Ardena menatap layar laptopnya dengan mata yang sudah lelah membaca angka-angka. Sudah hampir tengah malam, tapi ia tidak bisa berhenti. Tidak ketika ia baru saja menemukan sesuatu yang besar.
Transaksi mencurigakan senilai lima belas miliar rupiah dari PT Arjuna Konstruksi ke sebuah perusahaan bayangan bernama CV Mandiri Sejahtera. Perusahaan itu tercatat di alamat yang ternyata hanya ruko kosong di daerah Tangerang.
Tidak ada karyawan. Tidak ada operasional. Hanya rekening bank yang menerima transfer besar-besaran setiap bulan. Dan semua transfer itu disetujui oleh seseorang dengan inisial RVG.
Rafael Varghese.
Ardena menyimpan semua screenshot transaksi ke hard drive eksternal yang ia simpan terpisah dari laptop. Ia sudah belajar untuk tidak menaruh semua telur di satu keranjang—terlalu berisiko kalau laptopnya diretas atau dicuri.
Ia melirik jam di sudut layar. Pukul sebelas lewat lima belas. Terlalu malam untuk masih berada di kantor sendirian, tapi ia harus menyelesaikan ini malam ini juga. Besok ia akan bertemu dengan Pak Adi untuk membahas kemungkinan publikasi artikel ini—artikel yang bisa mengubah segalanya.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal.
Nomor Tidak Dikenal: Kau masih di kantor sendirian? Tidak bijak untuk wanita muda sepertimu.
Ardena merasa darahnya membeku. Siapa pun yang mengirim pesan ini tahu di mana ia berada. Tahu ia sendirian.
Ia dengan cepat mengemas laptopnya, memasukkan hard drive eksternal ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari kantornya. Lampu-lampu di koridor sudah dimatikan, hanya lampu darurat yang masih menyala dengan cahaya redup yang membuat bayangan-bayangan terlihat lebih panjang dan menakutkan.
Ardena mempercepat langkah menuju lift, jantungnya berdetak cepat. Ia menekan tombol berkali-kali, seolah itu akan membuat lift datang lebih cepat. Saat pintu lift akhirnya terbuka, ia langsung masuk dan menekan tombol lobby dengan napas yang masih tersengal.
Lift turun dengan pelan. Setiap detik terasa seperti menit. Ardena menatap angka lantai yang berubah satu per satu, berharap tidak ada yang menunggunya di bawah.
Pintu lift terbuka di lobby yang kosong. Satpam malam sedang tidak ada di pos—mungkin sedang ronda. Ardena berjalan cepat menuju pintu keluar, melewati meja resepsionis yang gelap dan tanaman hias yang bayangan-bayangannya terlihat seperti sosok manusia di kegelapan.
Begitu keluar dari gedung, udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Jalanan di sekitar kantornya sepi—tidak ada taksi, tidak ada ojek online, hanya lampu jalan yang redup dan suara anjing menggonggong dari kejauhan.
Ardena mengambil ponselnya untuk memesan transportasi online, tapi sinyal internetnya lemah. Aplikasi loading terus-menerus tanpa berhasil membuka halaman pemesanan.
"Sial," gumamnya sambil mencoba berjalan ke area yang sinyalnya lebih baik.
Ia memutuskan untuk berjalan ke jalan besar yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari kantornya. Di sana pasti ada lebih banyak kendaraan lewat, lebih banyak cahaya, lebih aman.
Tapi untuk sampai ke sana, ia harus melewati gang belakang yang gelap—jalan pintas yang biasanya ia pakai saat siang hari. Malam ini, gang itu terlihat lebih menakutkan dari biasanya.
Ardena menarik napas dalam, menggenggam tas di dadanya, lalu mulai berjalan masuk ke gang itu. Dinding-dinding bangunan tinggi mengapit jalanan sempit, membuat suara langkah kakinya bergema dengan bunyi yang aneh. Sampah berserakan di pojok-pojok, dan ada bau tidak enak yang membuat perutnya mual.
Setengah jalan melewati gang, Ardena mendengar langkah kaki lain di belakangnya. Berat. Terukur. Mengikuti.
Ia mempercepat langkah tanpa menoleh, berharap itu hanya seseorang yang juga kebetulan lewat gang yang sama. Tapi langkah kaki itu ikut mempercepat, menjaga jarak yang sama.
Jantung Ardena mulai berdetak lebih cepat. Ia ingin berlari, tapi kakinya terasa berat. Takut kalau ia berlari, orang di belakangnya akan tahu ia ketakutan dan menjadi lebih agresif.
"Ardena Callista."
Suara itu membuatnya berhenti. Bukan suara terdistorsi seperti di telepon. Tapi suara pria dengan nada rendah yang terdengar seperti ancaman.
Ardena berbalik perlahan. Ada dua pria berdiri beberapa meter di belakangnya. Keduanya mengenakan jaket hitam dan celana jeans gelap. Salah satunya memegang sesuatu di tangannya—Ardena tidak bisa melihat jelas apa itu, tapi bentuknya terlihat seperti pisau.
"Sudah diperingatkan untuk berhenti menggali," kata pria yang di depan. "Tapi kau tidak dengar. Sekarang kami harus pakai cara yang lebih keras."
Ardena mundur selangkah, tangannya mencari ponsel di saku celananya. "Kalian tidak akan lolos dengan ini. Ada kamera di mana-mana. Ada orang yang tahu aku di sini."
Pria itu tersenyum yang tidak ada kehangatan di dalamnya. "Tidak ada kamera di gang ini. Dan tidak ada orang yang akan dengar kau teriak."
Mereka mulai mendekat. Ardena berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia tidak peduli lagi pada strategi atau rencana—naluri bertahan hidup mengambil alih. Ia berlari menuju ujung gang, berharap bisa sampai ke jalan besar sebelum mereka menangkapnya.
Tapi langkah mereka lebih cepat. Lebih dekat. Terlalu dekat. Ardena merasakan tangan besar mencengkeram lengannya, menariknya ke belakang dengan kekuatan yang membuatnya hampir terjatuh. Ia berteriak, mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman itu terlalu kuat.
"Diam!" desis pria itu sambil menarik Ardena ke pojok gang yang lebih gelap.
Ardena meronta, mencakar, menendang—apapun yang bisa ia lakukan untuk lepas. Tapi pria kedua datang membantu, memegang kedua tangannya dan mendorongnya ke dinding dengan keras sampai punggungnya terbentur batu bata yang kasar.
"Ini akan cepat kalau kau tidak melawan," kata pria pertama sambil mengangkat sesuatu yang berkilat di tangannya.
Pisau.
Ardena menutup matanya, bersiap untuk rasa sakit yang akan datang. Tapi tiba-tiba, ada suara benturan keras dan tangan yang memegang tangannya melepas.
Ia membuka mata dan melihat pria kedua tergeletak di tanah, tidak sadarkan diri. Dan di depannya berdiri seseorang—pria berjas hitam dengan wajah yang tertutup bayangan.
Pria dengan pisau langsung menoleh, matanya melebar dengan kaget. "Siapa kau?"
Pria berjas itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju dengan gerakan yang sangat terkontrol, seperti predator yang sedang mendekat pada mangsanya.
"Aku bilang siapa kau!" teriak pria dengan pisau sambil mengayunkan senjatanya.
Tapi pria berjas itu bergerak terlalu cepat—menangkap pergelangan tangan pria itu dengan satu tangan, memelintirnya sampai terdengar bunyi krek yang membuat Ardena bergidik. Pisau jatuh ke tanah dengan bunyi dentang logam.
Pria dengan pisau menjerit kesakitan, tapi jeritan itu terpotong saat pria berjas itu memukul rahangnya dengan presisi yang sempurna. Pria itu langsung ambruk, bergabung dengan temannya yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.
Ardena berdiri dengan punggung masih menempel ke dinding, napasnya tersengal-sengal, matanya tidak lepas dari sosok yang baru saja menyelamatkannya. Pria itu berdiri di tengah gang dengan tubuh yang sedikit membungkuk, napasnya terdengar berat seperti habis berlari marathon.
"Siapa... siapa kau?" tanya Ardena dengan suara gemetar.
Pria itu tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap kedua pria yang tergeletak di tanah dengan tatapan yang Ardena tidak bisa baca di kegelapan. Lalu perlahan, ia menoleh ke arah Ardena.
Cahaya lampu jalan dari ujung gang sedikit menerangi wajahnya. Dan Ardena merasa jantungnya berhenti.
Itu Leonard.
Tapi bukan Leonard yang ia kenal. Bukan Leonard yang tersenyum sopan di acara-acara bisnis. Bukan Leonard yang berbicara dengan suara tenang dan terkontrol.
Ini versi Leonard yang lebih gelap. Matanya tajam dan dingin, rahangnya tegang, dan ada sesuatu di ekspresinya yang membuat Ardena merasa ia sedang menatap orang yang berbeda sama sekali.
"Leonard?" bisiknya tidak yakin.
Leonard—atau siapa pun yang ada di dalam tubuh itu—menatapnya tanpa berkedip. Ada kebingungan di matanya, seperti ia sendiri tidak yakin siapa dirinya atau kenapa ia ada di sini.
"Anda... anda tidak apa-apa?" tanyanya akhirnya dengan suara yang terdengar asing.
Ardena mengangguk pelan, masih tidak berani bergerak. "Aku... aku baik-baik saja. Terima kasih... terima kasih sudah menolongku."
Leonard menatap tangannya sendiri—tangan yang baru saja memukul dua orang sampai tidak sadarkan diri. Ada darah di buku-buku jarinya, entah miliknya atau milik pria-pria itu.
"Anda harus pergi," katanya tiba-tiba dengan nada mendesak. "Sekarang. Sebelum mereka bangun."
"Tapi bagaimana dengan—"
"Pergi!" potongnya keras, membuat Ardena tersentak.
Ardena tidak menunggu lagi. Ia mengambil tasnya yang jatuh di tanah, lalu berlari menuju ujung gang tanpa menoleh. Jantungnya masih berdetak kencang, napasnya masih tidak teratur, tapi yang membuatnya paling tidak nyaman adalah perasaan bahwa seseorang masih menatapnya dari kegelapan.
Saat ia sampai di jalan besar dan akhirnya berhasil memesan taksi online, Ardena menoleh ke arah gang itu terakhir kali.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Leonard sudah menghilang seperti hantu.
...
...
Leonard tersadar di kamar mandi apartemennya di Kuningan dengan air dingin mengalir dari keran, membasahi tangannya yang berdarah. Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di sini. Tidak ingat bagaimana ia pulang.
Yang ia ingat hanya serpihan-serpihan—suara Ardena yang ketakutan, dua pria yang mencoba menyakitinya, kemarahan yang meledak di dadanya seperti api yang tidak bisa dipadamkan.
Dan kemudian... kekosongan.
Ia menatap pantulannya di cermin dengan mata yang tidak ia kenali. Ada sesuatu yang berbeda di wajahnya malam ini. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih berbahaya.
Kau menyelamatkannya, bisik suara di kepalanya—suara Rafael, tapi terdengar lebih lemah dari biasanya. Seolah lelah. Seolah baru saja menggunakan banyak energi.
"Aku tidak ingat melakukannya," bisik Leonard pada pantulannya.
Karena bukan kau yang melakukannya. Itu aku.
Leonard meremas tepi wastafel sampai buku-buku jarinya memutih. "Kau... kau mengambil alih tubuhku?"
Aku melindungi apa yang penting. Kau terlalu lemah untuk melakukannya. Jadi aku yang harus turun tangan.
"Aku tidak minta kau menyelamatkannya," kata Leonard, meskipun ia tahu itu bohong. Sebagian dirinya berterima kasih pada Rafael karena melakukan apa yang ia sendiri tidak yakin bisa lakukan.
Tapi kau menginginkannya. Di dalam hatimu yang terdalam, kau ingin dia aman. Dan aku... aku memberikan itu.
Leonard menutup matanya, air mata mulai mengalir bercampur dengan air keran yang masih mengalir. Ia tidak tahu lagi siapa yang mengendalikan tubuhnya. Tidak tahu lagi di mana batas antara Leonard dan Rafael.
Yang ia tahu, malam ini adalah pertama kalinya Rafael—sisi gelapnya, monster yang ia ciptakan untuk bertahan hidup—melakukan sesuatu yang tidak egois.
Untuk pertama kalinya, Rafael menyelamatkan seseorang. Bukan untuk kepentingan sendiri. Bukan untuk kekuasaan. Tapi karena ia—atau Leonard, atau keduanya—tidak sanggup membiarkan Ardena terluka.
Dan entah kenapa, itu membuatnya lebih takut daripada apapun. Karena kalau Rafael bisa mencintai... apa lagi yang bisa ia lakukan?
Apa lagi yang akan ia lakukan demi melindungi cinta itu?
Leonard membuka matanya, menatap pantulannya yang basah oleh air dan air mata.
"Apa yang terjadi pada kita?" bisiknya pada bayangan di cermin.
Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Dan di dalam keheningan itu, Leonard menyadari sesuatu yang menakutkan—ia tidak lagi takut pada Rafael.
Ia takut pada apa yang akan mereka lakukan bersama-sama.