah mengetahui apa yang terjadi, Ibu menyuruhmu untuk bersembunyi di sini, dan sebaiknya kamu dan Ibu tidak bertemu dulu. Lagi pula, ada yang harus Ibu kerjakan di laboratorium.” Aku hanya mengangguk. “Yasudah, aku ke ruanganku dulu.” Kak Daniel segera keluar membawa termos es kecil yang berisi sampel darahku. Aku merebahkan tubuhku di kursi kebesaranku, ini adalah operasi besar pertamaku, sebagian energiku terkuras untuk melakukan operasi. *** POV Dokter Raja “Apa-apaan gadis itu? Aku kan sudah bilang gak suka manis. Lagi pula kenapa harus aku yang membayarnya?” umpat ku. “Aku mendengarnya, Mas.” Sahut dokter Indah. “Cih!” Aku segera membayar roti itu dan segera keluar dari kafetaria. Karena sibuk memandang bungkusan roti, tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang. “Maaf,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Dokter Agnes yang terjatuh karena ditabrak. “Ih, dokter Raja ! Sakit tau! Kalo jalan tuh, Hati-hati biar gak nabrak orang!” “Maaf, Dok. Dokter Agnes mau kemana?” “Mau masuk, cari makanan.” “Nih, roti buat Dokter,” ucapku sambil memberikan bungkusan roti. “Gak mau, aku beli sendiri saja.” “Tapi ini dari aku, lo dokter .” “Benarkah?” tanya Dokter Agnes berbinar. Aku hanya mengangguk dan mengulurkan bungkusan roti. Sedangkan Dokter Agnes dengan sigap mengambil bungkusan itu, tak butuh waktu lama bungkusan roti itu sudah berpindah ke tangan dokter Agnes . “Kapan Dokter Daniel ke sini?” Aku menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung mau menjawab apa. “Dokter Raja!” teriaknya ketika melihat Kak Daniel melintas. ‘Kebetulan sekali' batinnya. Kak Daniel berjalan ke arah Dokter Agnes dan aku. “Ada apa?” tanya kak Daniel . “Terima kasih rotinya, Dok,” cicit Dokter Agnes . “Roti?” “Ah, iya. Katanya Dokter Agnes lapar dan mau ngajak makan,” dokter Raja mengalihkan pembicaraan. “Iya, Dok. Makan siang bareng, yuk,” ajak Dokter Agnes . “Maaf aku tidak bisa, ada kunjungan bangsal,” tolak nya sambil menunjukkan name tag yang dikalungkan. “Kalo begitu, ajak aku makan malam, ya?” bujuk Dokter Agnes . “Ogah,” tolak Kak Daniel . “Dokter...” rengek Dokter Agnes . “Kenapa harus Aku yang mengajak makan malam? Ada-ada saja,” seringai Kak Daniel . “Mau, ya, Dok?” desak Dokter Agnes “Nggak!” tolak Kak Daniel . “Mau,” desak Dokter Agnes lagi. “Nggak!” kekeh Kak Daniel . “Mau,” “Nggak!” “Nggak,” “Mau,” Kak Daniel segera menutup mulutnya. “Yeay! Dokter Daniel mau.” Dokter Agnes tepuk tangan kegirangan. Sedangkan dokter Raja hanya tertawa geli melihat aksi dua orang yang aneh, yang satu konyol dan yang satunya dingin dan sok cuek. “Raja, kenapa harus aku yang mengajaknya makan malam?” geram Kak Daniel . “Awas, kamu Raja!” imbuhnya. Aku hanya mengangkat bahunya dan masih tertawa sambil berlalu meninggalkan Kak Daniel dan Dokter Agnes. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN