10. Wajah Kedua

1529 Kata
Ardena tidak tidur malam itu. Bagaimana bisa? Setiap kali ia menutup mata, yang ia lihat adalah tatapan Leonard di kafe. Tatapannya yang penuh dengan perpisahan, dengan penyesalan, dengan sesuatu yang terasa seperti cinta yang sudah terlambat untuk diselamatkan. Ia duduk di depan laptop dengan secangkir kopi yang sudah dingin, file-file dokumen terbuka di layarnya. Semua bukti sudah ia kumpulkan. Transfer dana mencurigakan, nama-nama kode, koneksi ke jaringan bawah tanah. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang membuat dadanya terasa tercabik-cabik. Leonard Varghese adalah Rafael. Tapi ia butuh bukti konkret. Sesuatu yang tidak bisa disangkal lagi. Sesuatu yang bisa ia publikasikan tanpa keraguan sedikit pun. Ia membuka folder terakhir yang ia terima dari email anonim—folder yang belum sempat ia buka karena terlalu fokus pada dokumen keuangan. Di dalamnya ada beberapa file video dengan nama yang tidak jelas. Hanya angka-angka dan kode. Ardena mengklik file pertama. Video itu buram, diambil dari kamera CCTV dengan kualitas rendah. Lokasi yang terlihat seperti gudang tua. Tanggal di pojok kanan atas menunjukkan delapan tahun lalu. Ada beberapa orang berdiri di tengah ruangan. Salah satunya adalah pria muda dengan hoodie hitam dan wajah yang tertutup bayangan. Ia sedang berbicara dengan dua orang lain—keduanya terlihat lebih tua, lebih besar, lebih mengintimidasi. Suara di video tidak terlalu jelas, tapi Ardena bisa mendengar serpihan percakapan. "...jalur distribusi dari pelabuhan harus diperluas..." "...risiko terlalu besar kalau kita tidak punya backup..." "...aku yang akan handle itu. Kau fokus pada bagianmu..." Suara itu. Ardena mengenal suara itu. Pria muda itu melepas hoodie-nya, dan untuk sesaat, wajahnya terlihat jelas di bawah lampu redup gudang. Leonard Varghese. Tapi bukan Leonard yang ia kenal sekarang. Ini Leonard yang lebih muda, dengan tatapan yang lebih tajam, lebih dingin, lebih... brutal. Tidak ada senyum sopan. Tidak ada gestur terkontrol. Hanya tatapan seorang predator yang sedang mengatur wilayahnya. Ardena merasa napasnya tertahan. Ia menekan tombol pause, menatap wajah Leonard di layar dengan tangan yang gemetar. Ini dia. Bukti yang ia cari. Tapi kenapa dadanya terasa seperti diremas? Ia membuka file kedua. Video lain, kali ini di lokasi yang berbeda—terlihat seperti ruang pertemuan di bawah tanah. Ada lebih banyak orang sekarang, sekitar sepuluh orang duduk di sekitar meja panjang. Dan di kepala meja, duduk Leonard. "Mulai sekarang, tidak ada yang bergerak tanpa persetujuanku," kata Leonard dengan suara yang dingin dan tegas. "Kalian semua tahu aturannya. Satu kesalahan, dan aku tidak akan memberi kesempatan kedua." Salah satu pria di meja menyahut. "Kita butuh nama untuk operasi ini. Nama yang bisa kita pakai tanpa menghubungkan langsung ke Varghese Group." Leonard terdiam sejenak, lalu menjawab. "Rafael. Gunakan nama itu untuk semua transaksi gelap. RVG untuk approval internal. Tidak ada yang boleh tahu kalau aku dan Rafael adalah orang yang sama." RVG. Rafael Varghese. Semuanya akhirnya jelas. Ardena menutup laptop dengan tangan yang masih gemetar, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya akhirnya jatuh—perlahan dulu, lalu semakin deras hingga ia tidak bisa menahannya lagi. Ia menangis. Menangis untuk ayahnya yang mati karena mencoba mengungkap kebenaran. Menangis untuk dirinya sendiri yang sudah terlanjur jatuh cinta pada pembunuh ayahnya. Menangis untuk Leonard—pria yang mungkin bisa ia selamatkan kalau