7. Ciuman di Tengah Ancaman

1707 Kata
Ardena baru keluar dari kantor Jurnalis Terbit pukul sembilan malam saat ia menyadari ada yang tidak beres. Jalanan sepi—terlalu sepi untuk kawasan Menteng yang biasanya ramai. Lampu jalan di ujung gang seperti mati, menciptakan bayangan gelap yang membuatnya tidak nyaman. Ia mempercepat langkah, tangan mencengkeram tali tas yang berisi laptop dan dokumen-dokumen penting. Langkah kaki di belakangnya. Ardena menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia yakin tadi ada seseorang. Jantungnya mulai berdetak cepat. Ia mencoba berjalan lebih cepat, hampir berlari, tapi sebelum ia sempat mencapai ujung gang, seorang pria besar dengan jaket hitam muncul dari bayang-bayang, menghalangi jalannya. "Ardena Callista," kata pria itu dengan suara rendah yang terdengar seperti gesekan batu. "Kita perlu bicara." Ardena mundur selangkah, otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar. Tapi sebelum ia bisa berbalik, pria lain muncul dari belakang—lebih tinggi, lebih lebar, dengan bekas luka di pipi kanannya. Dia terjebak. "Siapa kalian?" tanya Ardena, memaksa suaranya tetap tenang meskipun tangannya gemetar. "Itu tidak penting," jawab pria pertama sambil melangkah lebih dekat. "Yang penting adalah kau berhenti menulis tentang hal-hal yang bukan urusanmu. Varghese Group bukan target yang tepat untuk jurnalis kecil sepertimu." Ardena mengangkat dagu, berusaha tidak terlihat takut. "Saya menulis kebenaran. Kalau Varghese Group tidak suka, berarti mereka punya sesuatu yang disembunyikan." Pria itu tertawa—tawa yang dingin dan tidak ada humor di dalamnya. "Kebenaran. Kau pikir kebenaran akan menyelamatkanmu? Ayahmu juga pikir begitu. Dan lihat apa yang terjadi padanya." Sesuatu di dalam d**a Ardena pecah. Kemarahan menggantikan ketakutan. "Kalian yang membunuhnya." "Kami hanya melakukan pekerjaan," jawab pria itu dengan nada datar. "Dan sekarang, kami akan melakukan hal yang sama padamu kalau kau tidak berhenti." Ia mengangkat tangannya—dan Ardena melihat kilatan pisau di bawah cahaya lampu yang samar. Naluri bertahan hidup membuatnya berteriak. Keras. Sekeras yang ia bisa. Pria di belakangnya langsung menutup mulutnya dengan tangan besar, menariknya ke dalam kegelapan. Ardena meronta, menendang, mencoba lepas, tapi cengkeraman pria itu terlalu kuat. "Diam!" desisnya, pisau kini menempel di lehernya—tidak cukup dalam untuk melukai, tapi cukup untuk membuat Ardena tidak berani bergerak. Lalu tiba-tiba, ada suara lain. "Lepaskan dia." Suara itu dingin. Tajam. Penuh otoritas. Ardena mengenali suara itu. Leonard Varghese berdiri di ujung gang dengan setelan hitam dan tatapan yang lebih berbahaya dari pisau manapun. Ia tidak sendirian—dua pria berjas berdiri di belakangnya, keduanya terlihat seperti orang yang tidak ingin kau lawan. Pria yang memegang Ardena ragu-ragu. "Ini bukan urusanmu, Varghese." "Dia urusanku," jawab Leonard dingin. "Sekarang lepaskan dia, atau aku yang akan melepaskannya. Dan percaya aku, kau tidak akan suka caraku." Ada keheningan sejenak—pertarungan tatapan antara Leonard dan dua pria itu. Lalu, pria yang memegang Ardena mendorong dia ke depan dengan kasar, membuat Ardena hampir terjatuh. "Ini belum selesai," desis pria itu pada Ardena. "Kau sudah diperingatkan." Lalu keduanya menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Ardena berdiri dengan napas tersengal-sengal dan lutut yang hampir tidak bisa menopang tubuhnya. Leonard melangkah maju, mengulurkan tangan. "Anda baik-baik saja?" Ardena menatap tangannya sejenak, lalu menamparnya menjauh. "Jangan sentuh saya." Leonard menarik tangannya kembali, ekspresinya tidak berubah. "Saya baru saja menyelamatkan hidup Anda." "Menyelamatkan?" Ardena tertawa pahit, suaranya terdengar serak. "Kau pikir aku tidak tahu? Mereka orang-orangmu, kan? Ini permainanmu. Kau yang suruh mereka mengancam aku!" "Saya tidak—" "Bohong!" teriak Ardena, kemarahannya akhirnya meledak. "Kau pembohong! Kau yang membunuh ayahku! Kau yang hancurkan hidupku! Dan sekarang kau pura-pura jadi pahlawan?" Leonard terdiam. Wajahnya tetap datar, tapi ada sesuatu yang berubah di matanya—sesuatu yang Ardena tidak bisa identifikasi. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya," kata Leonard pelan. "Aku tahu cukup!" balas Ardena, air mata mulai memenuhi matanya meskipun ia mencoba menahannya. "Aku tahu kau terlibat dalam Project Hartanto. Aku tahu ayahku mati karena mencoba mengungkap kebenaranmu. Dan aku tahu kau tidak akan berhenti sampai aku juga mati!" "Saya tidak akan membiarkan itu terjadi." Kalimat itu membuat Ardena berhenti. Ia menatap Leonard dengan bingung. "Kenapa? Kenapa kau tidak biarkan mereka membunuhku? Bukankah itu yang kau mau?" Leonard melangkah lebih dekat, tatapannya intens. "Karena saya tidak mau Anda mati." "Kenapa?" ulang Ardena, suaranya lebih pelan sekarang, lebih rapuh. "Kenapa kau peduli?" Leonard tidak menjawab. Ia hanya menatap Ardena dengan tatapan yang membuat dadanya sesak—tatapan yang penuh dengan sesuatu yang gelap, berbahaya, tapi juga... peduli. "Kau pembunuh," bisik Ardena, tapi tanpa kebencian di suaranya. Hanya kelelahan. "Kau membunuh ayahku. Kau menghancurkan segalanya." "Saya tahu," jawab Leonard, suaranya hampir tidak terdengar. "Dan saya tidak bisa meminta maaf karena itu." "Lalu kenapa kau di sini?" Leonard terdiam. Ia menatap Ardena lama—terlalu lama—seolah sedang mencari jawaban di wajahnya. Lalu, ia melangkah lebih dekat lagi, menghilangkan jarak di antara mereka hingga Ardena bisa merasakan kehangatan tubuhnya, bisa mencium aroma cologne yang sama dengan malam di balkon, bisa mendengar detak jantungnya yang ternyata tidak setenang ekspresinya. "Karena saya tidak bisa berhenti memikirkan Anda," bisik Leonard. "Karena setiap kali saya menutup mata, saya melihat wajah Anda. Karena saya tahu saya seharusnya menyingkirkan Anda, tapi saya... tidak bisa." Ardena merasa napasnya tertahan. Ia seharusnya mendorong Leonard menjauh. Seharusnya menamparnya. Seharusnya berlari. Tapi ia tidak bergerak. "Kau gila," bisiknya. "Saya tahu," jawab Leonard, matanya tidak lepas dari mata Ardena. "Tapi Anda juga gila karena masih berdiri di sini. Karena tidak lari. Karena menatap saya seperti itu." "Seperti apa?" Leonard tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan. Tangannya meraih pipi Ardena—sentuhan yang hangat, tapi juga gemetaran, seolah ia tidak yakin apakah ia diizinkan menyentuh. Lalu, ia menarik Ardena lebih dekat, menghilangkan jarak terakhir di antara mereka. Dan ia menciumnya. Bukan ciuman lembut. Bukan ciuman romantis seperti di film-film. Ini ciuman yang brutal, penuh kemarahan, penuh ketakutan, penuh hasrat yang sudah terlalu lama mereka tahan. Ciuman yang terasa seperti ledakan—seperti dua dunia yang bertabrakan dan menciptakan kehancuran. Ardena seharusnya mendorong Leonard menjauh. Seharusnya memukulnya. Seharusnya membencinya. Tapi ia tidak melakukan itu. Tangannya malah mencengkeram kerah jaket Leonard, menariknya lebih dekat, membalas ciumannya dengan intensitas yang sama—dengan kemarahan, dengan kesedihan, dengan sesuatu yang ia tidak bisa pahami tapi tidak bisa ia tolak. Ini salah. Ini sangat salah. Tapi terasa sangat, sangat benar. Leonard mendorong Ardena ke dinding gang, tubuhnya menekan tubuhnya, tangannya merayap ke belakang lehernya, jari-jarinya merasuk ke rambutnya. Ciuman mereka semakin dalam, semakin kasar, seolah mereka mencoba menghancurkan satu sama lain—atau menyelamatkan satu sama lain. Ardena tidak tahu lagi. Lalu, tiba-tiba, Leonard berhenti. Ia mundur selangkah, napasnya tersengal-sengal, matanya melebar dengan sesuatu yang terlihat seperti... ketakutan. "Saya... saya tidak seharusnya..." gumamnya, tangannya masih gemetar. Ardena menatapnya dengan napas yang sama tidak teraturnya. Bibirnya terasa bengkak, dadanya naik turun dengan cepat. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—campuran antara marah, bingung, dan... hasrat. "Kenapa kau berhenti?" tanyanya, suaranya serak. Leonard menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang gelap. "Karena kalau saya tidak berhenti sekarang, saya tidak akan bisa berhenti sama sekali." Keheningan. Mereka berdiri di sana, menatap satu sama lain dengan napas yang masih belum teratur, dengan jarak yang terlalu dekat tapi juga terasa terlalu jauh. "Ini tidak seharusnya terjadi," bisik Ardena, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Leonard. "Saya tahu," jawab Leonard. "Tapi sudah terlambat." Ardena menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di mata Leonard yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kelemahan. Pria yang selalu terlihat terkontrol, selalu terlihat sempurna, sekarang berdiri di depannya dengan tatapan yang penuh keraguan, dengan napas yang tidak stabil, dengan tangan yang masih gemetar. Dan Ardena menyadari sesuatu yang menakutkan. Ia tidak lagi melihat Leonard Varghese, pengusaha muda yang sempurna. Ia melihat seseorang yang sama tersesat dengan dirinya. Seseorang yang sama bingung. Seseorang yang sama takut. Seseorang yang... mungkin bisa ia pahami. "Apa yang baru saja kita lakukan?" tanya Ardena pelan. Leonard tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Ardena dengan tatapan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Kita melewati batas," jawabnya akhirnya. "Dan tidak ada jalan kembali." Ardena tahu ia benar. Apa pun yang terjadi setelah ini, mereka tidak bisa kembali ke titik awal. Tidak bisa pura-pura bahwa ciuman itu tidak terjadi. Tidak bisa pura-pura bahwa tidak ada sesuatu di antara mereka—sesuatu yang gelap, berbahaya, tapi juga... nyata. "Aku masih membencimu," bisik Ardena. Leonard tersenyum tipis—senyum yang sedih, yang pahit. "Saya tahu." "Aku masih akan mengungkap kebenaranmu." "Saya tahu." "Dan ketika itu terjadi, kita akan jadi musuh." Leonard melangkah lebih dekat lagi, tangannya menyentuh pipi Ardena dengan lembut kali ini—sentuhan yang sangat berbeda dari ciuman brutal tadi. "Kita sudah musuh sejak awal. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa saya... peduli padamu." Ardena merasa air matanya mulai turun. Ia tidak tahu lagi apa yang ia rasakan. Marah? Sedih? Bingung? Atau sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, lebih berbahaya? "Pergi," bisiknya. "Pergi sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih bodoh lagi." Leonard menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. Ia mundur, menciptakan jarak yang sekarang terasa sangat lebar. "Saya akan mengatur pengamanan untuk Anda," katanya dengan nada formal kembali—seolah berusaha menciptakan tembok di antara mereka. "Mereka tidak akan bisa menyentuh Anda lagi." "Aku tidak butuh perlindunganmu." "Anda butuh," potong Leonard. "Mau Anda terima atau tidak, Anda sekarang jadi target. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Anda." "Kenapa?" tanya Ardena lagi, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Leonard tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan kesedihan. "Karena saya sudah menyakiti terlalu banyak orang. Dan saya tidak akan menambahkan Anda ke daftar itu." Lalu ia berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Ardena berdiri sendirian di gang gelap itu dengan bibir yang masih terasa hangat, dengan jantung yang masih berdetak kacau, dengan pikiran yang penuh dengan kebingungan. Ardena menyentuh bibirnya dengan ujung jari, merasakan sisa kehangatan dari ciuman itu. Ia tahu ini salah. Tahu ini berbahaya. Tahu ini akan menghancurkan keduanya. Tapi ada satu hal yang ia tidak bisa menyangkalnya lagi. Ia merasakan sesuatu untuk Leonard Varghese. Sesuatu yang lebih dari sekadar kebencian. Sesuatu yang lebih dari sekadar keingintahuan. Sesuatu yang, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, sudah mulai tumbuh sejak pertama kali tatapan mereka bertemu. Dan itu membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit dari yang ia kira. Karena bagaimana kau membenci seseorang yang kau mulai pedulikan? Bagaimana kau menghancurkan seseorang yang kau mulai pahami? Bagaimana kau melawan seseorang yang... yang mungkin sudah mulai kau cintai? Ardena tidak tahu jawabannya. Dan itu membuatnya lebih takut dari ancaman apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN