Ardena sampai di apartemennya dengan perasaan masih belum stabil setelah acara malam tadi. Tarian itu. Percakapan itu. Cara Leonard menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa hidup.
Ia melempar clutch ke sofa dan berjalan ke dapur untuk membuat teh. Tapi matanya tertangkap oleh sesuatu yang tergeletak di bawah pintu apartemennya—amplop putih polos tanpa alamat pengirim, hanya namanya ditulis tangan dengan tinta hitam.
Ardena mengambil amplop itu dengan hati-hati, membukanya perlahan. Di dalam hanya ada satu foto lama yang sudah agak pudar. Foto itu menunjukkan seorang pria muda dengan kemeja putih dan senyum hangat—ayahnya, Aryanto Callista, tapi versi yang jauh lebih muda dari yang Ardena ingat.
Di sampingnya berdiri seorang anak lelaki, mungkin berusia delapan atau sembilan tahun, dengan mata besar yang menatap kamera dengan campuran ketakutan dan harapan. Anak itu mengenakan baju lusuh yang terlalu besar untuk tubuhnya, rambutnya acak-acakan, tapi ada sesuatu di wajahnya yang membuat Ardena merasa ia pernah melihatnya sebelumnya.
Ardena membalik foto itu. Di belakangnya ada tulisan dengan tinta yang sudah memudar:
"Panti Asuhan Harapan Baru, 2005. Tuan Arya dengan salah satu anak asuhnya."
Dan di bawahnya, dengan tulisan tangan yang berbeda—lebih baru, lebih gelap—ada kalimat yang membuat napas Ardena tertahan:
"Dia masih hidup di balik nama yang kau cari."
Ardena menatap foto itu lama, pikirannya bekerja cepat mencoba memahami apa maksudnya. Ayahnya pernah terlibat dengan panti asuhan? Ia tidak pernah tahu tentang ini. Tidak pernah mendengar ayahnya menyebut tentang panti asuhan atau anak-anak yang ia bantu.
Dan siapa anak lelaki ini? Kenapa seseorang mengirimkan foto ini padanya sekarang?
"Dia masih hidup di balik nama yang kau cari."
Nama yang ia cari. Rafael? Leonard?
Ardena menatap wajah anak lelaki di foto itu lagi, kali ini lebih cermat. Ada sesuatu di matanya—tatapan yang tajam meskipun masih muda, postur tubuh yang tegak meskipun pakaiannya compang-camping. Dan untuk sekilas, sangat sekilas, ia melihat kemiripan dengan seseorang yang ia kenal.
Leonard. Tidak. Tidak mungkin. Tapi semakin lama ia menatap, semakin ia yakin. Garis rahang. Bentuk mata. Bahkan cara anak itu berdiri dengan sedikit kaku, seolah tidak terbiasa dengan perhatian.
Ini Leonard. Leonard kecil. Dan ayahnya... ayahnya mengenalnya?
Ardena merasa dunianya berputar. Kalau ini benar, kalau Leonard adalah anak yang ayahnya bantu di panti asuhan... itu berarti mereka punya sejarah jauh sebelum semua ini dimulai. Jauh sebelum Rafael membunuh Aryanto Callista.
Tapi kenapa Leonard tidak pernah bilang? Kenapa ia membunuh orang yang mungkin pernah membantunya?
Atau... atau ia tidak tahu?
Ardena mengambil ponselnya dengan tangan gemetar dan memfoto gambar itu dari kedua sisi. Ia harus mencari tahu lebih banyak. Harus menemukan siapa yang mengirim foto ini dan kenapa.
Tapi sebelum ia sempat melakukan apapun, ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal.
Dengan jantung berdebar, Ardena mengangkat. "Halo?"
Suara pria dengan aksen asing—mungkin Eropa Timur—menjawab. "Ms. Callista. Anda sudah menerima paketnya?"
"Siapa ini?" tanya Ardena tegas.
"Nama saya tidak penting. Yang penting adalah apa yang saya tahu." Suara itu terdengar tenang, terkontrol.
"Foto itu adalah kunci untuk memahami siapa Leonard Varghese sebenarnya. Dan siapa ayah Anda baginya."
"Apa maksud Anda?" desak Ardena.
"Ayah Anda adalah donatur rahasia Panti Asuhan Harapan Baru selama bertahun-tahun. Ia datang sebulan sekali, membawa buku dan mainan, menghabiskan waktu dengan anak-anak di sana."
"Salah satu anak favoritnya adalah bocah bernama... well, ia punya nama lain saat itu. Tapi sekarang Anda mengenalnya sebagai Leonard Varghese."
Ardena merasa napasnya tertahan. "Leonard tahu tentang ini?"
"Itulah yang menarik, Ms. Callista. Ia tidak tahu. Tidak sampai sekarang." Suara itu tertawa pelan—tawa yang tidak ada kehangatan di dalamnya.
"Bayangkan betapa hancurnya ia ketika menyadari bahwa ia membunuh satu-satunya orang yang pernah peduli padanya."
"Kenapa Anda memberitahu saya ini?" tanya Ardena, meskipun ia sudah bisa menebak jawabannya.
"Karena saya ingin melihat apa yang akan terjadi ketika dua orang yang saling mencintai menyadari bahwa mereka terhubung oleh darah yang sama." Suara itu berhenti sejenak. "Atau dalam hal ini, oleh darah yang sudah tertumpah."
Sambungan terputus. Ardena berdiri di apartemennya dengan tangan gemetar, foto masih tergenggam erat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan informasi ini.
Tidak tahu apakah ia harus mengkonfrontasi Leonard atau menyimpannya untuk dirinya sendiri. Yang ia tahu, semuanya menjadi jauh lebih rumit dari yang ia kira.
...
...
Leonard duduk di kantornya dengan amplop serupa di mejanya. Ia menemukannya pagi tadi, dikirim melalui kurir khusus dengan instruksi "hanya untuk Leonard Varghese."
Foto yang sama. Tulisan yang sama di belakang. Tapi bagi Leonard, foto ini bukan misteri. Ini adalah mimpi buruk yang kembali hidup.
Ia mengenali foto ini seketika. Mengenali dirinya sendiri di usia delapan tahun—masih dengan nama asli yang sudah ia kubur begitu dalam. Mengenali pria di sampingnya dengan senyum yang tulus dan mata yang penuh kebaikan.
Tuan Arya.
Nama yang ia panggil untuk Aryanto Callista dua puluh tahun lalu, ketika pria itu masih menjadi pejabat muda idealis yang menghabiskan waktu luangnya di panti asuhan kumuh di pinggiran kota.
Leonard masih ingat hari pertama Tuan Arya datang. Ia membawa kotak besar berisi buku—buku cerita dengan gambar berwarna, buku tentang binatang dan planet, buku tentang orang-orang hebat yang mengubah dunia. Anak-anak lain berebut untuk melihat, tapi Leonard hanya duduk di pojok, menatap dari kejauhan.
...
...
Tuan Arya mendekat padanya dengan senyum. "Kamu tidak mau lihat?"
Leonard menggeleng. "Buku itu bukan untuk saya."
"Kenapa tidak?"
"Karena saya tidak akan jadi orang hebat. Ibu Ratna bilang saya hanya akan jadi... saya tidak tahu. Tapi bukan orang hebat."
Tuan Arya duduk di samping Leonard, membuka salah satu buku. "Kamu tahu siapa Einstein? Ia anak yang lambat bicara. Orang pikir ia bodoh. Tapi ia jadi salah satu ilmuwan terhebat di dunia."
"Itu berbeda," kata Leonard pelan.
"Mungkin. Atau mungkin tidak." Tuan Arya menutup buku itu dan menatap Leonard dengan serius. "Dengar."
"Tidak peduli apa yang orang lain bilang tentangmu. Kamu bisa jadi siapa saja yang kamu mau. Asal kamu tidak menyerah."
Leonard menatap pria itu—menatap mata yang tidak berbohong, yang tidak merendahkan, yang tidak mencoba menjual harapan palsu. Hanya kejujuran.
Sejak hari itu, Tuan Arya datang setiap bulan. Ia membacakan buku untuk Leonard, mengajarinya cara berpikir kritis, mengatakan bahwa suatu hari ia akan keluar dari panti asuhan itu dan membangun sesuatu yang besar.
Dan Leonard percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia percaya bahwa ia bisa jadi lebih dari sekadar anak panti asuhan yang tidak diinginkan.
Tapi kemudian semuanya berubah. Tuan Arya berhenti datang. Tidak ada penjelasan. Tidak ada perpisahan. Ia hanya... menghilang.
Dan bocah kecil bernama Leonard—atau nama apapun yang ia pakai saat itu—berhenti percaya pada kebaikan orang dewasa.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menjadi Rafael dan membangun jaringan kekuasaannya, ia mendengar nama Aryanto Callista—pejabat yang menghalangi jalur distribusinya, yang mencoba membongkar korupsi yang melibatkan orang-orang penting dalam jaringannya.
Rafael tidak ragu. Ia memerintahkan penghilangan Aryanto. Cepat, efisien, tanpa emosi.
Ia tidak pernah tahu—tidak pernah menghubungkan—bahwa Aryanto Callista adalah Tuan Arya yang dulu membacakan buku untuknya, yang mengatakan ia bisa jadi orang besar.
Sampai sekarang.
...
...
Leonard menatap foto itu dengan tangan yang gemetar, air mata mulai memenuhi matanya meskipun ia mencoba menahannya. Semua rasa bersalah yang selama ini ia pendam, semua pertanyaan tentang apakah ia pantas diselamatkan—semuanya meledak sekaligus.
Ia membunuh satu-satunya orang yang pernah percaya padanya. Satu-satunya orang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar anak panti asuhan yang tidak ada harapan.
Dan sekarang ia jatuh cinta pada anak pria itu. Anak yang mencari kebenaran tentang kematian ayahnya. Anak yang tidak tahu bahwa monster yang ia cari adalah orang yang pernah diselamatkan oleh ayahnya.
Ini adalah hukuman, bisik suara Rafael di kepalanya—tapi kali ini tidak terdengar menang. Terdengar... sedih. Ini adalah hukumanmu karena berpikir kau bisa jadi orang baik.
"Aku tidak pernah bilang aku orang baik," bisik Leonard pada kekosongan kantornya. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu kenapa aku tidak ingat."
Karena kau tidak mau ingat. Karena mengingat berarti mengakui bahwa kau membunuh satu-satunya harapanmu.
Leonard menutup matanya, tangannya meremas foto sampai kertas itu kusut. Ia tahu siapa yang mengirim foto ini. Hanya satu orang yang punya akses ke arsip lama panti asuhan, yang tahu tentang masa lalunya, yang punya motif untuk menghancurkannya dari dalam.
Marek Silvano.
Tangan kanannya yang paling setia. Atau yang ia pikir paling setia. Leonard membuka laci mejanya dan mengeluarkan ponsel kedua—ponsel Rafael. Ia mengetik pesan dengan tangan yang masih gemetar.
Rafael: Marek. Kantor. Sekarang.
Balasan datang cepat.
Marek: Dalam perjalanan, bos.
Leonard menaruh ponsel itu di meja dan berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota Ardencia. Dari sini, semuanya terlihat kecil—gedung-gedung, mobil-mobil, orang-orang yang berjalan seperti semut.
Ia pernah merasa seperti dewa di atas sini. Merasa seperti ia mengendalikan segalanya. Tapi sekarang ia hanya merasa kecil seperti akan hancur dalam hitungan mundur.
Pintu kantornya terbuka. Marek masuk dengan senyum tipis di wajahnya—senyum yang terlalu percaya diri, terlalu puas.
"Bos. Ada yang bisa saya bantu?"
Leonard berbalik perlahan, menatap Marek dengan tatapan yang membuat pria itu berhenti tersenyum.
"Kau yang mengirim foto itu," kata Leonard—bukan pertanyaan. Pernyataan.
Marek tidak menyangkal. "Ya."
"Kenapa?"
Marek melangkah lebih dekat, tangannya masuk ke saku celananya dengan santai. "Karena kau melemah, Leonard. Atau haruskah aku panggil Rafael? Atau... nama aslimu yang sudah kau kubur?"
Leonard tidak bergerak. "Jawab pertanyaanku."
"Aku mengirim foto itu karena aku lelah melihat kau jadi orang yang lemah," kata Marek dengan nada dingin.
"Kau jatuh cinta pada wanita yang mencoba menghancurkanmu. Kau ragu-ragu saat seharusnya bertindak. Kau kehilangan kendali."
"Dan kau pikir dengan mengirim foto itu, kau bisa... apa? Membuat aku sadar?"
"Tidak," jawab Marek dengan senyum tipis. "Aku ingin mempercepat proses. Aku ingin Rafael mengambil alih sepenuhnya. Karena Leonard sudah tidak berguna lagi."
Leonard menatap Marek—pria yang sudah bekerja untuknya selama lima tahun, yang tahu semua rahasianya, yang ia percaya lebih dari siapa pun. Dan sekarang pria itu mengkhianatinya.
"Kau pikir aku tidak tahu?" bisik Leonard. "Kau pikir aku tidak sadar kau sudah merencanakan ini?"
Marek terdiam, senyumnya memudar.
"Aku tahu semua yang kau lakukan, Marek," lanjut Leonard, suaranya berubah—menjadi lebih gelap, lebih dingin. Suara Rafael. "Aku tahu kau sudah menghubungi rival kami. Aku tahu kau mencoba mengambil alih jaringanku dari dalam."
"Tapi—"
"Tapi aku membiarkanmu," potong Rafael. "Karena aku ingin melihat seberapa jauh kau akan pergi. Dan sekarang aku tahu."
Marek mundur selangkah, tangan mulai bergerak ke saku jaket—mencari senjata, mungkin. Tapi Rafael lebih cepat.
Dalam sekejap, Rafael sudah berdiri di depan Marek, tangannya mencengkeram leher pria itu dan mendorongnya ke dinding dengan kekuatan yang membuat Marek tersedak.
"Kau pikir dengan mengirim foto itu, kau bisa menghancurkanku?" desis Rafael. "Kau hanya mengingatkanku siapa aku sebenarnya. Dan sekarang... sekarang aku akan menunjukkannya padamu."
Tapi sebelum Rafael sempat melakukan apapun, sesuatu berubah. Cengkeramannya melonggar. Tangannya gemetar.
Dan untuk sekilas, Leonard kembali—menatap Marek dengan mata yang penuh ketakutan.
"Pergi," bisik Leonard dengan suara serak. "Pergi sebelum aku tidak bisa menahannya lagi."
Marek terbatuk, memegang lehernya yang memar, lalu berlari keluar dari ruangan tanpa menoleh.
Leonard—atau Rafael—berdiri sendirian di kantornya, menatap tangannya yang masih gemetar.
Kau membiarkannya pergi, bisik Rafael. Kau lemah.
"Atau mungkin aku masih punya sedikit kemanusiaan," bisik Leonard pada dirinya sendiri.
Tapi ia tahu itu tidak akan bertahan lama. Karena foto itu sudah mengingatkannya pada satu hal: tidak ada yang bisa diselamatkan. Tidak Tuan Arya. Tidak dirinya sendiri.
Dan mungkin, tidak juga Ardena.