Sesampai di rumah terlihat Julian sedang di ruang tamu menonton televisi.
"Banyak kerjaan" sapa Julian melihat Tia
Tia berjalan menaruh tas dan ke kamar mandi " iya lumayan, sempet tidur juga d rumah Digta " ucap Tia
"Ehm" jawab Julian singkat.
Sampai di dapur dekat kamar mandi, terlihat ada makanan yang sehabis di masak.
"Kamu masak Jul ?" Tanya Tia sedikit berteriak
Julian menghampiri Tia, yang dimana Tia sedang di kamar mandi sedang mandi. "Iya aku masak buat kamu, aku hangatkan ya" jawab Julian
"Iya terserah"jawab Tia.
Julian sengaja menunggu Tia, melihat Tia yang semakin cantik karena merawat diri setelah Julian meninggalkannya, Tia sedikit terkejut karena Julian masih di dapur yang berdekatan dengan kamar mandi, saat Tia ingin memakai skincare, Julian yang menghirup wangi sehabis mandi menarik tangan Tia dan memeluk Tia.
" Makin cantik kamu ya" puji Julian,
Julian tiba-tiba merasa b*******h melihat Tia, dirinya mulai meraba p********a Tia, namun Tia tepis tangan Julian dan berusaha melepaskan diri dari Julian, tapi Julian malah menarik tangan Tia dan menahan kedua tangan Tia Di belakang tubuhnya dengan satu tangan dan menahan wajah Tia dan melumat bibirnya. Tia berusaha melepaskan diri, tapi Julian terus menahannya. Tia mulai merespon ciuman Julian, tapi tak ada rasa apapun yang di rasakan Tia, saat mencium bibir Julian Tia malah rindu bibir Digta, ingin kembali kepada Digta.
Julian menghentikan ciumannya " huft, sebegitu jauhkah perasaan kamu " tanya Julian.
Tia kaget mendengar ucapan Julian, dirinya hanya diam, dan dirinya pun tidak tahu kalau sudah sejauh ini perasaannya dengan Julian, yang hanya di pikirannya ketika berciuman hanya Digta.
Julian berjalan meninggalkan Tia, dan merebahkan dirinya di sofa ruang tamu, dirinya memanggil Tia begitu perasaannya tenang.
"Tialina.. sudah tidur ?"tanya Julian memanggil
"Hampir "jawab Tia
"Kesini sebentar" panggil kembali
Tia menghampiri, dan duduk berjauhan dari Julian, Julian mengambil paperbag yang dirinya bawa sedari pulang berjalan-jalan dengan Jeje.
"Ini buat kamu" ucap Julian " selamat ulang tahun ibunya Jeje" Julian mengeluarkan kotak, saat kotak itu terbuka terlihat satu set emas berwarna putih.
"Hah " Tia terkejut, dan mengecek handphone nya dan ternyata benar ini hari ulangtahunnya "makasih" ucap Tia.
Julian bersujud di kaki Tia "maafin aku, aku bodoh Tia "
"Bodoh maksudnya ?" Heran Tia.
Julian akhirnya menceritakannya segalanya kepada Tia, Tia menahan amarahnya mengepalkan tangannya. Dan
"Plakkk" tamparan keras dari Tia sebelum Julian menyelesaikan ceritanya.
"Aku berusaha setia disini, aku berusaha kasih yang terbaik buat kamu suamiku, tapi ini balasan kamu ?, Kenapa kamu gak bilang dari awal segalanya, jujur aku udah benci kamu, dan ada laki-laki lain yang sudah ada di hatiku menggantikan kamu, sekarang kamu pergi dari sini, aku gak ingin apapun lagi dari kamu, kamu mau Jeje, baik aku serahkan Jeje sama kamu" ucap Tia marah panjang lebar.
Julian terus memohon permintaan maaf kepada Tia, adzan subuh sudah berkumandang, Tia kembali berlari ke arah rumah Digta, Tia gedor-gedor Pintu rumah digta kebetulan Digta baru bangun menuju kamar mandi, di lihatnya dari cctvnya ada Tia di depan pintu, Digta Setengah berlari Menghampiri Tia di depan pintu.
Saat di buka Tia langsung memeluk Digta, Digta berusaha menenangkan Tia, mengusap punggung dan mengajak duduk di meja dapur, sekalian Digta membuatkan teh hangat.
Tia menangis kembali, sambil menangis dia ceritakan segalanya, Digta menghembuskan nafas berat, mengapa Julian begitu bodoh, apa yang ada di pikirannya. Pikir Digta.
*****
Setahun sudah proses perceraian Tia dan Julian, setelah kejadian kejujuran Julian, Tia tidak lagi datang ke persidangan, karna sudah begitu amat sakit hati dengan kelakuan Julian, Jeje pun di boyong Julian ke kota B untuk di asuh oleh ibu dan Melda calon istrinya.
Tia terus bersedih meratapi nasibnya, kekecewaannya bisa membuat dirinya jauh dari anak semata wayangnya juga, tapi papa Julian mulai menghubungi Tia, dan berusaha mengikat tali silahturahmi antara dirinya dan Tia yang tidak pernah dilakukan papa Julian.
Setelah sidang ketok palu sah Tia dan Julian bercerai, tidak ada lagi senyum di wajah Tia, Digta sampai kelimpungan menanggapi sikap Tia. Tapi herannya dalam pekerjaan Tia tetap bagus walau keadaannya memburuk.
Saat Tia sedang sendirian di rumah Digta, mama Digta datang seperti biasa, mendapati cerita dari Digta bahwa Tia bersedih, mamanya berinisiatif datang untuk menghiburnya, ya.. mama Digta mengetahui segalanya, apalagi Digta tipikal anak keras dan tidak bisa di bantah akan pilihannya, mamanya hanya bisa menuruti, asal tidak mencoreng nama baik keluarganya.
"Tia..Tia.. mama datang nih" panggil mama Digta
"Lho nyonya kapan Dateng ?" Tanya Tia panik
"Nyonya lagi..aduh sayang.. masa Iddah kamu selesai kan kamu jadi anak perempuan mama" celoteh mama
" Mama.. yakin mau jadiin aku mantu mama ? Tanya Tia menunduk
"Alhamdulillah akhirnya kamu panggil diriku mama" ucap mama Digta bergaya gemulai. " Kamu sama Digta hari itu menjelaskan segalanya kan, mama sempet marah kok, tapi kakak-kakak Digta menenangkan mama, dan mama takut Digta marah sama mama, jadi sudahlah gak apa-apa" jelas mama Digta sambil terkekeh
"Ehm ma, tapi belum cerita ke siapa2 kan ?" Tanya Tia kembali.
"Tenang aja, mama belum sampai keluarga besar kok"ucap mama Digta menepuk bahu Tia.
Tia tiba-tiba memeluk mama Digta "makasih ya ma, mau ngertiin Tia" ucap Tia
"Hehmm sebenernya awal mama gak setuju banget sama kamu, anak mama ganteng, kaya dan masih lajang, masa mau Ama janda anak satu" celoteh mama bergaya tidak suka, tapi tiba-tiba terkekeh kembali "gak apa-apalah pikir mama, mama liat kamu udah cukup lama disini, mama tanya bi ummi juga kamu bagus kok, cuma jeleknya, kalo ngigi suka marah-marah" ucap mama Digta makin terkekeh "dan satu lagi kamu lebih pengalaman di ranjang" mama Digta tertawa puas.
Wajah Tia merona mendengar ucapan mama Digta, andai mama Digta tahu, lebih lihat anaknya ketika di ranjang.
Mereka lebih banyak mengobrol ngalor ngidul, mama Digta hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
Malam menjelang, Digta pulang sendiri, Tia yang sedang berberes dokumen di ruang kerja Digta, sejak ketuk palu perceraian Tia , rumah Digta hanya memakai asisten rumah tangga yang pulang pergi, Digta ingin bisa leluasa dengan Tia. Digta melihat Tia sedang fokus di ruang kerjanya. Digta menaruh tas kerjanya, dan menghampiri Tia.
Memeluk dari belakang "assalamualaikum sayang ku "
"Astaghfirullah, wa Alaikum salam" jawab Tia terkejut.
Digta menarik Tia untuk duduk di pangkuannya " mama bilang apa tadi ? Gak nyakitin kamu kan ?" Tanya Digta
"Gak kok, malah bilang lebih sering perhatiin kamu, " jawab Tia
Digta merogoh kantongnya, ada kotak perhiasan cincin dirinya berikan kepada Tia "cantik gak " tanya Digta.
"Cantik" ucap Tia " mau kasih ke mama kamu ya ?" Tanya Tia polos
Digta terkekeh sambil memeluk Tia " Will you Merry me ?" Tanya Digta sambil mengusel wajahnya di tubuh Tia malu
Tia menutup mulutnya " kamu ngelamar aku " menatap Digta yang mukanya masih mengusel.
"Jawab dong, aku grogi ini tau" ucap Digta masih mengusel.
Tia menghela nafas " Digta, masa Iddah aku belum selesai, aku masih menata perasaan aku saat ini, aku belum bisa menerima ini dan aku juga gak bisa menolak juga, aku minta kamu sedikit bersabar sedikit" pinta Tia melemah suara nya.
Digta yang mendengar sedikit berat perasaannya. " Aku nunggu kamu 3 tahun, aku dampingi kamu, apa aku kurang bersabar Tia" jawab Digta melemah sambil menatap Tia.
Tia mengusap pipi Digta "maaf kalo aku terlalu lama bikin kamu menunggu, tapi kalo memang kamu ada seseorang yang lain yang lebih cepat bisa membuat kamu tidak menunggu aku gak apa-apa " ucap Tia sambil beranjak
Digta menarik Tia kembali " maksud kamu apa ngomong gitu ?" Tanya Digta kesal
"Aku gak ada maksud apa-apa, saat ini aku hanya ingin menata perasaanku dulu" jawab Tia menunduk.
" Lalu aku harus apa lagi supaya kamu bisa buka perasaan kamu membuka hati kamu buat aku, aku gak mau yang lain, aku hanya mau kamu" ucap Dikta sedikit nada tinggi.
"Aku cuma minta kamu bersabar sedikit Digta" ucap Tia kembali
"Sampai kapan aku harus nunggu " tanya Digta makin kesal
Tia bangkit dari pangkuan Digta " ya sudah, akhiri penantian kamu " kesal Tia beranjak pergi sambil membawa tasnya,
Digta kaget dengan jawaban Tia, Digta mengejar Tia, dan berusaha menahannya, tapi di tepis Tia, dan Tia pergi begitu saja dengan perasaan kesal.
Tak berapa lama ketika Tia buka pintu Juni juga datang ke rumah Digta, Dan di lihat juga Digta di belakang Tia.
" Lah mau kemana lu ?"tanya Juni
Tia berlalu tanpa menjawab dengan wajah kesal
"Kenapa dia ?" Tanya Juni kepada Digta
"Entahlah" jawab Digta berjalan menuru ruang kerjanya.
Digta duduk memijat keningnya yang sedikit pusing setelah pertengkaran dengan Tia, Juni melihat ada kotak cincin beserta cincin cantik, dirinya mencoba ambil dan melihat.
" Punya siapa ini ?" Tanya Juni
"Punya gue " jawab Digta
"Dih lu Dig ngapain beli cincin, mau kasih nyonya ?" Tanya Juni polos
" Entahlah" jawab Digta "ngapain lu kesini " tanya Digta
" Mau ketemu Tia, mau ajak jalan, mau gue kenalin sama temen gue " ucap Juni santai
Digta menoleh " apa ? Coba ulangin lagi " ekpresi Digta makin kesal
"Hehe canda-canda" ucap Juni.
Digta menghela nafas sambil menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya
" Sabar sedikit Dig, gak gampang di posisi Tia" ucap Juni santai
" Maksud lu ?" Tanya Digta masih memijit keningnya
" Gue tau kok hubungan lu sama Tia " santai Juni sambil duduk di sisi kursi hadapan Juni.
"Apa ?" Tanya Digta kaget.
"Waktu itu gak sengaja gue liat lu tidur bareng sama Tia, just sleep, bukan mergokin lu asolole" kekeh Juni
Digta kembali menghela nafas " jangan bilang ke Tia kalo lu tau, yang ada makin marah sama gue"
" Sejak kapan ?" Tanya Juni
"Apa ?" Tanya Digta
"Hubungan kalian ? Seinget gue saat gue liat lu tidur bareng Tia masih proses cerai " selidik Juni.
"Gak tau pastinya sejak kapan kami memulai hubungan kami" helaan nafas kembali terdengar.
Digta dan Juni mengobrol panjang lebar bercerita segalanya, hingah tengah malam Juni pamit pulang.
Kesendirian Digta memutar kembali permbicaraan dengan Tia, tiba-tiba berlinang air matanya membayangkan Tia benar-benar pergi tanpa di sisinya.
Digta mencoba menelepon Tia. Tapi tidak ada jawaban dari Tia, Digta makin gusar tidak ada jawaban .