Digta menarik Julian kasar "apa-apaan lu sama calon istri gue"
Terlihat Julian terkapar dalam mata terpejam. Tia dan Digta terlihat heran. Tia buru-buru membuka pintu rumah dan menyalakan kipas angin karna tercium di ruangan bau alkohol.
"Kamu ngapain sama Julian " tanya Digta menyelidik
" Kamu gak berpikir jelek kan tentang aku sama dia " tanya Tia kembali.
Digta hanya diam menahan amarah, melihat sang pujaan hati yang hampir 8 tahun di pertahankan.
"Ini gimana ? " Tanya Tia kembali bingung
"Gimana apanya ?" Tanya Digta kembali
"Aku telepon ibu sebentar biar Angga kesini" ucap Tia berlalu mengambil handphone nya.
Tia di kamarnya terdengar menelepon ibunya. Tak lama Tia kembali menghampiri Digta yang duduk bersender di tembok ruang tamu Tia.
" Ampun deh Julian berat banget sih Tia, gak kuat ak narik dia" ucap Digta sedikit tertawa.
"Kenapa tertawa ?" Tanya Tia heran.
" Tapi ak sempat berpikir enggak-engga sama kamu, tapi aku salah " jawab Digta sambil memeluk Tia dan mengecup bibirnya.
Setelah menunggu hampir 1 jam Angga datang, ada raut kekesalan di matanya.
" Mba mas " ucap Angga sambil mencium tangan Tia dan Digta
" Ini gimana ngga ?" Tanya Tia.
"Sumpah Julian berat banget ngga, gak kuat gue narik dia, itu bisa sampe kasur juga berkat Kaka lu " ucap Digta terkekeh.
Angga menghela nafas berat " dia ngapain lagi sih, udah berapa tahun ini masih aja gangguin mba Tia"
" Udah..udah ngga.. bantu mas Digta aja angkat ke sofa..
Masuk angin yang ada dia disitu." Ucap Tia
"Sumpah berat banget ngga dia" kekeh Digta.
"Kebanyakan dosa mas " balas kekehan Angga
Angga dan Digta bersama mengangkat Julian. Tia dan Angga menanyakan kuliah dan Jeje. Selang 2 jam Julian bangun dan terkaget dengan keberadaan dirinya.
Dan di lihatnya Digta Angga dan Tia di hadapannya.
" Udah sadar lu " tanya Angga
" Angga, yang sopan" ucap Tia kesal
"Lah dianya aja gak sopan" bantah Angga
"Angga" ucap Tia sambil melotot
Angga hanya diam.
" Kamu ngapain kesini Jul ?, Kamu tau kan aku sudah punya pasangan, kalau nanti jadi salah paham gimana ? Ucap Tia.
" Maaf Tia, aku aja gak sadar bisa sampe sini." Ucap Julian tertunduk
" Kalo lu ada masalah jangan minum alkohol Jul, gak akan menyelesaikan masalah lu. Kalo cuma buat nenangin pikiran gue rasa sah-sah aja, lah ini lu sampe rusuh ke rumah mantan istri lu, kalo istri lu denger gimana ? " Ucap Digta panjang lebar.
" Iya gue ada sedikit masalah juga sama Melda, kalo gue inget-inget sepertinya karena kepikiran Jeje sama Tia hingga gue sampe sini, gue lupa Jeje kan di rumah ibu Tia bukan disini" jawab Julian
" Nih aku bikinin jeruk nipis hangat, ak barusan baca di internet bagus buat redain pengaruh alkohol kamu" ucap Tia sambil menyerahkan segelas jeruk nipis hangat
" Makasih Tia" ucap Julian singkat.
Sambil mendekati Tia dan menggenggam tangan Tia " Jul, gue cuma mau tegasin untuk terakhir kalinya sama lu, Tia sudah punya gue, walau belum tercatat dalam akta nikah, kami berdua membuang ego kami hanya untuk permasalahan lu yang tidak kunjung kelar"
" Maksud lu Dig ?" Tanya Julian agak kesal
" Maksud gue adalah stop untuk cari Tia untuk segala permasalahan lu, kecuali masalah Jefri" tegas Digta
" Gue gak niat kesini Dig , tapi.."
" Gue gak peduli apapun alasan lu Jul, hanya saja sudah cukup derita yang di terima Tia dan Jeje, apa lu tidak sadar Jeje sekarang sudah bisa duduk di kursi roda tanpa alat bantu adalah sebuah keajaiban, di umurnya yang seharusnya dia sudah sekolah dan bermain bersama teman-temannya dia masih harus berusaha memulihkan diri." Ucap Digta menggebu.
Julian tertunduk malu, merasa apa yang Digta katakan adalah sebuah pukulan besar dalam dirinya, mengorbankan semua yang ada di sisinya hanya untuk egonya, yang pada akhirnya hanya tangisan dalam diri yang tidak kunjung usai.
Tia hanya menghela nafas berat mendengar 2 orang yang di sayanginya berargumen, " Julian maaf, mungkin aku juga yang belum bisa tegas dengan keadaan kita, aku baru sadari, saat ini digtalah yang selalu ada di sisi ak selama hampir 8 tahun ini, jadi aku harap cukup udah drama kita, sama-sama kita bangun hubungan yang benar-benar baik buat Jeje anak kita" ucap Tia sambil mengusap-usap tangan Julian.
"Maaf" ucap Julian singkat.
Tak berselang lama Julian pun pamit pulang, Tia dan Digta memperhatikan Julian pergi sambil berpegangan tangan, menegaskan bahwa mereka benar-benar memilih bersama.
6 bulan berlalu, Tia dan Digta sedang dalam persiapan pernikahan mereka seminggu lagi, Jeje yang semakin membaik kesehatannya dan mulai mempelajari beberapa pelajaran untuk masuk tahap dirinya bersekolah.
Di layar handphone terpampang wajah Digta yang sedang sibuk di barengi Tia yang sama-sama sibuk mendata siapa saja yang akan menghadiri pernikahan mereka.
Digta dan Tia sepakat mereka ingin pernikahan yang sederhana, dan hanya ada keluarga dan teman-teman terdekat
****
Interior wedding sederhana dalam restoran cukup mewah terpampang indah terlihat, terasa kegugupan beberapa orang dan Digta yang sedang mengucapkan ijab kabul di hadapan semua orang, Tia yang melihat Digta dari layar televisi juga cukup gugup, walau ini pernikahan ke duanya, Tia tetap gugup merasakannya.
Ketika terdengar kata 'SAH' Digta tanpa sadar meneteskan air mata bahagia, penantian panjangnya akhirnya berbuah hasil.
Tia perlahan keluar dari ruangan untuk menghampiri Digta di meja ijab kabul, Digta begitu terpana melihat Tia dalam balutan baju pengantin muslim, air matanya menetes lagi, mengingat perjalanan panjang mereka berdua yang akhirnya berakhir di pelaminan.
Host wedding mempersilahkan Digta untuk menautkan cincin pernikahan dan memberikan mahar kepada Tia, di lanjutkan dengan adegan mencium tangan mendandakan Tia sudah menjadi istri Digta.
Di sisi lainnya keluarga Tia dan Digta sama-sama terharu dengan ending pernikahan cukup hangat dan sakral, dimana mereka juga salah satu saksi hidup perjalanan hubungan Tia dan Digta.
Setelah sesi foto, Tia dan Digta mengganti pakaian untuk acara resepsi sederhana mereka, di dalam ruang ganti, Digta berbisik " aku udah puasa setahun nih, siap-siap ya kamu" terlihat mata nakal Digta. Tia cukup kaget dengan bisikan Digta, hanya pukulan ringan di punggung Digta respon dari Tia.
Acara sederhana sesuai keinginan Digta dan Tia berjalan dengan lancar, dan berakhir dengan baik pula. Digta dan Tia memutuskan kembali ke rumah Digta, sedangkan Jeje di ajak ke rumah mama Digta bersama ibu Tia, mama Digta ingin Jeje bisa berbaur dengan keluarga Digta, dan memberikan kesempatan kepada pengantin baru untuk bersama.
Sesampai di rumah, Tia Langsur berlari ke kamar mandi di kamar Digta dengan sanggul kepala yang masih terpasang di kepalanya. Digta yang melihat hanya tertawa kecil ' ya ampun gak sabar dia ya', lalu berjalan ke arah dapur meminum air dingin dan membawa segelas air juga ke arah kamarnya.
Sampai kamar, Digta tidak menemukan Tia, tetapi terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi tidak berapa lama Tia keluar dengan rambut basahnya.
" Aaaahhh seger banget Dig... " Ucap Tia sambil memakaikan handuk di kepalanya " kamu mandi sana, seger lho, ampun deh gerah banget aku dari tadi nungguin pengen mandi "
" Pengen mandi atau udah gak sabar kamu" goda Digta sambil membuka baju dan mengambil handuk.
Wajah Tia memerah " apa sih kamu, aku beneran gerah "
Sambil berjalan ke arah kamar mandi, Digta memeluk Tia dan mencium tengkuk lehernya, sambil berbisik " tunggu serangan aku ya " goda Digta kembali.
Tia memainkan ponselnya sambil tiduran di atas kasur, tak berselang dirinya terlelap. Digta yang keluar dari kamar mandi hanya membalurkan handuk di pinggangnya, kaget melihat Tia terlelap, tapi dirinya menghampiri Tia dan mencium keningnya " cape banget kamu kayanya, sampe pules begitu", Digta tersenyum lalu menghampiri lemari pakaiannya dan mengambil celana pendek dan kaos oblongnya.
Digta memeriksa ponselnya, ada nomor baru dari ponselnya, lalu di kirimkan kembali sebuah foto dari no baru itu, Digta melotot tak percaya, lalu buru-buru menghapus nomor baru tersebut dan memblokir nomor tersebut di ponselnya
Tak berapa lama, Tia bangun, sambil mengucek matanya dan menata rambutnya yang setengah basah.
" Hheeeemmmm kamu udah selesai mandi ?" Tanya Tia sambil mengulet dan berdiri " air putih habis ya ?" Tanya Tia kembali dan berjalan keluar kamar.
' bawel ya istriku ini, pertanyaan satu Belum ak jawab udah nanya lagi, dan mau di jawab malah kabur ' batin Digta sambil tersenyum. Sambil melihat ponselnya dan agak sedikit khawatir Digta menghela nafas ' sepertinya harus cerita '
Digta keluar kamar karena merasa Tia tidak kembali ke kamar. Digta melihat suasana rumah sepi, lalu berjalan ke arah dapur. Tia sedang memainkan ponselnya juga.
" Kayanya ada yang lupa ya udah punya suami" goda Digta pura-pura sebal
Tia kaget " maaf sayang bukan lupa, aku lagi kirim pesan sama Jeje, katanya dia lagi seneng di rumah mama kamu, ramai, dan perhatian sama Jeje" ucap Tia tersenyum.
" Ehm sayang.. ada yang mau aku bicarain, aku tunggu di ruang tamu ya" ucap Digta sedikit serius.
" Ayuk bareng ke ruang tamu, aku udah selesai kok" jawab Tia santai.
Bersama ke ruang tamu Tia duduk lebih dahulu. Di susul Digta.
" Ehm.. aku mau ngomong agak serius, tapi aku harap kamu jangan marah ya" ucap Digta khawatir.
" Iya ngomong aja" jawab Tia sambil menyalakan televisi.
Dengan menghela nafas " jadi gini sayang " jeda Digta kembali menghela nafas.
" Apa sih mau ngomong setengah-setengah gitu" ucap Tia agak kesal.
" Janji ya jangan marah" ucap Digta
Hanya di balas anggukan Tia sambil menonton televisi
" Ehm, aku punya mantan kekasih yang sepertinya dia mau mengganggu kehidupan aku" Helaan nafas berat dari Digta.
" Oia ya.. selama perjalanan kita kamu gak pernah Deket perempuan atau cerita Soal mantan kekasih ya" ucap Tia sambil mengingat-ingat.
" Iya jadi gini, tapi beneran ya sayang jangan marah sama aku " ucap Digta makin khawatir dengan ekspresi Tia.
" Ish apaan sih, ngomongnya berbelit-belit banget" gemas Tia.
" Namanya Viona Anastasia, dari semua mantan kekasih aku, hanya dia yang masih suka ganggu kehidupan aku" helaan nafas kembali terdengar.
" Heeemm terus " tanya Tia menyelidik.
" Iya tadi waktu tidur ada no baru di ponsel aku, awalnya hanya pesan memanggil nama, tak berapa lama dia mengirim foto kami semasa kami pacaran, aku panik lalu aku hapus dan aku blokir nomornya." Ucap Digta sambil menunjukkan no baru yang baru dirinya blokir.
Tia tertawa " aku udah tau kok "
" Hah maksud kamu " tanya Digta bingung
" Aku malah udah ketemu dia " Tia tersenyum sambil menonton televisi.
" Hah maksud kamu gimana aku makin gak paham "
Tia tertawa terbahak-bahak " gak usah panik, aku percaya kamu kok "
" Sayang aku penasaran serius, dia mantan kekasih aku yang agak kurang waras menurut aku" ucap Digta khawatir.
" Ya ampun, kamu gak boleh gitu, cantik dan smart gitu kamu bilang kurang waras " Tia tertawa makin terbahak-bahak " saking smartnya sampe aku mau ketawa tau gak sih "
Digta menangkup wajah Tia dan menciumnya agar berhenti tertawa dan menjelaskan semuanya.
" Udah jangan ketawa lagi sayang, kasih aku penjelasan agar aku gak khawatir"
Tia masih mengikik mengingat kejadian sebulan sebelum pernikahannya dengan Digta. " Jadi gini sayang " masih sedikit mengikik.
Flashback on
"Kok bisa sih jadi begini Jun, Digta bisa-bisa ngedumel kalo interiornya jadi begini" ucap Tia mengomel
Juni yang sibuk dengan ponselnya tidak mendengar Omelan Tia.
" Juni.. Juni " panggil Tia kembali, Tia akhirnya menepuk pundak Juni, tak sengaja Juni menjatuhkan ponselnya. Terlihat foto dan sekilas pesan terpampang di layar ponselnya. Saat Juni mau mengambil Tia mengambil duluan. " Wah parah lu Jun, cewe mana lagi ini" ucap Tia bercanda, tak berapa lama ada pesan masuk tak sengaja Tia melihat dan membaca.
XXX : / Digta masih sayang sama gue pastiin Jun, tolong kasih nomor dia ke gue, dia pasti bakal milih gue di banding calon istrinya /
Tia menaikkan alisnya " ini siapa ?" Sambil menskroll profile nomor tersebut.