Klub Inferno terasa lebih dingin dari biasanya malam itu. Atau mungkin itu hanya perasaan Rafael.
Ia duduk di kursi kepala meja panjang di ruang pertemuan bawah tanah, dikelilingi oleh tujuh orang yang selama ini menjadi tangan kanannya. Dante, Kael, Veros, dan empat lainnya yang namanya tidak perlu disebut karena mereka semua tahu aturannya: di ruangan ini, hanya ada satu suara yang penting. Suara Rafael.
Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada keraguan di mata mereka. Ada pertanyaan yang belum terucap. Ada... pemberontakan yang mulai tumbuh.
"Jadi," kata Dante, memecah keheningan dengan nada yang lebih dingin dari biasanya. "Kita bicara soal wanita itu, atau kita terus berpura-pura semuanya baik-baik saja?"
Rafael tidak mengangkat pandangannya dari gelas whiskey di tangannya. "Wanita siapa?"
"Jangan main-main, Rafael," potong Veros—pria bertubuh besar dengan bekas luka bakar di lengan kirinya. "Kau tahu siapa. Ardena Callista."
"Jurnalis yang seharusnya sudah dikubur tiga hari lalu, tapi malah masih berkeliaran dengan perlindungan darimu."
Rafael meneguk whiskey-nya perlahan, membiarkan cairan pahit itu membakar tenggorokannya sebelum menjawab. "Dia masih berguna. Dia punya informasi yang kita butuhkan."
"Informasi?" Dante tertawa sarkastik. "Atau kau cuma pengen main-main sama dia?"
Rafael mengangkat pandangannya—tatapan tajam yang biasanya cukup untuk membuat siapa pun tutup mulut. Tapi kali ini, Dante tidak mundur.
"Kita semua tahu apa yang terjadi tiga malam lalu," lanjut Dante. "Kau menyelamatkannya. Kau usir orang-orang kita sendiri. Kau kasih dia perlindungan seolah dia bukan ancaman."
"Dan sekarang, semua orang mulai bicara. Mereka bilang Rafael kehilangan fokus. Rafael melemah. Rafael... jatuh cinta."
Kata terakhir itu digantung di udara seperti ancaman. Rafael menaruh gelasnya ke meja dengan keras, menciptakan suara yang membuat semua orang terdiam.
"Kalian pikir aku melemah?"
"Itu bukan yang kami pikir," jawab Kael hati-hati.
"Tapi yang orang lain pikir. Dan di dunia kita, persepsi adalah segalanya. Kalau mereka pikir kau lemah, mereka akan mulai bergerak."
"Rivalmu akan mencium darah. Dan kita semua tahu apa yang terjadi pada pemimpin yang dianggap lemah."
Rafael tahu Kael benar. Di dunia bawah tanah, kelemahan adalah hukuman mati. Begitu kau menunjukkan sedikit saja keraguan, sedikit saja emosi, musuh akan datang seperti hiu yang mencium darah.
Dan ia sudah menunjukkan lebih dari sekadar keraguan. Ia sudah menunjukkan kepedulian. Pada seorang wanita yang seharusnya ia bunuh.
"Jadi apa maunya kalian?" tanya Rafael dingin. "Kalian mau aku bunuh dia? Itu yang kalian mau dengar?"
Dante bersandar di kursinya. "Kami mau tahu bahwa Rafael yang kami ikuti adalah Rafael yang sama ketika membangun kerajaan ini dari nol. Rafael yang tidak ragu. Rafael yang tidak punya titik lemah."
"Dia bukan titik lemahku," kata Rafael, meskipun ia tahu itu bohong.
"Buktikan," tantang Veros. "Ada masalah yang perlu diselesaikan."
"Rico—orang kita yang bocorkan data ke Ardena Callista. Dia sudah kami tangkap. Sekarang dia ada di basement, menunggu keputusanmu."
Rafael terdiam. Rico. Ia hampir lupa tentang pengkhianat itu. Orang dalam yang mengirim dokumen rahasia ke Ardena—yang mungkin tanpa sadar memicu semua kekacauan ini.
"Bawa dia ke sini," perintah Rafael.
Dua orang keluar, dan beberapa menit kemudian mereka kembali dengan seorang pria muda—mungkin dua puluh lima tahun—dengan wajah penuh lebam dan mata bengkak. Rico terseret masuk, lalu dijatuhkan ke lantai di depan meja.
"Angkat kepalanya," perintah Rafael.
Dante menarik rambut Rico, memaksa pria itu menatap Rafael. Ada ketakutan di mata Rico—ketakutan yang sangat nyata.
"Kenapa?" tanya Rafael sederhana.
Rico menelan ludah, suaranya gemetar. "Aku... aku punya alasan."
"Aku tidak tanya alasanmu," potong Rafael dingin. "Aku tanya kenapa kau pikir kau bisa mengkhianatiku dan masih hidup."
"Saya... saya tidak bermaksud—"
"Tidak bermaksud?" Rafael berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju Rico.
"Kau bocorkan dokumen internal kita ke jurnalis. Kau ekspos operasi kita. Kau membahayakan semua orang di ruangan ini. Dan kau bilang kau tidak bermaksud?"
"Dia... dia bilang dia bisa bantu!" teriak Rico, air mata mulai mengalir di pipinya. "Dia bilang dia mau mengungkap korupsi! Dia bilang—"
"Dia memanipulasimu," potong Rafael. "Dan kau bodoh karena mau mempercayainya."
Rico menunduk, tubuhnya gemetar. "Maafkan saya. Saya janji tidak akan—"
Rafael menarik pistol dari balik jaketnya—gerakan yang cepat, terlatih. Ia menempelkan pistol itu ke pelipis Rico, dan ruangan itu langsung sunyi.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Hanya napas Rico yang tersengal-sengal dan detak jantung Rafael yang anehnya... tidak secepat biasanya.
"Ini yang kalian mau?" tanya Rafael tanpa mengalihkan pandangan dari Rico, tapi pertanyaannya ditujukan pada orang-orang di belakangnya. "Kalian mau bukti bahwa aku masih Rafael yang kalian kenal?"
"Bos," Kael mulai bicara, tapi Rafael mengangkat tangan lainnya—isyarat untuk diam.
Rafael menatap Rico—pria muda yang masih punya masa depan, yang mungkin baru saja membuat satu kesalahan bodoh karena ia pikir ia melakukan hal yang benar.
Dan untuk sekilas, Rafael melihat dirinya sendiri di mata pria itu. Bocah panti asuhan yang dulu ia tinggalkan. Bocah yang juga pernah berpikir ada yang namanya "hal yang benar."
Tapi itu sudah lama sekali. Dan Rafael tidak punya ruang untuk sentimentalitas.
Ia menarik pelatuk.
KLIK.
Rico menjerit, tubuhnya ambruk ke lantai dengan napas yang hampir berhenti. Ia masih hidup. Tapi ia pikir ia sudah mati.
Rafael menurunkan pistol, menatap Rico dengan ekspresi datar. "Aku tidak membunuhmu karena aku baik."
"Aku tidak membunuhmu karena kematianmu tidak berguna untukku. Tapi kalau kau buat satu kesalahan lagi—satu saja—aku tidak akan ragu."
Ia menoleh ke Dante. "Buang dia. Jauh. Aku tidak mau lihat wajahnya lagi."
Dante mengangguk, lalu menyeret Rico keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Rafael berbalik menghadap yang lain.
"Masih ada yang meragukan aku?" tanyanya dingin.
Tidak ada yang menjawab. Tapi Rafael bisa melihat—mereka masih ragu. Mereka masih tidak yakin.
Karena pistol kosong itu bukan keputusan spontan. Itu pilihan. Pilihan untuk tidak membunuh. Pilihan yang Rafael lama tidak akan pernah buat.
Dan mereka semua tahu itu.
"Kita selesai," kata Rafael, lalu berjalan keluar dari ruangan tanpa menunggu respons.
Tapi begitu ia menutup pintu di belakangnya, Rafael bersandar ke dinding dan menutup matanya. Tangannya masih gemetar—bukan karena takut, tapi karena... mual.
Ia hampir membunuh seseorang tadi. Hampir. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rafael merasakan sesuatu yang asing.
Penolakan.
Tubuhnya menolak. Pikirannya menolak. Sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang ia pikir sudah mati sejak lama—berteriak bahwa ini salah.
Dan Rafael tahu kenapa. Karena setiap kali ia memegang pistol itu, ia melihat wajah Ardena. Mata yang menatapnya dengan kepercayaan bodoh. Suara yang bertanya kenapa ia peduli.
Dan jawaban yang ia berikan—jawaban yang ia tidak bisa tarik kembali.
"Karena saya tidak bisa berhenti memikirkan Anda."
"Sial," gumam Rafael, tangannya mengepal. "Sial, sial, sial."
Ia kehilangan kendali. Tidak atas jaringannya. Tapi atas dirinya sendiri.
Sementara itu, di apartemen kecilnya, Ardena duduk di depan laptop dengan mata yang sudah merah karena kurang tidur. Ia tidak bisa berhenti menggali. Tidak bisa berhenti mencari.
Karena ada sesuatu yang tidak masuk akal. Leonard Varghese—pengusaha sukses, filantropis, wajah publik yang sempurna—terlibat dalam Project Hartanto. Itu sudah jelas. Tapi semakin dalam ia menggali, semakin banyak ia menemukan inkonsistensi.
Transaksi-transaksi gelap yang terjadi di malam hari. Pertemuan rahasia di tempat-tempat yang tidak masuk akal untuk seorang pengusaha elite. Nama-nama kode yang digunakan dalam komunikasi internal.
Dan satu nama yang terus muncul, tapi tidak pernah dijelaskan.
Rafael.
Atau lebih tepatnya: RVG.
Ardena membuka file yang ia dapat dari email anonim lagi, mencari-cari di mana saja nama itu muncul. Ada puluhan—tidak, ratusan dokumen yang menyebut RVG sebagai decision maker. Approval akhir. Orang yang punya otoritas tertinggi.
Tapi siapa RVG?
Rafael? Varghese? Atau kombinasi keduanya?
Ardena membuka tab baru, mencari informasi tentang nama "Rafael" yang terhubung dengan Varghese Group. Tidak ada. Tidak ada Rafael di jajaran direksi. Tidak ada Rafael di daftar karyawan.
Seperti orang itu... tidak ada.
Atau tidak seharusnya ada.
Ardena merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ada misteri yang lebih besar di sini. Sesuatu yang bahkan lebih gelap dari korupsi dan penggelapan dana.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan foto ayahnya bersama Leonard muda. Ia menatap wajah Leonard di foto itu—masih muda, masih belum punya tatapan sedingin sekarang.
Tapi ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang familiar. Sesuatu yang ia lihat lagi tiga malam yang lalu, saat Leonard menatapnya sebelum menciumnya.
Ketakutan. Bukan takut pada ancaman. Tapi takut pada diri sendiri.
"Siapa kau sebenarnya, Leonard?" bisik Ardena pada foto itu.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Pak Adi.
Pak Adi: Aku dapat sesuatu. Soal nama "Rafael" yang kau tanyakan. Ini bukan nama resmi, tapi lebih ke... alias. Dipakai di kalangan bawah tanah. Konon dia dalang dari jaringan distribusi gelap di Ardencia. Tidak ada yang pernah lihat wajahnya langsung, tapi semua orang tahu namanya. Dia seperti... hantu.
Ardena menatap pesan itu lama. Terlalu lama.
Rafael. RVG. Varghese.
Semua terhubung.
Tapi itu berarti...
"Tidak mungkin," gumam Ardena. Tapi suaranya tidak yakin.
Karena semakin ia memikirkannya, semakin masuk akal. Leonard Varghese yang sempurna. Pengusaha yang terlalu bersih. Pria yang selalu tahu apa yang terjadi sebelum terjadi. Pria yang punya koneksi ke mana-mana.
Dan Rafael—dalang bawah tanah yang tidak pernah terlihat, tapi mengendalikan segalanya dari bayang-bayang.
Dua nama. Dua identitas.
Satu orang.
Ardena merasa napasnya tertahan. Kalau itu benar... kalau Leonard dan Rafael adalah orang yang sama...
Itu berarti ia tidak hanya jatuh cinta pada pria yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya.
Ia jatuh cinta pada pria yang mengendalikan seluruh jaringan kriminal di kota ini.
Ia jatuh cinta pada monster.
"Tidak," bisik Ardena, tangannya gemetar. "Tidak, tidak, tidak."
Tapi bukti-buktinya ada di depan matanya. Semua terhubung. Semua masuk akal.
Dan yang paling menakutkan...
Sebagian dirinya masih tidak peduli.
Sebagian dirinya masih ingin percaya bahwa ada sesuatu yang lebih di balik semua kegelapan itu. Bahwa pria yang menciumnya dengan begitu desperately, yang menatapnya dengan mata yang penuh keraguan, yang bilang ia peduli—bahwa pria itu masih bisa diselamatkan.
Tapi apa dia bisa?
Atau Ardena hanya membodohi dirinya sendiri?
Ia menutup laptop, menatap langit-langit apartemennya dengan pikiran yang kacau.
Besok, ia akan konfrontasi Leonard. Ia akan tanyakan langsung. Ia akan memaksa pria itu untuk jujur.
Dan apa pun jawabannya... Ardena tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Karena kebenaran, sekali terungkap, tidak bisa dikubur kembali.
Dan Ardena sudah terlalu dekat untuk berhenti sekarang. Meskipun itu berarti menghancurkan satu-satunya orang yang mulai membuatnya merasa... hidup.