Ardena menatap undangan yang tergeletak di mejanya dengan perasaan campur aduk. Undangan makan malam amal untuk yayasan anak-anak kurang mampu, diadakan di Hotel Mulia dengan dress code formal dan daftar tamu yang dipenuhi nama-nama penting di Ardencia.
Biasanya ia tidak tertarik dengan acara-acara seperti ini karena terlalu banyak orang kaya yang datang hanya untuk pamer, terlalu banyak senyum palsu dan percakapan kosong. Tapi kali ini berbeda.
Varghese Group adalah salah satu sponsor utama acara tersebut. Dan Leonard Varghese akan hadir.
Ardena tahu ia seharusnya menjauhi pria itu. Tahu bahwa setiap kali mereka bertemu, sesuatu di dalam dirinya mulai goyah—antara kebencian yang rasional dan ketertarikan yang tidak masuk akal.
Tapi ia tidak bisa menghindarinya. Tidak ketika ia tahu Leonard menyembunyikan sesuatu yang besar, sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya.
Jadi malam Sabtu itu, Ardena mengenakan gaun hitam sederhana yang ia pinjam dari teman kuliahnya—bukan yang terlalu mewah, tapi cukup untuk tidak terlihat tidak pada tempatnya di antara para elite. Ia merapikan rambutnya dengan sanggul rendah, memakai sedikit makeup untuk menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya yang muncul karena kurang tidur, lalu berangkat ke hotel dengan taksi online.
Ballroom Hotel Mulia sudah dipenuhi tamu saat Ardena tiba. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, meja-meja bundar dihiasi dengan bunga mawar putih dan lilin yang menyala lembut, dan orkestra kecil memainkan musik klasik di sudut ruangan. Semua terlihat sempurna, terencana, mahal.
Ardena mengambil segelas wine dari pelayan yang lewat—bukan untuk diminum, tapi untuk punya sesuatu di tangan supaya tidak terlihat canggung. Ia berjalan perlahan menyusuri tepi ruangan, mengamati orang-orang yang mengobrol dengan tawa yang terlalu keras dan senyum yang terlalu lebar.
Lalu ia melihatnya. Leonard berdiri di dekat jendela besar dengan segelas whiskey di tangan, berbicara dengan beberapa pria paruh baya yang sepertinya adalah investor atau partner bisnis. Ia mengenakan tuxedo hitam yang dipotong sempurna, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan ekspresinya tenang dan terkontrol seperti biasa.
Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Cara ia berdiri sedikit lebih tegang dari biasanya. Cara ia memegang gelas dengan cengkeraman yang sedikit terlalu kuat. Seperti ia sedang menahan sesuatu—kemarahan, mungkin? Atau ketakutan?
Seolah merasakan tatapan Ardena, Leonard menoleh. Mata mereka bertemu di kerumunan, dan untuk sekilas, Ardena melihat sesuatu di mata pria itu—sesuatu yang gelap dan berbahaya, tapi juga... rapuh.
Leonard mengakhiri percakapannya dengan para investor itu dengan cepat, lalu berjalan menuju Ardena dengan langkah yang terukur. Jantung Ardena mulai berdetak lebih cepat, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang dan berdiri di tempatnya tanpa mundur.
"Ms. Callista," sapa Leonard saat ia sudah cukup dekat, suaranya formal tapi ada nada lain di sana yang tidak bisa Ardena identifikasi. "Tidak sangka melihat Anda di acara seperti ini."
"Saya bisa bilang hal yang sama," jawab Ardena, mengangkat gelasnya sedikit sebagai salam. "Tapi kemudian saya ingat Varghese Group adalah sponsor utama. Jadi tidak terlalu mengejutkan."
Leonard tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Anda terdengar sinis."
"Saya jurnalis. Sinis adalah bagian dari pekerjaan."
"Atau mungkin Anda hanya tidak suka dengan orang-orang seperti saya," kata Leonard sambil melangkah sedikit lebih dekat, menciptakan jarak yang hampir terlalu intim untuk percakapan di tempat umum.
"Orang-orang yang punya uang dan kekuasaan. Orang-orang yang Anda pikir korup dan tidak bermoral."
Ardena menatapnya tajam. "Apakah saya salah berpikir begitu?"
Leonard diam sejenak, matanya tidak lepas dari mata Ardena. "Mungkin tidak. Tapi pertanyaannya adalah—apakah Anda benar-benar membenci saya, Ms. Callista? Atau apakah Anda membenci diri Anda sendiri karena tidak bisa berhenti memikirkan saya?"
Kalimat itu seperti tamparan. Ardena merasa napasnya tertahan, tidak tahu harus menjawab apa. Karena Leonard benar—terlalu benar. Ia tidak bisa berhenti memikirkan pria ini, meskipun ia tahu seharusnya ia menjauhinya.
"Anda terlalu percaya diri," kata Ardena akhirnya, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik nada dingin.
"Atau Anda terlalu mudah dibaca," balas Leonard dengan senyum yang lebih genuine kali ini—tapi ada sesuatu yang gelap di balik senyum itu, sesuatu yang membuat Ardena merasa seperti sedang bermain dengan api.
"Setiap kali Anda menatap saya," lanjut Leonard dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Ardena, "ada konflik di mata Anda."
"Antara apa yang Anda pikir benar dan apa yang Anda rasakan. Itu membuatnya sangat jelas—Anda tidak tahu lagi apa yang Anda inginkan dari saya."
Ardena merasa pipinya memanas. "Saya tahu persis apa yang saya inginkan. Saya ingin kebenaran. Saya ingin tahu siapa Anda sebenarnya."
"Anda yakin tentang itu?" tanya Leonard, nadanya berubah menjadi lebih serius. "Karena kadang-kadang, kebenaran tidak seperti yang kita harapkan. Kadang-kadang, kebenaran menghancurkan ilusi yang membuat kita merasa aman."
Ada sesuatu di cara ia mengatakan itu—seolah ia berbicara dari pengalaman pribadi, seolah ia sendiri sudah menghadapi kebenaran yang menghancurkan—yang membuat Ardena merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata itu.
"Anda berbicara seolah Anda tahu banyak tentang kebenaran yang menghancurkan," kata Ardena pelan.
Leonard tersenyum pahit. "Karena saya melakukannya. Lebih dari yang Anda kira."
Mereka berdiri dalam keheningan sejenak, musik orkestra mengisi ruang di antara mereka. Ardena merasakan ada sesuatu yang tidak terucap—pertanyaan yang menggantung di udara tapi tidak ada yang berani mengatakannya.
"Kenapa Anda di sini, Ms. Callista?" tanya Leonard akhirnya. "Ini bukan acara untuk jurnalis investigasi. Ini acara amal untuk orang-orang kaya yang ingin merasa baik tentang diri mereka sendiri."
"Mungkin saya ingin melihat bagaimana orang-orang seperti Anda beroperasi," jawab Ardena. "Melihat di balik topeng yang Anda pakai di depan publik."
"Dan apa yang Anda lihat?" tanya Leonard, matanya tidak lepas dari mata Ardena.
Ardena menarik napas. "Saya melihat seseorang yang sangat lelah. Seseorang yang berpura-pura kuat tapi sebenarnya rapuh. Seseorang yang menyembunyikan sesuatu yang besar—sesuatu yang menakutkan."
Leonard tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Ardena dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara kejutan, kekaguman, dan... kesedihan.
"Anda terlalu pintar untuk kebaikan Anda sendiri," bisiknya akhirnya.
"Atau Anda terlalu transparan," balas Ardena.
Leonard tertawa pelan—tawa yang terdengar seperti kekalahan. "Mungkin. Atau mungkin saya sudah terlalu lelah untuk berpura-pura."
Ia melangkah lebih dekat lagi, dan sekarang jarak di antara mereka sangat kecil sampai Ardena bisa mencium aroma cologne-nya yang familiar, bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang terlalu dekat.
"Ada yang ingin saya tanyakan pada Anda, Ms. Callista," kata Leonard dengan suara yang sangat rendah. "Dan saya ingin jawaban jujur."
"Apa?" tanya Ardena, jantungnya berdetak cepat.
"Kalau Anda menemukan bahwa saya adalah orang yang Anda kira—kalau Anda menemukan semua bukti yang Anda cari dan mengkonfirmasi bahwa saya bertanggung jawab atas kematian ayah Anda—apa yang akan Anda lakukan?"
Pertanyaan itu membuat napas Ardena tertahan. Ini bukan lagi permainan. Ini konfrontasi yang sangat nyata, sangat berbahaya.
"Saya akan membongkarnya," jawab Ardena tanpa ragu. "Saya akan memberitahu dunia siapa Anda sebenarnya."
"Bahkan kalau itu berarti Anda harus mengakui bahwa Anda merasakan sesuatu untuk saya?" tanya Leonard.
"Bahkan kalau itu berarti menghancurkan sesuatu yang mungkin bisa tumbuh antara kita?"
Ardena menatapnya tajam. "Tidak ada yang tumbuh antara kita. Hanya kebohongan dan manipulasi."
"Anda yakin tentang itu?" bisik Leonard, wajahnya sekarang sangat dekat sampai Ardena bisa merasakan napasnya. "Karena saya merasakan sesuatu."
"Sesuatu yang membuat saya tidak bisa tidur di malam hari. Sesuatu yang membuat saya ingin melindungi Anda bahkan ketika saya tahu Anda mencoba menghancurkan saya."
"Itu bukan cinta," kata Ardena, suaranya gemetar sedikit. "Itu obsesi."
"Mungkin," jawab Leonard. "Tapi bukankah semua cinta pada dasarnya adalah obsesi?"
"Keinginan untuk memiliki, untuk melindungi, untuk tidak kehilangan seseorang bahkan ketika dunia berkata kita harus melepaskannya?"
Ardena merasa air matanya mulai mengumpul, tapi ia menahannya. "Anda tidak mencintaiku, Leonard. Anda hanya takut kehilangan kontrol."
Leonard tersenyum sedih. "Mungkin Anda benar. Atau mungkin saya sudah kehilangan kontrol sejak pertama kali saya melihat Anda."
Orkestra mulai memainkan lagu baru—waltz yang lambat dan melankolis. Beberapa pasangan mulai bergerak ke lantai dansa, berputar dengan anggun di bawah cahaya kristal yang berkilauan.
Leonard mengulurkan tangannya pada Ardena. "Dance with me."
"Apa?" Ardena menatap tangannya dengan bingung.
"Dance with me," ulang Leonard.
"Satu tarian. Tidak lebih.
"Setelah itu, Anda bisa kembali membenci saya, kembali menggali rahasia saya, kembali mencoba menghancurkan saya."
"Tapi malam ini, untuk beberapa menit saja, biarkan kita berpura-pura kita adalah dua orang biasa yang bertemu di acara biasa."
Ardena tahu ia seharusnya menolak. Tahu ini ide yang sangat buruk. Tapi ada sesuatu di mata Leonard—keputusasaan yang sangat nyata, kerentanan yang ia tidak pernah lihat sebelumnya—yang membuatnya tidak bisa mengatakan tidak.
Ia meletakkan gelasnya di meja terdekat dan mengambil tangan Leonard. Tangannya hangat dan sedikit gemetar—detail kecil yang membuat Ardena menyadari bahwa Leonard juga gugup.
Mereka berjalan ke lantai dansa, dan Leonard menaruh satu tangan di pinggang Ardena sementara tangan lainnya menggenggam tangannya. Mereka mulai bergerak mengikuti irama musik—perlahan, hati-hati, seperti sedang belajar tarian yang tidak pernah mereka kuasai.
"Anda gugup," bisik Ardena.
"Tentu saja," jawab Leonard. "Saya sedang menari dengan wanita yang mungkin akan menjadi kehancuran saya."
"Atau Anda yang akan menjadi kehancuran saya," balas Ardena.
Leonard menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. "Mungkin kita akan saling menghancurkan. Mungkin itulah takdir kita."
Mereka terus berputar di lantai dansa, di tengah kerumunan orang-orang yang tidak menyadari betapa berbahayanya momen ini—betapa dekatnya keduanya dengan titik tidak bisa kembali.
"Apa yang akan kita lakukan, Ardena?" bisik Leonard, menggunakan nama depannya untuk pertama kalinya tanpa embel-embel formal.
Ardena menatap matanya—mata yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, dan sesuatu yang sangat mirip dengan cinta, meskipun ia tidak ingin mengakuinya.
"Aku tidak tahu," bisiknya jujur. "Tapi aku rasa kita tidak akan selamat dari ini."
Leonard tersenyum pahit. "Setidaknya kita jujur tentang itu."
Musik berakhir, dan mereka berhenti bergerak. Tapi tidak ada yang melepaskan yang lain. Mereka berdiri di tengah lantai dansa, masih bergandengan tangan, masih menatap satu sama lain seperti dunia di sekitar mereka tidak ada.
Sampai akhirnya Leonard mundur selangkah, melepaskan tangannya dengan perlahan.
"Terima kasih untuk tariannya," katanya formal kembali, topeng profesionalnya kembali terpasang.
"Sama-sama," jawab Ardena, juga kembali ke mode jurnalis yang dingin dan terkontrol.
Tapi keduanya tahu—keduanya merasakan—bahwa sesuatu berubah malam ini. Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi.
Dan itu membuat segalanya menjadi jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.