saja mereka bertemu dalam keadaan berbeda. Tapi dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia tidak peduli pada perasaan. Dunia hanya peduli pada kebenaran dan konsekuensinya. Dan kebenaran ini akan menghancurkan keduanya. Ardena meraih ponselnya dengan tangan yang masih basah oleh air mata. Ia membuka kontak redaktur senior di kantornya—Pak Hari, satu-satunya orang yang ia percaya untuk menangani berita sebesar ini. Jarinya melayang di atas tombol panggil. Tapi ia tidak menekannya. Karena ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang ia benci tapi tidak bisa ia abaikan. Perasaan. Ia mencintai Leonard. Atau setidaknya, ia mencintai versi Leonard yang ia lihat di malam-malam itu. Pria yang menatapnya dengan keraguan, yang menyentuhnya dengan keputusasaan, yang bilang ia peduli dengan suara yang tidak bisa berbohong. Kalau ia mempublikasikan ini, Leonard akan hancur. Tidak hanya reputasinya sebagai pengusaha, tapi seluruh hidupnya. Ia akan dipenjara, atau lebih buruk lagi, orang-orang dari dunia bawah tanah akan membunuhnya karena menganggap dia mengkhianati mereka. Dan Ardena akan menjadi orang yang melakukannya. "Sial," gumamnya sambil melempar ponsel ke sofa. "Sial, sial, sial." Ia tidak tahu harus melakukan apa. Hatinya mengatakan satu hal, tapi kepalanya mengatakan hal yang berbeda. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardena tidak yakin mana yang harus ia dengarkan. Sementara itu, di apartemen tersembunyi di Kuningan, Leonard berdiri di depan cermin kamar mandinya dengan lampu yang terlalu terang menyorot wajahnya. Ia sudah melepas semua pakaian formal—jas, dasi, kemeja mahal—dan menggantinya dengan kaus hitam usang dan celana training. Pakaian Rafael. Tapi kali ini, ia tidak merasa menjadi Rafael. Ia juga tidak merasa menjadi Leonard. Ia hanya merasa... lelah. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya pada pantulannya di cermin. "Siapa yang asli? Leonard yang berpura-pura baik, atau Rafael yang jujur tentang kejahatannya?" Tidak ada jawaban. Hanya diam. Leonard menyentuh pergelangan tangannya—bekas luka bakar yang Ardena lihat tadi. Luka itu sudah berumur bertahun-tahun, tapi masih terasa seperti baru setiap kali ia mengingatnya. Kebakaran gudang yang hampir membunuh semua orang di dalamnya. Ia yang memadamkan api sendirian karena tidak ada yang lain berani masuk. Itu hari di mana Rafael terlahir. Hari di mana ia menyadari bahwa untuk bertahan hidup di dunia ini, ia harus menjadi seseorang yang ditakuti. Tapi sekarang, ketakutan itu mulai berubah menjadi kesepian. Menjadi kehampaan. Menjadi kesadaran bahwa ia membangun kerajaan di atas mayat dan kebohongan, dan tidak ada yang pernah benar-benar melihat dirinya sebagai manusia. Sampai Ardena datang. Wanita itu melihatnya dengan mata yang tidak takut. Menatapnya dengan keingintahuan yang jujur. Bertanya kenapa ia peduli seolah itu hal yang paling aneh di dunia. Dan untuk pertama kalinya, Leonard merasa terlihat. Benar-benar terlihat. Bukan sebagai Leonard Varghese si pengusaha sukses. Bukan sebagai Rafael si dalang bawah tanah. Tapi sebagai manusia yang lelah berpura-pura. Leonard meraih ponselnya, membuka kontak Kael. Ia mengetik pesan dengan tangan yang sudah tidak gemetar lagi. Keputusan sudah diambil. Leonard: Besok jam 10 pagi, panggil konferensi pers. Undang semua media besar. Aku punya pengumuman penting. Balasan datang cepat. Kael: Tentang apa, bos? Ini mendadak banget. Leonard: Tentang kebenaran. Tentang siapa aku sebenarnya. Tidak ada balasan setelah itu. Mungkin Kael terlalu shock untuk merespons. Atau mungkin ia sedang menelepon Dante untuk memberitahu bahwa Rafael sudah gila. Tapi Leonard tidak peduli lagi. Ia lelah. Lelah berpura-pura. Lelah hidup dengan dua identitas. Lelah takut bahwa suatu hari seseorang akan menemukan kebenarannya dan menghancurkan segalanya. Lebih baik ia yang mengungkapkan sendiri. Dengan caranya sendiri. Di waktunya sendiri. Ia menatap pantulannya di cermin lagi, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Tidak ada lagi kemarahan. Tidak ada lagi kebingungan. Hanya penerimaan. "Mungkin... inilah saatnya dunia tahu wajah sebenarnya dari penguasa mereka," bisiknya pada bayangannya. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Leonard dan Rafael berbicara dengan satu suara. Bukan lagi dua kepribadian yang bertarung. Bukan lagi dua wajah yang saling bertentangan. Hanya satu pria yang lelah dan siap menghadapi konsekuensi dari semua pilihannya. Leonard duduk di sofa usang, menatap langit-langit dengan pikiran yang anehnya tenang. Ia tahu apa yang akan terjadi besok. Ia akan berdiri di depan puluhan kamera, ratusan wartawan, dan mengakui segalanya. Mengakui bahwa ia adalah Rafael. Mengakui bahwa ia bertanggung jawab atas kematian banyak orang, termasuk Aryanto Callista. Ia akan kehilangan segalanya. Perusahaannya. Kebebasannya. Mungkin hidupnya. Tapi setidaknya, ia akan mati sebagai satu orang utuh. Bukan lagi terpecah menjadi dua. Dan mungkin—hanya mungkin—Ardena akan mengerti kenapa ia melakukan semua ini. Tidak untuk penebusan. Tidak untuk pengampunan. Tapi karena ia tidak ingin berbohong lagi pada satu-satunya orang yang membuatnya merasa manusia. Leonard menutup matanya, membiarkan kelelahan akhirnya mengambil alih. Besok akan menjadi hari terakhirnya sebagai Leonard Varghese. Hari terakhirnya sebagai Rafael. Tapi malam ini, untuk beberapa jam terakhir ini, ia hanya ingin menjadi seorang pria yang pernah jatuh cinta—dan rela menghancurkan seluruh dunianya demi satu momen kejujuran. Ardena terbangun di sofa dengan leher yang pegal dan mata yang masih bengkak. Ia tertidur tanpa sengaja setelah menangis selama berjam-jam. Ponselnya berbunyi dengan notifikasi yang tidak berhenti. Ia mengambil ponselnya dan melihat puluhan pesan dari Pak Adi dan beberapa rekan jurnalis lainnya. Pak Adi: ARDENA! Kau lihat berita? Leonard Varghese baru saja mengumumkan konferensi pers mendadak jam 10 pagi ini. Semua media diundang. Katanya ada pengumuman penting. Ini kesempatanmu! Ardena menatap pesan itu dengan napas yang tertahan. Konferensi pers? Pengumuman penting? Apa yang akan Leonard lakukan? Ia membuka TV dan menyalakan channel berita. Reporter sudah berkumpul di depan gedung Varghese Tower, semua menunggu dengan kamera dan mikrofon siap. "Dalam beberapa menit lagi, Leonard Varghese, CEO Varghese Group, akan memberikan pengumuman yang disebutnya sebagai 'kebenaran yang sudah terlalu lama disembunyikan,'" kata reporter dengan nada excited. Ardena merasa dadanya sesak. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu Leonard akan mengakui segalanya. Dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk itu. Tapi satu hal yang ia tahu—apa pun yang terjadi hari ini akan mengubah segalanya. Dan tidak ada jalan kembali. Untuk keduanya. Karena di dunia di mana kebenaran adalah senjata paling tajam, Leonard baru saja memutuskan untuk menusuk dirinya sendiri dengan pedangnya sendiri. Dan Ardena hanya bisa menonton—dengan hati yang hancur dan air mata yang tidak berhenti jatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN