9. Rahasia yang Hampir Terbongkar

1449 Kata
Ardena tidak merencanakan untuk bertemu Leonard hari itu. Tapi kehidupan punya cara anehnya sendiri untuk memaksa konfrontasi yang kau hindari. Ia sedang di kafe dekat kantornya, mencoba fokus pada artikel yang harus ia selesaikan untuk edisi minggu depan—artikel yang tidak ada hubungannya dengan Varghese Group karena redaktur mulai curiga kenapa ia terlalu obsesif dengan satu perusahaan. Tapi pikirannya terus melayang. Rafael. Leonard. Dua nama. Satu orang? Lalu pintu kafe terbuka, dan Leonard masuk. Ia tidak sendirian. Ada dua orang pria berjas di belakangnya—bodyguard, mungkin. Tapi yang membuat napas Ardena tertahan adalah cara Leonard berjalan santai, percaya diri, seolah ia memiliki ruangan itu. Sama seperti cara Rafael berjalan di klub malam itu dalam bayangannya. Tunggu. Bagaimana ia tahu cara Rafael berjalan? Ia tidak pernah bertemu Rafael secara langsung. Tapi entah kenapa, ia tahu. Leonard memesan kopi di counter, belum menyadari keberadaan Ardena di pojok ruangan. Ardena memaksa dirinya untuk tidak menatap terlalu lama, tapi matanya tidak bisa lepas dari pria itu. Lalu, Leonard menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sekilas, ada sesuatu di mata Leonard—kejutan, mungkin? Atau sesuatu yang lain? Tapi ekspresi itu cepat digantikan dengan tatapan formal yang biasa ia pakai. Leonard berjalan mendekat, dua bodyguard-nya tetap di belakang dengan jarak yang sopan tapi waspada. "Ms. Callista," sapa Leonard dengan nada profesional. "Tidak sangka bertemu Anda di sini." Ardena meneguk kopinya, memaksa suaranya tetap tenang. "Ini kafe favorit saya. Anda yang tidak biasa di tempat seperti ini." Leonard tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Saya sedang ada pertemuan di gedung sebelah. Kebetulan lewat." Keheningan. Canggung. Berbeda dari malam itu di gang gelap, di mana jarak di antara mereka menghilang dan semua kepalsuan runtuh. "Boleh duduk?" tanya Leonard. Ardena seharusnya bilang tidak. Seharusnya membuat alasan dan pergi. Tapi ia malah mengangguk. Leonard duduk di seberangnya, menaruh gelas kopinya di meja. Dua bodyguard-nya berdiri di dekat pintu, memberi mereka privasi tapi tetap mengawasi. "Tentang malam itu," mulai Leonard dengan suara rendah. "Saya—" "Kita tidak perlu membicarakannya," potong Ardena cepat. "Itu kesalahan. Kita berdua tahu itu." Leonard menatapnya lama. "Kesalahan," ulangnya pelan, seperti sedang mencicipi kata itu. "Ya. Mungkin." Tapi nada suaranya mengatakan sebaliknya. Mengatakan bahwa ia tidak menganggapnya kesalahan sama sekali. Ardena mengalihkan pandangan, tidak sanggup menatap mata itu lebih lama. Ia mengambil ponselnya, berpura-pura ada yang harus ia balas, tapi sebenarnya hanya butuh alasan untuk tidak menatap Leonard. Lalu ia melihatnya. Tangan Leonard meraih gelas kopinya, dan lengan kemejanya terangkat sedikit—cukup untuk memperlihatkan pergelangan tangannya. Di sana, ada bekas luka bakar. Tidak besar, tapi jelas. Berbentuk tidak beraturan, seperti percikan logam panas yang mengenai kulit dan meninggalkan bekas permanen. Ardena membeku. Ia pernah melihat deskripsi luka seperti itu. Di mana? Di mana? Lalu ia ingat. Minggu lalu, ia mewawancarai seorang mantan pegawai gudang yang pernah bekerja untuk jaringan distribusi gelap. Pria itu tidak mau bicara banyak, tapi ia menyebut satu detail tentang "bos besar" yang tidak pernah menunjukkan wajahnya. "Aku cuma pernah lihat tangannya sekali. Ada bekas luka bakar di pergelangan tangan kanannya. Dari kebakaran gudang bertahun-tahun lalu. Dia sendiri yang matiin api waktu itu, kata orang-orang." Pergelangan tangan kanan. Bekas luka bakar. Sama persis. Ardena merasa seluruh dunianya berputar. Tidak. Ini tidak mungkin. Ini hanya kebetulan. Banyak orang punya bekas luka bakar. Ini tidak membuktikan apa-apa. Tapi semua bukti lain—nama Rafael, inisial RVG, cara Leonard selalu tahu sebelum terjadi, koneksinya yang tidak masuk akal untuk sekadar pengusaha. Semuanya mulai terhubung seperti puzzle yang akhirnya menemukan gambar utuhnya. Dan gambar itu menakutkan. "Anda baik-baik saja?" tanya Leonard, memperhatikan perubahan ekspresi Ardena. Ardena memaksa dirinya untuk tersenyum. "Ya. Hanya... lelah." Leonard tidak terlihat yakin, tapi ia tidak mendesak. "Anda harus lebih banyak istirahat. Pekerjaan jurnalis itu berat." "Terutama kalau yang kau investigasi adalah orang berbahaya," kata Ardena tanpa berpikir. Leonard terdiam. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—sangat halus, tapi Ardena menangkapnya. Kewaspadaan. Ketegangan. "Anda masih menggali tentang Varghese Group?" tanyanya pelan. "Itu pekerjaanku." "Itu berbahaya," koreksi Leonard. "Dan Anda tahu itu." Ardena menatapnya tajam. "Kenapa kau peduli? Kalau aku berhenti menggali, bukankah itu lebih baik untukmu?" "Ya," jawab Leonard jujur. "Tapi saya lebih peduli pada keselamatan Anda." "Kenapa?" desak Ardena, frustrasi mulai memuncak. "Kenapa kau terus bilang kau peduli? Kita bahkan tidak mengenal satu sama lain!" "Karena saya... saya tidak bisa menjelaskan dengan logika," jawab Leonard, suaranya terdengar lelah. "Tapi setiap kali saya tahu Anda dalam bahaya, sesuatu di dalam d**a saya terasa sakit. Dan saya benci itu. Tapi saya tidak bisa menghentikannya." Ardena merasa dadanya sesak. Ini tidak adil. Tidak adil bahwa pria ini bisa bicara seperti itu dengan kejujuran yang spontan, dengan kerentanan yang ia tidak pernah tunjukkan pada orang lain, sementara ia mungkin adalah monster yang ia cari selama ini. "Tangan kamu," kata Ardena tiba-tiba. "Luka itu. Dari mana?" Leonard menoleh ke pergelangan tangannya, ekspresinya berubah menjadi waspada. Ia dengan cepat menarik lengan kemejanya, menutupi bekas luka itu. "Kecelakaan lama," jawabnya singkat. Terlalu singkat. "Jenis kecelakaan apa?" "Tidak penting." "Bagi saya penting," desak Ardena. Ia tidak tahu kenapa ia terus menanyakan ini. Mungkin sebagian dirinya masih berharap ada penjelasan lain. Penjelasan yang tidak mengarah ke kesimpulan yang menakutkan. Leonard menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya, Ardena melihat sesuatu di mata pria itu yang membuatnya ingin menangis. Ketakutan. Bukan takut pada ancaman. Tapi takut kehilangan sesuatu. Takut kehilangan... dirinya. "Ardena," kata Leonard pelan—ini pertama kalinya ia menyebut namanya tanpa embel-embel 'Ms.'—"ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui. Ada kebenaran yang akan menghancurkan Anda kalau Anda terus menggali." "Aku tidak takut kehancuran," balas Ardena. "Tapi saya takut," bisik Leonard. "Saya takut kehilangan... satu-satunya orang yang membuat saya merasa masih manusia." Kalimat itu menggantung di udara seperti pengakuan yang terlalu jujur, terlalu telanjang, terlalu... nyata. Ardena merasa air matanya mulai mengumpul, tapi ia menahannya. "Kalau kau benar-benar peduli, kau akan jujur padaku." Leonard tersenyum sedih. "Justru karena saya peduli, saya tidak bisa jujur. Karena kejujuran itu akan membuat Anda membenci saya. Dan saya... saya tidak siap untuk itu." "Aku sudah membencimu sejak awal," kata Ardena, meskipun mereka berdua tahu itu bukan lagi sepenuhnya benar. "Belum separah nanti," jawab Leonard. Ia berdiri dari kursinya, meraih dompetnya untuk membayar kopinya. "Saya harap suatu hari Anda bisa memaafkan saya. Tapi saya tahu itu tidak mungkin." "Memaafkan apa?" tanya Ardena, tapi Leonard tidak menjawab. Ia hanya menatap Ardena dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang terlihat seperti perpisahan. Seperti ia tahu ini mungkin kali terakhir mereka berbicara sebelum segalanya runtuh. "Jaga diri Anda, Ardena," katanya pelan. "Dan kalau memang benar saatnya tiba untuk kebenaran terungkap... saya harap Anda bisa mengerti bahwa tidak semua monster terlahir sebagai monster. Beberapa dari kami... dibentuk." Lalu ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Ardena duduk sendirian dengan pikiran yang berantakan dan hati yang hancur. Karena sekarang ia tahu. Tidak dengan kepastian seratus persen, tapi cukup dekat. Leonard Varghese adalah Rafael. Pria yang ia mulai cintai adalah pria yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Dan yang paling menyakitkan... ia masih tidak bisa membencinya sepenuhnya. ... ... Leonard duduk di kursi belakang mobilnya, menatap keluar jendela dengan pikiran yang kacau. Bodyguard-nya di depan tidak bicara—mereka tahu kapan harus diam. Ia melihat cara Ardena menatap luka di pergelangan tangannya. Melihat realisasi yang perlahan muncul di matanya. Ia tahu wanita itu mulai menghubungkan semua titik. Dan ia tidak menghentikannya. Mungkin sebagian dirinya ingin tertangkap. Ingin segalanya berakhir. Ingin berhenti berpura-pura bahwa ia bisa hidup dengan dua identitas selamanya. Tapi ada bagian lain yang berupa ketakutan dan kelemahan sampai ia tidak siap kehilangan Ardena. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Leonard merasakan apa artinya peduli pada seseorang lebih dari dirinya sendiri. Dan itu membuatnya mengerti kenapa orang rela melakukan hal-hal bodoh demi cinta. Karena cinta itu bukan hanya kehangatan dan kebahagiaan. Cinta itu juga rasa sakit, ketakutan, kesadaran bahwa ada seseorang di luar sana yang punya kekuatan untuk menghancurkanmu dan kau membiarkannya. Leonard menutup matanya, tangannya terkepal di pangkuannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus menjauh, harus membiarkan Ardena menemukan kebenarannya dan membencinya sampai menerima bahwa ia tidak pantas mendapat penebusan. Tapi hatinya yang ia pikir sudah mati sejak lama berteriak untuk bertahan. Untuk berjuang. Untuk mencoba menjadi orang yang lebih baik. Bahkan ketika sudah terlambat untuk itu. "Kemana, bos?" tanya sopir. Leonard membuka matanya, menatap jalanan Ardencia yang ramai di luar jendela. "Apartemen Kuningan," jawabnya pelan. Apartemen di mana Rafael hidup. Di mana Leonard mati. Karena malam ini, ia harus memutuskan. Apakah ia akan terus menjadi Rafael—monster yang semua orang takuti? Atau apakah ia akan mencoba menjadi Leonard—pria yang ingin menjadi seseorang yang layak dicintai oleh Ardena Callista? Tapi ia tahu, apa pun pilihannya... ia sudah kehilangan. Karena cinta dan kehancuran, ternyata, hanya berbeda satu langkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN