Tia bangun mendengar alarm handphone nya, dan tidak berapa lama adzan subuh berkumandang, di lihat handphone nya ada 40 panggilan tak terjawab dari Digta. Tia menaruh handphone nya dan beranjak untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat subuh tiba-tiba Tia teringat dan rindu Jeje, di ambil handphone nya kembali, untuk menchat Julian.
[Tia] : Julian, aku mau ketemu Jeje.
Tak berselang lama Julian balas
[ Julian] : aku masih seminggu balik ke kota B, Jeje di urus sama mama di sana, tapi papa lusa ke kota J, nanti aku suruh Jeje di bawa aja
[Tia] : ya udah nanti aku chat papa aja.
[ Julian] : kamu baik-baik aja ?
[ Tia] : iya aku baik-baik aja.
Tak berapa lama Julian menelepon
" Assalamualaikum" salam Julian
"Wa alaikum salam" jawab Tia
" Kenapa jul" Tanya tia
" Ehm kamu baik-baik saja ? Udh lama kamu gak hubungin aku " tanya Julian balik
"Aku baik-baik saja, aku sangat rindu Jeje, Julian, ehm Jeje biar aku yang asuh aja ya, lagi kamu kan juga di kota J, biar lebih leluasa sama Jeje" to the point Tia
" Hehe iya gak apa-apa kita asuh Jeje bareng-bareng ya, aku gak ingin perpisahan kita buat kita bertengkar masalah Jeje, papa kemarin juga bilang seperti itu, aku gak mau egois, hanya saja karena kamu kemarin emosi dan aku emosi buat Jeje jadi ada sama aku" panjang lebar Julian
" Makasih buat pengertian kamu" ucap tia
" Tia aku masih mencintai kamu, tapi aku juga terlalu egois menahan kamu dan dia untuk aku pertanggung jawabkan " ungkap julian
" Jangan begitu Jul, biarkan kita sama-sama menata perasaan dan hidup kita, aku udah ikhlas kok" jawab Tia
"Maafin aku ya Tialina Dwinata, aku jujur perasaan aku belum bisa menjauh dari kamu" ungkap Julian
Tia tidak menanggapi dan mengalihkan pembicaraan.
" Ya udah Tia jangan lupa sarapan, hari ini kamu kerja kan, aku dengar-dengar Digta cuti 3hari, kamu libur juga ?" Tanya Julian
" Aku juga ijin hari ini, belum tau lebih lanjutnya" jawab Tia.
"Oke, kita sambung nanti ya, aku mau bersiap kerja, assalamualaikum" ucap julian
"Oke wa alaikum salam" jawab Tia mengakhiri teleponnya.
Tia merenung dirinya di rumah sederhananya, memikirkan pertengkarannya semalam. Hingga akhirnya dirinya terlelap di atas sajadahnya.
Pagi menunjukkan pukul 8 pagi. Selama 3 hari ke depan Digta meliburkan semua asisten nya, seperti biasa dirinya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Tia, merasa Tia sudah akan menjadi miliknya. Tapi sudah sampe jam 8 belum ada tanda-tanda Tia datang ke rumah Digta, Digta kembali mencoba menelepon Tia, tapi tidak ada jawaban. Tak berselang lama Juni menchat dirinya
[Juni] : Tia hari ini ijin gak masuk, lu gak info ke dia kalo lu cuti 3 hari, dia bilang gak enak badan, coba lu ke rumahnya, perbaiki masalah kalian semalem.
Digta melihat chat sambil menuju kamarnya mengganti pakaiannya. Dan bergegas ke rumah Tia.
Di rumah Tia, Tia berbaring di kasur sambil menunggu pesenan makanan online nya, sejak bangun tidur, badannya terasa tidak enak. Berselang tidak lama ada yang menggedor pintu rumahnya, di pikirnya pesenan online nya tiba, pas di buka pintu ternyata Digta sudah berdiri di hadapannya, Tia hanya membuka pintu dan berjalan ke arah sofa ruang tamunya, Digta yang melihat Tia Mengacuhkannya masuk ke rumahnya dan menarik tangan Tia, di pegang keningnya Tia, agak sedikit demam lalu memeluknya.
" Maafin aku sayang, kangen kamu" ucap Digta.
Tersenyum dengan tingkah Digta "ehhm iya" jawab Tia.
Tak lama makanan online pun tiba, Digta menerimanya dan merawat Tia.
" Kok kamu gak chat aku "tanya Digta " aku nungguin kamu lho, ak telepon dan chat kamu pun gak di respon, marah banget kayanya" sambil menyuapi makanan ke mulut Tia
" Aku bisa makan sendiri Digta " ucap Tia sambil ingin merebut sendok dari tangan digta
Digta menepis ringan tangan Tia " biarin aku rawat kamu"
" Aku cuma demam biasa, bukan lumpuh" canda Tia
Digta menatap tajam Tia, menandakan keinginannya tidak boleh di bantah
"Iya..iya.." respon Tia.
Mereka pun akhirnya kembali berbaikan, Tia merasa Digta benar-benar membuka hatinya hanya untuk dirinya, hingga pertengkaran pun, Digta berusaha mengalah.
****
Setelah Tia merasa baikan, Digta mengajak Tia ke rumahnya, Digta merasa ketika di rumahnya lebih leluasa bersama Tia, rasanya dirinya juga tidak sabar benar-benar memboyong Tia ke rumah miliknya.
Sesampai di rumah Digta, Digta malah berganti pakaian dan mengajak Tia berjalan-jalan, Digta ingin pertama kalinya benar-benar bisa menunjukkan bahwa Tia saat ini bersamanya dan akan menjadi miliknya. Tia hanya mengikuti kemauan Digta, karena dirinya merasa sudah bukan milik siapa-siapa.
Mereka sampai di pasar malam di taman kota, Digta memberanikan diri menggandeng Tia, tanpa ketakutan Tia tersinggung, Tia hanya tersenyum dengan tingkah Digta, melihat Digta yang sangat tampan dengan setelan casualnya, sedangkan ber banding jauh dengan Tia yang bertubuh mungil dan berpenampilan biasa, tatapan mata yang melihat Digta pun tidak bisa di bohongi, Digta yang merasa Dan menyadari perbedaan sikap Tia, makin merangkul Tia dalam dekapannya. Kalau bisa berteriak Digta ingin bilang bahwa saat ini Tia ada bersamanya,
Tak jauh dari pasar malam ada sepasang mata menahan amarah melihat kedekatan Digta dan Tia, ya.. Julian, sehabis menemui klien, ingin menyegarkan mata dan perutnya dengan berkeliling dan jajan jajanan pasar malam. Tapi lalu lesu ketika dirinya sadar bahwa dirinya sudah bukan siapa-siapa Tia Julian berlalu dan putar arah pergi dari pandangan yang menyakiti dirinya.
"Ehm ini enak" ucap Digta " beli ini 2 porsi ya" ucap Digta kembali kepada penjual makanan.
Sambil berjalan mereka berdua menikmati beberapa jajanan yang mereka cicipi.
Malam semakin larut, menunjukkan pukul 9 malam, saat sudah memasuki mobil yang di naiki, hujan deras mengguyur kota J, dingin makin terasa sepanjang perjalanan pulang.
Sesampai di rumah, Tia terburu-buru memasuki rumah Digta, dirinya ingin buang air kecil, sedangkan Digta ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tia duduk di ruang tamu sambil memainkan handphone nya, Digta yang turun bertelanjang d**a dan memakai celana pendek menebarkan harum sabun sehabis mandi, Tia menoleh, dan menelan ludahnya melihat lekuk tubuh Digta yang berjalan ke arah dapur, ada gairah seperti ingin menerkam Digta, tapi Tia menahan dirinya,
'ya ampun kotor banget pikiran gue, huss..huss.. pergi jauh-jauh' batin Tia.
Digta yang melihat tingkah Tia tersenyum, dirinya memang ingin menggoda Tia, karena terakhir bertelanjang d**a, Tia salah tingkah.
Digta mendekati Tia, sengaja berpura-pura acuh, tapi memang Digta mulai b*******h juga, mengingat pergulatan cinta mereka di dapur.
Tia jadi salah tingkah dengan sikap Digta, tubuhnya mulai terasa panas dekat Digta, dan beranjak ke dapur meminum air dingin. Digta tahu Tia mulai b*******h, diam-diam mengikuti Tia, dan mengunci pintu, mengingat pembicaraan Juni yang melihat mereka bersama.
