Sesampainya di kos, Leara kembali memikirkan kata-kata Mita. Mana mungkin orang yang baru beberapa hari ketemu, bisa langsung suka. Gak bener nih feeling Mita. Gak usah dipikirin. Mending tidur. Kakinya pegel banget, keliling mall nemenin Mita beli baju tadi.
Seperti biasa, ritual sebelum tidur Leara, wudlu sholat Isya, bersih-bersih kasur pakai sapu lidi khusus buat kasur. Kalau ada pending kerjaan, harus diselesaikan dulu, kalau tak ada, bisa langsung bersiap tidur. Kunci pintu kamar, tutup jendela plus tirainya, matikan lampu. Rebahan di kasur, memakai selimut, kanan kiri guling, berdoa dan tutup mata.
Jam setengah empat pagi, Leara bangun. Kali ini dia bangun karena sakit perut. Terkadang cara Allah membangunkan Leara memang unik. Kemarin terbangun, karena lapar. Hari ini, karena sakit perut. Tapi yang paling penting adalah, Leara jadi bisa sholat Tahajud.
Doa setelah sholat Tahajud tentu diberikan kesehatan, keselamatan buat diri sendiri dan orang tua, jadi anak yang solihah, kemudahan dalam menyelesaikan kuliah dan bisa lulus tepat waktu, otak yang cerdas sehingga bisa menyerap ilmu dengan baik, dilindungi oleh Allah dalam setiap langkahnya, bisa langsung kerja setelah lulus kuliah. Aamiin...
Ini doa Leara, kalau orang lain, silahkan doa sesuai kebutuhan masing-masing. Untuk saat ini, Leara mintanya itu ke Allah. Jadi gak perlu dikomen oke.
Lanjut sholat shubuh, karena udah terdengar adzan. Lanjut ngaji, lanjut doa lagi. Lanjut ke pekerjaan duniawi. Ngerjain laporan survei yang belum dibuka sama sekali sejak selesai survei hari Kamis kemarin. Melengkapi isian kuesioner yang belum lengkap. Gara-gara ngejar selesai, yang diisi cuma yang penting aja. Alhamdulillah data warga seperti nama, alamat aman. Kemarin Leara meminta ijin memfoto KTP. Bukan untuk disalahgunakan lo, cuma buat mempermudah kinerja biar cepet.
Asik banget ngisi-ngisi data, liat jam udah jam 08.50. Kamar berantakan penuh kertas kuesioner.
"Hah udah mau jam sembilan, aku belum mandi. Kemarin janjian jam sembilan kan ya."
Mandi kilat ajalah. Bersiap dengan pakaian kebesaran dan jilbab motif andalan. Alhamdulillah Leara termasuk perempuan aliran simpel. Gak pake lama udah siap. Beresin kuesioner yang sudah diisi lengkap. Nanti tinggal rekap.
*****
"Mbak Leara ada yang nyari.", teriak adik kos yang di kamar atas depan. Si tukang tanya kalau ada tamu, plus di tukang manggil siapa yang ditamuin.
"Iya, makasih Dek.", jawab Leara.
Cepet-cepet diberesin berkas survei plus alat tulis. Leara keluar ke teras kos yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, khusus tamu bukan muhrim. Karena, kan kalau temen muhrim, mending ngobrol di kamar kos.
"Assalamualaikum, Ukhti.", kata Gigih.
"Wa'alaikumsalam. Ehem bilang apa tadi. Ukhti. Biasanya aja panggil aku 'woi'.", jawab Leara.
"Namanya juga baru kenal. Kan lebih gampang. Sekarang kan udah kenal beberapa hari. Masak masih panggil 'woi'. Gak sopan.", kata Gigih.
"Iya. Silakan duduk. Langsung aja ngerjain rekap yuk. Mana berkasmu. Sambil disiapin, sebentar ya, aku ambilkan minum. Tapi maaf adanya air putih.", ujar Leara.
"Siap. Gak papa. Yang ada aja.", kata Gigih lagi.
Leara masuk lagi ke dalam kos. Ambil minum botol.
Sembari menunggu Leara, Gigih menyiapkan berkas surveinya. Sambil melamun. Ini anak gak basa-basi nawarin teh kek.
"Eh ini minumnya. Maaf ya adanya cuma air putih.", ucap Leara agak merasa bersalah.
"Gak papa kok. Yang penting dikasih minum daripada gak.", kata Gigih.
"Udah mana berkasmu? Oh ini ya. Coba aku cek ya.", kata Leara sambil mengambil kertas kuesioner milik Gigih.
Waduh, masih sama kayak punyanya kemarin. Masih belum lengkap, cuma diisi di bagian penting aja.
"Kemarin minta data warganya kan?", tanya Leara.
"Iya ini ada di HP ku." jawab Gigih sambil nunjukin galeri HP nya.
"Aduh, kalau gitu lengkapi dulu aja deh. Biar cepet, kamu kirim foto ke aku separoan. Dua puluh lima data ke aku. Nanti aku bantu lengkapin. Kamu dua puluh lima. Jadi cepet selesai.", kata Leara.
"Oke siap Ibu.", jawab Gigih sambil tangannya posisi hormat.
"Tadi Ukhti, sekarang Ibu. Jangan-jangan habis ini bilang Mbah.", kata Leara.
Gigih ketawa ngakak gak selesai-selesai.
"Ssttttt. Gak boleh berisik.", kata Leara.
Gigih langsung diam seketika. Leara memang unik. Lucu tapi serius. Dia serius aja lucu. Semakin mengenal Leara, semakin banyak poin plus yang dia ketahui. Ah stop Gigih. Fokus.
Akhirnya isian kuesioner sudah lengkap. Adzan dhuhur sudah terdengar sayup-sayup.
"Wah udah siang ternyata. Alhamdulillah sudah selesai isian kuesioner. Untuk rekapnya gimana, mau dilanjut besok atau hari ini?", tanya Leara.
"Ya udah besok aku kesini lagi jam sembilan pagi. Gak ada kegiatan kan besok?" Gigih balik bertanya.
"Gak sih. Ya dah lanjut besok ya.", kata Leara.
"Makasih ya udah bantuin.", kata Gigih.
"Iya sama-sama.", jawab Leara.
"Aku pulang dulu. Assalamualaikum.", kata Gigih pamit pulang.
"Wa'alaikumsalam.", jawab Leara.