12. Retakan yang Tak Terlihat

1451 Kata
Dua hari setelah pembatalan konferensi pers, Leonard kembali ke rutinitas normalnya. Atau setidaknya, mencoba kembali. Ia duduk di ruang rapat dengan delapan direktur Varghese Group, semua mengenakan setelan formal dan membawa laporan tebal yang harus dibahas. Agenda hari ini adalah ekspansi ke sektor energi terbarukan—proyek besar yang membutuhkan investasi ratusan miliar dan keputusan strategis yang matang. Tapi Leonard tidak mendengarkan. Direktur operasional sedang memaparkan analisis risiko dengan grafik yang ditampilkan di layar proyektor, suaranya berdengung seperti lebah yang jauh. Leonard menatap tangan kanannya sendiri di atas meja—tangan yang tadi pagi gemetar saat ia mencoba menuang kopi, tangan yang masih terasa asing seolah bukan miliknya. "Mr. Varghese, bagaimana menurut Anda tentang timeline yang kami usulkan?" Leonard mengangkat kepala, menyadari semua mata terarah padanya. Ia menatap layar proyektor yang menampilkan timeline proyek dengan milestone yang berwarna-warni. Angka dan tanggal terlihat kabur di matanya. Katakan sesuatu, bisik Rafael di kepalanya. Jangan biarkan mereka melihat kau lemah. "Timeline-nya..." Leonard mulai bicara, tapi pikirannya kosong. "Timeline-nya... terlalu agresif. Kita butuh buffer untuk risiko yang tidak terduga." Kalimat standar. Kalimat yang selalu aman. Tapi direktur keuangan mengerutkan kening. "Mr. Varghese, kami sudah memasukkan buffer tiga bulan di setiap fase. Itu sudah cukup konservatif." Leonard terdiam. Ia tidak ingat detail itu. Ia bahkan tidak membaca laporan yang dikirim kemarin malam. Bodoh, desis Rafael. Kau membuat dirimu terlihat tidak kompeten. "Saya maksudnya..." Leonard mencoba menyelamatkan situasi. "Buffer tiga bulan mungkin tidak cukup kalau kita menghadapi regulasi baru dari pemerintah. Kita harus antisipasi itu." Beberapa direktur mengangguk, menerima penjelasan itu. Tapi ada yang menatapnya dengan ekspresi ragu—terutama Pak Harjo, direktur senior yang sudah bekerja di Varghese Group sejak awal. Rapat berlanjut, tapi Leonard semakin sulit fokus. Suara-suara di ruangan terdengar seperti datang dari jauh, seperti ia mendengarkan dari bawah air. Dan di bawah semua suara itu, ada suara Rafael yang terus berbisik—kadang memberi saran, kadang mengkritik, kadang hanya tertawa pelan dengan nada yang mengerikan. Kau pikir mereka tidak menyadarinya? bisik Rafael. Kau pikir mereka tidak melihat kau kehilangan kontrol? "Diam," gumam Leonard tanpa sadar. "Maaf, Mr. Varghese?" tanya direktur marketing yang sedang presentasi. Leonard tersadar, menyadari ia bicara keras lagi. Semua orang di ruangan menatapnya dengan tatapan bingung dan sedikit khawatir. "Tidak ada," kata Leonard cepat. "Saya hanya... memikirkan sesuatu yang lain. Lanjutkan." Tapi tatapan mereka tidak hilang. Ada pertanyaan tidak terucap di mata mereka—pertanyaan tentang kesehatan mental bos mereka, tentang apakah Leonard Varghese yang mereka kenal masih ada di dalam tubuh yang duduk di kursi kepala meja itu. Setelah rapat berakhir, semua orang keluar dengan cepat—terlalu cepat—meninggalkan Leonard sendirian. Kecuali Pak Harjo yang berdiri di dekat pintu dengan ekspresi serius. "Leonard," katanya—bukan "Mr. Varghese" seperti biasanya. "Kita perlu bicara." Leonard mengangkat pandangan, mencoba memasang topeng profesionalnya kembali. "Tentang apa?" Pak Harjo menutup pintu, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang hati-hati, seolah sedang mendekati binatang yang terluka. "Tentang kamu. Dua hari terakhir ini, kamu tidak seperti biasanya." "Kamu melewatkan detail-detail penting, sering melamun, dan..." Ia ragu sejenak. "Dan aku mendengar kamu berbicara sendiri beberapa kali." Dia tahu terlalu banyak, bisik Rafael berbahaya. Dia akan jadi masalah. Leonard mengabaikan suara itu, memaksa dirinya fokus pada Pak Harjo. "Saya hanya... lelah. Banyak hal yang harus saya pikirkan." "Lelah atau ada masalah yang lebih serius?" Pak Harjo duduk di kursi di seberang Leonard, menatapnya dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Leonard, aku mengenalmu sejak kamu masih muda. Aku melihatmu membangun perusahaan ini dari nol. Dan aku tahu kalau ada sesuatu yang salah." Leonard ingin menjawab, ingin mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi kata-kata tidak keluar. Karena Pak Harjo benar. Ada sesuatu yang sangat, sangat salah. "Aku tidak tahu lagi siapa aku," bisik Leonard akhirnya—pengakuan jujur pertamanya sejak lama. Pak Harjo terdiam, tidak menyela, membiarkan Leonard melanjutkan. "Ada bagian dariku yang... yang terasa seperti orang lain. Suara yang terus berbicara, memberi perintah, membuat keputusan yang aku tidak yakin aku ingin buat. Dan aku tidak tahu lagi mana yang aku yang asli." Jangan ceritakan lebih banyak lagi, perintah Rafael keras. Kau membahayakan kita berdua. Tapi Leonard tidak peduli lagi. Ia lelah. Lelah menyembunyikan, lelah berpura-pura, lelah hidup dengan monster di kepalanya. "Kamu perlu istirahat, Leonard," kata Pak Harjo pelan. "Istirahat yang benar. Mungkin pergi jauh sebentar, lepas dari semua ini." "Aku tidak bisa," jawab Leonard. "Ada terlalu banyak yang harus dijaga. Terlalu banyak yang bisa hancur kalau aku tidak ada." "Atau mungkin semuanya akan lebih baik kalau kamu tidak ada," kata Pak Harjo—bukan dengan nada jahat, tapi dengan kejujuran yang menyakitkan. "Perusahaan ini punya sistem yang kuat. Kamu membangunnya seperti itu. Tapi kalau kamu terus seperti ini, kamu yang akan hancur. Dan ketika itu terjadi, semuanya akan ikut runtuh." Leonard tahu Pak Harjo benar. Tapi ia tidak tahu bagaimana berhenti. Tidak tahu bagaimana melepaskan kendali ketika kendali adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman. Karena kau tidak bisa berhenti, bisik Rafael. Karena tanpa aku, kau bukan siapa-siapa. ... ... Sementara itu, Ardena duduk di meja kerjanya di kantor Jurnalis Terbit dengan tumpukan dokumen di depannya. Ia sedang menulis artikel tentang korupsi di proyek infrastruktur—artikel yang semakin dekat mengarah ke Varghese Group meskipun ia belum menyebut nama perusahaan itu secara eksplisit. Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal—lagi. Ardena menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman seperti ini. "Halo?" katanya dengan nada datar. Suara yang sama seperti kemarin—distorsi digital yang membuatnya terdengar tidak manusiawi. "Kau masih belum berhenti." "Karena aku tidak takut pada kalian," jawab Ardena, meskipun tangannya gemetar sedikit. "Kau seharusnya takut." Suara itu berbicara dengan nada yang lebih dingin kali ini. "Ayahmu tidak takut. Dan dia mati." Ardena merasa dadanya sesak, tapi ia memaksa suaranya tetap