11. Masih Belum Siap

1292 Kata
Pukul sembilan pagi, satu jam sebelum konferensi pers yang dijadwalkan, Leonard duduk di kantornya dengan tangan gemetar. Ia sudah berpakaian formal—setelan hitam terbaiknya, dasi yang rapi, sepatu yang dipoles sempurna. Semua siap untuk pengumuman yang akan menghancurkan hidupnya sendiri. Tapi ada sesuatu yang salah. Sejak ia bangun tadi pagi, ada suara di kepalanya yang tidak bisa ia diamkan. Bukan suara Leonard yang tenang dan rasional. Tapi suara Rafael—gelap, tajam, dan sangat, sangat marah. Kau pikir kau bisa melakukan ini? bisik suara itu seperti racun yang merembes ke pikirannya. Kau pikir kau bisa menghancurkan semua yang kita bangun hanya karena perasaanmu pada seorang wanita? Leonard menutup matanya, mencoba mengusir suara itu. "Ini keputusan yang benar," gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku harus jujur. Aku harus—" Kau harus bertahan hidup, potong Rafael keras. Itulah yang kita selalu lakukan. Bertahan hidup dengan cara apapun. Dan sekarang kau mau menyerah begitu saja? "Aku tidak menyerah," kata Leonard, kali ini lebih keras. "Aku menghadapi konsekuensi." Konsekuensi? Rafael tertawa—tawa yang dingin dan mengerikan di dalam kepalanya. Kau tahu apa konsekuensinya? Kau akan dipenjara. Atau lebih buruk—orang-orang kita akan membunuhmu karena menganggap kau pengkhianat. Dan Ardena? Dia tidak akan berterima kasih padamu. Dia akan tetap membencimu. Kejujuran tidak akan menyelamatkan apapun. Leonard membuka matanya, menatap ponselnya di meja. Kael sudah mengirim konfirmasi bahwa semua media sudah berkumpul di ruang konferensi lantai bawah. Kamera siap. Mikrofon dipasang. Wartawan menunggu dengan pena dan recorder di tangan. Tinggal Leonard turun dan berbicara. Tapi kakinya tidak bergerak. Kau lemah, bisik Rafael lagi. Kau selalu lemah. Makanya aku harus ada. Untuk melindungimu. Untuk membuatmu kuat. "Aku tidak butuh kau lagi," kata Leonard dengan suara serak. Oh, kau butuh. Kau selalu butuh. Tanpa aku, kau hanya bocah panti asuhan yang ketakutan. Tanpa aku, Varghese Group tidak akan pernah ada. Tanpa aku... Rafael diam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berbahaya. Tanpa aku, Ardena sudah mati sejak lama. Kalimat itu membuat Leonard membeku. "Apa maksudmu?" Kau pikir siapa yang menghentikan Dante waktu dia mau 'mengurus' Ardena? Kau pikir siapa yang kasih perintah untuk melindunginya? Bukan Leonard si pengusaha baik hati. Tapi aku. Rafael. Monster yang kau benci tapi tidak bisa kau lepaskan. Leonard meremas tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih. "Kau bukan nyata. Kau hanya... kau hanya bagian dari pikiranku." Aku lebih nyata dari apapun. Rafael berbisik seperti ular yang melilit lehernya. Aku adalah sisi dirimu yang jujur. Sisi yang tahu bahwa dunia ini kejam dan satu-satunya cara bertahan adalah dengan lebih kejam lagi. Ponsel Leonard berbunyi. Pesan dari Marcus, asisten pribadinya. Marcus: Mr. Varghese, semua sudah siap. Wartawan mulai tidak sabar. Anda turun sekarang? Leonard menatap pesan itu dengan napas yang mulai tidak teratur. Tangannya melayang di atas keyboard, ingin mengetik "ya" tapi tidak bisa. Jari-jarinya gemetar, seolah ada kekuatan lain yang menahannya. Jangan lakukan ini, perintah Rafael. Kau akan menyesal. "Aku sudah menyesal sejak lama," bisik Leonard. Kalau kau turun ke sana dan mengakui semuanya, bukan hanya kau yang hancur. Tapi semua orang yang bekerja untukmu. Ribuan karyawan Varghese Group akan kehilangan pekerjaan. Anak buahmu akan diburu polisi. Dan Ardena... Rafael berhenti, membiarkan kalimat itu menggantung. Ardena akan tahu bahwa kau pembunuh ayahnya. Dan dia akan membencimu selamanya. Tidak ada penebusan. Tidak ada pengampunan. Hanya kebencian. Leonard merasakan air mata mulai memenuhi matanya. Ia tidak menangis sejak berumur sepuluh tahun, tapi sekarang rasanya ia mau runtuh. "Aku tidak tahu lagi apa yang benar," bisiknya pada kekosongan kantornya. Yang benar adalah bertahan hidup, jawab Rafael tegas. Batalkan konferensi pers itu. Sekarang. "Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri—" Janji tidak membayar hutang. Janji tidak melindungi orang yang kau cintai. Hanya kekuasaan yang bisa melakukan itu. Leonard menatap ponselnya lama. Terlalu lama. Lalu, dengan tangan yang masih gemetar, ia mengetik balasan. Leonard: Batalkan konferensi pers. Katakan ada urusan mendadak yang harus saya handle. Ia menekan send sebelum sempat berubah pikiran. Hampir seketika, balasan datang. Marcus: Bos, wartawan sudah menunggu sejak tadi. Mereka akan protes kalau— Leonard: Aku bilang batalkan. Sekarang. Tidak ada balasan lagi setelah itu. Leonard melempar ponselnya ke meja, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa seperti pengecut. Merasa seperti gagal pada dirinya sendiri. Tapi suara Rafael berbisik lagi—kali ini lebih lembut, seolah menenangkan anak kecil yang takut. Kau membuat keputusan yang tepat. Kita akan bertahan. Kita selalu bertahan. "Tapi dengan harga apa?" bisik Leonard. Harga apapun. Seperti biasa. Ardena menatap layar TV dengan napas tertahan, menunggu Leonard muncul di konferensi pers yang dijanjikan. Reporter masih berdiri di depan Varghese Tower dengan mikrofon di tangan, tapi ada kegelisahan di wajah mereka. "Kami masih menunggu konfirmasi dari pihak Varghese Group," kata reporter dengan nada bingung. "Konferensi pers yang dijadwalkan jam sepuluh pagi ini seharusnya sudah dimulai, tapi hingga saat ini Leonard Varghese belum menunjukkan diri." Ardena meremas bantal sofa yang ia peluk. Ada perasaan aneh di dadanya—campuran antara lega dan kecewa. Lega karena mungkin Leonard tidak akan menghancurkan dirinya sendiri di depan publik. Tapi kecewa karena... karena apa? Karena ia ingin melihat pria itu jujur? Atau karena sebagian dirinya berharap Leonard benar-benar akan memilih kebenaran di atas survival? Ponselnya berbunyi. Pesan dari Pak Adi. Pak Adi: Konferensi pers dibatalkan. Ada apa ini? Apa Leonard Varghese mengubah pikirannya? Ardena tidak membalas. Ia tidak tahu harus bilang apa. Lalu layar TV berubah, menampilkan breaking news. "Kami baru saja menerima konfirmasi resmi dari Varghese Group bahwa konferensi pers hari ini dibatalkan karena ada urusan mendesak yang harus ditangani CEO mereka." "Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang 'kebenaran yang sudah terlalu lama disembunyikan' yang sempat disebutkan dalam pengumuman awal." Ardena mematikan TV dengan remote yang ia lempar agak keras ke meja. Ia berdiri dari sofa, berjalan ke jendela, menatap kota Ardencia yang sibuk di luar sana. Leonard mengubah pikirannya. Atau lebih tepatnya, sesuatu membuatnya mengubah pikiran. Dan entah kenapa, Ardena merasa ada sesuatu yang sangat salah. Malam itu, Leonard tidak kembali ke apartemen mewahnya. Ia juga tidak kembali ke apartemen tersembunyi di Kuningan. Ia pergi ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi sejak bertahun-tahun lalu. Panti asuhan tua di pinggiran kota Ardencia. Gedung itu sudah ditutup sejak lima tahun lalu, ditinggalkan dan dilupakan. Tapi Leonard masih ingat setiap sudutnya—koridor yang berbau desinfektan, kamar tidur dengan sepuluh ranjang berdempetan, ruang makan dengan meja panjang yang catnya mengelupas. Ini tempat di mana ia terlahir. Bukan secara harfiah, tapi secara metafora. Tempat di mana bocah kecil yang ketakutan berubah menjadi sesuatu yang lain. Menjadi Rafael. Leonard berjalan melewati lorong gelap dengan cahaya bulan sebagai satu-satunya penerangan. Tidak ada listrik. Tidak ada orang. Hanya hantu-hantu masa lalu yang masih bergentayangan di setiap sudut. Ia berhenti di depan pintu ruangan yang dulu menjadi kamarnya. Pintu itu masih terbuka sedikit, engsel berkarat berbunyi saat ia mendorongnya. Di dalam, masih ada beberapa ranjang tua yang ditinggalkan. Kasur sudah busuk, bantal hilang. Tapi Leonard masih ingat—ranjang di pojok kiri, itu miliknya. Di sana ia tidur setiap malam sambil mendengar anak-anak lain menangis dalam kegelapan. Ia duduk di lantai berdebu, bersandar ke dinding dingin. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, suara Rafael diam. Tidak ada bisikan. Tidak ada perintah. Hanya keheningan yang berat. "Kenapa kau berhenti?" tanya Leonard pada kekosongan. Tidak ada jawaban. "Kenapa sekarang kau diam, tapi tadi kau tidak berhenti membuatku ragu?" Masih tidak ada jawaban. Leonard menutup matanya, merasakan lelah yang sudah menumpuk bertahun-tahun akhirnya menghantamnya sekaligus. Ia tidak tahu lagi siapa dirinya. Tidak tahu lagi apa yang ia inginkan. Yang ia tahu, ia membuat keputusan yang salah hari ini. Dan Ardena akan semakin jauh darinya karena itu. Tapi mungkin itu yang terbaik. Mungkin jarak adalah satu-satunya cara untuk melindungi wanita itu dari kehancuran yang pasti datang. Karena Rafael benar tentang satu hal—Leonard tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Bahkan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN