Juni melihat khawatir dan diam.
" Ini siapa Jun ? " Tanya Tia masih dengan alis naik sebelah. Ada rasa emosi saat Tia perlahan menskroll pesan antara Juni dan si wanita.
" Tia..Tia.. duduk dulu ya, " Juni mencoba menenangkan Tia dan memegang bahu Tia yang masih memegang ponsel Juni, Juni berusaha meraih ponselnya, tetapi masih di pegang Tia dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Helaan nafas terdengar dan Tia mengembalikan ponsel Juni. Dan tak terasa air mata menetes dari Tia. Juni yang panik meraih ponselnya dari tangan Tia. Tia menangis di bahu Juni. Cukup lama Tia menangis hingga Juni merasa pegal karena Tia menangis. Berselang waktu Tia menegakkan kepalanya dan menghapus air mata di pipinya. Juni memberikan tisu.
" Mau cerita apa gue cari tau sendiri ?" Selidik Tia yang masih sesegukan
"Huft.." helaan nafas berat " ya yang seperti yang lu baca" ucap Juni berat sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
" Ajak ketemu aja" ucap Tia menggoda
" Jangan cari penyakit Tia, kalo Digta tau, bisa mati gue" jawab Juni.
" Ya udah gue yang nemuin dia" ucap Tia kembali
Juni geleng-geleng menghadapi Tia yang sedang emosi.
" Tenangin diri lu dulu, gue ceritain semua, tapi janji ya, jangan emosi kembali" ucap Juni mengelus kepala Tia.
" Hemm " jawab Tia singkat.
" Namanya Viona Anastasia, mantan kekasih Digta entah yang keberapa" ucap Juni sambil ngikik " dulu pada masa kuliah Digta termasuk bandel sama perempuan, karena merasa dirinya tampan tapi hanya sebatas gonta ganti pacar aja gak lebih" ucap Juni lagi sambil melihat ekspresi Tia
" Terus ?" Tanya Tia menyelidik
" Gue cuma tahu sedikit, sisanya lu tanya Digta lagi ya," ucap Juni.
" Lama banget sih ceritanya pake di jeda " ucap Tia kesal
" Iya-iya.. jadi entah bagaimana mereka ketemu, tapi yang jelas Viona masih sekampus sama kami berdua. Mereka pacaran cukup lama, kejadian paling ekstrim yang buat Digta pergi ninggalin Viona adalah, Digta di jebak sama Viona tidur bersama dan di bohongi kalo Viona hamil anak Digta, yang pada kenyataannya mereka gak ngapa-ngapain dan kehamilan itu hanya rekayasa Viona agar Digta gak pergi ninggalin Viona" ucap Juni panjang lebar.
" Terus kenapa dia masih mencari Digta ?" Tanya Tia
" Entah lagi ya Tia, gimana ceritanya Digta kembali lagi sama Viona. Gue aja kaget saat kita lagi nyusun skripsi Viona udah glendotan lagi sama Digta, gue sempet nanya kenapa ? Yang Digta ceritakan hanya kasian Viona bolak balik ngejar Digta meminta maaf dan akhirnya Digta memaafkan karena kasian. Dari situ Viona makin protektif sama Digta, segala hal jadi keributan antara mereka berdua. Ketika Digta menyatakan putus, Viona kembali memohon maaf dan mereka kembali. Entah apa yang membuat Digta mempertahankan hubungan mereka. Tapi setelah wisuda mereka putus, karena Viona melanjutkan studi nya ke Amerika dan Digta ke Paris. Hanya itu aja yang gue tau." Ucap Juni mengakhiri ceritanya.
" Ajak dia ketemu Jun, gue pengen tau gimana orangnya, jadi gue bisa mastiin bisa lanjutin apa gak pernikahan gue sama Digta " ucap Tia santai.
" Kagak..kagak.. nyari penyakit aja lu gue bilang " kaget Juni
" Ya udah gue temuin dia sendiri" ucap Tia santai.
" Ya ampun bener-bener ya perempuan ini gak tau jalan pikirannya " jawab Juni geleng-geleng kepala. " Tapi janji apapun yang lu tau jangan sampe lu hentiin pernikahan lu sama Digta, lu tau kan gimana perjuangan Digta hanya nunggu lu, jangan karena se onggok kecebong lu berubah pikiran" ucap Juni memastikan
" Liat nanti aja Jun, gue gak mau janji apa-apa " ucap Tia makin santai.
Juni memegang ponselnya, dan mengirim pesan pada Viona kembali, Juni hanya berharap Tia bisa terbuka dengan keadaan yang di lihatnya. Tak berselang lama Juni mendapat balasan, dan tak berselang lama Juni mengajak Tia pergi untuk menemui Viona.
Sepanjang perjalanan Tia hanya diam dan mengecek ponselnya dan membalas beberapa pesan dari Digta keluarga dan teman-temannya. Juni yang melihat hanya menghela nafas.
" Inget ya, disana pura-pura kalo lu itu pacar gue, jadi biar lu tau segalanya gak hanya cerita dari gue, lu berhak dengar dari ke dua pihak" ucap Juni sambil menyetir.
Perjalanan setengah jam akhirnya Juni dan Tia sampai di sebuah kafe dengan nuansa indoor yang cukup teduh dan menarik minat pengunjung. Dari kejauhan terdengar panggilan untuk Juni oleh sosok wanita cantik. Juni hanya melihat dan melambaikan tangan, dan dengan gerakan cepat menggandeng tangan Tia agar terkesan mereka berpacaran. Tia yang agak canggung dengan sikap Juni berusaha menenangkan diri. Sedangkan Juni hanya santai dan berharap dengan genggamannya mencegah Tia menjadi singa liar.
" Hai Jun, sini" lambaian tangan wanita cantik yang sudah di ketahui bernama Viona. " Apa kabar " rentangan tangan Viona, Juni lalu mengangkat tangan dirinya yang menggenggam tangan Tia. Tia mulai sedikit emosi, terbayang dalam angannya kalau posisi itu adalah Digta.
" Eh maaf, ini pacar lu Jun " tanya Viona.
" Iya seperti yang lu lihat " jawab Juni singkat
" Digta mana ? " Tanya Viona kembali.
" Sama calon istrinya yang pasti mba" jawab Tia cepat
" Ih Digta begitu ya.. kalo ketemu gue pasti bakal berubah pikiran deh" jawab Viona percaya diri " Oia siapa namanya pacar Juni " viona mengulurkan tangannya
" Titi " jawab Tia cepat membalas uluran tangan Viona.
Juni yang berada di sisi Tia kembali menggenggam tangan Tia. Dalam hatinya mulai khawatir dengan sikap Tia.
" Cantik lho pacarmu Jun, udah cocok nikah kalian" ucap Viona.
" Iya sebentar lagi nikah kok, Viona udah nikah ? " Tanya Tia menyelidik
" Heemmm sayangnya aku sudah bercerai setahun ini, dan pengesahan perceraian aku baru 3 bulan ini karena gugatan ku baru di setujui akhirnya 3 bulan ini " jawab Viona percaya diri " aku dengar Digta menikah dengan janda juga ya anak 1 lagi, mending sama aku kan janda single, harta aku banyak, bisa bantu perusahaan dia " ucap Viona menyinyir.
Tia meremas tangan Juni cukup kuat, Juni sampai kesakitan dengan genggaman Tia.
" Hei " Juni menyadarkan Tia.
" Maaf-maaf " senyum Tia melihat Juni " emang mba Viona berapa lama berhubungan sama Digta ? Kepo deh aku " tanya Tia tersenyum menyelidik.
" Ehmmm kayanya lama deh sekitar 3 tahun, tapi kami putus nyambung, Digta sayang banget lho sama aku" ucap Viona makin percaya diri
" Mba aku kasih bocoran ya, Digta nungguin janda anak 1 itu 3 tahun lho mba, dan mereka udah jalan 4 tahun pacaran sampai akhirnya mau menikah, kalo mba tau drama perjalanannya wah mereka pasangan romantis yang pernah aku kenal lho " sindir Tia melihat reaksi Viona sedikit emosi.
" Memang iya Juni ?" Tanya Viona menyelidik.
" Ya begitu, kan gue udah cerita, gak mungkin Digta bakal balik sama lu, dia nunggu itu perempuan dari masih punya suami malah Vi " Juni menambahkan.
" Masa sih Jun, secinta itu Digta sama itu perempuan, gak mungkinlah, gue pastiin Digta cuma cinta sama gue " jawab Viona membela diri " mana sini no Digta, gue pastiin dia cinta sama gue" tambahnya membela diri
" Digta gak bakal ijinin gue kasih nonya ke lu vio" jawab Juni sambil menyeruput minumannya.
" Lu gak mau ngasih gue Jun, bakal gue cari no dia sendiri " ucap Viona berambisi.
Tia tertawa melihat sikap Viona, ternyata hanya kecantikan yang di miliki Viona, sisanya hanya khayalan belaka.
Setelah saling menyindir dan membela diri antar perempuan yang membuat Juni pun pusing dan diam saja melihat ke dua perempuan di hadapannya.
Dalam perjalanan pulang, Tia tertawa mengingat ekspresi tidak terima Viona akan perbincangan dirinya dan Juni.
" Kenapa lu ketawa-ketawa ? " Tanya Juni.
" Mantan kekasih Digta cantik dan smart " jawab Tia dengan mata mengejek.
" Gue paham ekspresi lu " senyum Juni " puas udah ketemunya ?" Tanya Juni.
" Bukan masalah puas Jun, bersyukur aja selama ini gue pikir hanya main-main sama Digta " jawab Tia santai dan menghela nafas
Tak berselang Digta menelepon Tia.
Flashback off
" Gitu lho ceritanya " jawab Tia dengan mata mengejek kembali .
" Alhamdulillah " ucap Digta menghela nafas bersyukur " pendapat kamu tentang dia gimana ?" Tanya Digta menyelidik
" Heeemm cantik dan smart aja udah cukup ya, jangan bikin aku bete " lirik Tia.
Digta mengusap-usap kepala Tia, ' beruntung aku punya kamu' batin digta
Mereka bersenda gurau hingga malam tiba.
" Bun, gak mandi ?" Ucap Digta
Tia menatap heran Digta.
" Kenapa ?" Tanya Digta.
" Aku gak salah denger ? " Tanya Tia
" Denger apa emang ?" Tanya Digta kembali
" Bun ?" Tanya Tia lagi
Digta menghampiri Tia yang sedang membereskan pakaiannya yang berpindah ke lemari baru yang di beli Digta sebelum menikah.
" Iya aku panggil kamu bunda, agar aku terbiasa seperti Jeje, gak apa-apa kan Bun " ucap Digta sambil memeluk Tia.
Tia hanya tersenyum sambil merapikan pakaiannya. Digta mulai meraba seluruh tubuh Tia dan mencium tengkuk Tia.
" Setahun aku puasa, jangan abaikan aku lagi ya " ucap Digta sambil membalik tubuh Tia dan mencium Tia dalam.
Tia membalas ciuman Digta, Digta menggendong Tia menuju kasur tempat pergulatan mereka berdua. Malam panjang mereka lewati dengan pergulatan panas di atas kasur, Digta dan Tia yang begitu b*******h berhubungan intim, sampai lelah mereka rasakan.
Terlelap mereka hingga tak terasa siang Digta bangun terlebih dahulu, melihat suasana kamar yang berantakan. Perlahan Digta turun dari kasur dan mencari celana boxernya dan memakai kaos oblong, menyelimuti Tia dan mencium kening Tia, langsung pergi ke arah kamar mandi membersihkan dirinya.
Selesai mandi, Digta masih melihat Tia terlelap, melihat di layar cctv Digta terkaget melihat Viona depan rumah, tapi Digta tetap berusaha tenang agar Tia tidak kaget. Suara ketukan dan teriakan terdengar. Digta mulai panik dan melihat Tia yang mulai terganggu.
" Eeehhhmmm siapa sih berisik banget " ucap Tia bangun dari kasurnya dengan tertutupi selimut.
Digta terkejut menghampiri Tia, " Viona di depan rumah " ucap Digta panik.
" Ngapain dia kesini, jam berapa sih ini " tanya Tia masih berusaha mengembalikan kesadarannya.
" Astaghfirullah siang banget aku kelewat sholat subuh, aku mandi dulu " Tia berlari mengenakan selimut ke arah kamar mandi, sesampai di pintu " kamu telepon Juni aja, suruh handle Viona, kalo gak bisa handle Viona, biar aku yang nemuin" ucap Tia sambil ngikik dan masuk kamar mandi.
Digta mengambil ponselnya dan menelepon Juni. Dan menceritakan tentang Viona yang berada depan rumahnya.
Berselang setengah jam, Digta melihat di layar cctv, Juni datang, dan mengobrol entah apa dengan Viona, dan akhirnya Viona pergi. Tia yang juga baru selesai mandi, "masih ada vionanya ? " Tanya Tia sambil melihat cctv di kamar Digta.
" Udah pergi, baru banget, Juni juga ngabarin kalau dia langsung pergi, karna kerjaan kantor masih banyak" jawab Digta sambil melihat Tia yang memakai daster panjang. " Kalo kamu hamil anak kita lucu ya kayanya " ucap Digta menatap Tia.
" Apaan sih " ucap Tia heran.
" Galak banget sih istri aku sekarang " jawab Digta gemas memeluk Tia. " Semoga cepet jadi Ade bayi ya " ucap Digta kembali mengecup perut Tia yang berbalut baju dasternya
Tia tersenyum melihat tingkah Digta.