tenang. "Kalian membunuh ayah saya karena dia menemukan kebenaran. Dan saya akan melanjutkan apa yang dia mulai." "Kebenaran tidak akan menyelamatkanmu," kata suara itu. "Kebenaran hanya akan membuatmu mati lebih cepat." Lalu sambungan terputus. Ardena menaruh ponselnya di meja dengan tangan yang masih gemetar, mencoba mengatur napas. Ia tidak akan menyerah. Tidak akan mundur. Tapi ketakutan mulai merayap masuk—bukan karena ancamannya, tapi karena ia tahu ancaman itu bukan main-main. Seseorang di luar sana sangat ingin ia berhenti. Dan orang itu punya cukup kekuasaan untuk membuatnya menghilang seperti ayahnya. Malam itu, Ardena pulang ke apartemennya dengan perasaan tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada mata yang mengawasi setiap langkahnya. Ia memeriksa sekeliling beberapa kali—di jalan, di lobby gedung, di tangga—tapi tidak melihat siapa-siapa yang mencurigakan. Tapi perasaan itu tidak hilang. Setelah sampai di apartemen, ia mengunci pintu dengan rantai pengaman dan menutup semua gorden. Ia menyalakan laptop dan kembali bekerja—cara terbaik untuk mengalihkan pikiran dari rasa takut yang mulai menguasai. Tapi setiap beberapa menit, ia melirik ke jendela. Merasakan ada sesuatu di luar sana. Seseorang di luar sana. Dan ia tidak salah. Leonard—atau Rafael—berdiri di bayangan gedung seberang, menatap jendela apartemen Ardena di lantai tiga. Ia tidak tahu lagi siapa yang membawa tubuhnya ke sini. Apakah Leonard yang ingin memastikan Ardena aman? Atau Rafael yang ingin memastikan ancaman itu tetap terkendali? Atau mungkin keduanya sudah menyatu sampai tidak ada lagi perbedaan. Kau tidak seharusnya di sini, bisik suara—entah Leonard atau Rafael, ia tidak tahu lagi. Kau membahayakan dirimu sendiri dengan datang ke sini. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu dia aman," gumam Leonard pelan pada dirinya sendiri. Atau kau ingin memastikan dia tidak akan membongkar rahasiamu? Leonard tidak menjawab. Karena ia tidak tahu mana yang benar. Ia menatap bayangan Ardena yang bergerak di balik gorden—sosok kecil yang rapuh tapi keras kepala, sosok yang seharusnya ia singkirkan sejak lama tapi tidak bisa. Karena ada sesuatu di wanita itu yang membuatnya merasa... manusia. Tapi seberapa lama lagi ia bisa mempertahankan kemanusiaannya sebelum Rafael sepenuhnya mengambil alih? Tidak lama lagi, bisik Rafael dengan nada yang terdengar seperti kemenangan. Tidak lama lagi kau akan mengerti bahwa aku yang harus mengendalikan. Karena hanya aku yang tahu cara bertahan. Leonard menutup matanya, tangannya terkepal di dalam saku jaket. Ia ingin berteriak, ingin melawan, ingin membuktikan bahwa ia masih punya kendali. Tapi semakin hari, suara Rafael semakin keras. Semakin nyata. Semakin... dominan. Dan Leonard takut suatu hari nanti ia akan bangun dan menyadari bahwa Leonard Varghese sudah tidak ada lagi. Hanya Rafael yang tersisa—monster yang diciptakan oleh trauma, yang bertahan dengan kejahatan, yang tidak tahu cara mencintai tanpa menghancurkan. Ia membuka matanya, menatap jendela Ardena terakhir kali, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan. Besok, ia akan mencoba lagi menjadi Leonard. Akan mencoba lagi hidup seolah semuanya normal. Tapi malam ini, di dalam kegelapan ini, ia adalah Rafael. Dan Rafael tidak pernah tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN