Suka atau Cinta?

676 Kata
POV Gigih Kenapa jadi memuja Leara. Bahkan kenal aja nggak. Pertemuan pertama, cuma beberapa menit. Pertemuan kedua cuma beberapa jam. Pertemuan ketiga satu hari satu malam. Dan sama sekali tak ada yang dia korek dari seorang Leara. Kenapa gak tanya alamat kosnya. Kenapa gak tanya aslinya dari mana. Kenapa gak tanya anak semester berapa. Beruntung sekali, sempet tuker-tukeran nomer HP. Meskipun awalnya memang murni biar lebih mudah koordinasi ketika kegiatan survei berlangsung. Jadi kemarin tanya nomer hp, namun dia belum chat sama sekali ke nomor Leara. Karena ternyata cukup dengan ngobrol seadanya saja, mereka berdua bisa kelar surveinya. Bersyukur udah simpen nomer Leara, habis ini bisa telpon dengan alasan bahas survei. Sepertinya semesta memberikan secercah harapan padanya, untuk mengetahui lebih jauh sosok Leara. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja, tapi dia merasa Leara soulmatenya. Ada sesuatu yang membuat Gigih tertarik akan sosok Leara. Wah bahaya ini, apakah cuma rasa suka atau udah berubah jadi cinta? POV Leara Sampai di kost, Leara langsung terkapar. Sudah jam setengah tujuh malam ternyata. Huft capeknya baru terasa sekarang. Mata juga udah berat banget buat melek. Solat dulu aja, biar tidurnya lebih nyenyak. Di jalan pengennya cepet-cepet biar gak kemalaman sampai kos. Mana pas banget barengan sama yang pada pulang kerja, jadi jalanan macet tadi. Alhamdulillah Allah kasih kemudahan. Besok Leara juga ada kuliah. Sebenarnya udah niat bolos, tapi berhubung survei dah selesai, gak jadi deh. Bersyukur juga ya, bisa dapat partner macam Gigih ini. Leara jadi bisa tenang satu Tim sama dia. Anaknya gak ribet dan gak memanfaatkan keadaan. Buktinya disuruh berangkat sendiri-sendiri, dia mau. Denger-denger cerita sih, kalau di Tim lain, ada yang pada boncengan motor, ada juga yang berangkat naik mobil sendiri. Kalau itu mah anak orang kaya, udah dibawain mobil sama ortunya. Apalah aku yang cuma dibawain motor tua. Tapi sampai sejauh ini, dia bersyukur Gigih gak caper macam cowok-cowok alay. Allah memang selalu jagain Leara. Terima kasih ya Allah. Malam itu, Leara tidur nyenyak banget. Capek dan ngantuk membuat Leara langsung merem. Keesokan harinya, Leara terbangun karena rasa lapar yang tak tertahankan. Oh iya, tadi malam aku belum makan. Gara-gara sudah ngantuk berat. Siang kemarin juga cuma makan mie. Mandi, sholat shubuh, terus ke dapur bikin mie penangkal lapar sementara. Padahal Leara sudah bikin perjanjian dengan diri sendiri. Makan mie cuma sebulan sekali. Meskipun kos, dia usahakan makan sayur dan lauk berprotein tinggi biar otak tetep encer dan badan juga sehat. Tapi ini keadaan darurat, sekali-kali bolehlah. Alhamdulillah lumayan mengganjal perutnya yang meronta-ronta minta diisi. Lanjut belajar sebentar buat kuliah hari ini. Habis itu siap-siap berangkat kuliah pagi. Ah kangen ngampus. Hehehe lebay ya, padahal biasanya juga pengen cabut. Dah sampai kampus MIPA. Eh itu Mita lagi di kantin. Pagi-pagi udah ngetem aja itu anak. Sambil mengendap-endap Leara jalan kearah kantin. "Baaa", sengaja Leara ngejutin Mita. "Astaghfirullah hal adzim. Dateng tak diundang, pergi gak pamitan, tapi ngagetin aja kerjaannya. Ingat ngampus juga ni anak.", teriak Mita. "Ingatlah. Aku kan anak teladan. Lagian pagi-pagi udah nongkrong di kantin. Libur diet Mak.", kata Leara. "Ini Jum'at. Boleh makan sepuasnya. Lagian kalau mau kuliah kalkulus tu harus isi perut dulu. Biar gak pusing perutku dan gak lapar otakku. Ngomong-ngomong surveimu dah selesai Neng?", tanya Mita. "Sudah. Kemarin partnerku bilang, suruh selesaikan sehari kemarin. Biar hari ini bisa berangkat kuliah. Dia gak mau ngulang. Aku juga, gak mau ngulang kalkulus. Eh kayaknya enak ni, minta bakwan satu ya.", sembari nyomot bakwan Mita yang masih panas. "Aku tau kalau kamu mengalihkan pembicaraan. Kamu jadikan bakwanku sebagai tumbal. Pasti partnermu cakep, atau baik, atau anak rohis yang alim, atau anak pecinta alam yang macho. Ayo dong cerita.", Mita mulai deh. "Bahkan aku lupa anaknya kayak gimana. Yang pasti dia baik. Ah, udah ah. Ayok udah mau masuk ini. Oh iya, yang besok Sabtu Ahad mau ketemu Pangeran Kodok, senengnya.", Leara berkelit. Kalau gak segera distop, nanti anak satu kantin bakalan tau dan tersebar berita hoaks. Soalnya Mita ini kalau tanya-tanya gak kira-kira volume suaranya. Meskipun yang ngobrol cuma Leara dan Mita, berhubung volumenya stereo, jadinya ya tetep satu kantin bisa ndengerin dengan seksama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN