Leonard duduk di meja kecil di apartemen Kuningan dengan buku catatan kosong di depannya. Sudah pukul dua pagi, tapi ia tidak bisa tidur.
Tidak setelah mengetahui apa yang Rafael lakukan tanpa sepengetahuannya. Tidak setelah menyadari bahwa ia kehilangan kendali sepenuhnya atas tubuhnya sendiri.
Ia membuka buku catatan itu—buku dengan sampul kulit cokelat tua yang ia beli di toko buku kecil minggu lalu—dan mulai menulis dengan pulpen tinta hitam. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia memaksa dirinya untuk terus menulis.
Tanggal: 15 Oktober 2025 Pukul: 02.17
Ini percobaan pertamaku untuk mencatat apa yang terjadi. Aku tidak tahu lagi siapa aku. Tidak tahu kapan aku menjadi Rafael atau kapan Rafael menjadi aku. Tadi siang, Kael memberitahuku tentang kematian Budi Santoso—karyawan yang membocorkan data internal. Aku tidak ingat memerintahkan pembunuhan itu. Tapi Rafael mengakui bahwa dialah yang melakukannya.
Aku takut. Bukan pada Rafael. Tapi pada kenyataan bahwa mungkin tidak ada perbedaan lagi antara kami. Mungkin kami sudah menyatu sampai tidak ada lagi batas yang jelas.
Leonard berhenti menulis, menatap kalimat-kalimat itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa seperti sedang menulis surat pada dirinya sendiri di masa depan—atau mungkin pada orang lain yang akan menemukan buku ini suatu hari nanti dan mencoba memahami apa yang terjadi padanya.
Ia melanjutkan menulis.
Pak Harjo bilang aku perlu istirahat. Tapi bagaimana aku bisa istirahat kalau aku tidak tahu apakah aku akan bangun sebagai diriku sendiri atau sebagai seseorang yang berbeda? Bagaimana aku bisa percaya pada diriku sendiri kalau aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan?
Dan Ardena... Tuhan, Ardena. Aku hampir tidak bisa menatapnya lagi tanpa merasa bersalah. Bukan hanya karena aku membunuh ayahnya. Tapi karena aku tahu—aku tahu—cepat atau lambat dia akan menemukan kebenarannya. Dan ketika itu terjadi, aku akan kehilangan satu-satunya orang yang membuatku merasa masih manusia.
Leonard menutup buku catatan itu dengan napas yang berat, lalu menaruhnya di laci meja. Ia berharap dengan menulis seperti ini, ia bisa melacak kapan Rafael mengambil alih, kapan ia kehilangan waktu, kapan...
Kapan ia berhenti menjadi dirinya sendiri.
Ia pergi tidur dengan pikiran yang kacau, berharap besok akan lebih baik. Berharap ia akan bangun dan semuanya akan kembali normal. Tapi tidak ada yang normal lagi dalam hidupnya.
Leonard terbangun pukul enam pagi dengan kepala yang pusing dan mulut yang terasa kering. Ia tidak ingat bermimpi apapun—hanya kekosongan hitam yang dalam, seperti ia tertidur terlalu lelap sampai tidak ada kesadaran sama sekali.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk membuat kopi. Saat melewati meja kerjanya, matanya tertangkap oleh sesuatu yang aneh.
Buku catatan yang ia taruh di laci semalam sekarang tergeletak di atas meja. Terbuka.
Leonard membeku. Ia yakin—sangat yakin—bahwa ia memasukkan buku itu ke dalam laci dan menutupnya sebelum tidur. Tapi sekarang buku itu ada di sana, terbuka di halaman yang ia tulis tadi malam.
Dengan jantung berdebar, Leonard mendekati meja dan menatap buku catatan itu.
Tulisannya masih ada di sana—tulisan dengan tinta hitam yang ia buat pukul dua pagi. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Di bawah tulisannya, ada tulisan lain. Dengan tinta yang sama, dengan tulisan tangan yang hampir identik dengan tulisannya, tapi ada perbedaan kecil—tekanan penanya lebih keras, huruf-hurufnya sedikit lebih miring.
Leonard membaca tulisan itu dengan napas tertahan:
Kau menulis seolah aku adalah penyakit. Seolah aku adalah sesuatu yang harus disembuhkan. Tapi kau salah, Leonard. Aku bukan sisi gelapmu. Aku adalah kamu yang sebenarnya. Kamu yang tidak takut. Kamu yang bertahan hidup ketika dunia mencoba menghancurkanmu. Kamu yang membangun semua ini dari nol.
Aku tidak mengambil alih tubuhmu. Aku adalah tubuhmu. Dan semakin cepat kau terima itu, semakin cepat kita bisa berhenti berpura-pura ada perbedaan antara kita.
Leonard merasakan darahnya membeku. Ini tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. Ia tidak menulis ini. Ia tidak...
Tapi tulisan tangannya sama. Tintanya sama. Bahkan cara ia membentuk huruf "k" dengan ekor yang sedikit melengkung—itu cara Rafael menulis. Cara ia sendiri menulis.
Karena mereka adalah orang yang sama. Leonard duduk di kursi dengan kaki yang hampir tidak bisa menopang tubuhnya.
Ia menatap tulisan itu lama, mencoba memahami apa yang terjadi. Apakah ia yang menulis ini dalam keadaan tidur? Apakah Rafael mengambil alih saat ia tertidur dan menulis respons?
Atau... atau mereka sudah menyatu sampai tidak ada lagi perbedaan?
Ia meraih pulpen dengan tangan gemetar dan mulai menulis di bawah tulisan Rafael.
Kalau kau adalah aku, kenapa aku tidak ingat apa yang kau lakukan? Kenapa aku kehilangan waktu setiap kali kau "keluar"?
Leonard menutup buku catatan itu dan menaruhnya kembali di laci, menguncinya kali ini dengan kunci kecil yang ia simpan di saku celananya. Ia tidak tahu apakah ini akan menghentikan Rafael, tapi setidaknya ia mencoba.
Hari itu berlalu dengan aneh. Leonard menghadiri beberapa rapat, menandatangani beberapa dokumen, berbicara dengan beberapa direktur. Semuanya terasa seperti autopilot—ia melakukan semua tugas dengan baik, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
Ia terus memikirkan tulisan itu. Kalimat-kalimat Rafael yang terasa terlalu jujur, terlalu... benar.
"Aku bukan sisi gelapmu. Aku adalah kamu yang sebenarnya."
Malam itu, Leonard kembali ke apartemennya dengan perasaan berat. Ia membuka laci meja kerjanya—masih terkunci, seperti yang ia tinggalkan pagi tadi. Ia membuka kunci itu dengan tangan gemetar dan mengeluarkan buku catatan.
Terbuka di halaman yang sama. Dan di bawah pertanyaannya, ada jawaban baru. Dengan tulisan tangan yang sama. Dengan tinta yang sama.
Kau tidak ingat karena kau tidak mau ingat. Setiap kali aku keluar, kau menutup mata. Kau berpura-pura tidak tahu. Karena kalau kau tahu—kalau kau benar-benar sadar apa yang aku lakukan—kau harus mengakui bahwa kau juga menikmatinya.
Kau menikmati kekuasaan. Kau menikmati rasa takut di mata orang-orang yang melawanmu. Kau menikmati sensasi mengendalikan segalanya. Tapi kau tidak mau mengakuinya. Jadi kau ciptakan aku. Membuat aku jadi kambing hitam untuk semua hal buruk yang kau lakukan.
Tapi aku bukan kambing hitam, Leonard. Aku adalah kau. Dan kau adalah aku. Semakin cepat kau terima itu, semakin mudah semuanya.
Leonard melempar buku catatan itu ke meja dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu lagi apa yang nyata dan apa yang tidak. Apakah Rafael benar-benar menulis ini? Atau apakah ia yang menulis tanpa sadar, dalam keadaan setengah tidur, dalam keadaan...
Dalam keadaan di mana Leonard dan Rafael tidak lagi terpisah. Ia berjalan ke kamar mandi, menyalakan air dingin, dan membasuh wajahnya berkali-kali. Saat ia menatap pantulannya di cermin, ia melihat wajah yang tidak ia kenali—mata yang lelah, garis-garis stres di kening, bayangan gelap di bawah mata.
Dan untuk sekilas, sangat sekilas, ia melihat wajah lain di cermin itu. Wajah yang lebih tajam, lebih dingin, lebih... Rafael.
Tapi saat ia berkedip, wajah itu hilang. Hanya wajahnya sendiri yang menatap balik.
"Siapa aku?" bisiknya pada pantulan di cermin.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Malam itu, Leonard memutuskan untuk tidak tidur. Ia duduk di sofa dengan buku catatan di pangkuannya, pulpen di tangan, mata terbuka lebar menatap jam dinding yang berdetik perlahan.
Ia akan membuktikannya. Ia akan membuktikan bahwa Rafael tidak bisa menulis tanpa sepengetahuannya. Ia akan tetap terjaga dan mengawasi buku itu sepanjang malam.
Tapi sekitar pukul tiga pagi, matanya mulai terasa berat. Kepalanya mulai terasa pusing. Tubuhnya memaksa untuk tidur meskipun pikirannya menolak. Dan perlahan-lahan, tanpa ia sadari, penglihatannya mulai kabur.
....
....
Leonard terbangun dengan matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela. Ia masih duduk di sofa dengan buku catatan di pangkuannya. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Buku catatan itu terbuka di halaman baru. Dan di sana, dengan tulisan tangan yang ia kenal terlalu baik, ada pesan baru.
Kau mencoba tetap terjaga. Tapi kau tidak bisa melawanku, Leonard. Karena aku bukan musuhmu. Aku adalah kau. Dan kau tidak bisa melawan dirimu sendiri.
Berhentilah berjuang. Berhentilah berpura-pura kita terpisah. Terima aku. Terima bahwa kau dan aku adalah satu. Dan ketika kau melakukan itu, semua akan menjadi lebih mudah.
Ardena tidak akan membencimu. Karena dia akan mengerti. Dia akan melihat bahwa kau melakukan semua ini untuk bertahan hidup. Untuk melindungi apa yang penting. Untuk menjadi seseorang yang layak dicintai.
Dan kalau dia masih membencimu... maka aku yang akan membuatnya mengerti.
Leonard menatap tulisan itu dengan napas tertahan. Kalimat terakhir itu—ancaman yang tersembunyi di balik kata-kata manis—membuat darahnya membeku.
Rafael tidak hanya berbicara tentang menyatu dengannya. Rafael berbicara tentang Ardena. Tentang membuatnya mengerti. Dengan cara apapun.
Leonard merobek halaman itu dari buku catatan, meremukkannya, dan melemparnya ke tempat sampah. Tapi ia tahu itu tidak akan menghentikan apapun. Kata-kata itu sudah tertulis. Ancaman itu sudah ada.
Dan Rafael tidak main-main. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan mengetik pesan ke Kael.
Leonard: Pasang pengawasan ekstra pada Ardena Callista. Pastikan dia aman. Jangan biarkan siapa pun mendekatinya tanpa persetujuanku.
Balasan datang cepat.
Kael: Siap, bos. Tapi... boleh tahu kenapa?
Leonard menatap pertanyaan itu lama. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan tanpa terdengar gila. Tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa ia harus melindungi Ardena dari dirinya sendiri.
Leonard: Karena aku tidak tahu lagi apa yang akan aku lakukan.
Ia menekan send sebelum sempat berubah pikiran. Lalu ia duduk di sofa dengan kepala di tangan, mencoba tidak menangis, mencoba tidak berteriak.
Karena ia tahu dengan setiap serat tubuhnya bahwa pertarungan ini sudah hampir selesai. Dan Rafael menang.
Tinggal menunggu waktu sampai Leonard Varghese benar-benar menghilang, dan hanya Rafael yang tersisa.
Rafael yang mencintai Ardena dengan cara yang salah. Rafael yang akan melindungi dia dengan cara yang menghancurkan.
Rafael yang tidak tahu perbedaan antara cinta dan obsesi. Dan Leonard tidak tahu bagaimana menghentikannya.