Ahad pagi jam sembilan teng, Gigih sudah sampai di kos Leara. Pencet bel, sudah. Ditanya cari siapa, sudah. Sayup-sayup terdengar suara manggil Leara, sudah. Duduk di kursi yang ada di teras kos Leara, sudah. Leara keluar menemuinya, yang belum.
"Assalamualaikum. Maaf menunggu lama ya. Tadi tuh lagi ada adik kos yang sakit. Kasihan kan kalau gak ada yang ngurus. Selesai nyuapin bubur, minum obat, ini anaknya aku suruh tidur.", kata Leara merasa bersalah.
"Oh gak papa kok. Ini kamu gak usah repot-repot masuk ke dalam buat ambilin minum. Aku udah bawain jus jambu sama cemilan.", kata Gigih.
"Alhamdulillah, tau aja kalau aku haus dan lapar. Makasih ya.", jawab Leara dengan nada sungguh-sungguh.
Sambil minum jus jambu dan brownis kukus, Leara mengeluarkan berkas kuesionernya yang sudah selesai direkap.
"Alhamdulillah perutku udah gak meronta-ronta lagi. Jadi bisa berpikir jernih sekarang. Mana berkasmu? Udah kamu rekap belum?", tanya Leara sambil membersihkan remahan brownis.
"Tentu saja belum. Aku pikir mau lanjut hari ini. Jadi di kos, gak aku kerjain.", jawab Gigih tanpa merasa bersalah.
"Ya dah aku bantu rekap biar cepet selesai. Nanti data kita satukan. Kan laporannya per desa.", kata Leara.
Kalau udah sibuk ngerjain data gini, anteng banget, gak ada suara. Leara memang tipe yang gak mau nunda pekerjaan. Tiap ada PR atau tugas atau amanah apapun, pengennya segera dikerjakan dan segera beres. Karena selalu ada pekerjaan baru lagi yang harus dikerjakan. Leara gak mau, gara-gara menunda, terus jadi numpuk. Nanti bawaannya malah malas dan berat untuk menyelesaikan.
Adzan dhuhur.
Padahal belum selesai.
Gigih tau itu.
"Kita istirahat dulu. Kamu sholat dulu. Aku juga sholat di masjid deket sini. Nanti kita lanjut lagi.", kata Gigih.
"Ya. Aku beresin dan aku bawa masuk dalam ya berkasnya. Nanti kalau kamu sudah selesai sholat, gpp langsung kesini. Nanti pencet bel aja.", jawab Leara.
"Siap. Assalamualaikum.", pamit Gigih.
"Wa'alaikumsalam.", jawab Leara.
****
Gigih beranjak dari masjid, setelah sholat dhuhur dan doa yang dirapalkan dengan sangat khusyuk. Gigih teringat tadi Leara sibuk ngurusi adik kosnya yang sedang sakit. Pasti dia belum sempat makan pagi. Tuh anak. Mungkin hal ini kecil dan dianggap biasa buat Leara, soalnya dari nada bicara Leara saat bilang tadi tu biasa aja gak membesar-besarkan. Tapi buat Gigih, hal ini bikin dia semakin kagum. Sebaiknya beli makan siang sekalian aja.
Mampir warung makan. Pesen nasi rames dan teh panas dua porsi.
"Dibungkus ya Bu.", kata Gigih.
Pesanan siap. Gigih segera meluncur ke kos Leara. Sampai kos Leara, parkir motor, pencet bel.
Leara keluar kos. Sebenarnya mau beli makan di warung sebelah kos. Tapi urung, karena melihat Gigih sudah menenteng bungkusan.
"Yok makan dulu. Aku lapar.", ajak Gigih.
Mereka duduk sambil makan tanpa suara. Leara agak merasa gimana gitu. Tapi ditepis rasa itu.
"Leara biasa aja. Professional, just only partner.", batin Leara.
Selesai makan, mereka lanjut ngerjain rekapan. Ilmu statistik Leara kepake juga.
Akhirnya selesai juga laporan surveinya. Hampir Ashar.
"Berkas kamu aja yang bawa. Besok ke rektorat jam delapan pagi ya. Aku tunggu di tempat pengumuman kemarin.", kata Gigih.
"Siap, Insyaa Allah.", jawab Leara.
"Makasih banyak sudah bantuin sampai selesai.", ujar Gigih sungguh-sungguh.
"Iya sama-sama. Makasih udah jadi partner yang baik juga. Sampai beliin makan siang, minum plus cemilan.", kata Leara.
"Halah, biasa aja. Dah aku pulang. Assalamualaikum.", Gigih pamit.
"Wa'alaikumsalam.", jawab Leara.