Dengan percaya diri Digta melepas celananya dan menghampiri Tia tanpa menggunakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Tia kaget setengah mati melihat Sikap Digta, dirinya diam membeku harus bersikap apa, melihat benar-benar tubuh polos Digta, sebenernya sudah biasa, tapi ini kali pertama Digta seperti itu, Digta menghampiri Tia yang diam membeku dan dengan cepat melumat bibir Tia, Digta menggendong Tia dan mendudukkan Tia di atas meja makan, Tia yang memang b*******h merespon ciuman Digta, Tia merasa untuk pertama kalinya bisa bebas mengekspresikan gairahnya tanpa ada rasa ketakutan.
Digta yang sangat b*******h, merobek baju Tia, melihat itu Tia terkejut, Tia merasa Digta berbeda dari sebelumnya, dan melepas bra yang di pakai Tia, dengan ganas Digta melumat dan meremas p********a Tia, dan mencium dan meninggalkan tanda cinta di tubuh Tia seperti biasa, mencium dengan leluasa seluruh tubuh Tia, lalu melepas celana Tia, dengan ganasnya. Digta menuju v********a Tia memainkan lidahnya di area sensitif Tia, Tia mendesah merasakan permainan Digta, Tia merasa Digta benar-benar berbeda, Digta benar-benar memanjakan tubuh Tia. Tia mendesah terus menerus bergelimjang dengan perbuatan Digta. Kejantanan Digta menegang sangat besar di hadapan tia. Tia turun mendekati kejantanan Digta dan ikut memanjakan Digta memasukkan kejantanannya ke dalam mulut Tia maju mundur, Digta duduk di kursi, sambil mengelus dan melihat kenikmatan yang di berikan Tia, mengusap kepalanya merasakan hangat yang benar-benar sedang dirinya nikmati. Merasa tidak tahan, Digta membalikkan tubuh Tia, dan perlahan memasukkan kejantanannya ke dalam v******a Tia, pinggulnya maju mundur perlahan, agar Tia menikmati permainannya, sambil memegang p*******a Tia, Digta terus menggerakkan pinggulnya.
Mereka mendesah, menikmati percintaan mereka. Tia melepas kejantanan Digta, mendorong Digta ke kursi, dan menggerakkan tubuhnya di atas pangkuan Digta, mencium bibir Digta dengan b*******h sambil menggerakkan diri ke atas dan ke bawah, Digta b*******h melihat dua gundukan naik turu di hadapannya, melumat kembali sambil meremasnya.
"Aaaaaaahhhhh Digta.." desah Tia kembali terdengar
"Ayo sayang.. terus sayang" balas Digta.
Mereka sudah berkeringat dengan permainan panasnya.
" Sayang aku mau keluar " racau Tia.
Digta mengubah posisi dengan merebahkan tubuh Tia di meja makan, dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat .
"Ah sayang aku juga, bersama sayang" ucap Digta.
Desahan panjang bersama terdengar terasa saling menikmati di malam yang dingin sehabis hujan, Digta berjalan sedikit lemas ke kamar tamu, mengambil selimut untuk menutup tubuh Tia dan menggendongnya menuju kamar Digta.
Tia merasa terharu dengan perlakuan Digta, makin hari, perhatian Digta makin besar kepada dirinya, Digta merebahkan tubuh Tia, lalu menuju kamar mandi membersihkan diri. Saat keluar masih seperti tadi bertelanjang d**a dan hanya memakai celana pendek, menghampiri Tia, yang menatap Digta dari tadi. Saat Tia ingin bangkit gantian membersihkan diri, Digta malah menarik Tia dan mendekap Tia.
" Aku mau ikutan mandi, lengket tau" ucap Tia.
" Udah gini aja" goda Digta.
Tiba-tiba tangan digta meraba p*******a Tia yang masih dalam balutan selimut. Tapi tak berapa lama Digta kembali memeluk Tia.
"Tia menikahlah denganku, agar aku bisa lebih halal membelaimu " serak Digta mempererat pelukannya.
" Bersabarlah sedikit Digta, beri aku sedikit waktu lagi untuk memulai segalanya" balas Tia sambil mengelus tangan digta.
Dan akhirnya mereka tertidur hingga pulas.