Ardena terbangun dengan perasaan tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan. Malam tadi, setelah diselamatkan oleh Leonard—atau siapa pun yang ada di dalam tubuh Leonard—ia tidak bisa tidur dengan tenang.
Setiap kali ia menutup mata, yang ia lihat adalah tatapan dingin itu, cara pria itu bergerak dengan presisi yang menakutkan, seolah kekerasan adalah bahasa kedua yang ia kuasai dengan sempurna. Ia memeriksa ponselnya dan menemukan pesan dari Pak Adi yang masuk pukul enam pagi.
Pak Adi: Ardena, ada berita penting. Kita harus ketemu sekarang. Di kantor. Ini urgent.
Ardena langsung bangkit dari tempat tidur, mandi cepat, dan bergegas ke kantor dengan taksi online. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi pertanyaan—apa yang terjadi? Kenapa Pak Adi terdengar begitu mendesak?
Saat sampai di kantor Jurnalis Terbit, ia menemukan Pak Adi sudah menunggu di ruang kerjanya dengan wajah serius dan beberapa lembar dokumen di atas meja.
"Duduk," kata Pak Adi tanpa basa-basi.
Ardena duduk, jantungnya berdetak cepat. "Ada apa, Pak?"
Pak Adi mendorong salah satu dokumen ke arahnya. Itu artikel berita dari portal online kecil yang tidak terlalu dikenal. Headline-nya membuat napas Ardena tertahan.
"Karyawan Varghese Group Ditemukan Tewas di Apartemennya. Polisi Menyatakan Bunuh Diri."
Ardena membaca artikel itu dengan cepat. Korbannya bernama Budi Santoso, tiga puluh dua tahun, bekerja sebagai staf keuangan di divisi internal audit Varghese Group.
Ditemukan tewas di apartemennya kemarin sore dengan luka gantung. Tidak ada tanda-tanda perlawanan.
Tidak ada catatan bunuh diri. Polisi langsung menyimpulkan ini sebagai kasus depresi dan menutup investigasi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
"Terlalu cepat," gumam Ardena. "Ini tidak masuk akal."
"Aku juga berpikir begitu," kata Pak Adi. "Makanya aku menghubungi beberapa kontak di kepolisian."
"Ternyata ada tekanan dari atas untuk menutup kasus ini secepat mungkin. Seseorang tidak ingin investigasi berlanjut."
Ardena menatap foto Budi Santoso di artikel itu—pria muda dengan kacamata dan senyum ramah. Ia terlihat seperti orang biasa yang tidak punya musuh, tidak punya alasan untuk bunuh diri.
"Kau kenal dia?" tanya Pak Adi.
Ardena menggeleng. "Tidak pernah bertemu. Tapi... namanya familiar. Aku rasa aku pernah lihat namanya di dokumen-dokumen yang aku dapat dari email anonim."
Pak Adi mengangguk. "Itu yang membuatku curiga. Budi Santoso bekerja di internal audit—divisi yang punya akses ke semua transaksi keuangan Varghese Group. Kalau ada yang tahu tentang transaksi gelap, pasti dia."
Ardena merasa ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya. Email anonim yang mengiriminya dokumen rahasia. Seseorang yang bekerja dari dalam. Seseorang yang punya akses ke data internal.
"Kau pikir dia yang mengirim email itu?" tanya Ardena.
"Mungkin," jawab Pak Adi. "Tapi sekarang dia mati sebelum bisa memberitahu kita lebih banyak."
Ardena menatap artikel itu lagi, pikirannya bekerja cepat. "Aku harus ke apartemennya. Sebelum polisi atau siapa pun membersihkan tempat itu."
Pak Adi menatapnya serius. "Ardena, ini berbahaya. Kalau dia dibunuh karena mencoba bocorkan sesuatu, berarti kau juga jadi target."
"Aku sudah jadi target sejak lama," kata Ardena datar.
"Malam kemarin aku hampir diserang di gang belakang kantor. Kalau bukan karena... kalau bukan karena seseorang menyelamatkanku, mungkin aku sudah mati sekarang."
Pak Adi terdiam, ekspresinya berubah menjadi khawatir. "Kau tidak cerita soal itu."
"Karena aku tidak tahu harus bilang apa," jawab Ardena jujur. "Tapi sekarang aku yakin—ada sesuatu yang sangat besar di Varghese Group. Sesuatu yang mereka rela bunuh orang untuk sembunyikan."
Pak Adi menghela napas panjang, lalu menulis sesuatu di selembar kertas dan memberikannya pada Ardena. "Ini alamat apartemen Budi Santoso."
"Aku dapat dari kontak di kepolisian. Tapi hati-hati, Ardena. Kalau kau menemukan sesuatu, jangan langsung bawa pulang. Foto saja, simpan di cloud, lalu kabur secepat mungkin."
Ardena mengangguk, memasukkan kertas itu ke dalam tasnya. "Terima kasih, Pak."
Apartemen Budi Santoso terletak di kompleks sederhana di daerah Kelapa Gading. Tidak mewah, tapi cukup layak untuk karyawan kantoran dengan gaji standar. Ardena sampai di sana sekitar pukul sepuluh pagi, saat sebagian besar penghuni sudah berangkat kerja.
Ia naik ke lantai lima menggunakan tangga—tidak mau menggunakan lift yang mungkin punya CCTV. Semakin dekat dengan apartemen Budi, jantungnya semakin berdetak cepat. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana, tapi naluri jurnalistiknya mengatakan ini penting.
Pintu apartemen nomor 507 masih disegel dengan garis polisi, tapi segel itu sudah robek di sudutnya—seperti seseorang sudah masuk sebelum Ardena. Ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat, lalu mendorong pintu perlahan.
Pintu tidak terkunci. Ardena masuk dengan hati-hati, menutup pintu di belakangnya. Apartemen itu gelap, gorden tertutup rapat. Ada bau aneh di udara—campuran antara obat-obatan dan sesuatu yang lebih mengganggu yang tidak bisa ia identifikasi.
Ruang tamu kecil dengan sofa lusuh dan TV yang sudah tua. Tidak ada tanda-tanda perlawanan. Tidak ada barang yang berantakan. Semuanya terlihat... terlalu rapi untuk tempat kejadian kematian seseorang.
Ardena berjalan ke kamar tidur—tempat di mana Budi ditemukan. Ada bekas tali di balok kayu langit-langit, dan di bawahnya masih ada kursi yang terguling. Semua detail menunjukkan bunuh diri.
Tapi ada sesuatu yang salah. Ardena berjongkok, memeriksa kursi itu lebih dekat. Ada goresan kecil di kaki kursi—seperti kursi itu didorong dengan paksa, bukan dijatuhkan karena seseorang menendangnya.
Ia berdiri dan melihat sekeliling. Meja kerja Budi ada di pojok ruangan, dengan laptop yang masih tertutup. Ardena mendekatinya dan membuka laptop itu. Layar menyala—tidak terkunci.
Aneh. Kebanyakan orang mengunci laptopnya, terutama kalau mereka punya data sensitif.
Ardena membuka file manager dan mulai memeriksa folder-folder. Sebagian besar adalah dokumen kerja—spreadsheet, laporan keuangan, presentasi. Tapi ada satu folder yang menarik perhatiannya: "Backup_Personal_2025".
Ia membuka folder itu dan menemukan beberapa file PDF dengan nama-nama kode. Salah satunya bernama "Evidence_RVG_Final.pdf".
RVG. Rafael Varghese.
Ardena mengklik file itu dengan tangan gemetar. Dokumen terbuka, menampilkan halaman demi halaman transaksi yang sudah ia lihat sebelumnya—tapi ada tambahan. Ada email-email internal yang menunjukkan komunikasi antara Budi dan seseorang dengan alamat email "r.shadow@securemail.net".
Dalam email-email itu, Budi mempertanyakan beberapa transaksi yang tidak masuk akal. Dan orang dengan email r.shadow menjawab dengan singkat: "Jangan terlalu banyak tanya. Lakukan tugasmu."
Email terakhir dikirim tiga hari sebelum Budi meninggal. Isinya pendek tapi mengerikan:
"Aku tahu terlalu banyak. Aku harus keluar. Aku akan bocorkan semuanya ke media."
Balasannya datang hanya satu jam kemudian:
"Jangan lakukan hal bodoh. Kau tidak tahu siapa yang kau lawan."
Ardena memfoto layar laptop itu dengan ponselnya, memastikan semua detail terlihat jelas. Lalu ia menutup laptop dan bersiap pergi.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, ia mendengar suara di luar—langkah kaki yang berat, lebih dari satu orang. Suara rendah yang berbicara dalam bahasa yang tidak bisa ia tangkap.
Seseorang datang. Ardena langsung bersembunyi di balik lemari besar di sudut kamar, menahan napas, berharap siapa pun yang datang tidak akan mencarinya terlalu lama.
Pintu apartemen terbuka. Dua pria masuk—Ardena bisa melihat bayangan mereka dari celah lemari. Keduanya mengenakan seragam polisi, tapi ada sesuatu yang tidak pas. Cara mereka bergerak terlalu casual untuk petugas yang sedang bertugas.
"Pastikan tidak ada yang tertinggal," kata salah satu pria. "Bos bilang harus bersih. Tidak boleh ada jejak."
"Laptopnya sudah dihapus?" tanya yang satunya.
"Harusnya sudah. Tapi kita cek lagi untuk memastikan."
Mereka berjalan menuju meja kerja. Ardena menahan napas lebih kuat, jantungnya berdetak seperti drum yang akan meledak.
Salah satu pria membuka laptop, mengetik sesuatu, lalu mengangguk puas. "Sudah bersih. Tidak ada yang mencurigakan."
"Bagus. Kita selesai di sini."
Mereka berbalik untuk pergi, tapi tiba-tiba salah satu pria berhenti. "Tunggu. Kau dengar itu?"
Ardena membeku. Napasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.
"Dengar apa?" tanya yang satunya.
"Seperti ada orang."
Mereka mulai melihat sekeliling, langkah kaki mereka mendekat ke arah lemari. Ardena menutup matanya, bersiap untuk tertangkap.
Tapi tiba-tiba, ponsel salah satu pria berbunyi. Ia mengangkat dengan cepat. "Ya, bos? ... Oke, kami segera ke sana."
Ia menutup teleponnya dan menoleh pada temannya. "Kita harus pergi. Ada urusan lain."
Mereka berdua keluar dari apartemen dengan cepat, menutup pintu di belakang mereka. Ardena menunggu beberapa menit sebelum akhirnya keluar dari persembunyiannya, napasnya masih tersengal.
Ia tidak membuang waktu. Ia langsung keluar dari apartemen dan turun tangga secepat yang ia bisa, hanya berhenti saat sudah sampai di jalan dan yakin tidak ada yang mengikutinya.
Leonard duduk di kantornya dengan laporan internal di tangannya. Laporan tentang kematian Budi Santoso—karyawan yang ditemukan tewas kemarin. Kael yang memberikan laporan itu dengan wajah datar, menunggu instruksi dari bosnya.
"Sudah dibersihkan?" tanya Leonard tanpa mengangkat pandangan dari laporan.
"Sudah, bos. Tidak ada jejak. Polisi sudah tutup kasus. Media sudah diberitahu untuk tidak membesar-besarkan."
Leonard mengangguk, tapi ada sesuatu yang mengganggu di pikirannya. Ia membaca detail laporan tentang bagaimana Budi ditemukan—posisi tubuh, cara tali diikat, tidak ada tanda perlawanan.
Dan semakin ia membaca, semakin ia merasa ada yang familiar.
Terlalu familiar.
Cara tali diikat dengan simpul khusus yang memastikan kematian cepat tapi terlihat seperti bunuh diri. Posisi kursi yang terguling dengan sudut tertentu. Bahkan detail kecil seperti tidak adanya goresan di leher korban yang biasanya muncul kalau seseorang benar-benar mencoba menyelamatkan diri dari gantungan.
Ini bukan sekadar pembunuhan yang dibuat terlihat seperti bunuh diri. Ini gaya Rafael. Gaya yang ia gunakan bertahun-tahun lalu, sebelum ia "lahir kembali" sebagai Leonard Varghese yang bersih dan sempurna.
Tapi Leonard tidak memerintahkan pembunuhan ini. Ia bahkan tidak tahu tentang Budi Santoso sampai laporan ini sampai di mejanya.
Jadi siapa yang melakukannya?
Aku, bisik suara Rafael di kepalanya—lebih jelas, lebih nyata dari biasanya.
Leonard membeku. "Apa maksudmu?"
Kau tidak ingat? Tentu saja tidak. Karena waktu itu, kau tertidur. Dan aku yang keluar.
"Kau... kau membunuh Budi Santoso?"
Aku melindungi kita. Dia mau bocorkan semuanya. Dia mau menghancurkan apa yang kita bangun. Jadi aku... mengurus dia.
Leonard merasa dunianya berputar. Ia tidak ingat melakukan itu. Tidak ingat pergi ke apartemen Budi. Tidak ingat membunuhnya.
Tapi Rafael ingat. Karena Rafael yang melakukannya.
"Kau mengambil alih tubuhku tanpa sepengetahuanku?" bisik Leonard, suaranya gemetar.
Aku bukan mengambil alih. Aku adalah kau. Kau adalah aku. Kita satu, Leonard. Semakin cepat kau terima itu, semakin mudah semuanya.
Leonard menutup matanya, tangannya meremas laporan sampai kertas itu kusut. Ia kehilangan kendali sepenuhnya. Ia tidak lagi tahu kapan Rafael akan mengambil alih, kapan ia akan bangun dan menemukan dirinya sudah melakukan sesuatu yang tidak ia ingat.
Dan yang paling menakutkan—Rafael tidak hanya melindungi mereka. Rafael mulai bertindak sendiri. Dengan caranya sendiri.
Dan Leonard tidak tahu bagaimana menghentikannya.